Orang-Orang Yang Menjuluki Sha'afiqah Mereka Itulah Sebenarnya Yang Sha’afiqah


🚇ORANG-ORANG YANG MENJULUKI SHA'AFIQAH MEREKA ITULAH SEBENARNYA YANG SHA’AFIQAH

Al-Allamah Asy-Syaikh Rabi' bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah berkata:

الذين يطعنون في إخوانهم بأنهم صعافقة هم الصعافقة.

“Orang-orang yang mencela saudara-saudara mereka dengan melemparkan julukan 'Sha’afiqah' mereka itulah yang sebenarnya adalah Sha’afiqah (orang-orang bodoh).”

≡ Sebagian orang ada yang mendustakan perkataan asy-Syaikh Rabi' yang tersebar luas tanggal 11 Jumadal Ula 1439H ini.

[ Jawabannya ]

❒ Sesungguhnya perkataan ini diucapkan oleh asy-Syaikh Rabi' hafizhahullah pada pertemuan beliau dengan ikhwah dari Tunisia, sebagaimana yang telah tersebar luas di media-media sosial dan dinukil dari asy-Syaikh Rabi' oleh para penuntut ilmu yang terpercaya, dan ini cukup untuk menunjukkan benarnya penukilan dari beliau berdasarkan prinsip yang dikenal di kalangan para ulama, yaitu menerima berita dari orang yang terpercaya.

✓- Yang menguatkan hal ini adalah sikap asy-Syaikh Rabi' yang mengingkari dengan jelas terhadap celaan kepada Salafiyyun yang tidak bersalah dan ejekan terhadap mereka dengan memberi julukan Sha’afiqah.

✓- Kemudian dikatakan: Asy-Syaikh Rabi' masih sehat wal afiat dan ada di tengah-tengah kalian, dan ucapan yang disandarkan kepada beliau ini disebarluaskan di hadapan orang banyak dan di semua media-media sosial, sementara tidak ada penukilan dari asy-Syaikh Rabi' yang mengisyaratkan bahwa ucapan tersebut tidak benar, bahkan yang nampak dari beliau justru menguatkan, dan yang semacam ini hakekatnya bagi orang yang adil dan sportif cukup untuk menguatkan benarnya penukilan ucapan tersebut dari beliau.

✓- Jika ada seseorang yang meragukan kebenaran ucapan yang dinukil dari asy-Syaikh Rabi' tersebut, maka dia harus melakukan tatsabbut (meneliti dan memastikan benar tidaknya), dan hal itu caranya adalah dengan langsung merujuk kepada asy-Syaikh Rabi' sendiri untuk memastikan kebenaran nukilan dari beliau tersebut.

(•) Inilah cara yang benar dan adab yang sesuai tuntunan syariat dalam menyikapi sesuatu yang disandarkan kepada seorang ulama ketika muncul keraguan tentang kebenaran sesuatu yang dinukil dari ulama tersebut, karena hal itu sebagai bentuk pengamalan firman Allah Azza wa Jalla:

إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوْا.

“Jika datang kepada kalian seorang yang fasik membawa sebuah berita, telitilah!” [QS. Al-Hujurat: 6]

~ Jadi Allah memerintahkan untuk melakukan penelitian kebenaran berita yang dibawa oleh orang yang fasik,
~ dan ini menunjukkan bahwa bisa saja atau terkadang orang yang fasik jujur dalam menyampaikan berita,
~ kalau tidak demikian maka tidak ada maknanya meneliti berita yang dia bawa, maka perhatikanlah dengan baik-baik!!

(•) Lalu bagaimana jika yang menukil berita tersebut tidak ada bukti darinya yang menunjukkan bahwa dia orang yang fasik?!

[ ? ] Mana sikap adil dan sportif kalian?!
[ ? ] Bahkan mana sikap berhenti dan mengikuti dalil-dalil yang jelas sekali semacam ini?!

❒ Sesungguhnya mereka –yaitu orang-orang yang mendustakan apa yang diucapkan oleh asy-Syaikh Rabi'–

~ jika mereka selalu berpegangan dengan adab yang dibimbingkan oleh syariat ini,
~ lalu mereka mengamalkan kandungan ayat yang mulia ini,
~ dan semangat untuk meneliti kebenaran dan bersikap adil dan sportif,

≡ niscaya mereka akan bisa beristirahat dengan tenang dan tidak membuat letih orang lain, dan niscaya mereka akan menghemat waktu yang besar agar tidak habis hanya untuk berdebat dengan kebathilan serta menceburkan diri ke dalam fitnah sedemikian jauh!!

✘- Adapun kelakuan mereka dengan segera mendustakan penukilan dari asy-Syaikh Rabi'
✘- dan segera mencela orang-orang yang menukilnya,

≡ maka ini menunjukkan fanatisme dan hawa nafsu.

(02)
※ Sesungguhnya orang yang berakal dan bersikap adil dan sportif benar-benar merasa heran

✘- terhadap kelancangan mereka dalam mendustakan semua yang diucapkan oleh orang-orang yang mereka musuhi tanpa bukti yang benar, jadi minimalnya mereka tidak menyikapi orang-orang yang menukil berita itu seperti menyikapi orang fasik yang wajib untuk diteliti benar tidaknya berita yang dia bawa!!

✘- Bahkan kita melihat mereka berlomba-lomba untuk memvonis berita apa saja yang menyelisihi hawa nafsu mereka dengan menyatakan bahwa itu murni dusta dan mengada-ngada, tanpa mereka menunjukkan hujjah dan bukti sama sekali!!

≡ Maka jika hal ini bukan kejahatan dalam perdebatan, lalu dinamakan apa jika demikian?!

✓- Siapa diantara mereka yang dalam hatinya terdapat sikap adil dan sportif sedikit saja walaupun hanya seberat biji sawi, maka hendaklah dia menghadapkan dirinya kepada perkataan al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah yang mengatakan:

فليس لك أن تظن بالمسلم شراً، إلا إذا انكشف لك أمر لا يحتمل التأويل، فإن أخبرك بذلك عدْل فمال قلبك إلى تصديقه كنت معذوراً، لأنك لو كذّبته كنت قد أسأت الظن بالمُخْبر، فلا ينبغي أن تحسن الظن بواحدٍ وتسيئه بآخر.

“Engkau tidak boleh untuk buruk sangka terhadap seorang muslim, kecuali jika tersingkap jelas kepadamu perkara yang tidak mengandung penafsiran lain, maka jika hal itu dikabarkan kepadamu oleh seseorang yang adil lalu hatimu condong untuk membenarkannya, engkau mendapatkan udzur, karena jika engkau mendustakannya maka engkau telah berburuk sangka terhadap orang yang mengabarkan kepadamu tersebut, jadi tidak sepantasnya engkau berbaik sangka kepada seseorang namun berburuk sangka kepada orang lain!!” [Muktashar Minhajul Qashidin, hlm. 133]

✘- Adapun orang yang terus berupaya untuk meyakinkan orang lain dengan cara mendustakan kebenaran dan membenarkan kebathilan, maka dia tidak akan merugikan kecuali dirinya sendiri, dan tidak akan merugikan orang-orang yang kokoh di atas kebenaran kecuali sekedar gangguan saja.

✍️Ditulis oleh: Abul Harits Ahmad Badakhin
// Malam Selasa, 11 Jumadal Akhirah, 1439H

Url: http://bit.ly/Fw390627
📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: Channel Telegram @JujurlahSelamanya // Dari: https://t.me/dourous_machaikhaden2/4554

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.