Haruskah Menasehati Sebelum Membantah Dan Mentahdzir?

📂 Sebagian pihak yang menuduh salafiyin mencari-cari kesalahan dan tidak melakukan upaya nasihat terhadap orang-orang yang terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan, padahal penyimpangan tersebut mereka sebarkan di dunia maya.

Berikut adalah jawaban dari beberapa ulama tentang masalah ini.

❱ Al-Allamah al-Albani rahimahullah

[ Pertanyaan ]

“Ucapan sebagian orang atau dengan ungkapan yang lebih tepat: ‘persyaratan’ sebagian orang bahwa ketika membantah, sebelum mengeluarkan bantahan diharuskan mengirim bantahan tersebut kepada orang yang dibantah agar dia bisa mempertimbangkannya. Apakah ini termasuk manhaj salaf?”

[ Beliau menjawab ]

■ Ini bukanlah syarat.

(•) Namun, hal ini mungkin untuk dilakukan.
︿ Diharapkan dengan metode tersebut dapat dilakukan pendekatan tanpa harus menyebarkan masalah tersebut di kalangan manusia. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah hal yang bagus.

(•) Adapun jika, menjadikan hal itu sebagai syarat; menjadikan sebagai syarat umum;
︿ ini bukanlah tindakan yang hikmah secara mutlak.

[↑] Sebagaimana yang kalian ketahui bersama bahwa manusia itu seperti emas dan perak.
︿ Siapa yang engkau ketahui bahwa dia bersama kita di atas satu manhaj dan siap menerima nasihat; engkau tulis surat kepadanya tanpa harus menyebarkan kesalahannya. Minimalnya, sikap ini adalah pandangan khusus darimu. Hal ini bagus, tetapi bukan persyaratan.

(•) Bahkan, kalaupun itu merupakan syarat, belum tentu mampu dilakukan.
︿ Dari mana engkau mengetahui alamatnya? Berikutnya, apakah pasti akan datang jawaban (darinya) kepadamu?

[↑] Ini semua termasuk urusan yang sifatnya dugaan semata.”

📚[Silsilah al-Huda wa an-Nur, no. 638]

••••

❱ Al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

“Wahai Syaikh kami, termasuk hal yang telah menyebar dan dinisbahkan kepada salafiyin, adalah adanya sekelompok orang yang menganggap wajibnya menasihati sebelum mentahdzir. Apakah ada tanggapan darimu tentang hal ini, wahai Syaikh kami?”

[ Beliau menjawab ]

■ “Aku telah menjawab pertanyaan ini sebelumnya, barakallahu fiik. Kami diuji dengan orang yang seperti ini.

(•) Engkau mendapatinya menyebarkan kebatilan, dusta, dan fitnah terhadap yang lain; baik kepada orang-orang tertentu maupun secara umum.

Jika dinasihati atau dikritik, dia berkata,
(•) “Mengapa mereka mentahdzirku?
(•) Mengapa mereka tidak menasihatiku?
(•) Mengapa mereka tidak menjelaskannya kepadaku?”
… (Ini adalah) berbagai alasan yang batil.

[↑] Kita meminta kepada mereka agar segera bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan kembali kepada kebenaran dengan penuh adab, rendah hati, dan meninggalkan alasan seperti ini.

(•) Kalaupun dianggap orang ini (yang mentahdzir tanpa menasihati, –pen.) bersalah dan tidak berbicara terlebih dahulu, tidak menasihatimu, hendaknya engkau kembali kepada kebenaran, setelah itu engkau menegurnya.

(•) Adapun jika kritikan itu disebarkan di tengah-tengah manusia dan engkau tetap berjalan di atas kebatilanmu dan kesalahanmu sembari berkata, “Mereka tidak melakukan ini, mereka melakukan itu… (tidak menyampaikan nasehat terlebih dulu, red),” ini adalah omong kosong.

[↑] Yang wajib bagi seorang mukmin ialah kembali kepada Allah ‘azza wa jalla dan menerima nasihat, baik disampaikan secara tersembunyi maupun terang-terangan.

(•) Engkau, menyebarkan kesalahanmu di dalam buku, kaset, dan seterusnya.
︿ Seandainya engkau sembunyikan kesalahanmu dan engkau lakukan di tempat yang gelap, hanya antara engkau dan Allah ‘azza wa jalla; lantas orang ini mengetahuinya, hendaknya dia menasihatimu secara diam-diam antara engkau dan dia.
︿ Adapun jika engkau menyebarkan ucapan dan perbuatanmu di dunia, lantas ada seorang muslim menyebarkan bantahannya terhadapmu, hal ini tidak mengapa.

[↑] Tinggalkanlah berbagai alasan yang banyak datang dari kalangan pengusung kebatilan yang melampaui batas di atas kebatilan dan penentangan.”

📚[Kaset Liqa ma’a asy-Syaikh Rabi’, tahun 1422H, pertanyaan no. 5]

••••

❱ Asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

“Apakah memberi nasihat menjadi syarat sebelum mentahdzir seseorang ketika terjatuh dalam kesalahan?”

[ Beliau menjawab ]

■ “Kami berkata —baarakallahu fiikum— kaidah yang syar’i ialah bahwa sebuah kesalahan tertolak dari yang mengucapkannya. Sebab, tidak seorang pun yang mutlak bisa diterima ucapannya selain Rasulullah -ﷺ-. Kita harus mengagungkan kebenaran.

(•) Adapun tentang memberi nasihat kepadanya, kesalahan itu ada dua keadaan:
︿ [1] Kesalahan yang tertutupi, tidak tampak, dan tidak tersebar. Tidak diragukan lagi bahwa menasihatinya lebih utama. Namun, tidak berarti bahwa ungkapan yang salah tersebut tidak boleh disebut untuk dibantah secara mutlak. Sebab, boleh jadi kesalahan itu menyebar. Dalam hal ini, menasihatinya lebih utama.
︿ [2] Sebuah kesalahan telah tampak dan menyebar luas. Orang yang mengerti keadaan tersebut wajib membantah kebatilan dan membantah orang yang mengucapkannya. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla memerintah kita untuk mengucapkan kebenaran dan memerintah kita untuk tidak menyembunyikan kebenaran. Jelas?

[↑] Jika telah jelas, tersisa masalah menasihati antara dia dan dirimu. Ini masalah tambahan (bukan inti), yaitu engkau menasihatinya. Kita mengetahui sebuah kesalahan yang wajib dijelaskan. Kita juga memiliki sebuah nasihat yang lebih utama untuk kita lakukan.
︿ Ada amalan tambahan
︿ dan ada pula amalan wajib.

(•) Kita tidak boleh melakukan amalan tambahan untuk menggugurkan yang wajib. Jelas?
︿ Ada sebagian orang menggunakan cara ini, melakukan amalan tambahan lantas menggugurkan yang wajib, dalam keadaan kesalahan tersebut menyebar. Ini jelas merupakan kesalahan.

◈ Al-Imam Qatadah berkata,

{ إِنَّ الرَّجُلَ ابْتَدَعَ بِدْعَةً يَجِبُ أَنْ تُذْكَرَ حَتَّى تُحَذَّرَ. }

“Sesungguhnya jika seseorang melakukan satu bid’ah, wajib disebut agar (manusia) berhati-hati darinya.”

[↑] Oleh karena itu, kebenaran harus dijelaskan.

◈ Para nabi dan rasul diutus untuk menjelaskan kebenaran kepada makhluk.

{ أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّغُوتَۖ }

“Hendaknya kalian menyembah hanya kepada Allah dan menjauhi thagut.” [An-Nahl: 36]

{ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهُ }

(•) Kalimat tauhid dibangun di atas dua prinsip,
︿ [1] tidak menafikan secara mutlak,
︿ [2] tidak pula menetapkan secara mutlak.

Namun, kalimat tersebut (mengandung sisi, red.) menafikan dan menetapkan. Padanya terdapat penjelasan terhadap kebenaran dan membantah kebatilan.

(•) Kalimat { لَا إِلَهَ } membantah pengikut kebatilan yang menyembah selain Allah ‘azza wa jalla tanpa haq, menjadikan berhala sebagai ilah, dan seterusnya.

✔ Kalimat { إِلَّا اللهُ } menetapkan kebenaran. Jadi, ia mengandung kebenaran dan membantah kebatilan.
✔ Kalimat { مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهُ } mengandung penetapan terhadap kebenaran dan membantah kebatilan.

[↑] Bagaimana itu?
︿ (Kalimat tersebut) menetapkan kenabian dan kerasulan Muhammad -ﷺ- dan bahwa beliau seorang rasul Allah subhanahu wa ta’ala, menyelisihi pendapat yang mengingkari risalah dan mengatakan bahwa itu adalah hasil kerja kerasnya, dan seterusnya. Menetapkan kebenaran adalah menetapkan bahwa Nabi -ﷺ- utusan Allah ‘azza wa jalla.
︿ Kalimat ini juga membantah orang yang berlebihan dalam hal menyikapi beliau, berdoa kepada beliau selain Allah ‘azza wa jalla, dan menjadikannya sebagai ilah.

[↑] Kalimat tauhid dibangun di atas sikap menjelaskan kebenaran dan membantah kebatilan. Hal inilah yang dibawa oleh para nabi. Jelas ya ikhwan?

(•) Seorang yang bersalah, berlemah lembutlah kepadanya jika dia seorang Ahlus Sunnah, disertai dengan membantah kesalahan itu.
︿ Jika dia membangkang, jelaskan hakikat perkaranya bahwa dia salah dalam hal ini dan keliru dalam hal itu.

› Al-Imam Ali bin al-Madini menyatakan bahwa ayahnya dhaif.
› Abu Dawud menyatakan bahwa anaknya dhaif.

[↑] Mereka tidak mengenal basa-basi kepada siapa pun, meskipun kerabatnya yang terdekat.

◈ Perhatikan penjelasan al-Imam al- Khatib dalam kitabnya, Syaraf Ashabil Hadits, dan yang lainnya. Sama sekali tidak ada sikap basa-basi, dia tetap menjelaskan keadaannya. Dia melihat dan berkata, “Hati-hatilah dari ucapan fulan… —tetapi kalau yang mengucapkannya adalah Zaid atau Amr dari kalangan manusia,—” maka ini salah, ini jelas kesalahan. Ya, rujuknya seseorang lebih kami sukai.

✔ Tatkala seseorang kembali kepada al-haq itu lebih menenteramkan hati. Sebab, tidak ada permusuhan antara kami dan kebenaran.

✘ Namun, (permusuhan disebabkan oleh) terus menerus di atas kebatilan. Inilah yang wajib berhati-hati darinya.”

📚[Sumber: Situs elbukhari.com]

••••
📮https://t.me/ukhuwahsalaf [M.U.S]
🌍www.alfawaaid.net

₪ Dari situs AsySyariah.Com // Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal hafizhahullah

➥ #Manhaj #Bantahan #Rudud #Tahdzir #Nasehat

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.