Hukum Ungkapan “Kalaulah Bukan Karena Allah Dan Fulan”?


🚇HUKUM UNGKAPAN “KALAULAH BUKAN KARENA ALLAH DAN FULAN”?

❱ Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah

[ Pertanyaan 496 ]

Asy Syaikh hafizhahullah ta'ala ditanya tentang ungkapan ini: “Kalaulah bukan karena Allah dan Fulan.”

[ Maka beliau menjawab dengan berkata ]

Menggandengkan selain Allah dengan Allah dalam perkara-perkara takdiri pada ungkapan yang bisa berfaedah berbarengan dan meniadakan perbedaan adalah suatu perkara yang TIDAK BOLEH.

Dalam hal kehendak sebagai permisalan, TIDAK BOLEH kamu mengatakan: “Atas kehendak Allah (dan) kehendakmu” karena penggandengan ini teruntuk kehendak Allah dengan kehendak makhluk menggunakan huruf yang berkonsekwensi penyamaan, dan itu bagian jenis kesyirikan. Namun harus kamu munculkan dengan kata (kemudian) dengan kamu berkata: “Atas kehendak Allah (kemudian) kehendakmu.”

Begitu pula menyandarkan sesuatu kepada sebabnya bergandengan dengan Allah menggunakan huruf yang mengandung penyamaan adalah dilarang, maka tidak boleh berkata: “Kalaulah bukan karena Allah (dan) fulan menolongku, tentulah aku tenggelam.” Maka ini HARAM dan TIDAK BOLEH, karena kamu telah menjadikan sebabnya si makhluk SAMA dengan sebabnya Sang Pencipta, karena ini bagian jenis dari kesyirikan.

🔥 = Akan tetapi BOLEH untuk menyandarkan sesuatu kepada sebabnya dengan tanpa menggandengkannya bersama Allah. = 🔥

Kamu katakan: “Kalaulah bukan karena si fulan, tentu aku tenggelam.” bila memang sebabnya shahih dan nyata.

Oleh karenanya Rasul [ﷺ] berkata mengenai Abu Thalib tatkala dikabarkan bahwasanya dia mengenakan dua sandal yang mendidihkan otaknya, beliau bersabda: “Dan kalaulah bukan karena saya, tentulah dia berada dikerak terbawah di api Neraka.”

Beliau tidak mengatakan: “Kalaulah bukan karena Allah (kemudian) aku,” padahal memang kondisinya tidak mungkin diadzab sedemikian itu melainkan atas kehendak Allah. Jadi menyandarkan sesuatu kepada sebabnya yang sudah maklum diketahui secara syar'i atau iderawi nyata adalah BOLEH, meskipun tidak disebut beriringan bersamaan Allah jalla wa'ala.

🔥 [ √ ] Dan menyandarkannya kepada Allah dan kepada sebabnya yang maklum diketahui secara syar'i atau nyata inderawi adalah BOLEH dengan syarat, tidak menggunakan huruf yang mengandung persamaan seperti (kemudian). = 🔥

[ ✘ ] Dan menyandarkannya kepada Allah dan kepada sebabnya yang maklum diketahui secara syar'i atau nyata inderawi dengan huruf yang mengandung persamaan seperti (dan) adalah HARAM, dan termasuk jenis kesyirikan.

[ ✘ ] Dan menyandarkan sesuatu kepada sebab yang khayal bukan yang maklum, adalah HARAM, dan TIDAK BOLEH, dan itu termasuk jenis kesyirikan, semisal tali simpul, gantung-gantungan jimat dan semisalnya. Dan menyandarkan sesuatu kepadanya adalah kesalahan murni, dan bagian dari jenis kesyirikan, karena menetapkan sebab dari berbagai sebab-sebab, yang Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab adalah jenis dari kesyirikan kepada-Nya sehingga seolah-olah kamu menjadikan sesuatu sebagai sebab sedangkan Allah tidak pernah menjadikannya, oleh karenanya itu menjadi bagian jenis dari kesyirikan dengan ungkapan ini.

📚[Majmu' Fatawa wa Rasa-il al-Utsaimin 3/129-130]

(02)
[ س 496 ]

سئل الشيخ حفظه الله تعالى: عن هذه العبارة " لولا الله وفلان "؟

[ فأجاب قائلًا ]

قرن غير الله بالله في الأمور القدرية بما يفيد الاشتراك وعدم الفرق أمر لا يجوز، ففي المشيئة مثلًا لا يجوز أن تقول: " ما شاء الله وشئت " لأن هذا قرن لمشيئة الله بمشيئة المخلوق بحرف يقتضي التسوية وهو نوع من الشرك، لكن لا بد أن تأتي بـ " ثم " فتقول " ما شاء الله ثم شئت " كذلك أيضًا إضافة الشيء إلى سببه مقرون بالله بحرف يقتضي التسوية ممنوع فلا تقول: " لولا الله وفلان أنقذني لغرقت " فهذا حرام ولا يجوز لأنك جعلت السبب المخلوق مساويًّا لخالق السبب، وهذا نوع من الشرك، ولكن يجوز أن تضيف الشيء إلى سببه بدون قرن مع الله فتقول: " لولا فلان لغرقت " إذا كان السبب صحيحًا وواقعًا ولهذا «قال الرسول، عليه الصلاة والسلام، في أبي طالب حين أخبر أن عليه نعلين يغلي منهما دماغه قال: "ولولا أنا لكان في الدرك الأسفل من النار» فلم يقل: لولا الله ثم أنا مع أنه ما كان في هذه الحال من العذاب إلا بمشيئة الله، فإضافة الِشيء إلى سببه المعلوم شرعًا أو حسًّا جائز وإن لم يذكر معه الله - جل وعلا - وإضافته إلى الله وإلى سببه المعلوم شرعًا أو حسًّا جائز بشرط أن يكون بحرف لا يقتضي التسوية كـ " ثم " وإضافته إلى الله وإلى سببه المعلوم شرعًا أو حسًّا بحرف يقتضي التسوية كـ " الواو " حرام ونوع من الشرك، وإضافة الشيء إلى سبب موهوم غير معلوم حرام ولا يجوز وهو نوع من الشرك مثل العقد والتمائم وما أشبهها فإضافة الشيء إليها خطأ محض، ونوع من الشرك لأن إثبات سبب من الأسباب لم يجعله الله سببًا نوع من الإشراك به، فكأنك أنت جعلت هذا الشيء سببًا والله تعالى لم يجعله فلذلك صار نوعًا من الشرك بهذا الاعتبار.

📚[مجموع فتاوى ورسائل العثيمين، جزء: ٣ / صفحة: ١٢٩-١٣٠]

Url: http://bit.ly/Fw391215
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: @SalafyKawunganten - Mift@h_Udin // Dari: Shamela•ws {https://goo.gl/rYgfWE}

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.