Hukuman Bagi Para Penuduh Zina Dengan Lafazh Cacian, Seperti Mengatakan: ‘Wahai Pezina’ .. ‘Wahai 'Aahir’


🚇HUKUMAN BAGI PARA PENUDUH ZINA DENGAN LAFAZH CACIAN, SEPERTI MENGATAKAN: ‘WAHAI PEZINA’, ATAU ‘WAHAI 'AAHIR’

❱ Al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata:

{ ويتحصل من هذه النقولات ما يلي:
الثاني: أن القاذف بلفظ الشتم كأن يقول: ( يا زان ! أو يا عاهر! )

ترد شهادته، وروايته اتفاقا، إلا أن يتوب ويصلح . }

❒ Diperoleh dari penukilan-penukilan ini, sebagai berikut:

[ Yang kedua ]

Sesungguhnya seorang yang menuduh zina dengan lafazh cacian, seperti mengatakan: “Wahai Pezina, atau Wahai 'Aahir”

🔥 = itu ditolak persaksian dan riwayatnya dengan kesepakatan (ulama) = 🔥

kecuali
[√] jika dia bertaubat
[√] dan memperbaiki kesalahannya.

📚[Ad-Difa' an Ash-Shahbiy Abi Bakrah wa marwiyaatihi 26-27]

🚇TUDUHAN ZINA KEPADA ORANG LAIN BISA DENGAN SINDIRAN!!

❱ Asy-Syaikh Dr. Arafat bin Hasan al-Muhammady hafizhahullah

❒ Ada dua orang yang bertengkar di zaman Umar radhiyallahu anhu, salah seorang dari keduanya mengatakan kepada yang lain:

{ والله، ما أبي بزانٍ ولا أمي بزانية. }

“Demi Allah, ayahku bukan seorang pezina dan ibuku juga bukan pezina.” [¹]

🔥 = Maka Umar mencambuknya 80 kali. = 🔥

📚[Shahih. Diriwayatkan oleh Malik dalam al-Muwaththa', jilid 2 hlm. 829]

Asy-Syaikh Arafat menjelaskan:

{ ‏هذا تعريض بالفاحشة، فقوله: ( والله ما أبي بزانٍ ولا أمي بزانية. ) أقام عليه عمر حد القذف حين طالب به الابن. }

🔥 = “Ini merupakan sindiran (kepada orang tua orang yang bertengkar dengannya). = 🔥

Jadi karena ucapannya, ‘Demi Allah, ayahku bukan seorang pezina dan ibuku juga bukan pezina,’

🔥 = Umar menegakkan hukuman hadd atas tuduhan zina ketika sang anak menuntutnya.” = 🔥

—(▴) Catatan: (▴)—
[¹] Maksudnya dengan ucapan tersebut seakan-akan maknanya adalah, “Ayahku dan ibuku bukan pezina seperti ayah dan ibumu.” (pent)

Url: http://bit.ly/Fw391213
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber:
@ForumSalafy
i- Dari: https://t.me/Nataouan/9429
ii- Dari: https://goo.gl/DTkMSQ

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.