Orang Yang Bertaubat Dan Jujur Dalam Taubatnya, Maka Akan Berbeda Cara Salafy Dalam Menyikapinya


🚇ORANG YANG BERTAUBAT DAN JUJUR DALAM TAUBATNYA, MAKA AKAN BERBEDA CARA SALAFY DALAM MENYIKAPINYA

❱ Disampaikan oleh Al-Ustadz Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah

Ikhwani fiddin 'azaaniyallahu waiyyakum

■ Berbeda kalau seorang walaupun pernah melakukan kemungkaran secara terang-terangan tetapi dia taubat dan nampak taubatnya. Nampak pada akhlaknya, pada ucapan-ucapan nya, sediiiih dia.. Sediiiih!!

✘ Tidak kemudian seperti mengklaim taubat namun subhanallah

kayak tidak pernah melakukan apa-apa.
Di tengah-tengah komunitasnya, di tengah-tengah pondoknya santai aja, tertawa sana tertawa sini, main futsal, main bola ya dan seterusnya,
masih berambisi untuk menjadi musammi', menjadi pengajar.

[▴] Orang yang benar-benar taubat itu nampak di raut wajahnya, sedih dia, sulit untuk tersenyum dia. Nanti kita akan lalui dalil-dalilnya. Sulit, melihat temannya ketawa ria, berolah raga bermain, dia gak bisa, dia duduk di masjid ambil al-Qur'an dia baca al-Qur'an, dia baca Kalamullah. Dia memuroja'ah durus.

“Ya fulan, antum dulu mudarris, kok sekarang ini tiba-tiba antum hadir di majelis-mejelis ilmu bersama yang yunior-yunior ini..!!”

“Ana banyak dosa, ana benar sudah belajar tapi ana tidak beramal dengan ilmu. Ana ingin menebus dosa itu. Semoga hasanaat yang lakukan yang antum lihat secara zhahir ini, itu bisa menghapuskan dosa-dosa dan mendinginkan panasnya kemaksiatan yang ana lakukan.” Nampak dia.

Ketika ada pihak yang memprovokasi, “Ya akhi, jangan kuatir, nanti kita akan bersama antum. Ayuh terus mengajar lagi, ayuh antum begini ..”

“Ngak.. ngak..”

“Ngak, jangan kuatir .. kita akan anu ... kuat.”

“Ngak ...”

Tidak merasa karena sudah ada yang mendukung, karena ada yang menguatkan, tidak. Dia takut kepada Allah.

“Ana mau berbenah ya akhi... urusan ini ana dengan Allah tabaroka wa ta’ala.”

“Tapi mereka itu melakukan itu kepada antum, menyikapi antum seperti itu karena benci..”

“Oh, ngak.. insyaAlah mereka ngak benci. Itulah teman-teman saya yang hakiki. Itu teman-teman saya yang insyaAllah semoga ana ditakdirkan sebagai ahlul jannah, teman-teman ana insya Allah, Allah pertemukan di jannah nanti bagian dari al-Muttaqun, al-akhillah, teman-teman setia yang berjalan di atas taqwa.” Berlanjut perkawanannya sampai akhirat nanti. “Itu kawan-kawan saya.”

Bukan menunggu kesempatan, mencari pendukung, “Jangan!!” Menunggu kesempatan yang membelanya, “Jangan.!!” Itu tidak menunjukkan taubat yang jujur dan Allah akan bongkar. Mungkin dia bisa bertahan 5 bulan, bisa mungkin dia bertahan setahun, menampakkan dirinya sebagai seorang yang taaim, seorang yang bertaubat, namun ketika tidak jujur akan datang fitnah yang menguak apa yang ada di dalam hatinya.

Allahuma ja’alni wa iyyakum min ibaadihish shaadiqin, wa laa taj’alni ya rabb, wa ikhwani thalabatal ilm min ibaadikal kaadzibin. Na’am.

📚[Dari kajian bertema: “Al-Hajr Dalam Tinjauan Syariat”, Ma'had as-Salafy Jember, 22 Rabiul Awwal 1439H]


📮••••|Edisi| @ukhuwahsalaf / www.alfawaaid.net

➥ #Manhaj #hajr #boikot #ahlul_bathil #ahlul_bid_ah #pelaku_kefasikan

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.