Kesejukan Air Mengalir Bahwa Al-Haq Diterima Meskipun Dari Orang Majhul Dan Kafir ( Bag. 1 :: Seri 4 )



🚇KESEJUKAN AIR MENGALIR BAHWA AL-HAQ DITERIMA MESKIPUN DARI ORANG MAJHUL DAN KAFIR

( Bag. 1 :: Seri 4 )

Oleh: Asy-Syaikh Abul ‘Abbas Yasin bin ‘Ali al-Hausyabi al-‘Adani rahimahullah

▶️ [ 5 ] Abu Daud dan yang lainnya meriwayatkan bahwa Yazid bin ‘Umairoh – salah seorang murid Mu’adz bin Jabal – mengatakan:

{ كَانَ لاَ يَجْلِسُ مَجْلِسًا لِلذِّكْرِ حِينَ يَجْلِسُ إِلاَّ قَالَ: “اللَّهُ حَكَمٌ قِسْطٌ هَلَكَ الْمُرْتَابُونَ” فَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يَوْمًا: “إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا يَكْثُرُ فِيهَا الْمَالُ وَيُفْتَحُ فِيهَا الْقُرْآنُ حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ وَالصَّغِيرُ وَالْكَبِيرُ وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ فَيُوشِكُ قَائِلٌ أَنْ يَقُولَ مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُونِى وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْآنَ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِىَّ حَتَّى أَبْتَدِعَ لَهُمْ غَيْرَهُ فَإِيَّاكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌ وَأُحَذِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيمِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيمِ وَقَدْ يَقُولُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ. قَالَ, قُلْتُ لِمُعَاذٍ: “مَا يُدْرِينِى رَحِمَكَ اللَّهُ أَنَّ الْحَكِيمَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ وَأَنَّ الْمُنَافِقَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الْحَقِّ؟” قَالَ بَلَى اجْتَنِبْ مِنْ كَلاَمِ الْحَكِيمِ الْمُشْتَهِرَاتِ الَّتِى يُقَالُ لَهَا مَا هَذِهِ وَلاَ يُثْنِيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ فَإِنَّهُ لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ وَتَلَقَّ الْحَقَّ إِذَا سَمِعْتَهُ فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُورًا. }

“Tidaklah Mu’adz duduk dalam satu majlis dzikir melainkan dia pasti mengatakan: “Allah adalah Dzat yang Maha Adil, binasalah orang-orang yang ragu-ragu.” Pada suatu hari Mu’adz berkata: “Sesungguhnya di belakang kalian terdapat fitnah yang beraneka ragam. Ketika itu harta melimpah ruah dan al-Qur'an pun dipelajari, sampai-sampai orang mukmin, munafiq, pria, wanita, anak-anak, orang tua, budak dan orang merdeka semua mempelajari al-Quran. Dan dikhawairkan datang suatu masa di mana seseorang akan berkata: ‘Mengapa manusia tidak ada yang mau mengikuti aku padahal aku telah membaca al-Qur'an? Mereka tidak akan mengikuti aku hingga aku membuat bid’ah (perkara baru dalam agama) untuk mereka.’ Maka hati-hatilah kalian dari bid’ah, karena setiap bid’ah adalah kesesatan, dan aku memperingatkan kalian dari ketergelinciran seorang yang berilmu, karena syaithan terkadang mengatakan ucapan yang sesat melalui lisan seorang yang berilmu, dan terkadang seorang munafiq juga bisa mengatakan ucapan yang haq.

Yazid bin ‘Umairah bertanya kepada Mu’adz: “Bagaimana caraku –semoga Allah merahmatimu– untuk mengetahui bahwa sang ‘alim itu telah mengucapkan kalimat yang sesat dan bahwa si munafiq itu telah mengucapkan kalimat yang benar?”

Mu’adz menjawab: “Jauhilah ucapan seorang ‘alim yang masyhur ucapannya namun manusia bertanya-tanya: “ucapan apakah ini?” namun jangan lantas hal itu menyebabkan kamu jauh atau meninggalkannya, karena diharapkan dia akan kembali. Dan ambillah kebenaran itu jika kamu mendengarnya, sesungguhnya pada kebenaran itu terdapat cahaya.

Berkata Syaikhul Islam dalam kitabnya “Fatawa al-Hamawiyyah”:

“Akan tetapi kebenaran itu diterima dari siapa pun orang yang mengatakannya; dan Mu’adz bin Jabal dalam ucapannya yang terkenal darinya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Daud, berkata: “Ambillah kebenaran itu dari siapa pun yang datang membawanya, walau dia seorang yang kafir, atau fajir, dan berhati-hatilah kalian dari ketergelinciran seorang yang berilmu.” Para muridya bertanya: “Bagaimana kami mengetahui bahwa seorang kafir terkadang mengucapkan kalimat yang haq?” Mu’adz menjawab: “Sesungguhnya pada kebenaran itu terdapat cahaya. Atau perkataan yang senada.

Dalam Minhajus Sunnah, Syaikhul Islam rahimahullah juga berkata:

“Allah telah memerintahan kita untuk senantiasa berlaku adil, maka tidak diperbolehkan bagi kita apabia ada seorang Yahudi atau Nashrani terlebih lagi seorang Rafidhi apabila mereka berkata dengan perkataan yang mengandung kebenaran untuk kita meninggalkan semuanya atau membantah semuanya, akan tetapi langkah yang utama adalah kita membantah ucapannya yang hanya mengandung kesesatan.

Mar’i bin Yusuf al-Karomi al-Maqdisi dalam “Aqowil Ats-Tsiqot berkata:

“Kebenaran itu akan tampak dengan jelas serta memiliki cahaya, dan kebenaran itu diterima dari siapa pun orang yang mengucapkannya, dan Mu’adz bin Jabal berkata … (sama dengan perkataan dia di atas).”

Bersambung insya Allah ...

📮••••[ Edisi Faidah ]
/ t.me/ukhuwahsalaf
/ www.alfawaaid.net

✍🏻__ [ Dari ]
/ bit.ly/2JXxnUW

Admin

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.

No comments:

Post a comment