Bantahan Terhadap Kedunguan Usamah Athaya al-Utaiby

Tidak ada seorangpun yang terlempar dari dakwah karena keburukan akhlaqnya, sok merasa berilmu, kurang ajar terhadap Masayikh, menimbrungkan dirinya dalam semua hal yang kecil dan besar, dan menyibukkan dirinya dengan berbagai fitnah, seperti yang terjadi pada diri Usamah Athaya yang telah ditahdzir oleh Masyayikh karena terkumpulnya semua sifat-sifat ini pada dirinya.

Tahdzir dari Masyayikh terhadapnya ada dan terekam, dan sebagian mereka ada yang berbicara tentangnya secara panjang lebar, dan orang-orang terdekat dengan Masyayikh ada yang menyaksikan tahdzir terhadapnya dan melarangnya untuk berkunjung ke rumahnya.

Diantara kebusukan dan hinanya adalah dia menamakan Salafiyyun sebagai mafia, dia menyerupakan Salafiyyun dengan kelompok kriminal yang tidak meninggalkan sebuah kejahatan pun kecuali mereka melakukannya, dan tidak ada sebuah perbuatan yang haram kecuali mereka menggelutinya, seperti perdagangan narkoba, mencuri uang bank, membunuh, melacur, jual beli anggota tubuh manusia, dan selainnya. Bahkan penamaan dia terhadap sebagian orang-orang yang mulia sebagai mafia mencakup sebagian Masyayikh Salafiyyun.

Dan saya tidak menganggap mustahil ada pihak yang mendanai Usamah Athaya untuk menghancurkan dakwah Salafiyyah dan melemparkan gambaran yang buruk terhadap Masyayikh Salafiyyun dengan kompensasi sejumlah uang. Jadi orang ini tidak hentinya siang malam menimbulkan kekacauan terhadap dakwah Salafiyah dan para ulamanya. Dan di tulisannya terakhir dia melancarkan serangan yang berkobar-kobar kepada Masyayikh kita. Semoga Allah melindungi dakwah dan orang-orang yang mengusungnya dari kejahatannya.

Jadi musuh-musuh dakwah Salafiyyah –semacam kelompok al-Ikhwanul Muslimun, para pengikut Sayyid Quthub, dan orang-orang yang berkedok dengan amal-amal kebaikan– tidaklah mereka mendengar ada seseorang yang suka membuat keonaran dengan mencela para Masyayikh dakwah Salafiyyah dan pandai melemparkan gambaran yang buruk tentang para ulama tersebut, kecuali mereka merasa bisa mendapatkan tujuan mereka pada orang itu, sehingga merekapun berusaha sebisa mungkin untuk menjadikannya sebagai jongos untuk menghantam dakwah Salafiyyah, dengan cara menjalin komunikasi dengannya, lalu menyanjungnya dengan gelar-gelar berlebihan dan mengembalikan kepercayaan dirinya setelah Ahlus Sunnah membuangnya karena keonaran dan berbagai penyimpangannya, kemudian mereka menggambarkan kepadanya bahwa dia adalah seorang yang terzhalimi, lalu mereka mendukungnya secara finansial, sehingga yang nampak kepada manusia di permukaan adalah dia yang berbicara, padahal merekalah yang memberikan dukungan secara rahasia.

Cara-cara kelompok al-Ikhwanul Muslimun dan para pengikut Sayyid Quthub dalam menempuh operasi intelijen semacam ini telah dikenal dan masyhur, dan mereka terus menjaring orang-orang semacam dia ini, dan mereka mampu merekrut sekian banyak orang-orang yang memusuhi dakwah Salafiyyah untuk mereka jadikan pasukan mereka untuk memeranginya dan mencoreng nama baiknya.

Jadi bisa saja yayasan-yayasan mereka ini telah membeli Usamah Athaya dengan uang, atau bisa jadi dia masih dalam tahap awal, yaitu tahap menawarkan dirinya kepada mereka dengan tulisan-tulisannya, semacam persiapan untuk bekerja sama dengan mereka untuk menghantam dakwah Salafiyyah, dan tulisan-tulisannya seakan-akan menyatakan bahwa dia adalah “penulis bayaran”.

(02)
Diantara bukti yang menunjukkan keburukan jiwanya dan kebusukan hatinya adalah dengan dia membantah tulisan saya yang terakhir yang berjudul “Maa Haakadza Yaa Hani Turidul Ibil” (edisi Indonesianya “BANTAHAN LENGKAP ASY-SYAIKH ALI AL-HUDZAIFY TERHADAP HANI BIN BURAIK”) untuk menghantam Masyayikh Dakwah Salafiyyah, di mana saya menukil dari asy-Syaikh Rabi' bahwa beliau telah memberikan arahan agar mentahdzir Hani setelah mengutus saya untuk menasehatinya. Jadi dia berdalil dengan perkataan saya ini untuk mendustakan al-Akh Ali Salim al-Hasany (karena dia berasal dari kabilah Alu Hasanah) yang beberapa waktu lalu dia menyebutkan bahwa Masyayikh meminta untuk tidak membantah Hani, karena mereka sedang menasehatinya.

Setiap orang yang memiliki akal sehat dan sedikit saja sikap sportif akan mengetahui bahwa tidak ada pertentangan antara dua hal tersebut. Jadi para ulama telah meminta agar menahan diri terlebih dahulu untuk menasehati dan membimbingnya, namun tatkala menjumpai bahwa kesalahan-kesalahannya semakin banyak dan mereka tidak menjumpai manfaat dari upaya menasehatinya, maka asy-Syaikh Rabi’ meminta agar mentahdzirnya. Tetapi Usamah Athaya –karena kedunguan atau kebusukan hatinya– menilai bahwa tidak mungkin untuk menggabungkan dua perkataan tersebut, lalu dia melemparkan keonaran terhadap kami dengan omong kosongnya.

Jadi orang ini menganggap ringan berdusta hingga batasan yang terjauh, dan dia membolehkan dirinya untuk memerangi para ulama dan para penuntut ilmu, dan demi Allah sesungguhnya hal itu sungguh merupakan bukti yang menunjukkan penelantaran dari Allah. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Maka tidak sepantasnya bagi seorangpun untuk membenarkan ucapannya, karena –demi Allah– sesungguhnya dia telah mencelupkan kepalanya ke dalam kedustaan hingga mencapai kedua telinganya, dan tidak halal bagi seorangpun untuk bekerja sama dengannya, menyebarkan karyanya, menerimanya sebagai tamu, dan memposting tulisannya, karena sesungguhnya dia adalah seorang pendusta yang tidak mungkin bisa dipercaya dan perusak di muka bumi setelah upaya perbaikannya.

وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله.

Ditulis oleh Abu Ammar Ali bin Husain asy-Syarafy yang dikenal dengan Ali al-Hudzaify / Syawwal 1438H

₪ Sumber: @dourous_machaikhaden // Dari Channel Telegram @ForumSalafy // Kunjungi: http://forumsalafy.net/bantahan-terhadap-kedunguan-usamah-athaya-al-utaibi/

※•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•※
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ https://t.me/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Rudud #Bantahan #Syaikh_Ali_alHudzaify #Usamah_Athaya

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.