[ARTIKEL] [Membantah Syubhat] “Tabayyun & Tatsabbut Dulu, Agar Adil!!!”

Disampaikan oleh Al-Ustadz Abu 'Abdillah Luqman bin Muhammad Ba'abduh hafizhahullah

URL Video:
https://youtu.be/a72YeMUOm5kg (Durasi: 8:27)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=a72YeMUOm5kg

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
[MEMBANTAH SYUBHAT] “TABAYYUN & TATSABBUT DULU, AGAR ADIL!!!”
[Teguran buat mereka yang mengharuskan nasehat/kritikan disampaikan langsung kepada pelaku bid'ah dan kesesatan sebelum bisa ditahdzir atau ditabdi']

[ Pertanyaan ]

Bismillah. Afwan ustadz, bisa ustadz terangkan kepada kami tentang syubhat yang disampaikan oleh beberapa ikhwah bahwa;

jika ulama mentahdzir seseorang, ianya sepertinya tidak adil, karena ulama tersebut tidak bertemu ataupun bertanyakan kepada orang tersebut sebelum mentahdzir beliau. Jadi, bagaimana kaedah sebenarnya dalam jarh wa ta'dil untuk menjeleskan perkara ini?

[ Jawaban ]

Thayyib. Bismillah. Alhamdulillah wash-sholatu was salamu 'ala rasulillah wa 'alihi wa shahbihi wa man wala wa ba'ad.

Para ulama ketika mentahdzir atau mentabdi' seseorang, ada beberapa cara;

▶️[1] Bisa dengan cara langsung mendengar ucapan, perkataan orang yang ditahdzir atau melalui khabar seorang yang tsiqoh
▶️[2] atau sebelumnya melalui tulisan; tulisan, karya, artikel orang (yang ditahdzir, -pen) tersebut
▶️[3] dan yang ketiga, tadi yang sudah saya sebutkan iaitu melalui khabar seorang yang tsiqoh; berita, data yang disampaikan oleh seorang yang terpecaya, orang yang amanah di dalam menyampaikan beritanya.

Menerima berita dari seorang yang tsiqoh, dari ahlussunnah, seorang yang salafy, -na'am- itu adalah salah satu dasar seseorang atau seorang ulama mentahdzir atau mentabdi'.

Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

{ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٍ۬ فَتَبَيَّنُوٓ ... }

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang yang fasik membawa berita, maka hendaknya ditabayyun / diklarifikasi / dipastikan apakah benar ataukah tidak ...” [QS al-Hujraat: 6]

Makna ayat ini adalah apabila yang datang kepada anda adalah seorang yang tsiqoh, maka tidak diwajibkan / tidak dimestikan untuk tabayyun. Demikian (yang diyakini, pen) ulama sejak dahulu, sejak zaman salaf. Na'am.

Ash-Shahabi al-jalil, Abdullah bin 'Umar bin al-Khattob yang tinggal di Madinah pada saat itu, datang dua orang dari negeri Bashrah bernama Humaid bin 'Abdirrahman dan yang kedua bernama Yahya bin Ya'mur. Dua orang dari negeri Bashrah ini mengatakan kepada shahabat Abdullah bin 'Umar yang pada waktu itu sebagai Mufti, dua orang tadi mengatakan:

Dua orang menyatakan, “Wahai Abu Abdirrahman (Abdullah bin 'Umar) telah muncul, telah nampak di negeri kami di Bashrah orang² yang mereka itu (disebutkan kebaikan²nya),” -na'am- artinya ciri² mereka, kemudian hanya saja mereka mengatakan bahwa, “Segala perkara ini tidak ada takdirnya.” Maka Abdullah bin Umar langsung mentahdzir. Na'am dan mengatakan kepada kedua orang yang dari negeri Bashrah bahwa, “Sampaikan kepada mereka bahwa Abdullah bin Umar bin al-Khattob berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dari Abdullah bin Umar bin Al Khattab.” Ditahdzir oleh Abdullah bin Umar Al Khattab. Na'am.

Bahkan Abdullah bin 'Umar bin al-Khattab mengatakan:

“Kalau seandainya salah seorang di antara mereka berinfaq emas sebesar gunung uhud, tidak Allah terima dari dia sampai beriman kepada taqdir, yang baik mahupun yang buruk”

Di sini, Abdullah bin 'Umar melandaskan / mendirikan tahdzirnya dan tabdi'nya berdasarkan berita. Tidak kemudian 'Abdullah bin 'Umar yang hidup di Madinah (mengatakan, pen); “Saya mau klarifikasi dulu ke negeri Bashrah. Saya ingin kenal mereka, ingin tanya dulu, kamu sabar dulu wahai Humaid bin 'Abdirrahman, Yahya bin Ya'mur, saya mau klarifikasi ...” Laa! Kenapa? Karena pembawa berita di sini adalah Tsiqoh. Ini hanya satu contoh dari banyak contoh amalan Salaf rahimahumullah. Na'am. Ini suatu hal yang penting ...

Suatu hari, pernah datang seorang ahlul bid'ah kepada al-Imam Ahmad, ingin berjumpa dengan al-Imam Ahmad melalui putranya, putera beliau, anak beliau yang bernama Shalih bin Ahmad bin Hanbal. Orang ini ingin berjumpa, dia menyebutkan namanya Dawud, kemudian si putera ini, Shalih mengatakan kepada ayahnya, “Wahai ayahku, ada seorang ingin berjumpa denganmu bernama Dawud.” Ditanyakan (oleh Imam Ahmad, pen): “Dari mana dia?” “Dari negeri Khurasan.” Kamudian al-Imam Ahmad mengatakan, “Keluar, tidak boleh. Saya tidak mau jumpai dia.” (Shalih bertanya, pen) “Kenapa wahai ayah?” (Dijawab, pen) “Dia mengakan al-Quran adalah Makhluk.” Maka si anak ini kembali menemui si tamu tersebut, “Ayahku tidak mahu menemui engkau karena engkau mengatakan Al Qur'an itu adalah makhluk”, dijawab, “Saya tidak mengatakan itu”, maka disampaikan oleh Shalih bin Ahmad (kepada ayahnya, pen), “Wahai ayahku, dia menafikan ini", maka Imam Ahmad menjawab, “Laa, berita yang dibawa kepadaku oleh Muhammad bin Yahya az-Zuhli adalah lebih aku percaya daripada ucapan orang tersebut.” Kenapa? Karena yang membawa berita pertama, Muhammad bin Yahya az-Zuhli adalah seorang yang tsiqoh, padahal orang yang bersangkutan menafikan. Sudah ada kesempatan mengklarifikasi, memastikan kebenaran berita, tetapi Al Imam Ahmad lebih percaya kepada pembawa berita pertama yang tsiqoh.

Begitu juga di zaman kita ini. Syaikh Rabi' -hafizhahullah- misalkan, atau siapa saja dari kalangan masyayikh Ahlussunnah, yang dikenal keilmuannya ketika mentahdzir dan mentabdi' seseorang berdasarkan berita yang tsiqoh, maka TAHDZIR tersebut diterima.

Syubhat ini sebenarnya, “kenapa tidak klarifikasi langsung, dia belum kenal, ulama tersebut belum mengenal si Fulan yang ditahdzir?” (Karena, pen) ini adalah salah satu Manhaj bid'ah yang dibangkitkan oleh Abul Hasan Al Ma'ribi, yang dimunculkan oleh Abul Hasan Al Ma'ribi bahwa, “Mesti tahdzir ini diklarifikasi dulu, mesti kenal dulu dengan orangnya ...” iya, Baarakallahu fiikum.

[ Penanya ]

Na'am, jazaakallahu khairan ustadz.

[ Video ]
[ Audio ] https://tlgrm.me/Mp3_kajian/187

Ahad, 14 Shafar 1436H ~ 07. 12.2014M
Rujukan: Fawaid Audio dari (Arsip) WA طريق السلف
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Bantahan #radio_rodja #tv_rodja #rodja #halabi #ruhaili #sururi #turatsi #ikhwani #mlm #mlmm

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.