[ARTIKEL] Bolehkah Mengambil Yang Termudah Ketika Ada Perbedaan Pendapat Diantara Para Ulama?


BOLEHKAH MENGAMBIL YANG TERMUDAH KETIKA ADA PERBEDAAN PENDAPAT DIANTARA PARA ULAMA?

❱ Asy-Syaikh Muqbil bin Hady rahimahullah

[ Pertanyaan ]

Ketika ada perbedaan pendapat di kalangan ulama pada suatu masalah, apakah boleh bagi seseorang untuk mentarjih diantara pendapat pendapat mereka dan mengambil yang sesuai dengan dirinya, padahal orang tersebut bukan termasuk orang yang ahli di dalam mentarjih, dan apakah hal ini termasuk perbuatan mencari-cari rukhshah (keringanan)?

[ Jawab ]

[✘] Ini adalah perkara yang penting, sebagian orang-orang al-Azhar, racun-racun mereka telah menebar di negeri-negeri Islam dan mereka pernah berbicara semisal dengan hal ini di al-Jami’ah al-Islamiyyah, yaitu bahwasanya jika muncul sebuah perkara maka dilihat perkataan-perkataan para ahli fikih, kemudian diambil yang paling mudah bagi manusia,
(●) dan seakan-akan kita diberi kebebasan memilih di dalam agama Allah.
(●) Padahal perkataan-perkataan para ahli fikih bukanlah hujjah.

[✔️] Tetapi barangsiapa yang memiliki kemampuan untuk melihat dalil-dalil dan perkataan-perkataan mereka, kemudian dia mentarjih sesuai tuntutan dalil, maka dia boleh melakukannya.

Ξ Kalau tidak demikian maka Rabbul ‘Izzah berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia:

◈ { فَاسْأَلُوْا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ }

︴“Maka bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui.” [QS. An-Nahl: 43]

[✘] Adapun sikap main-main yang dilakukan oleh banyak orang-orang al-Azhar dengan memilih apa yang sesuai dan cocok dengan realita dan selera manusia, maka ini tidak benar

Ξ Dan para ulama telah mengatakan:
“Mencari-cari rukhshah (keringanan) adalah perbuatan zindiq (kekafiran)."

Jadi wajib untuk mengambil pendapat yang sesuai dengan tuntutan dalil, kalau dia tidak mampu maka hendaklah dia bertanya kepada ahli ilmu tentang dalilnya.

📚[Fadha-ih wa Nasha-ih, hal. 121-123]

[ س ]

عند اختلاف العلماء في مسألة هل للشخص أن يرجح بين أقوالهم ويأخذ ما يناسبه مع أنه ليس من أهل الترجيح وهل هذا يعد من تتبع الرخص؟

[ ج ]

هذا أمر مهم؛ فبعض الأزهريين بثت سمومهم إلى كثير من البلاد الإسلامية وكانوا يتكلمون بنحو هذا في الجامعة الإسلامية أنها إذا حدثت قضية تنظر إلى أقوال الفقهاء ثم تأخذ الأسهل على الناس، وكأننا مفوضون في دين الله.

وأقوال الفقهاء ليست بحجة، بل من كان أهلاً أن ينظر في أدلتهم وأقوالهم ثم يرجح ما يقتضيه الدليل فعل، وإلا فرب العزة يقول في كتابه الكريم: { فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ } [النحل: 43]

أما ألعوبة كثير من الأزهريين ما يناسب ومايتلاءم مع الواقع، ومع الناس، فلا، وقد كان العلماء يقولون: تتبع الرخص زندقة، فلا بد من الأخذ بما يقتضيه الدليل، وإلا فليسأل أهل العلم عن الدليل.

Sumber: http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3474

₪ Dari Channel Telegram @ForumSalafy // Kunjungi: http://forumsalafy.net/bolehkah-mengambil-yang-termudah-ketika-ada-perbedaan-pendapat-diantara-para-ulama/

※•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•※
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ https://t.me/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Fiqih #khilaf #mencari_cari_keringanan_ulama

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.