Tanggapan Terhadap Beberapa Ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Hady Setelah Keluar Dari Diamnya


🚇TANGGAPAN TERHADAP BEBERAPA UCAPAN ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN HADY SETELAH KELUAR DARI DIAMNYA

Asy-Syaikh Abu 'Ammar 'Abbas Jaunah hafizhahullah

••{ ﷽ }••
الحمد لله الذي أدبنا بالعلم، وأكرمنا بالعمل، وبارك لنا في السير خلف كبارنا، وأشهد أن لا إله إلا الله الواحد الصمد، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله أبان الحجة، وتركنا على مثل البيضاء ليلها كنهارها، وصلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً، أما بعد:

❒ Sesungguhnya termasuk prinsip yang agung dan hal-hal yang tidak ada perubahannya adalah bahwa tidak ada kemaksuman bagi seorangpun setelah para rasul alaihimus salam, dan manusia setelah para rasul bisa membantah dan bisa dibantah, semua bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak (tergantung dalil –pent).

※ Dan Allah telah memuliakan para Shahabat radhiyallahu anhum diantara umat ini dengan senantiasanya pemahaman mereka sesuai dengan dalil-dalil, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membagi manusia menjadi dua jenis; yaitu ulama dan penuntut ilmu, dan Allah mewajibkan atas penuntut ilmu untuk bertanya kepada ulama pada hal-hal yang tidak mereka pahami, dan dalil-dalil dari al-Qur'an dan as-Sunnah serta ijmak menunjukkan bahwa para ulama bertingkat-tingkat dalam ilmu dan pemahaman.

◈ Allah Ta'ala berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِيْ عِلْمٍ عَلِيْمٌ.

“Di atas setiap orang yang memiliki ilmu ada yang berilmu.” [QS. Yusuf: 76]

◈ Juga firman-Nya:

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ.

“Maka Kami menjadikan Sulaiman memahaminya.” [QS. Al-Anbiya': 79]

◈ Juga firman-Nya:

يُؤْتِيْ الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ.

“Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki.” [QS. Al-Baqarah: 269]

Jadi masing-masing pada bidang yang sesuai dengan pengalaman dan kekhususannya.

※ Dan Allah telah menetapkan secara penciptaan dan takdir adanya perselisihan diantara manusia

◈ Sebagaimana firman-Nya:

وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ. إِلَّا مَن رَّحِمَ رَبُّكَ.

“Dan mereka akan selalu berselisih, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabbmu.” [QS. Hud: 118-119]

◈ Perselisihan ini karena hikmah yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala, karena Dia:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُوْنَ.

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia lakukan, dan merekalah (hamba-hamba-Nya) yang akan ditanya.” [QS. Al-Anbiya': 23]

※ Para ulama telah meletakkan prinsip-prinsip yang dengannya syariat ini terjaga rambu-rambunya baik yang pokoknya maupun yang cabangnya, dan pada setiap bidang ilmu dari syariat ini, dan diantara bidang ilmu tersebut adalah tentang jarh wa ta'dil,

≡ dan termasuk ketentuan dalam bidang ini yang termasuk hal-hal yang disepakati oleh para ahli dalam bidang ini adalah bahwa;

✓- jarh yang sifatnya global jika berhadapan dengan ta'dil maka jarh tersebut tidak bisa diterima,
✓- dan tidak menerimanya semakin kuat jika pihak yang menjarh dituntut untuk menjelaskannya, namun dia tidak bisa menegakkan bukti dan hujjah atas jarhnya tersebut,
✓- dan semakin kuat lagi jika pihak yang menta'dil lebih berilmu dan lebih kokoh dalam bidang jarh wa ta'dil dibandingkan pihak yang menjarh berdasarkan persaksian para ulama di masanya bahwa dia adalah imam dalam bidang ilmu ini.

// - //

Pendahuluan-pendahuluan ini tergambar dalam benak saya lalu saya menuliskannya

✓- sebagai bentuk nasehat yang ringkas pertama untuk saya sendiri, dan yang kedua untuk saudara-saudara saya para penuntut ilmu,
✓- maka saya menasehati agar selalu memperhatikan rambu-rambu dan kaidah-kaidah ini dalam menyikapi jarh dari asy-Syaikh Muhammad bin Hady terhadap asy-Syaikh Dr. Arafat al-Muhammady dan saudara-saudara beliau.

(02)
❒ Maka saya katakan dalam nasehat saya:

※ Jika merunut fitnah ini dan sebab kemunculannya adalah jarh global yang bersumber dari asy-Syaikh Muhammad terhadap orang-orang yang mulia tersebut,

(•) maka kita merujuk kepada orang yang lebih berilmu dalam bidang ini dibanding asy-Syaikh Muhammad, kalau mereka sepakat dengan beliau maka selesai urusannya,

✓- namun ternyata tidak ada yang muncul dari asy-Syaikh Rabi' dan asy-Syaikh Ubaid serta saudara-saudara mereka selain menta'dil
✓- dan menuntut pihak yang menjarh untuk menjelaskan sebab jarhnya,

(•) lalu mereka mengatakan, “Beliau tidak membawa hujjah dan bukti, dan juga tidak menjelaskan sebab-sebab jarh tersebut.”

◈ Asy-Syaikh Rabi' bin Hady hafizhahullah berkata dalam al-Majmu' al-Wadhih, jilid 9 hlm. 155,

“Saya katakan:
✘- Memang sesungguhnya para pengekor hawa nafsu memiliki kaidah-kaidah yang bathil,
✓- namun kaidah 'harus menjelaskan sebab-sebab jarh ketika terjadi pertentangan antara jarh dan ta'dil' adalah kaidah yang benar,
✓- dan ini termasuk kaidah-kaidah Ahlus Sunnah tanpa diragukan lagi,
✓- dan wajib diterapkan ketika seorang muslim yang dikenal di atas manhaj salaf divonis sebagai seorang ahli bid'ah, atau dituduh fasik atau kafir, atau sebagai mata-mata atau orang bayaran.”

❒ Ketika asy-Syaikh Muhammad membantah saya dalam masalah ini, beliau sama sekali tidak menyinggung ucapan saya, beliau hanya menyebutkan dua perkara dan berbicara dengan ucapan yang tidak pantas dengan kedudukan beliau di sisi kita, dan ucapan semacam ini bisa dilakukan oleh semua orang, karena caci makian adalah senjata semua orang yang lemah, sehingga terlalu rendah bagi kita untuk menanggapinya dan membantahnya.

※ Adapun dua perkara tersebut;

(➊) Yang pertama adalah ucapan beliau:

تعجب يا جونة من المدافعين عن محمد بن هادي بالحق إن شاء الله.

“Engkau heran wahai Jaunah terhadap orang-orang yang membela Muhammad bin Hady dengan kebenaran insyaallah.”

(➋) Yang kedua:

Beliau menuntut saya agar mencela Hani bin Buraik dan siapa saja yang membelanya, seperti asy-Syaikh Abdullah azh-Zhafiry.

[ Jawabannya ]

(➊) Tidak tersamar bahwa beberapa masyayikh yang membela Anda kebanyakan mereka membela Ibrahim ar-Ruhaily dan tidak meridhai celaan terhadapnya, Anda mengenal mereka dan mereka tinggal di sekitar Anda Madinah dan tidak tersamar oleh Anda.

※ Sekelompok yang lain membela Anda bukan karena mencintai Anda, bahkan mereka telah mencela Anda, mereka membela Anda hanyalah sebagai sarana untuk mencela asy-Syaikh Ubaid, tidak ada tujuan yang lain!!

(•) Celaan-celaan Abdullah al-Ahmad dan Adil Manshur tidaklah tersamar oleh Anda, para saksi telah mempersaksikan hal itu di hadapan Anda dan Anda telah mendengar hal itu dari mereka beberapa jam lamanya.

(•) Dan tidak tersamar oleh Anda permusuhan orang-orang an-Nahjul Wadhih[¹] terhadap Anda ketika Anda memuji asy-Syaikh Ubaid dan muridnya yang berbakti Arafat al-Muhammady, sehingga mereka tidak memuji Anda dan tidak pula di akun-akun pribadi mereka. Jadi perkara-perkara ini jelas sekali seperti matahari di tengah siang.

✓- Jadi keheranan saya pada tempatnya, keheranan saya adalah terhadap orang-orang yang telah diketahui maksud dan niat mereka, oleh karena inilah saya katakan,

“Tetapi ini menunjukkan adanya berbagai penyakit dan hal-hal yang menyusup ke dalam hati serta kurang kerjaan.”

(•) Wahai Syaikh, tidakkah Anda melihat apa yang ditulis oleh Usamah Athaya yang kemarin Anda pernah mengatakan tentang dia,

“Pendusta jahat.”

— — — — —
Catatan kaki:
[¹] Yang beliau maksud adalah pengelola web dan akun twitter yang biasa menyiarkan pelajaran Ruzaiq dan Adil Manshur, bisa di lihat di:
https://twitter.com/AnnahjRadio
http://ar.alnahj.net (pent)

// - //

(03)
※ Maka nasehat saya adalah untuk orang-orang yang belum berpengalaman dalam mengarungi fitnah karena sedikitnya ilmu dan mudanya usia mereka, sementara mereka dalam kelalaian, saya ingin mengingatkan mereka kepada sebuah prinsip pokok yang mendasar:

✓- yaitu merujuk kepada ulama besar dari guru-guru kami dan guru-guru Anda, seperti asy-Syaikh al-Allamah Rabi' bin Hady, dan saya kira hal ini tidak akan menyinggung perasaan Fadhilatus Syaikh Muhammad.

(•) Maka apakah membuat Anda gelisah arahan saya untuk merujuk kepada ulama besar serta menuntut hujjah dan bukti atas jarh Anda?! Sebagaimana kami dahulu menuntut al-Hajury, namun dia tidak mampu sehingga dia jatuh dan tersungkurlah kelompoknya yang zhalim itu.

◈ Tidakkah mereka mengingat sabda Rasulullah [ﷺ]:

ﺍﻧْﺼُﺮْ ﺃَﺧَﺎﻙَ ﻇَﺎﻟِﻤًﺎ ﺃَﻭْ ﻣَﻈْﻠُﻮْﻣًﺎ!

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi.”

Para shahabat bertanya, “Bagaimana kami menolongnya sementara dia adalah orang yang zhalim?”

Beliau menjawab:

ﺗَﺤْﺠُﺰُﻩُ ﺃَﻭْ ﺗَﻤْﻨَﻌُﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠْﻢِ، ﻓَﺈِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ ﻧَﺼْﺮُﻩُ.

“Engkau cegah atau halangi dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya hal itu merupakan bentuk pertolongan kepadanya.” [HR Al-Bukhary, no. 6952 dan Muslim, no. 2584, –pent]

※ Dan mana upaya pertolongan mereka untuk asy-Syaikh Ubaid hafizhahullah

✘- ketika beliau dicela oleh orang-orang semacam Usamah Athaya
✘- dan kelompok Adil Manshur
✘- serta Abdullah al-Ahmad
✘- dan orang-orang semisal dengan mereka?!

(➋) Adapun bantahan kedua tentang tuntutan beliau kepada saya untuk mencela Hani bin Buraik dan orang-orang yang membelanya, seperti asy-Syaikh Abdullah azh-Zhaifiry:

※ Pertama kali yang membantah Hani bin Buraik adalah masyayikh Aden yang mulia,

✓- dan semua yang kami lakukan adalah dengan musyawarah dan merujuk kepada para ulama besar,
✓- dan kami mendapatkan kemuliaan dengan terdepan dalam melakukannya,
✓- dan asy-Syaikh Ali al-Hudzaify telah menulis beberapa bantahan dan kami mensyukurinya dan menyebarkannya di channel-channel telegram kami dan di media-media sosial,
✓- kami menasehati Hani agar bertaubat, dan kami melakukan surat-menyurat dengan para ulama besar, dan semua ini ada buktinya, walhamdu lillah.

✘- Jadi, tidak muncul dari kami pembelaan terhadap Hani bin Buraik
✘- dan tidak pula pemberian udzur (memaklumi) kepada Muhammad al-Imam atas penandatanganan perjanjian yang mengandung kekafiran itu,
✘- dan kami tidak pernah mengeluarkan selebaran-selebaran tentang pemberian udzur untuk Hani, sebagaimana yang muncul dari murid-murid Anda yang telah menyebarkan beberapa selebaran yang isinya menukil ucapan dari Anda,

seperti yang dilakukan oleh
~ Jamal al-Muzhzhafary,
~ Dzul Akmal (dari Riau - Indonesia –pent),
~ Adil al-Hasany,
~ dan Ruzaiq al-Qurasyi.

✘- Bahkan sampai-sampai Usamah Athaya menukil ucapan dari Anda bahwa Anda tidak memvonis sebagai mubtadi'
✘- dan memberi udzur kepada seorang mubtadi' yang menandatangani perjanjian yang penuh dengan kekafiran,
✘- dan kami tidak mendengar sebuah ucapanpun dari Anda,

- kenapa demikian wahai Syaikh?!

[ Dan jika Usamah Athaya ditanya ]

“Kenapa engkau tidak membantah Muhammad al-Imam, padahal engkau suka membantah para ulama seperti asy-Syaikh Ubaid dan asy-Syaikh Rabi'?!”

[ Dia menjawab ]

“Asy-Syaikh Muhammad bin Hady meminta saya agar tidak membantahnya.”

Ini semua buktinya ada pada saya.

(04)
※ Adapun bantahan Anda terhadap Muhammad al-Imam yang berkaitan dengan ucapannya, “Kemenangan-Kemenangan menuju Jahannam” maka hanya semakin membuat manusia bingung!!

(•) Bagaimana Anda tidak memberinya udzur pada ucapannya ini, sementara Anda telah memberinya udzur dalam menandatangani watsiqah (perjanjian damai dengan Rafidhah)?!

[ Kemudian sesungguhnya Muhammad al-Imam mengatakan ]

“Saya tidak memaksudkan siapapun dalam khutbah saya tersebut.” Bahkan dia telah menghapusnya dari websitenya.

(•) Maka apakah Anda ingin saya mentahdzir asy-Syaikh Abdullah azh-Zhafiry karena kesalahan beliau dalam menyikapi Hani bin Buraik sebagaimana yang telah Anda lakukan, dan sebagaimana yang telah Anda lakukan terhadap asy-Syaikh Ubaid?!

(•) Lalu apa yang akan Anda ucapkan terhadap orang-orang yang diam membisu selama bertahun-tahun tidak membantah Muhammad al-Imam dan tidak tegas memvonisnya sebagai seorang mubtadi'?!

(•) Kita juga tidak mendengar suaranya atau tulisannya satu kata saja yang mencela perjanjian damai yang penuh dengan kekafiran dan thaghut itu!! Lalu dia mengambil perjanjian dari murid-muridnya dan orang-orang dekatnya di rumah makan Kanun al-Arab agar mereka tidak menukil ucapan darinya bahwa watsiqah (perjanjian dengan Rafidhah) tersebut di dalamnya terdapat kekafiran atau murni kekafiran?!

Yang semacam inilah yang disebut dengan menakar dengan dua takaran (standar ganda -pent)!!

※ Yang aneh dari sikap saudara kami Usamah al-'Amry yang memiliki kedekatan dengan mereka dan merasa heran dengan sikap diam mereka dari menukilkan ungkapan semacam ini, wahai Syaikh Usamah, apakah mereka tidak memberitahu Anda perjanjian yang diambil dari mereka tersebut?!

(•) Kemudian mana bantahan dari asy-Syaikh Muhammad terhadap khutbah Ied?! Kenapa Anda tidak keluar dari diam Anda pada keadaan semacam ini untuk membela as-Sunnah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya?!

[ Muhammad al-Imam dalam khutbah Iedul Fitri telah menyebutkan berbagai faedah dan maslahat dari watsiqah dan dia memujinya dengan mengatakan ]

“Telah berlangsung antara saya dan Sayyid Abdul Malik Al-Hutsy kesepakatan untuk menandatangani surat perjanjian damai. Dan perjanjian ini yang mendorong kami untuk melakukannya adalah untuk menjaga Islam, terjaganya kehormatan, menjaga agar darah tidak tertumpah, dan melindungi harta.

Demikian juga pendorongnya adalah untuk menjaga keamanan dan ketenangan bagi negara dan rakyat, menampakkan keadilan yang dibawa oleh Islam, mewujudkan rahmat yang Islam menyerukannya kepada kita, karena Islam adalah agama rahmat, demikian juga untuk menjauhi penyakit-penyakit akhlak seperti dengki, hasad, ujub, dan tertipu diri, karena fitnah jika terjadi diantara kaum muslimin maka akan mengakibatkan pengaruh-pengaruh negatif dan berbahaya terhadap mereka.

Jadi perjanjian yang berlangsung ini –sebagaimana yang kalian dengar– demi berbagai maslahat yang besar dan berbagai manfaat yang banyak bagi hamba-hamba Allah dan negeri ini (Yaman), bihamdillahi rabbil alamin.”

※ Jadi menurut Muhammad al-Imam faedah-faedah dari watsiqah tersebut adalah:

1– Menjaga Islam.
2– Menjaga harta.
3– Selamatnya kehormatan.
4– Menjaga pertumpahan darah.
5– Menjaga keamanan dan ketenangan negara dan rakyat.
6– Menampakkan keadilan.
7– Mewujudkan rahmat.
8– Menjauhi penyakit-penyakit akhlak.

(•) Maka saya membicarakan pokok permasalahan yang dimanfaatkan oleh orang-orang yang berpenyakit bahwa asy-Syaikh Muhammad bin Hady telah menjarh beberapa orang yang mulia sama sekali tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat, tanpa bukti dan tanpa hujjah, padahal kemarin beliau masih mengatakan tentang mereka, “Termasuk orang terbaik yang saya kenal.”

(•) Kami menunggu dari beliau untuk menunjukkan bukti-bukti, dan para ulama telah menuntut beliau, dan kami juga para penuntut ilmu menuntut beliau, tetapi orang yang tidak memiliki sesuatu maka tidak mungkin akan bisa memberikannya kepada orang lain.

(05)
(•) Ketika para ulama sedang menunggu bukti-buktinya, terlebih lagi beliau berteriak menyatakan bahwa beliau memiliki bukti-buktinya, tiba-tiba orang-orang berpenyakit dan para fanatikus memutar balik fakta dengan menampakkan bahwa asy-Syaikh Muhammad bin Hady telah dizhalimi dan wajib untuk membelanya.

※ Maka saya mengatakan:

(•) Demi Allah, saya merasa heran terhadap orang-orang yang mentwit di twitter dan membela asy-Syaikh Muhammad bin Hady, kenapa mereka tidak merujuk kepada dua syaikh, asy-Syaikh Rabi' dan asy-Syaikh Ubaid untuk menanyakan pokok permasalahan, yaitu celaan asy-Syaikh Muhammad bin Hady terhadap Arafat dan saudara-saudaranya, apakah asy-Syaikh Muhammad benar dalam masalah ini ataukah masalahnya telah diselesaikan?!

(•) Maka saya menuntut semua pihak untuk mewaspadai
~ orang-orang yang memutarbalikkan fakta itu dengan menjadikan orang yang menuduh sebagai pihak yang terzhalimi,
~ sedangkan orang yang dituduh justru sebagai pihak yang zhalim, tanpa hujjah dan tanpa bukti!!

(•) Membela asy-Syaikh Muhammad bin Hady –dengan kebenaran– wajib atas Salafiyyun dan kita termasuk dari mereka, tetapi masalahnya sekarang kita sedang menghadapi tuduhan-tuduhan yang muncul dari asy-Syaikh Muhammad bin Hady
~ dalam memvonis sebagai mubtadi' terhadap beberapa orang Salafiyyun yang dikenal oleh para ulama dan para penuntut ilmu,
~ sehingga wajib memberikan penjelasan yang memuaskan yang bisa diterima sebagai hujjah dan mencabut fitnah hingga ke akar-akarnya.

◈ Asy-Syaikh al-Allamah Rabi' bin Hady berkata:

إذا وقع طرف من الأطراف تبديع أو تضليل، فلا بد من بيان أسباب هذا التبديع بيانا شافيا تقوم به الحجة، وتقطع به دابر الفتنة، ويظهر للناس أن أحكام الطرف المبدِّع قامت على علم وحجة وبرهان.

“Jika muncul dari salah satu pihak vonis mubtadi' atau vonis sesat,

✓- maka wajib menjelaskan sebab-sebab vonis tersebut dengan penjelasan yang memuaskan yang bisa diterima sebagai hujjah dan bisa mencabut fitnah hingga ke akar-akarnya,
✓- dan nampak kepada manusia bahwa vonis-vonis yang dijatuhkan oleh pihak yang mentabdi' tegak di atas ilmu, hujjah, dan bukti.”

📚[Majmu' Fatawa wa Rasail asy-Syaikh Rabi', jilid 9 hlm. 156]

// - //

❒ Sebagai penutup saya katakan:

✓- Kami terus berharap menunggu ucapan yang benar tentang Muhammad al-Imam dari asy-Syaikh Muhammad bin Hady, yang menjelaskan keadaan Muhammad al-Imam dan keadaan kelompoknya yang fanatik kepadanya di semua tempat,
✓- dan bagaimana keadaan Muhammad al-Imam dalam timbangan orang-orang yang berpegang teguh dengan kebenaran, apakah dia seorang sunni atau seorang ahli bid'ah?! Apakah dia berbasa-basi dengan Rafidhah pengusung kebathilan itu dan mendukung mereka dengan fatwa-fatwanya?!
✓- Kami mengharapkan dari asy-Syaikh Muhammad bin Hady untuk menyampaikan ceramah yang di dalamnya beliau keluar dari diamnya, dan mengatakan ucapan yang benar tentang watsiqah dengan suara menggelegar dan lantang, tentang khutbah Ied, tentang sambutan Muhammad al-Imam untuk dedengkot Hutsiyun di markiznya di Ma'bar, terlebih telah tersebar luas penukilan dari beliau yang menyatakan bahwa beliau memberi udzur untuk Muhammad al-Imam, dan berdalil dengan hadits Ammar bin Yasir dan Hathib bin Abi Balta’ah radhiyallahu anhum, inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

وصل اللهم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً.

✍️Ditulis oleh: Abu 'Ammar 'Abbas Jaunah
// Jum'at, 25 Rabi’ul Akhir 1439H

💽Unduh teks asli di:
- https://t.me/ukhuwahsalaf/5579 atau http://bit.ly/2p5kpGA

Url: http://bit.ly/Fw390623
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Channel Telegram @JujurlahSelamanya // Dari: @dourous_machaikhaden2

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.