Ahlussunnah Mengingkari Demokrasi Namun Kenapa Hasilnya Diterima?


🚇AHLUSSUNNAH MENGINGKARI DEMOKRASI NAMUN KENAPA HASILNYA DITERIMA?

Faidah dari Al-Ustadz Abdul Haq hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Mengapa Ahlussunnah mengingkari demokrasi akan tetapi menerima hasilnya?

[Jawaban ]

❒ Iya, makanya Ahlussunnah mereka dalam beraqidah, beribadah, bermuamalah, berinteraksi, sampai dengan penguasa itu dibangun di atas bimbingan al-Qur'an dan as-Sunnah dan pemahaman Salaful Ummah, termasuk dalam masalah ini.

◈ Allah Jalla Wa 'Alla menyebutkan di dalam al-Qur'an al-Karim:

《 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ 》

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan orang-orang yang mengurusi urusan kalian.” [An-Nisa': 59]

✓- Seruan dari Allah kepada kaum mukminin, kaum muslimin untuk taat kepada Allah dan taat kepada rasul-Nya.

Ξ 《 وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ 》 “... dan orang-orang yang mengurusi urusan kalian.”

✓- Baik dalam masalah dunia, demikian pula dalam masalah akhirat, masalah agama.

— Masalah agama, berarti di sini, ayat ini menunjukkan wajibnya untuk taat, mengikuti bimbingan para ulama dalam hal kebaikan.
— Dan juga dari ayat ini juga menunjukkan wajibnya untuk mendengar dan taat, patuh kepada pemerintah yang sah.

※ Tidak dijelaskan di sini apakah pemerintahnya itu harus yang adil atau yang jahat juga harus ditaati.
— Apakah pemerintahnya itu kekuasaannya diperoleh dari jalur yang resmi, semua rakyat menyetujui.
— Ataukah dari jalur kudeta atau yang ada unsur kemaksiatan seperti demokrasi, tidak dijelaskan.

※ Namun ayat ini sifatnya umum,
— wajibnya untuk patuh dan taat kepada pemerintah.
✓- Apapun yang mereka dapatkan,
✓- dengan cara apapun,
✓- Baik disetujui oleh rakyatnya ataupun tidak.
— Namun selama rakyatnya menyetujui, mengakui, ini pemerintahnya sah, ini pemimpin saya.
✓- Maka meskipun jalurnya ada unsur kemaksiatan kepada Allah, seperti demokrasi maka tetap kaum muslimin wajib untuk mendengar dan taat.

◈ Oleh karena itu di dalam hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ta'ala 'anhu, ketika rasulullah menjelaskan dan berwasiat kepada para sahabat, sekaligus kepada kaum muslimin untuk bertaqwa kepada Allah, kemudian sekaligus:

Ξ 《 السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ 》 “... mendengar dan taat”

✓- Di antara pesan nabi adalah wajib untuk mendengar dan taat.

Ξ 《 وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ 》 “meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habasyah (Ethiopia).”

※ Budak, asal hukumnya tidak boleh menjadi pemimpin.
— Namun ketika menjadi pemimpin, menunjukkan dia mendapatkan kekuasaannya bukan dengan jalur yang sah, mungkin dengan cara kudeta.
— Namun rasulullah tetap memerintahkan kepada kaum muslimin untuk mendengar dan taat meskipun mereka pemimpin tersebut mendapatkan kekuasaannya dengan cara maksiat kepada Allah.

≣ Sehingga yang dilihat adalah hasilnya, bukan caranya. Ini yang harus dibedakan!

Sehingga ahlussunnah tetap, berjalan bukan dengan hawa nafsu, tapi dengan dalil. Wallahu ta'ala a'lamu bishawab.

📀 // Unduh audionya di:
- https://t.me/ukhuwahsalaf/6006 atau https://goo.gl/2iFxMh

Url: http://bit.ly/Fw390706
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Dari situs IlmuSyari•Com {https://goo.gl/bC5gWc}

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.