Apakah Ulama Kibar Selalu Benar Dan Ulama Sighar Selalu Salah?


🚇APAKAH ULAMA KIBAR SELALU BENAR DAN ULAMA SIGHAR SELALU SALAH?

❱ Faidah dari Al-Ustadz Muhammad as-Sewed hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Ada pertanyaan, mengapa ada ulama kibar dan ada pula ulama sighar? Apakah yang kibar selalu benar & yang sighar selalu salah?

[ Jawab ]

❒ Ikhwani fiddin a’azzakumullah, tidak mesti yang kibar selalu benar sebagaimana tidak mesti yang sighar selalu salah.

(✓) Tetapi kita dalam mencari ilmu tentunya kita mencari dari orang yang lebih ‘aalim, mencari dengan dari orang yang lebih ‘aalim.

~ Kalau kamu belajar dari si fulan, ternyata fulan itu punya guru. Dia itu muridnya si fulan. Kamu milih mana? Mau milih belajar sama muridnya atau sama gurunya?

Ikhwani fiddin a’azzakumullah, tentunya sanad ‘aali (yang lebih tinggi) dicari, sejak salaf dicari. Sampai seorang ulama ketika mendapatkan hadits, “Kamu dari siapa dapatnya?” … “Dari fulan”. “Masih ada, masih hidup?” … “Masih, di negeri fulani”. Itu dia menempuh perjalanan satu bulan untuk menemui gurunya orang ini, untuk mencari apa..? Untuk mencari Sanad ‘Aali (sanad yang lebih tinggi).

(✘) Sehingga hanya orang yang bodoh kalau dia mengetahui ada masyayikh kibar, yang merupakan gurunya dari yang kecil-kecil tadi, dia milih mau belajar ke yang ini, ndak mau yang itu, padahal dua-duanya bisa.

~ Kalau tidak bisa dimaklumi. Kalau tidak bisa yang kibar, yang ada di sini saja, nanti kalau ada kesempatan bisa belajar ke sana, belajar di sana, Iya toh. Tapi ada kedua-duanya tapi milih yang sighar, tapi dia tidak berusaha menjaci sanad yang ‘aali, berarti menyelisihi Salaf, menyelisihi mereka-mereka para ulama, ahlul hadits, yang selalu mencari sanad yang ‘aali, sanad yang ‘aali, sanad yang ‘aali. Itu saja.

❒ Adapun masalah kemungkinan salah, ada pada semua manusia. Selama namanya manusia, selama namanya adalah insan, maka ada nis-yan-nya, ada khilaf-nya..!! Semua manusia!!

~ Tetapi bisa kita lihat mana yang lebih memungkinkan untuk salah? Kita atau ulama? Iya, kita lebih memungkinkan untuk salah ketimbang ulama.

~ Thayyib, ulama yang ‘aalim, muridnya atau gurunya? Iya, tentu gurunya lebih ‘aalim dan muridnya lebih mungkin salah -Baarakallahu fiikum- sehingga dari situlah tetap kita mencari sanad yang lebih tinggi. Kalau ada gurunya, kenapa kita belajar sama muridnya. Na’am.

※ Bahkan ada dalil yang cukup untuk mengalahkan semua ucapan-ucapan lain, iaitu ucapan Rasul [ﷺ], “Al-Barokah Ma’aa Akaabirikum” (barokah bersama orang-orang besar kalian / orang-orang tua kalian).

※ Setelah ada hadits ini, ada aqwal para shahabat, ucapan Umar ibnu Khattab, ucapan Abdullah ibnu Mas’ud hampir sama, bahwa; “Manusia akan selalu dalam keadaan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besarnya.”

Orang yang ‘aalim (kibar, ed) dan lebih banyak pengalamannya karena dia sudah sepuh. Sudah putih jenggotnya rambutnya di atas ilmu maka mereka tentunya lebih berilmu dan lebih berpengalaman dan lebih terbukti.

Apanya? Kekokohannya dan keistiqomahannya..!!

~ Berapa kali kita lihat anak muda berapi-api, tiba-tiba setelah menikah berubah. Banyak apa ngak banyak? Banyak..! Berapa banyak orang yang berapi-api walaupun setelah nikah, setelah punya anak berubah. Banyak apa ngak banyak? Banyak..! Banyak orang yang masya Allah semangatnya sunnah, sunnah, sunnah, setelah dia memiliki berbagai macam urusan-urusan, anaknya, istrinya, perusahaannya dan segala macam .. berubah!! Sangat banyak..!!

~ Tapi (yang) ini sudah sampai sepuh masih tetap semangat di atas sunnah, di atas tauhid dan tetap istiqomah. Berarti dia telah membuktikan apa yang kamu belum tentu bisa seperti dia. Maka kelebihan orang yang lebih tua sekian banyaknya. Baarakallahu fiikum. Tambah berwibawa, tambah penghormatan, sudah berkurang syahwatnya tidak seperti anak muda. Na’am.

📚[Audio Tanya Jawab Kajian “Kitabut Tauhid” // Jum'at malam, 26 Shafar 1436H ~ 19 Dis. 2014M // Masjid Umar Al-Khattab, Pakalongan]

📀 // Unduh audio di:
- https://goo.gl/2bGefj

📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.