Kebutaan Kaum Fanatikus Muhammad Bin Hady Hadahumullah


🚇KEBUTAAN KAUM FANATIKUS MUHAMMAD BIN HADY HADAHUMULLAH

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على خاتم الأنبياء والمرسلين. وبعد:

[+] Allah telah mengaruniakan kepada kami untuk bisa berkunjung ke al-Allamah Rabi' bin Hady al-Madkhaly di rumah beliau yang ramai dikunjungi.

Kami mengucapkan salam kepada beliau dan menjumpai beliau dalam keadaan sehat walafiat dan semangat. Kami menanyakan beberapa pertanyaan kepada beliau, diantaranya yang ditanyakan oleh salah seorang ikhwah tentang fitnah Muhammad bin Hady yang telah menyebar ke semua tempat dan dia memiliki fanatikus.

Maka beliau menjawab,
“Ibnu Hady telah menuduh zina seorang muslim, padahal menuduh zina besar urusannya, telah turun ayat-ayat yang berat tentangnya.”

Kemudian beliau membaca firman-Nya:

{ وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ. }

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka cambuklah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali cambukan, dan janganlah kalian terima persaksian mereka selama-lamanya, dan mereka itulah orang-orang yang fasik.” [QS. An-Nuur: 4]

Juga firman-Nya:

{ إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. }

“Sesungguhnya orang-orang yang menuduh zina para wanita yang menjaga kehormatannya, yang tidak pernah terbetik untuk melakukannya, dan mereka adalah para wanita yang beriman, mereka dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka adzab yang besar.” [QS. An-Nuur: 23]

Dan firman-Nya:

{ لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاء فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْد اللَّه هُمُ الْكَاذِبُونَ. }

“Mengapa mereka tidak datang membawa 4 orang saksi, jika mereka tidak bisa mendatangkan para saksi maka mereka itu di sisi Allah adalah para pendusta.” [QS. An-Nuur: 13]

Kemudian beliau berkata,
“Menuduh zina berat urusannya, bacalah ayat-ayat ini!”

Kemudian seorang penanya bertanya lagi kepada beliau dengan ucapan yang serupa, maka beliau menjawab,
“Bukankah telah saya bacakan ayat-ayat tadi kepadamu?!”

Penanya tersebut berkata,
“Syaikh, ada para fanatikus yang membela Ibnu Hady.”

Beliau menjawab,
Mereka fanatik membela penuduh zina.
mereka ini dungu, bahkan lebih buruk dibandingkan orang-orang dungu.

... Bacakan kepada mereka ayat-ayat tentang tuduhan zina!

Pada diri mereka ini ada hawa nafsu. Di mana diletakkan kitab Allah, di mana Sunnah Rasulullah [ﷺ]?!
Mereka ini tidak mengerti manhaj salaf, dalil-dalilnya jelas, dan kebenaran jelas.”

Kemudian beliau menyebutkan sebuah bait syair:

{ الشمس حق والعيون نواظر — ولكنها تخفى عن العميان }

“Matahari benar-benar ada dan bisa dilihat oleh mata — Hanya saja orang-orang yang buta tidak bisa melihatnya.”

Penanya berkata,
“Syaikh, Abu Ayyub memiliki potongan video yang isinya dia mencium seorang wanita.”

Beliau menjawab,
“Ini omong kosong, ada seseorang datang kepada Nabi [ﷺ] lalu berkata, “Wahai Rasulullah, saya telah menikmati seorang wanita namun tidak sampai berzina.” Rasulullah menjawab, “Engkau mengerjakan shalat bersama kami?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah berkata, “Bangkitlah, Allah telah mengampuni dosamu.”

Kemudian Rasulullah membaca firman Allah Ta'ala:

{ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ. }

“Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapus kejelekan-kejelekan.” [QS. Huud: 114]

Kemudian asy-Syaikh Rabi' berkata,
“Di mana mereka meletakkan kitab Allah?!”

Penanya berkata,
“Syaikh, asy-Syaikh Muhammad bin Hady mengatakan bahwa ketika dia melihat potongan video tersebut bangkitlah kemarahannya karena Allah sehingga muncul darinya ucapan tersebut.”

Asy-Syaikh Rabi' menjawab,
“Ini omong kosong, harus ada 4 orang saksi yang adil, terpercaya dan jujur, yang bersaksi bahwa mereka melihat kemaluannya di dalam kemaluan perempuan tersebut. Jadi menuduh zina berat urusannya.”

Penanya berkata,
“Syaikh, mereka mengatakan bahwa kata 'aahir' ada perbedaan pendapat tentang maknanya dan tidak disepakati.”

Maka beliau membantahnya dengan mengatakan,
“Terdapat ijma' pada makna kata ini.”

Lalu salah seorang ikhwah berkata,
“Syaikh, Ibnu Abdil Barr menukil ijma' bahwa yang dimaksud dengan ‘aahir adalah zina.”

Penanya berkata,
“Syaikh, ikhwah mengatakan bahwa fitnah yang memecah belah ini terjadi sebelum asy-Syaikh Muhammad bin Hady bicara.”

Beliau menjawab,
“Ini omong kosong, kita di awal hidup kita, datang kepada kita Salafiyyun dari India dan Pakistan –dan beliau menyebutkan beberapa negara– dan mereka semua bersatu, hingga datang fitnah Haddadiyyah, kemudian datang fitnah Muhammad bin Hady yang lebih besar, Muhammad bin Hady telah hilang dan meninggalkan kita, dia memisahkan diri dari Masyayikh dan memecah belah Salafiyyun.”

Penanya berkata,
“Syaikh, berbagai fitnah telah menjadikan ikhwah berpecah belah, maka apa yang Anda nasehatkan kepada mereka?”

Beliau menjawab,
“Saya nasehatkan kepada mereka agar menyibukkan diri dengan menuntut ilmu, bertakwa kepada Allah, dan tempat-tempat yang padanya terjadi fitnah wajib untuk diperbaiki dan membela kebenaran.”

Salah seorang ikhwah bertanya kepada beliau,
“Syaikh, mereka mengatakan bahwa Arafat memiliki kesalahan-kesalahan.”

Beliau menjawab,
“Dia telah bertaubat darinya, telah rujuk darinya, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat.”

Kemudian salah seorang ikhwah dari Maroko berkata kepada beliau,
“Syaikh, kami minta maaf atas apa yang dilakukan oleh sebagian ikhwah dua hari yang lalu.” — Maksudnya kekurangajaran sebagian orang-orang Maroko terhadap beliau.

Beliau menjawab,
“Seandainya mereka menyembelih anakku maka saya akan memaafkan mereka jika mereka kokoh di atas kebenaran.”

Kemudian beliau hafizhahullah menasehati kami agar membaca kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim.

Dan termasuk yang menjadi perhatian kami dalam pertemuan tersebut adalah kuatnya beliau dalam memaparkan dalil-dalil, lapangnya dada beliau dalam menghadapi para penanya, serta ajakan beliau untuk bersatu.

📚[Pertemuan ini terjadi pada malam Kamis, 4 Jumadal Ula 1440H yang dihadiri oleh beberapa penuntut ilmu dari Universitas Islam Madinah dan beberapa ikhwah dari Maroko serta dihadiri juga oleh asy-Syaikh Abdul Mu'thy ar-Ruhaily waffaqahullah]

📜Ditulis oleh: Abu Abdillah bin Mahmud dan Abu Abdirrahman bin Ahmad

Url: http://bit.ly/Fw400506 { Judul dari Admin }
📮••••|Edisi| t.me/ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Tg @JujurlahSelamanya / Dari: t.me/chobahlmosa3fi9a/289

Abul Abbas Muhammad Shukri

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.

No comments:

Post a Comment