Bantahan Terhadap Orang-orang Yang Membela Adil bin Manshur Al-basya (Bagian Pertama)


🚇BANTAHAN TERHADAP ORANG-ORANG YANG MEMBELA ADIL BIN MANSHUR AL-BASYA (BAGIAN PERTAMA)

الحمد لله و الصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه وبعد:

Al-Bukhary dan Muslim meriwayatkan dari hadits Ummul Mu'minin Shafiyyah bintu Huyyai radhiyallahu anha dia berkata:

ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣُﻌْﺘَﻜِﻔًﺎ، ﻓَﺄَﺗَﻴْﺘُﻪُ ﺃَﺯُﻭﺭُﻩُ ﻟَﻴْﻼً. ﻓَﺤَﺪَّﺛْﺘُﻪُ ﺛُﻢَّ ﻗُﻤْﺖُ ﻷَﻧْﻘَﻠِﺐَ، ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻣَﻌِﻲ ﻟِﻴَﻘْﻠِﺒَﻨِﻲ –ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣَﺴْﻜَﻨُﻬَﺎ ﻓِﻲ ﺩَﺍﺭِ ﺃُﺳَﺎﻣَﺔَ ﺑْﻦِ ﺯَﻳْﺪٍ– ﻓَﻤَﺮَّ ﺭَﺟُﻼﻥِ ﻣِﻦْ ﺍﻷَﻧْﺼَﺎﺭِ، ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺭَﺃَﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃَﺳْﺮَﻋَﺎ. ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﻋَﻠَﻰ ﺭِﺳْﻠِﻜُﻤَﺎ، ﺇﻧَّﻬَﺎ ﺻَﻔِﻴَّﺔُ ﺑِﻨْﺖُ ﺣُﻴَﻲٍّ. ﻓَﻘَﺎﻻ: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ. ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺇﻥَّ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥَ ﻳَﺠْﺮِﻱ ﻣِﻦْ ﺍﺑْﻦِ ﺁﺩَﻡَ ﻣَﺠْﺮَﻯ ﺍﻟﺪَّﻡِ، ﻭَﺇِﻧِّﻲ ﺧَﺸِﻴﺖُ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺬِﻑَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻤَﺎ ﺷَﺮًّﺍ - ﺃَﻭْ ﻗَﺎﻝَ ﺷَﻴْﺌًﺎ.

Dahulu Nabi [ﷺ] pernah beri’tikaf, lalu saya datang untuk menjenguk beliau pada suatu malam, kemudian sayapun berbicara dengan beliau lalu saya bangkit untuk pulang, maka beliau bangkit bersama saya untuk mengantar saya –tempat tinggal Shafiyyah ketika itu di rumah Usamah bin Zaid–, lalu ada dua orang dari Anshar lewat, ketika keduanya melihat Rasulullah [ﷺ] maka keduanya mempercepat jalannya, maka Nabi [ﷺ] bersabda, “Pelan-pelanlah kalian berdua, sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyyah bintu Huyyai!” Keduanya menjawab, “Subhanallah, wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya syaithan berjalan pada aliran darah anak Adam, dan sungguh saya khawatir dia akan melemparkan keburukan atau sesuatu di dalam hati kalian berdua.”

Al-Muhallab rahimahullah berkata sebagaimana disebutkan dalam Syarh al-Bukhary karya Ibnu Baththal, “Dalam hadits ini terdapat fikih untuk menjauhi tempat-tempat yang bisa menimbulkan kecurigaan, dan jika seseorang khawatir akan didahului oleh buruk sangka maka hendaklah dia menjelaskan untuk menepis persangkaan tersebut...” Hingga perkataan beliau, “Walaupun Nabi [ﷺ] disucikan oleh kaum mu'minin dari hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan, namun pada sabda beliau [ﷺ] 'Sesungguhnya dia ini adalah Shafiyyah' terdapat sunnah (teladan) yang baik bagi umat beliau agar mereka melakukan apa yang beliau lakukan dalam hal menjauhi tuduhan-tuduhan buruk dan hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan.”

An-Nawawy rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menjaga diri dari buruk sangka manusia terhadap seseorang, dan berusaha mencari keselamatan dan menjelaskan alasan dengan alasan-alasan yang benar, dan kapan saja seseorang melakukan sesuatu yang sepintas lalu bisa dianggap mungkar, padahal benar namun tidak nampak, maka hendaklah dia menjelaskan keadaannya untuk menepis buruk sangka.”

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad berkata pada Syarh Sunan Abu Dawud ketika menjelaskan hadits ini, “Padanya terdapat faedah agar seseorang menepis dari dirinya jika muncul sesuatu yang bisa menimbulkan buruk sangka.”

Dari sinilah, sepantasnya –jika tidak wajib– atas Adil bin Manshur untuk menepis berbagai tuduhan dari dirinya dan menjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan kecurigaan serta menepis persangkaan terhadap dirinya dengan menjelaskan sikapnya terhadap al-Hajury, yaitu apakah dia menganggapnya termasuk Ahlus Sunnah? Dan hendaknya dia menerangkan sikapnya terhadap Muhammad al-Imam, yaitu apakah dia seorang mubtadi’ atau bukan? Serta hendaknya dia menjelaskan kepada kita tentang pendapatnya terhadap orang yang mencela asy-Syaikh Ubaid al-Jabiry hafizhahullah?

Namun hingga sekarang ini kita belum melihat hal ini sedikitpun muncul dari Adil Manshur, justru kita melihat ada orang yang fanatik untuknya tanpa alasan yang benar dan membelanya dengan kedunguan, seperti Ruzaiq al-Qurasyi dan Abdullah al-Ahmad serta yang lainnya, yaitu dengan mereka mengumpulkan berbagai tazkiyah (pujian) dan merasa sangat marah dan dongkol demi membela seorang penuntut ilmu yang plintat-plintut. Kita memohon kepada Allah semoga memperbaiki keadaannya.

(02)
Dan keheranan saya hampir tidak ada habisnya karena banyaknya kesalahan penulisan pada tulisan Ruzaiq al-Qurasyi ini. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah dia menutup tulisannya dengan menyatakan bahwa siapa saja yang menuntut Adil Manshur agar menjelaskan sikapnya, bisa jadi dia adalah orang yang bodoh tentang manhaj salaf, atau dia adalah seorang penyusup. Padahal orang-orang yang dekat dengan asy-Syaikh Rabi’ mengetahui bahwa beliau telah meminta kepada Adil Manshur untuk menjelaskan sikapnya terhadap Muhammad al-Imam si mubtadi’ itu. Silahkan tanyakan hal ini kepada Adil Manshur!

Maka ini menunjukkan bahwa tuntutan kita kepadanya adalah tuntutan yang sesuai syari’at. Namun Adil Manshur terus menghindar dan berkelit. Dan coba tanya ke Ruzaiq al-Qurasyi: “Apakah asy-Syaikh Rabi' telah mengujimu dan menanyaimu tentang sikapmu terhadap Muhammad al-Imam, dan apa jawabanmu kepada beliau?”

Kita tunggu jawabannya.

Sebagai penutup, wahai Ruzaiq, ini dia Usamah Athaya si maftun dan pemecah belah salafiyun di dunia –sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh Rabi’ tentang dia– dia mengomentari tulisanmu yang tidak bermutu itu dengan mengucapkan, “Beliau telah benar dan memberi nasehat.” Jadi ini menegaskan bahwa burung-burung itu akan hinggap bersama yang sejenis.

Walhamdulillah.

❱ Ditulis oleh: Munir as-Sa'dy
Rabu, 24 Dzulqa’dah 1438H

📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

// Sumber: @ForumSalafy // Dari: https://t.me/dourous_machaikhaden/4316

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.