WHAT'S NEW?
Loading...

[VIDEO] Jika Seorang Penuntut Ilmu Mengatakan Sebuah Kebid’ahan dan Dia Menyerukannya

Disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-'Allaamah Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah Al-Fauzan & Asy-Syaikh Al-'Allaamah 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiri hafizhahumallah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/GDKgekQ_1wY (Durasi: 1:46)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=GDKgekQ_1wY

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
🚇 JIKA SEORANG PENUNTUT ILMU MENGATAKAN SEBUAH KEBID’AHAN DAN DIA MENYERUKANNYA**

Asy-Syaikh Al-'Allaamah Shalih bin Fauzan bin 'Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah

[ Penanya ]

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jika seorang penuntut ilmu mengatakan sebuah kebid’ahan dan dia menyerukannya, padahal dia seorang ahli fikih dan hadits, maka apakah perkataan bid’ahnya berkonskwensi menjatuhkan ilmu dan haditsnya serta tidak boleh menjadikannya sebagai hujjah sama sekali?

[ Asy-Syaikh ]

YA, DIA TIDAK BISA DIPERCAYA LAGI.

Jika dia seorang mubtadi’[*], maka dia tidak bisa dipercaya lagi, demikian juga ilmunya. Juga tidak boleh belajar kepadanya, karena jika dia diambil ilmunya maka sang murid akan terpengaruh dengan gurunya, terpengaruh dengan pengajarnya.

YANG WAJIB ADALAH DENGAN MENJAUH DARI AHLI BID’AH.

Para Salaf dahulu melarang dari duduk bermajelis dengan para mubtadi’, mengunjugi mereka, serta pergi kepada mereka.Karena khawatir kejahatan mereka akan merembet kepada siapa saja yang bermajelis dan bergaul dengan mereka.

العلامة الشيخ صالح بن فوزان الفوزان حفظه الله

ﻭﻫﺬ ﺳﺎﺋﻞ ﻳﻘﻮﻝ: ﺍﻟﺴﻼﻡ ﻋﻠﻴﻜﻢ ﻭﺭﺣﻤﺔ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺑﺮﻛﺎﺗﻪ

ﺇﺫﺍ ﻗﺎﻝ ﻃﺎﻟﺐ ﻋﻠﻢ ﺑﺒﺪﻋﺔ ﻭﺩﻋﻰ ﺇﻟﻴﻬﺎ ﻭﻛﺎﻥ ﺻﺎﺣﺐ ﻓﻘﻪ ﻭﺣﺪﻳﺚ ﻓﻬﻞ ﻳﻠﺰﻡ ﻣﻦ ﻗﻮﻟﻪ ﺑﺎﻟﺒﺪﻋﺔ ﺳﻘﻮﻁ ﻋﻠﻤﻪ ﻭﺣﺪﻳﺜﻪ ﻭﻋﺪﻡ ﺍﻹﺑﺘﺰﺍﺯ ﺑﻪ ﻣﻄﻠﻘﺎ؟

[ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ]

ﻧﻌﻢ ﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻪ،

ﻣﻦ ﻛﺎﻥ ﻣﺒﺘﺪﻋﺎً ﻻ ﻳﻮﺛﻖ ﺑﻪ ﻭﻻ ﺑﻌﻠﻤﻪ ﻭﻻ ﻳُﺘﻜﻠّﻞ ﻋﻠﻴﻪ، ﻷﻧﻪ ﺇﺫﺍ ﺗُﻜﻠّﻞ ﻋﻠﻴﻪ ﻳﺘﺄﺛﺮ ﺍﻟﺘﻠﻤﻴﺬ ﺑﺸﻴﺨﻪ، ﺗﺄﺛﺮ ﺑﻤﻌﻠﻤّﻪ،

ﻓﺎﻟﻮﺍﺟﺐ ﺍﻹﺑﺘﻌﺎﺩ ﻋﻦ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ

ﻭﺍﻟﺴﻠﻒ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻳﻨﻬﻮﻥ ﻋﻦ ﻣﺠﺎﻟﺴﺔ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻋﺔ ﻭﺯﻳﺎﺭﺗﻬﻢ ﻭﺍﻟﺬﻫﺎﺏ ﺇﻟﻴﻬﻢ

( ﺣﺘﻰ ﻻ ﻳﺴﺮﻱ ‏) ﺷﺮّﻫﻢ ﻋﻠﻰ ﻣﻦ ﺟﺎﻟﺴﻬﻢ ﻭﺧﺎﻟﻄﻬﻢ .. ﻧﻌﻢ . ﺍﻫـ

[ ¹ ]


Catatan:
[*] APA KETENTUAN SESEORANG KELUAR DARI SALAFIYYAH?

Asy-Syaikh Al-'Allaamah 'Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiri حفظه اللّٰه menjawab:

APABILA SESEORANG MELAKUKAN KEBID'AHAN dalam keadaan mengetahui, menentang, dengan sengaja dan sombong (menolak kebenaran) maka ia dihukumi mubtadi' dan tidak ada kemuliaan baginya.Inilah yang dipegangi para salaf.

[ ² ]

Rujukan: Dari Situs ForumSalafy.Net & Channel Telegram @dinulqoyyim

Catatan
[ ¹ ] http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=100647&page=2#entry705322
[ ² ] Link suara: http://miraath.net/quesdownload.php?id=3240
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Manhaj #menjaui_mubtadi #penuntut_ilmu #berpendapat_dengan_bid_ah #menyeru_kepada_bid_ah

[ARTIKEL] Jadilah Seorang Salafy Sejati, Bukan Salafy Imitasi!!

JADILAH SEORANG SALAFY SEJATI, BUKAN SALAFY IMITASI!!**

Asy-Syaikh al-'Allamah Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah berkata:

“Salafiyyun bukanlah seorang yang makshum (tidak terjatuh dalam kesalahan). Namun mereka adalah orang-orang yang berpegang pada kebenaran (ahlul haq), orang-orang yang berpegang dengan As-Sunnah (ahlus-sunnah). Mereka adalah sebaik-baik manusia dalam aqidah, manhaj, agama, akhlak, adab dan ilmu.”

[Majmu’ Fatawa, 10/115]

🔹🔹🔹🔹

Asy-Syaikh Muhammad bin Hady hafizhahullah berkata:

“Seorang sunni (pengikut sunnah) yang sebenarnya adalah seorang yang tidak marah jika ada seseorang yang menyebutkan pelaku kebidahan lalu mencelanya dan memperingatkan (manusia) darinya. Seorang sunni seharusnya merasa senang dengan hal tersebut, ia tidak merasa marah. Namun jika ia marah, maka ketahuilah bahwa ia bukan seorang sunni, bahkan ia adalah seorang pendusta.

Inilah yang kami berlakukan padanya hingga hari ini. Ketulusan mereka (terhadap manhaj ahlus sunnah) diuji dengan hal ini, yang telah disebutkan pada kalian. Maka inilah jalannya para ulama sunnah, dan inilah jalannya para ulama salaf. Barangsiapa yang berjalan di atasnya maka ia seorang sunni salafi, dan barangsiapa menyelisihinya maka iaorg seorang khalafi (orang-orang baru) yang muncul, siapapun dia.”

🔹🔹🔹🔹

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

“As-Salafiyyah adalah mengikuti manhaj nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya. Nabi dan sahabat adalah salaf kita dan orang-orang yang mendahului kita, orang-orang yang mengikuti mereka adalah as-salafiyyah (salafy sejati).”

[Liqa' Al-Baab Al-Maftuuh kaset no. 57]

🔹🔹🔹🔹

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:

“Kesimpulannya, ia (al-ghuraba’/salafy sejati) adalah seorang yang asing dalam urusan dunia dan akhiratnya. Ia tidak memiliki penolong dan pembela dari orang-orang awam. Ia adalah seorang berilmu di tengah-tengah orang bodoh. Ia adalah ahlus-sunnah yang berdakwah menyeru kepada Allah dan rasul-Nya ditengah-tengah ahlul-bid’ah dan para da’i yang menyeru kepada kesesatan dan bid’ah. Ia memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran di tengah-tengah masyarakat yang menganggap sesuatu yang ma’ruf sebagai kemungkaran dan menganggap kemungkaran sebagai sesuatu yang ma’ruf.”

[Madarijus Salikin, 3/200]

قال الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه اللّٰه:

{ إن السلفيين ليسوا بالمعصومين ولكنهم هم أهل الحق وأهل السنة وهم خير الناس عقيدة ومنهجا ودينا وأخلاقا وأدبا وعلما. }

[مجموع فتاوى ١٠/١١٥]

🔸🔸🔸🔸

قال الشيخ محمد بن هادي حفظه اللّٰه:

{ السني الحقيقي: هو الذي لا يغضب لشيء من البدع إذا كانت عنده إذا ذكر المبتدع وطعن فيه وحذر منه، السني يفرح بذلك ما يغضب فإذا غضب فاعلم بأنه ليس بسني، بل هو كذاب،

وهذا الذي نعيشه نحن اليوم، هؤلاء إخلاصهم يمتحن بهذا الذي ذكرت لكم، فعلماء السنة هذه طريقتهم، وعلماء السلف هذا هو منهجهم، فمن صار عليه فهو السني والسلفي، ومن خالفه فهو الخلفي كائنا من كان. }

[http://bayenahsalaf.com/vb/showthread.php?t=5388]

🔸🔸🔸🔸

قال الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه اللّٰه:

{ السلفيَّة هي اتباع منهج النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه ؛ لأنهم هم الذين سلفونا وتقدموا علينا , فاتباعهم هو السلفية. }

[لقاء الباب المفتوح الشروط ٥٧]

🔸🔸🔸🔸

قال الإمام إبن القيم رحمه اللّٰه :

{ وبالجملة فهو غريب في أمور دنياه وآخرته لا يجد من العامة مساعدا ولا معينا فهو عالم بين جهال صاحب سنة بين أهل بدع داع إلى الله ورسوله بين دعاة إلى الأهواء والبدع آمر بالمعروف ناه عن المنكر بين قوم المعروف لديهم منكر والمنكر معروف. }

[مدارج السالكين ٣/٢٠٠]

Rujukan: Dari Situs ForumSalafy.Net / Channel Telegram Ashhaabus Sunnah @ashhabussunnah

**Judul dari Admin**
•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #salafy #tidak_maksum #pengikut_kebenaran #salafy_sejati #salafy_imitasi

[VIDEO] Apa Makna Hadits “Barangsiapa Menutupi Aib Seorang Muslim Maka Allah Akan Menutup Aibnya”?

Disampaikan oleh Asy-Syaikh al-’Allamah Muqbil bin Hady al-Wadi’iy rahimahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/e_gHjYHlVS0 (Durasi: 3:16)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=e_gHjYHlVS0

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
APA MAKNA HADITS “BARANGSIAPA MENUTUPI AIB SEORANG MUSLIM MAKA ALLAH AKAN MENUTUP AIBNYA”?

[ Penanya ]

Apa makna sabda Rasulullah shallallahu alaihi was sallam:

{ مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ. }

“Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya.” [HR. Al-Bukhary no. 2442 dan Muslim no. 2580 dari hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, serta Muslim no. 2699 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu –pent]

Apakah tetap menutupi aibnya dalam keadaan melihatnya melakukan kemaksiatan yang jelas?

[ Asy-Syaikh ]

YA, JIKA YANG LEBIH UTAMA ADALAH MENUTUPI MAKA SEPANTASNYA UNTUK MENUTUPI.

Namun masalahnya berbeda-beda.
▪️Jika misalnya engkau melihatnya mencium seorang wanita, atau engkau melihatnya mencuri sesuatu maka tutupilah. Jadi ini adalah perkara yang baik. Atau engkau melihatnya melakukan perbuatan keji dan engkau menutupinya, maka tidak mengapa.
▪️Hanya saja seseorang yang kebiasaannya adalah kebiasaan yang buruk ini, maka tidak mengapa engkau menasehati manusia agar menjauhinya dan tidak membiarkannya untuk masuk ke rumah mereka, karena dia tertuduh telah melakukan perbuatan yang buruk. Ini berkaitan dengan perbuatan-perbuatan keji.

▶️Adapun masalah menutupi perbuatan buruknya, maka mungkin dilakukan jika engkau melihat bahwa maslahatnya adalah dengan cara menutupinya, baik yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan keji ataupun selainnya.
▶️Adapun berkaitan dengan masalah bid’ah, jika hal itu terjadi karena ketergelinciran, maka sepantasnya engkau menutupinya.

Bahkan para ulama mengatakan:
“Jika seorang ulama tergelincir, walaupun pada perkara bid’ah, yang sepantasnya adalah dengan menutupinya dengan keutamaan-keutamaannya.”

▶️Adapun jika dia telah menjadi seorang dai yang menyerukan bid’ah tersebut dan dikhawatirkan akan mempengaruhi manusia dalam dakwahnya, maka sepantasnya engkau lantang membongkarnya dan mentahdzirnya. Wallahul musta’an.

[ Penanya ]

Jika misalnya seseorang terkenal mencuri?

[ Asy-Syaikh ]

TELAH KAMI KATAKAN, JIKA HAL ITU TELAH MENJADI KEBIASAAN DAN SIFATNYA MAKA HENDAKNYA ENGKAU MEMPERINGATKAN MANUSIA DARI BAHAYANYA.

Baarakallahu fiik.

[ Penanya ]

Jika hal itu baru pertama kali dan pencurian yang dia lakukan terhadap penduduk sebuah desa, jika perbuatannya tidak diketahui maka seluruh penduduk desa tersebut bisa tertuduh. Jadi hal itu belum diketahui telah menjadi kebiasaannya, hanya saja muncul darinya perbuatan mencuri. Jika orang-orang menutupi perbuatannya, maka seluruh penduduk desa tersebut bisa tertuduh, sehingga mereka memandang perlu untuk menjelaskan keadaan orang tersebut, walaupun pencuriannya itu baru pertama kali dia lakukan, agar tuduhan tidak tertuju kepada pihak lain.

[ Asy-Syaikh ]

TETAP ENGKAU PERHATIKAN MASLAHAT.
Adapun tuduhan itu sama sekali tidak akan menetapkan sesuatu, dan tidak seorang pun yang boleh menuduh seluruh penduduk desa. Wallahul musta’an.

[Sumber] http://www.muqbel.net/fatwa.php?fatwa_id=3631

[ Alih Bahasa ] Abu Almass
http://forumsalafy.net/apa-makna-hadits-barangsiapa-menutupi-aib-seorang-muslim-maka-allah-akan-menutup-aibnya/
Rabu, 13 Rajab 1435H

Rujukan: Channel Telegram @ForumSalafy

__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Manhaj #Hadits #Nasehat #menutupi_aib

[VIDEO] Bagaimana Cara Bermuamalah Dengan Ahlul Bida’ Seperti Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh?

Disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Hadi al-Madkhaly hafizhahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/5Cm8XpsXszA (Durasi: 1:27)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=5Cm8XpsXszA

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
BAGAIMANA CARA BERMUAMALAH DENGAN AHLUL BIDA' SEPERTI IKHWANUL MUSLIMIN DAN JAMAAH TABLIGH?

[ Membantah penyimpangan Manhajiah Da'i Rodja (Firanda Andirja, Khalid Basalamah) dan du'at hizbiyyin semisal mereka hadanallahu wa iyyak yang menyelisihi manhaj ulama terkait sikap terhadap para mubtadi' seperti Tablighi dan juga Ikhwani ]

[ Pertanyaan ]

Bagaimana cara bermuamalah dengan ahlul bida’ seperti Ikhwanul Muslimin dan Jamaah Tabligh?

[ Jawaban ]

BERMUAMALAH DENGAN MEREKA
▪️dengan cara menasehati mereka dan menjelaskan kebenaran kepada mereka serta menjelaskan bahwa jalan mereka adalah jalan yang salah baik jalan ikhwanul muslimin maupun jalan jamaah tabligh.

- Sesungguhnya jalannya Ikhwanul Muslimin adalah jalannya Khawarij.
- Dan jalannya Jamaah Tabligh adalah jalannya Shufiyyah.

Maka wajib bagimu menjelaskan kepada mereka kebid'ahan-kebid'ahan yang ada pada mereka jika engkau memiliki ilmu dan kebid'ahan-kebid'ahan tersebut ada pada kitab-kitab mereka walillahil hamd.

Dan para ulama telah mencukupi kita dalam membantah mereka dalam tulisan-tulisan mereka dan menjelaskan penyimpangan-penyimpangan mereka. Maka bacalah kitab-kitab tersebut dan nasehatilah mereka.

Link suara: http://miraath.net/quesdownload.php?id=3439

Rujukan: Channel Telegram @DinulQoyyim
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Manhaj #alwala_wal_bara #Manhaj #cara_bermuamalah_dengan #ikhwanul_muflisan #IM #jamaah_tabligh #tablighi

[VIDEO] Ketentuan Prinsip Al Wala Wal Bara'

Disampaikan oleh Asy-Syaikh al-’Allamah ‘Ubaid bin 'Abdillah al-Jabiry hafizhahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/Ea60U9zg7U0 (Durasi: 2:52)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=Ea60U9zg7U0

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
KETENTUAN PRINSIP AL WALA WAL BARA'

[ Pertanyaan ]

Pertanyaan ketiga belas: Bagaimana ketentuan wala (loyalitas) dan baro’ (kebencian) terhadap ahli bid’ah?

[ Jawaban ]

Ahli bid’ah berbeda-beda keadaannya:

[ 1 ] Ahli bid’ah yang berperan sebagai da’i yang mengajak kepada kebid’ahannya.

Maka ini memiliki dua keadaan:

▪️Ahli Sunnah memiliki kekuatan dan kemampuan yang lebih dominan. Maka mereka harus bersikap keras dan tegas di dalam membantah mereka serta memboikot mereka. Tidak ada penghormatan bagi ahli bid’ah.

▪️Adapun jika keadaan sebaliknya, yaitu ahli bid’ah yang memiliki kekuatan dan kekuasaan yang lebih dominan, maka cukup bagi mereka dengan membantah ahli bid’ah dan tidak memboikot (secara mutlak, red). Ya, boleh bagi anda untuk memboikotnya secara defensif pada keadaan seperti ini, yaitu jangan kamu mengunjungi dia dan jangan kamu mengundang dia ke rumahmu, namun jika kamu berjumpa dengannya di tengah banyak orang, maka beri salam dia dan walaupun tidak ada orang lain tapi kamu takut dengan kekuatannya, maka boleh kamu salami dia kemudian pergi. Dan jika dia mengulurkan tangannya maka salami dia, dan jika kamu masuk ke sebuah majlis, dan dia ada di situ, maka salami dia bersama orang yang lain.

▶️[ 2 ] Ahli bid’ah yang bukan da’i dan dia hanya melakukan bid’ah pada dirinya sendiri.

▪️Maka ini keadaannya lebih ringan.

~•~•~•~•~

Adapun jenis kedua dari ahli bid’ah, yaitu yang kebid’ahannya sampai pada tingkat kekufuran.

Seperti; Wihdatul wujud (keyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluknya), Syi’ah rafidhah, Batiniyah.

Maka mereka ini diboikot secara total (mutlak, red) dan tidak ada penghormatan baginya, walaupun anda harus meninggalkan lingkungan anda, atau anda sholat di rumah, maka sudah cukup, harus memboikot mereka.

Tapi kalau anda bertekad untuk menasehati mereka dan anda punya kemampuan untuk amar ma’ruf nahi mungkar kepada mereka, serta mampu menegakkan hujjah kepada mereka, maka lakukanlah, mungkin saja Allah memberi hidayah kepada mereka melalui anda, sehingga anda mendapatkan janji yang disebutkan dalam hadits:

“Barang siapa yang menyeru kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang beramal tersebut dengan tanpa mengurangi pahala dia sedikitpun.”

Sumber: http://miraath.net/questions.php?cat=87&id=335

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy
http://forumsalafy.net/ketentuan-prinsip-al-wala-wal-bara/
Rujukan: Channel Telegram @ForumSalafy
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Manhaj #dhawabith #prinsip #alwala_wal_bara

[ARTIKEL] Khawarij & Takfiri Orang-Orang Yang Tidak Punya Malu & Tidak Pernah Terkesan Dengan Manhajnya

KHAWARIJ & TAKFIRI ORANG-ORANG YANG TIDAK PUNYA MALU & TIDAK PERNAH TERKESAN DENGAN MANHAJNYA

🔸Bagaimana mereka puasa sementara yang ruyatul hilal (pemerintah yang menetapkan tarikh berpuasa) kafir!!

🔹Bagaimana mereka solat sementara yang menentukan waktu solat serta arah kiblat kafir!!

🔸Bagaimana mereka haji sementara yang menentukan hilal Dzul Hijah, Arafah dan penyelenggara haji kafir!!

🔹Setiap takfiri tanpa mereka sedari mereka adalah anak haram (kerana ayah mereka kafir, ibu mereka kafir dan yang mengakadkan mereka kafir!!)

🔸Bagaimana mereka menikah sementara penyelenggara pernikahan mereka (pejabat urusan agama) kafir dan para saksipun kafir, bererti nikah mereka batil!!

🔹Bagaimana mereka mengenal Islam sementara yang menukilkannya (guru-guru) kafir!!

🔸Bagaimana mereka pelajari Al-Qur'an sementara yang menukilkannya kafir dan yang mencetaknya kafir!!

🔹Bagaimana mereka makan sementara yang menyembelih (rumah sembelihan haiwan, dan itu milik pemerintah) kafir!!

🔸Bagaimana mereka makan buah-buahan dan sayur-sayurun sementara petaninya kafir!!

Kerana dalam mazhab mereka, semua orang yang tidak bai'at pada imamnya (pemimpin kelompok mereka), maka ia kafir murtad!

فيا سبحان من وهب العقول
أين أحلامهم؟

[Faedah ilmiah dari al-Ustadz Usamah Mahri di WhatsApp طريق السلف]

***
WhatsApp طريق السلف
www.thoriqussalaf.com
telegram: http://bit.ly/thoriqussalaf

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #khawarij #takfiri #ISIS #HTI #alqaeda

[ARTIKEL] Inilah Manhajul Anbiya Dalam Dakwah (Risalah kepada pada dai provokasi, keributan, dan fitnah)

INILAH MANHAJUL ANBIYA DALAM DAKWAH
(Risalah kepada pada dai provokasi, keributan, dan fitnah)

Asy-Syaikh al-'Allamah Rabi' bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah

Sesungguhnya anbiya (para nabi) —'alaihi ash-Shalatu wa as-Salam— mereka tidak datang untuk menjatuhkan negara-negara dan mendirikan negara baru. Para nabi tidak menuntut kekuasaan dan tidak pula membentuk partai untuk kepentingan itu.

Hanyalah para nabi itu datang untuk menyampaikan hidayah/bimbingan kepada umat manusia, dan menyelamatkan mereka dari kesesatan, kesyirikan, dan mengeluarkan dari kegelapan menuju cahaya. Serta mengingatkan mereka dengan hari-hari Allah.

Jika seandainya mereka (para nabi) ditawari kerajaan niscaya mereka akan menolaknya, dan akan tetap melanjutkan jalan dakwahnya.Jika Quraisy menawarkan kepada Rasulullah —shallallahu 'alaihi wa sallam— niscaya beliau akan menolaknya.Beliau pernah ditawari, apakah akan menjadi raja sekaligus nabi, atau hanya sebagai seorang hamba sekaligus rasul. Maka beliau memilih sebagai HAMBA sekaligus RASUL."

[Manhajul Anbiya fi ad-Da'wah ilallah, hal. 117]

* * *
Majmu'ah Manhajul Anbiya
Join Telegram https://tlgrm.me/ManhajulAnbiya
Situs Resmi http://www.manhajul-anbiya.net

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Aqidah #manhajul_anbiya #dalam_dakwah

[ARTIKEL] Sekilas Tentang Kelompok ISIS, Fitnah dan Asal Muasalnya

SEKILAS TENTANG KELOMPOK ISIS, FITNAH DAN ASAL MUASALNYA

Asy-Syaikh Rabi' bin Hadi al Madkhali hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim

“Menyingkap siasat ISIS didalam membagi wilayah saudi kedalam lima bagian, dan dijadikan target operasi militer Mereka dari wilayah yang terdekat”

Ini adalah judul sebuah majalah as Syarqul Ausath yang terbit pada hari Senin 7 Sya’ban 1436 Hijriyah.

Tidak terasa asing apa yang muncul dari kelompok sesat ini, yang mana mereka mengkafirkan ahli tauhid dan sunnah, tidak mengherankan perbuatan jahat mereka ini.

Dan bukan perkara yang mustahil, bahwasannya kelompok sesat ini (ISIS) merupakan perpanjangan tangan dari Iran -Persia- yang mengkafirkan ahlus sunnah, dan terus berusaha untuk menghancurkan ahlus sunnah dan berusaha untuk merekrut sebagian ahlu sunnah untuk dijadikan Syiah rafidhah yang mengkafirkan Sahabat radiyallahu ‘anhum dan menuduh Aisyah Ummul mu’minin radiyallahu ‘anha sebagai pezinah, mereka juga menyelewengkan Al-qur’an, dan mengkultuskan Ahlul bait padahal Ahlul bait berlepas diri dari mereka, dan beberapa akidah kufur mereka.

Diantara indikasi terkuat, yang menunjukan bahwa ISIS ini adalah perpanjangan dari Iran adalah tindakan mereka yang tidak mau sama sekali berbenturan dengan Iran, persis sama dengan manhaj induk mereka al-Qaedah, yang tidaklah kelompok ini dibentuk, melainkan untuk memerangi ahlu sunnah dan mengkafirkan ahlus sunnah dan bahkan merusak para pemuda ahlus sunnah.

Mereka sama sekali tidak pernah berbenturan dengan Iran, bahkan al-Qaedah dan para pemimpinnya menjadikan Iran sebagai tempat pelarian dan perlindungan mereka.

Sungguh mereka (al-Qaedah), Hizbullah di Libanon, Hutsi di Yaman, mereka semua merupakan alat yang digunakan Iran untuk menghancurkan ahlus sunnah, baik secara materi ataupun maknawi.

Mereka semua sangat memusuhi dan membenci kerajaan Arab Saudi. Semoga Allah menjaganya dari makar-makar dan kezhaliman musuhnya.

Ditulis oleh: Rabi’ bin Hadi Umair al Madkhali حفظه الله.
09 Sya’ban 1436 Hijriyah

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=152634#

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Tahdzir #sekilas_tentang_kelompok_ISIS #khawarij

[ARTIKEL] Membenci Ahlul Bida’, Orang Yang Meninggalkan Shalat & Pelaku Kesyirikan

MEMBENCI AHLUL BIDA', ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT & PELAKU KESYIRIKAN

Asy Syaikh Rabi' bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Apakah Boleh Membenci Ahlul Bida', Orang Yang Meninggalkan Shalat dan Pelaku Kesyirikan ????

[ Jawaban ]

YA, WAJIB MEMBENCI MEREKA, BAAROKALLAHU FIIK, MEMBENCI AHLI BIDA’. Al-Imam Al-Baghowi dan Ash-Shobuni meriwayatkan ijma' ulama untuk membenci ahlul bida'.

Berbeda dengan keadaan sekarang di lapangan, MANHAJ MUWAAZANAH, kami mencintai mereka.... Ini adalah omong kosong,

AHLUL BIDA’
▪️kita benci dalam rangka taqorrub kepada Allah 'azza wa jalla,
▪️kita mengajak mereka kepada Allah dengan hikmah (ilmu) dan nasehat yang baik,
▪️mempergauli mereka dengan akhlaq yang baik,
🔼semoga mereka mendapat petunjuk melalui kita.

JIKA KITA MERASA LEMAH, KITA MENGHAJR (BOIKOT) MEREKA
🔼ADAPUN MENCINTAI MAKA TIDAK, MENCINTAI ATAS DASAR APA??
▶️Bid'ah Kesyirikan, kebanyakan ahlul bida' sekarang terjatuh dalam kesyirikan, tidak ada dari seorang sufi sekarang melainkan kamu mendapatinya terjatuh dalam kesyirikan, aku sudah mempelajari thoriqot-thoriqot shufiyah di Sudan, di sini (KSA) kami tidak mendapatkan buku-buku tashowwuf, ketika aku pergi ke Sudan, buku-buku shufi ada di berbagai tempat, maka kami membeli banyak darinya, dari aliran Syadziliyah, Naqsyabandiah, Burhaniyah, Marghiniyah maka aku dapatkan setiap dari mereka terjatuh pada kesyirikan, wihdatul wujud, kesesatan, ...,....,dst.

BAGAIMANA BISA MENCINTAI MEREKA???
▪️kita membenci mereka, jika mereka mentaati Allah dan Rasul wajib bagi kita mencintai mereka, tetapi nyatanya mereka meninggalkan (ketaatan), lalu apa yang mesti kita lakukan???

[Kaset : Kewajiban Berpegang teguh dengan Alkitab dan Assunnah]

[ السؤال ]

هل يجوز بغض أهل البدع وتارك الصلاة وأهل الشرك؟

[ الجواب ]

{ نعم، يجب بغضهم، بارك الله فيك، بغض أهل البدع، وحكى البغوي والصابوني إجماع أهل السنة على بغض أهل البدع، بخلاف ما يجري الآن في الساحة، منهج الموازنات ونحبهم و...، كل هذا كلام فارغ، أهل البدع نتقرب ببغضهم إلى الله عز وجل، لكن ندعوهم إلى الله بالحكمة والموعظة الحسنة، ونعاملهم بالخلاق الطيبة لعلهم يهتدون على أيدينا، وإذا عجزنا نهجرهم، وأما حبهم، لا، حبهم على إيش؟!، البدع شركية، أكثر أهل البدع الآن يقعون في الشرك، ما من صوفي الآن إلا وتجده واقعا في الشرك، وأنا درست الطرق الصوفية في السودان، هنا ما نستطيع أن نحصّل كتب الصوفية، فلما ذهبت إلى السودان، إذا [بالسوق] كتب أهل التصوف في مختلف الطرق فاشترينا منها عددا من الكتب، الشاذلية والنقشبندية والبرهانية والمرغنية فوجدت أنهم كلهم واقعون في الشرك ووحدة الوجود والضلالات و...و...إلخ، كيف نحبهم؟ نبغضهم، لو أطاعوا الله وأطاعوا الرسول يجب علينا حبهم، لكن رفضوا، ماذا نصنع؟ }

[شريط بعنوان: وجوب الاعتصام بالكتاب والسنة]

http://rabee.net/ar/questions.php?cat=26&id=509

[Arsip] WA ASHHABUS SUNNAH - ASAH.©
•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #membenci #ahli_bid_ah #orang_yg #meninggalkan_shalat #pelaku_kesyirikan

[ARTIKEL] Bolehkah Mengatakan Kepada Individu Tertentu Yang Melakukan Kebid’ahan Sebagai Penduduk Neraka

BOLEHKAH MENGATAKAN KEPADA INDIVIDU TERTENTU YANG MELAKUKAN KEBID'AHAN SEBAGAI PENDUDUK NERAKA

Asy Syaikh Rabi' bin Hady al-Madkhaliy hafizhahullah

[ Pertanyaan ]

Orang-orang yang bermanhaj sesat (menyimpang) disebut dengan an-Naariyah (penduduk neraka). Apakah saya boleh berkata kepada pelaku bid'ah bahwa engkau termasuk dari penduduk neraka?

[ Jawaban ]

TIDAK, NASH-NASH YANG BERISI ANCAMAN ITU DISAMPAIKAN DAN DIUCAPKAN. Namun bila terhadap individu tertentu maka tidak.

Karena engkau tidak tahu bisa jadi individu tersebut bertaubat dan menjadi lebih baik dari pada dirimu. Bisa jadi dia akan masuk jannah sebelum dirimu.Hal ini (berkata kepada individu tertentu sebagai penduduk neraka) termasuk bersumpah atas nama Allah, dengan ini engkau termasuk bersumpah atas nama Allah.

Allah akan berkata kepadamu: “Siapa yang telah bersumpah atas nama-Ku.” Engkau jangan bersumpah atas nama Allah 'azza wa jalla.

(Katakanlah) “Jalan-jalan ini adalah jalan-jalan kesesatan dan mengantarkan kepada neraka.”

[Rekaman dengan judul: As-Sair 'ala Manhajis Salaf]

[ السؤال ]

لقد سميت أهل المناهج الضالة بالنارية هل أستطيع أن أقول لصاحب بدعة إنك من أصحاب النار؟

[ الجواب ]

{ لا، نصوص الوعيد تُحكى وتُقال، لكن بالنسبة للأشخاص لا، وما يدريك لعل هذا يتوب ويصير أحسن منك، قد يدخل الجنة قبلك، وهذا من التألي على الله، أنت بهذا تتألى على الله، يقول الله لك: "من ذا الذي يتألى علي"، أنت لا تتألى على الله عز وجل، الطرق هذه طرق ضلال، وتؤدي إلى النار... }

[شريط بعنوان: السير على منهج السلف]

http://www.rabee.net/ar/questions.php?cat=26&id=515
@rabeenet

WhatsApp Salafy Indonesia
Channel Telegram || http://bit.ly/ForumSalafy

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Nasehat #Bantahan #mengatakan_kepada_individu_tertentu #sebagai_penduduk_neraka

[VIDEO] Penjelasan Syubhat Khawarij HTI: “Salafy Mengingkari Demokrasi Tapi Menerima Hasilnya!!”

Disampaikan oleh Al-Ustadz Abu Mu'awiyah Askari bin Jamal rahimahullah

URL Video:
https://youtu.be/3VPDrxuHDMI (Durasi: 4:40)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=3VPDrxuHDMI

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
PENJELASAN SYUBHAT KHAWARIJ HTI: “SALAFY MENGINGKARI DEMOKRASI TAPI MENERIMA HASILNYA!!”

[ Pertanyaan ]

Bagaimana syubuhat HTI yang mengatakan Salafy mengingkari demokrasi tetapi menerima hasilnya, yaitu taat kepada presiden hasil demokrasi.

[ Jawaban ]
Ahlussunah mengingkari demokrasi karena DEMOKRASI BUKAN DARI ISLAM. Dalam prinsip demokrasi suara rakyat adalah suara Tuhan, pasti benar. Suara mayoritas suara yang pasti benar. ISLAM TIDAK DEMIKIAN.

Bahkan penyebutan mayoritas dalam al-Quranul Karim sering diidentikkan dengan hal-hal yang negatif.

{ وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ... }

“Engkau mengikuti mayoritas orang di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah subhanahu wa ta'ala.” [QS. Al-An'am: Ayat 116]

Satu orang dan dia bersama dalil dan dia punya hujjah, dalil yang sahih maka UCAPANNYA BENAR meskipun menyelisihi mayoritas manusia yang tidak berpegang pada dalil.

Oleh karena itu dalam Tarjihaat Fiqhiyah, ketika terjadi khilaf dikalangan ulama maka tidak dilihat dari banyaknya jumlah ulama yang memegang suatu pendapat. Kadang-kadang ada pendapat satu dua orang dari kalangan para ulama menyelisihi pendapat jumhur mayoritas ulama, setelah diteliti, ternyata yang benar pendapat yang sedikit. Karena Islam tidak mengenal suara terbanyak itu harus dibenarkan.

MAKA ISLAM MENGINGKARI DEMOKRASI SEBAGAIMANA ISLAM JUGA MENGINGKARI PEMBERONTAKAN / KUDETA TERHADAP PEMERINTAH YANG SAH, PEMIMPIN YANG MUSLIM YANG SAH. ISLAM MELARANG.

Tapi kalau berhasil, kudeta terjadi, kudeta berhasil, lalu kemudian yang melakukan kudeta itu menjadi seorang pemimpin dan punya kekuatan MAKA WAJIB DITAATI.

Jadi masalah prinsip demokrasinya, dan cara untuk meraih sebuah kekuasaan, itu pembahasan yang berbeda dengan pembahasan ketika seseorang menjadi pemimpin/penguasa, apapun namanya, dengan cara apapun dia menguasai.

Oleh karena itu Nabi (ﷺ) mengatakan:

{ أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن تأمر عليكم عبد حبشي }

“Aku perintahkan / aku wasiatkan kepada kalian bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat kepada penguasa meskipun yang memerintah kalian adalah seorang budak (asalnya keturunan budak, pen) dari Habasyah (etiopia, pen).” [HR. Ahmad 4/126, At-Tirmidzi no. 2676, Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 42, dari ‘Irbadh bin Sariyah, pen]

Budak, bukan termasuk syarat untuk menjadi pemerintah / penguasa...

Kata Nabi (ﷺ):
“Imam / Pemimpin itu dari Quraisy.”
Tapi kalau dia sudah menjadi Sulthan mutakhallid ( berhasil menguasai dan melengserkan pemimpin sebelumnya ) dan dia punya kekuatan, dan dia punya tentara MAKA WAJIB DITAATI MESKIPUN DIA ZHALIM.

Maka demikian pula demokrasi, kita ingkari. Pemilu bukan cara untuk memilih pemimpin yang benar, tapi kalau sudah terjadi, dia harus menjadi seorang pemimpin, dan diakui, KITA WAJIB UNTUK TAAT.

Jadi, ini dua pembahasan yang berbeda ....

[Sumber Audio] Channel Telegram @forumsalafy
{ Sabtu, 15 Rajab 1437H ~ 23.04.2016M // Ma'had Imam Syafi'i Kolaka }

[Ditranskrip oleh] Syabab Majmu'ah al-Ukhuwah as-Salafiyyah

__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Bantahan #radio_rodja #tv_rodja #rodja #halabi #ruhaili #sururi #turatsi #ikhwani #mlm #mlmm

[ARTIKEL] Bantahan Ringkas Untuk Menangkal Syubhat Radikalis Khawarij ( Khawarij Vs Ahlussunnah )

BANTAHAN RINGKAS UNTUK MENANGKAL SYUBHAT RADIKALIS KHAWARIJ ( Khawarij vs Ahlussunnah )

🔸KHAWARIJ:
Apakah memberontak penguasa yang dholim menyelisihi prinsip ahlussunnah?
🔹AHLUSSUNNAH:
Ya!

🔸KHAWARIJ:
Mana dalilnya?
🔹AHLUSSUNNAH:
Dalilnya adalah hadits 'Ubadah (Rasululloh shollallohu 'alaihi wasallam bersabda) yang artinya:
“ ...(wajib mentaati penguasa) kecuali jika kamu melihat penguasa telah kafir secara terang-terangan.”

🔸KHAWARIJ:
KEMAKSIATAN sama dengan KEKAFIRAN.
🔹AHLUSSUNNAH:
Salah! Kamu menyelisihi. Hadits 'Auf bin Malik (artinya):
“...ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang penguasa kemudian ia melihat pemimpinnya melakukan suatu kemaksiatan kepada Alloh maka bencilah kemaksiatannya, namun janganlah mencabut ketaatan kepadanya.”

🔸KHAWARIJ:
Umar -rodliyallohu 'anhu berkata:
“Qowwimuuniy.” (luruskanlah aku)
🔹AHLUSSUNNAH:
Jika hal itu benar, makna "at-taqwiim" maknanya adalah MEMBENAHI bukan MEMBONGKAR (penguasa).

🔸KHAWARIJ:
Sampai kapan kita bersabar (terhadap penguasa yang dholim)?
🔹AHLUSSUNNAH:
Hadits Usaid:
“... (bersabar) hingga kamu bertemu aku di telaga (di akhirat).”

🔸KHAWARIJ:
Bagaimana dengan hak kita yang telah dirampas penguasa?
🔹AHLUSSUNNAH:
Hadits Ibnu Mas'ud:
“...dan mintalah hak-hakmu kepada Alloh.”

🔸KHAWARIJ:
Mentaati penguasa hanya untuk penguasa yang kami ridhoi bukan kepada orang yang mengambil kekuasaan secara paksa/dholim.
🔹AHLUSSUNNAH:
Hadits Al-'Irbadl (artinya) :
“...(taatilah) meskipun yang memerintahmu adalah seorang budak (hitam) dari habasyah (afrika).”
(Dalam syari'at Islam seorang budak tidak boleh jadi penguasa, pent.)

🔸KHAWARIJ:
Bersabar hanya berlaku terhadap penguasa yang menerapkan syariat tetapi (yang kesalahannya) masih bisa ditolerir. Adapun penguasa yang tidak mengambil syariat sebagai petunjuk dan menghukumi dengan hawa nafsunya, maka nash-nash dalil (yang memerintahkan taat) tidak bisa diterapkan terhadap orang yang seperti ini.
🔹AHLUSSUNNAH:
Kamu dusta! (Ketaatan tetap diberikan kepadanya) berdasarkan hadits Hudzaifah:
“...mereka tidak membimbing dengan bimbingan (sunnah)ku .... namun tetaplah mendengar dan mentaatinya).”

🔸KHAWARIJ:
Seperti apa pendirian salaf?
🔹AHLUSSUNNAH:
Mereka telah sepakat tentang haramnya memberontak. Ijma' (kesepakatan) mereka telah dinukil oleh Imam An-Nawawiy, Ibnu Hajar, Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaukaniy.

🔸KHAWARIJ:
Bagaimana mungkin mereka dikatakan BERSEPAKAT sementara Ibnu Az-Zubair melakukan pemberontakan?
🔹AHLUSSUNNAH:
Kamu dusta. Ibnu Az-Zubair tidaklah memberontak penguasa, karena saat itu kaum muslimin tidak memiliki imam yang bersifat umum. Demikian pula kepemimpinan saat itu sedang vakum setelah meninggalnya Yazid. Setelah itu Ibnu Az-Zubair dibaiat oleh penduduk Makkah, penduduk Hijaz-pun tunduk kepadanya.

🔸KHAWARIJ:
Lalu bagaimana dengan pemberontakan terhadap Al-Husain?
🔹AHLUSSUNNAH:
Dia tidak memberontak untuk mengambil alih kekuasaan, namun penduduk Bashroh yang memintanya dan mengatakan:
“Terimalah permintaan kami, kami tidak mempunyai pemimpin.”
Namun ketika dia mengetahui bahwa kepemimpinannya mengandung rekayasa, dia menyesal dan meminta udzur untuk kembali kepada keluarganya atau pergi ke Yazid atau pergi ke perbatasan. Namun permintaannya ditolak oleh orang-orang yang dholim. Kemudian Al Husain dibunuhnya dalam keadaan didholimi dan mati syahid -rodliyallohu 'anhu.

🔸KHAWARIJ:
Sungguh terjadi pemberontakan pula selain dua kasus di atas, apakah tetap dikatakan telah terjadi ijma'?
🔹AHLUSSUNNAH:
Ibnu Hajar berkata:
“Keluarnya sebagian salaf untuk mengambil alih kekuasaan terjadi sebelum terjadinya ijma' (konsensus) atas haramnya memberontak penguasa yang dholim.” [Lihat: Marqootul Mafaatih, hadits no. 1125]
Imam An-Nawawiy mengatakan:
“Dikatakan bahwa pada awalnya memang terjadi perbedaan pendapat, namun kemudian tercapailah KESEPAKATAN tentang dilarangnya memberontak penguasa.”

🔸KHAWARIJ:
Harga barang di pasaran pada naik, terjadi krisis ekonomi disebabkan oleh kedholiman penguasa.
🔹AHLUSSUNNAH:
Jika rakyat memberontak, maka keadaan ekonomi akan lebih parah lagi . Dan sungguh akan hilanglah keamanan. Akan terjadi pula pertumpahan darah dan perusakan kehormatan. Setiap orang yang mengerti sejarah akan yakin bahwa pemberontakan tidak membawa perubahan kepada yang lebih baik...sama sekali.

🔸KHAWARIJ:
Kalau begitu apa solusinya?
🔹AHLUSSUNNAH:
Allohu akbar, Allohu akbar. Solusinya adalah taubat dan istighfar.

Alloh ta'ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Alloh tidak merubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan diri mereka sendiri.”
Maka rubahlah kesyirikan dengan tauhid, rubahlah kebid'ahan dengan sunnah dan rubahlah kemaksiatan dengan ketaatan.

Allah ta'ala berfirman (artinya):
“Dan seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, sungguh Kami akan membukakan keberkahan untuk mereka dari langit dan bumi.” [QS Al-A'rof]
Sebagian salaf mengatakan ketika harga barang-barang pada naik:
“Turunkanlah AS'AAR (harga barang) dengan ISTIGHFAAR.”

1⃣⚡️كسر أعظم شبهات خوارج....

🔺قالوا: هل الخروج على الظالم مخالف لأصول أهل السنة؟
🔻قلنا: نعم. قالوا: أين الدليل؟ قلنا: حديث عبادة ( إلا أن تروا كفرا بواحا)

🔺قالوا: الكفر = المعصية.
🔻قلنا: خطأ، لحديث عوف بن مالك (ألا من ولي عليه والي فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله و لا ينزعن يداً من طاعة)

🔺قالوا: عمر رضي الله عنه قال: (قوموني)
🔻قلنا: إن صحت فالتقويم=الإصلاح وليس التغيير.

🔺قالوا: نصبر إلى متى؟
🔻قلنا: حديث أسيد (حتى تلقوني على الحوض).

🔺قالوا: كيف نأخذ حقنا؟
🔻قلنا: حديث ابن مسعود (وتسألون الله الذي لكم)

🔺قالوا: الطاعة للحاكم الذي ارتضيناه، لا لمن تغلب.
🔻قلنا: حديث العرباض (وإن تأمر عليكم عبد حبشي)

🔺قالوا: الصبر على الذي يحكم بالشرع لكن يتجاوز أما من لا يهتدي بالشرع و يحكم بهواه فلا تجرى عليه هذه النصوص.
🔻قلنا: كذبتم، لحديث حذيفة (لا يهتدون بهداي ولا يستنون بسنتي.........فاسمع وأطع)

🔺قالوا: أين فهم السلف؟
🔻قلنا: أجمعوا على حرمة الخروج، نقل الإجماع: النووي وابن حجر وابن تيمية و الشوكاني.

🔺قالوا: كيف أجمعوا وهذا ابن الزبير قد خرج؟
🔻قلنا: كذبتم، لم يخرج على ولي الأمر لأنه لم يكن آنذاك للمسلمين إمام عام، و كان الأمر مترددا بعد و فاة يزيد، وابن الزبير بايعه أهل مكة وخضعت له الحجاز.

🔺قالوا: فماذا عن خروج الحسين؟
🔻قلنا: لم يخرج لمنازعة الأمر وغرر به أهل البصرة و قالوا له أقبل إلينا ليس علينا إمام، فلما تبينت له الخدعة ندم وطالب بالرجوع إلى أهله أو الذهاب إلى يزيد أو إلى الثغور، فلم يمكنه الظلمة وقتلوه مظلوما شهيدا رضي الله عنه.

🔺قالوا: وقد خرج غيرهما فأين الإجماع؟
🔻قلنا: قال ابن حجر (خروج جماعة من السلف كان قبل استقرار الإجماع على حرمة الخروج على الجائر) (مرقاة المفاتيح-ح:1125) .و نقل النووي: (و قيل إن هذا الخلاف كان أولاً ثم حصل الإجماع على منع الخروج عليهم)

🔺قالوا: ارتفعت الأسعار وصعبت المعيشة بسبب ظلم الحاكم.
🔻قلنا: لو خرج الشعب لضاق العيش أكثر، ولفقد الأمن ولسفكت الدماء و هتكت الأعراض، وكل من عرف التاريخ يوقن أن الخروج ما جاء بيوم خير قط.

🔺قالوا: إذن ما الحل؟
🔻قلنا: الله أكبر الله أكبر،
الحل: التوبة والاستغفار (إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم)
غيروا الشرك إلى التوحيد و البدعة إلى السنة والمعصية إلى الطاعة...(و لو أن أهل القرى آمنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركات من السماء والأرض)[ الأعراف]
وقيل لبعض السلف: (غلت الأسعار قال: أخفضوها بالإستغفار).

[Dari WA An-Nasihah As-Salafiyyah, Ikhwah Salafiy Al-Jazair]

Alih Bahasa: Al-Ustadz Syamsu Muhajir hafizhahullah
Diambil dari: Channel Telegram @KEUTAMAANILMU

➥ #Manhaj #Bantahan #ahlussunnah #menangkal_syubhat #radikalis #khawarij #im #ikhwani #sururi #turatsi #ruhaili #halabi #rodjai #mlm

[VIDEO] Syubhat: Menyibukkan Diri Dengan Ilmu Syar’i Tidak Mendatangkan Pekerjaan!!

Disampaikan oleh Asy-Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Hady al-Madkhaly hafizhahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/2XklUv7gHNI (Durasi: 2:52)

Download Video @ Mp3:
https://savemedia.com/watch?v=2XklUv7gHNI

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
[SYUBHAT] MENYIBUKKAN DIRI DENGAN ILMU SYAR'I TIDAK MENDATANGKAN PEKERJAAN!!

Berkata Asy Syaikh Muhammad bin Hadi Al Madkhaly waffaqahullah ketika sedang menceritakan tentang perjalanan hidup Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dan tentang menuntut ilmu serta keadaan kita dan anak-anak kita:

Dan perkataan yang paling mengherankan yang kami dengar belakangan ini, dan duhai seandainya kami tidaklah hidup hingga harus mendengar perkataan ini:
(Ketika dikatakan): “Wahai anakku, wahai saudaraku hendaknya engkau menuntut ilmu syar’i.”
Dia menjawab:
“Tidak mendatangkan pekerjaan...”

Allahu Akbar!! Seakan-akan ilmu syar’i itu dituntut untuk bisa bekerja!? Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya (ﷺ) itu tujuannya pekerjaan??

(mereka berkata):
“Tidak, pergilah belajar untuk jadi mekanik, pergilah untuk jadi dokter, pergilah untuk jadi ini itu ..”

Dan bahkan yang lebih mengherankan dari itu bahwa engkau bisa mendapati hal ini di rumahmu, bisa jadi engkau mendengarnya dari sebagian saudara-saudaramu dan orang-orang yang engkau cintai:
“Nilainya sembilan puluh sembilan tapi masuk fakultas syariah? Demi Allah ini suatu kerugian, seharusnya dia masuk kedokteran.”

Kedokteran apa? Kedokteran manusia, kedokteran tubuh! Sedangkan kedokteran bagi rohani dan agama mereka merasa tidak butuh dengannya! Laa ilaaha illallah! Sungguh betapa besar perkataan ini seandainya orang yang mengatakannya mau meresapinya, sungguh betapa besar perkataan ini seandainya orang yang mengucapkannya mau memperhatikan apa yang dia ucapkan.

Syariat ini butuh kepada para penghafal, butuh kepada orang-orang pandai, butuh kepada orang-orang yang jeli, butuh kepada manusia unggulan, orang-orang cerdas, orang-orang yang berpengetahuan tinggi seperti mereka para imam yang dengan merekalah Allah menjaga agama ini. Adapun sekarang kita melemahkan semangat para penuntut ilmu syar’i dan memperdengarkan kepadanya perkataan seperti ini.

Wajib atas kita semua untuk menyemangati anak-anak kita agar berkonsentrasi untuk menjaga syariat dan membawa syariat.

Barangsiapa yang melayani/membantu syariat ini maka dunia akan melayaninya.

Barangsiapa yang niatnya (dalam menuntut ilmu) menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan memberikan manfaat bagi umatnya dan menjaga agama Islam serta membelanya, maka demi Allah dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina, dan Allah akan memudahkan baginya urusannya dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Maka wajib atas kita untuk meyakini hal tersebut. Dan kita sekarang wahai saudara-saudara dan anak-anakku, kita berada di suatu zaman di mana musuh-musuh Islam menyerang Islam dan muslimin, dan kita membutuhkan orang-orang unggulan yang Allah subhanahu wa ta’ala menjaga syariat ini dengan adanya mereka, kita butuh untuk mengerahkan kemampuan yang besar untuk menjaga syariat yang mulia ini, sehingga Allah akan menjaga mereka dengan syariat ini sebagaimana mereka telah menjaganya.

{ وَالَّـذِينَ جَاهَـدُوا فِينَا لَنَهْـدِيَنَّهُمْ سُبُلَـنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمـَعَ الْمُحْسِنِينَ } [سورة العنكبوت الآية، 69]

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” [Al-Ankabut: 69]

Sumber: http://www.al-amen.com/vb/showthread.php?t=4475

Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Ahmad Purwokerto hafizhahullah

Diambil dari: Channel Telegram @salafymedia

__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Bantahan #syubhat #menuntut_ilmu #tidak_mendatangkan_pekerjaan

[ARTIKEL] Ambillah Ilmu Dari Ulama’ Terpercaya dan Jangan Mengambil Dari Majruh dan Majhul

AMBILLAH ILMU DARI ULAMA’ TERPERCAYA DAN JANGAN MENGAMBIL DARI MAJRUH DAN MAJHUL (Bagian 1)

Syariat Islam yang dipahami dan diterapkan oleh para Sahabat Nabi membimbing kita untuk mengambil ilmu dari para Ulama’ yang telah jelas keilmuan dan kekokohan manhajnya. Seorang Ulama’ adalah orang berilmu yang telah ditazkiyah (direkomendasikan) oleh Ulama sebelumnya atau yang sejaman dengannya. Sesungguhnya ilmu Dien ini diwarisi dari Nabi shollallahu alaihi wasallam. Nabi menyampaikan kepada para Sahabat. Para Sahabat menyampaikan kepada para Tabi’in. Para Tabi’in menyampaikan ilmu kepada Atbaaut Tabi’in, dan seterusnya hingga sampai di masa kita saat ini.

Tazkiyah adalah pujian terhadap seseorang dan anjuran untuk mengambil ilmu dari orang tersebut. Pujian bahwa orang tersebut berilmu, berakidah dan manhaj yang lurus, atau sekedar ucapan “ambillah ilmu dari fulaan”. Itu adalah bagian dari tazkiyah. Tazkiyah juga memiliki kedekatan makna dengan ta’dil.

Mari kita lihat sejenak beberapa contoh mata rantai tazkiyah sejak masa Nabi shollallaahu alaihi wasallam hingga masa Tabi’in. Dari mata rantai ini kita bisa melihat bahwa seorang Ulama itu adalah yang mendapat tazkiyah dari Ulama lain sebelumnya. Nabi shollallahu alaihi wasallam telah mentazkiyah beberapa Sahabat untuk bisa diambil ilmunya, di antaranya :

{ ...وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلاَلِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَل... }

“Yang paling berilmu dalam urusan halal dan haram pada umatku adalah Muadz bin Jabal.” [HR Ibnu Hibban]

{ خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ }

“Ambillah (ilmu) al-Quran dari 4 orang: Abdullah bin Mas’ud, Salim (maula Abi Hudzaifah), Muadz bin Jabal, dan Ubay bin Ka’ab. [HR al-Bukhari dan Muslim]

📜Sebagian Sahabat Nabi ada yang mentazkiyah Sahabat Nabi yang lain.

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud memuji Ibnu Abbas dengan perkataan:

{ نِعْمَ تُرْجُمَانِ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ }

“Sebaik-baik penterjemah (penafsir) al-Quran adalah Ibnu Abbas.” [Riwayat al-Hakim, dinyatakan shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim oleh adz-Dzahabiy]

Berikutnya, adalah tazkiyah Sahabat Nabi kepada Tabi’in.

Sahabat Nabi Ibnu Abbas pernah memberikan tazkiyah kepada seorang Tabi’i Jabir bin Zaid (Abusy Sya’tsaa’):

{ لو نزل أهل البصرة بجابر بن زيد لأوسعهم علما من كتاب الله عز و جل }

“Jika diturunkan Jabir bin Zaid untuk Ahlul Bashrah, niscaya akan mencukupi mereka (penjelasan) ilmu terhadap apa yang ada dalam Kitabullah.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Awliyaa’, dan Ya’qub bin Sufyan dalam al-Ma’rifah wat Taarikh dengan lafadz yang sedikit berbeda]

Demikian sebenarnya tazkiyah itu terus berlangsung dari generasi ke generasi hingga ke masa kita saat ini. Ulama’ Ahlussunnah yang ada masa ini adalah yang ditazkiyah oleh Ulama’-Ulama’ Ahlussunnah yang lebih dulu meninggal atau yang sejaman dengannya. Sebagai contoh, Syaikh Robi’ telah ditazkiyah oleh Ulama’-Ulama’ besar yang telah meninggal sebelumnya seperti Syaikh Bin Baz, Syaikh al-Albaniy, Syaikh Ibn Utsaimin, Syaikh Ahmad bin Yahya anNajmi, dan lain-lain. Syaikh Bin Baz telah ditazkiyah oleh Ulama’ sebelumnya lagi, demikian juga Syaikh al-Albaniy, hingga sampai kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Demikian tazkiyah dan mata rantai pengambilan ilmu itu tetap terjaga sebagai salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap kemurnian Dien ini.

Tazkiyah atau ta’dil menjadi salah satu parameter penting untuk dijadikan acuan apakah seseorang bisa dijadikan rujukan sebagai Ulama’ untuk diambil ilmunya atau tidak. Selama tidak ada jarh (celaan, kritikan pedas) yang mu’tabar (bisa dijadikan acuan), maka tazkiyah dan ta’dil itu bisa menjadi pegangan.

Namun, dalam perkembangan, jika suatu ketika seorang Ulama’ itu (yang telah ditazkiyah Ulama sebelumnya) kemudian menyimpang dan telah di-jarh oleh Ulama’-Ulama’ Ahlussunnah yang mu’tabar setelah melalui proses penyampaian nasehat yang panjang tapi ia tetap menentang dan tidak mau tunduk pada dalil yang shorih (tegas), maka status dia akan berubah menjadi majruh dan tidak bisa diambil ilmunya. Inilah salah satu bentuk pemurnian Dien Islam yang tidak didapatkan pada agama-agama yang lain. Jika pada agama lain kesalahan pada pemuka agamanya yang fatal masih ditoleransi, kultus individu sangat dominan terjadi, tidak demikian dalam Islam.

Yang dijaga oleh Allah adalah kemurnian Dien ini, bukan keistiqomahan seorang individu yang masih hidup. Selama seseorang masih hidup, tidak ada jaminan ia akan lurus terus hingga akhir hayatnya. Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

{ لاَ يُقَلِّدَنَّ أَحَدُكُمْ دِيْنَهُ رَجُلًا فَإِنْ آمَنَ آمَنَ وَإِنْ كَفَرَ كَفَرَ فَإِنْ كُنْتُمْ لَا بُدَّ مُقْتَدِيْنَ فَاقْتَدُوا بِالْمَيِّتِ فَإِنَّ الْحَيَّ لَا يُؤْمَنُ عَلَيْهِ الْفِتْنَة }

“Janganlah salah seorang dari kalian taklid (ikut-ikutan) dalam Dien terhadap seseorang. Jika orang itu beriman, dia beriman. Jika orang itu kafir, dia kafir. Kalau kalian harus mengikuti, ikutilah orang yang sudah meninggal, karena orang yang masih hidup tidak aman dari fitnah.” [Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dan alLaalikaai dalam Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah]

Kadangkala, seorang yang sebelumnya mendapat tazkiyah dari Ulama yang sudah meninggal dunia, dalam perjalanan waktu melakukan penyimpangan-penyimpangan manhaj. Ia kemudian di-jarh oleh Ulama yang sejaman dengannya dengan jarh yang mu’tabar. Maka status dia kemudian menjadi majruh. Contohnya adalah Yahya al-Hajuriy, Muhammad al-Imam, yang sebelumnya ditazkiyah oleh Syaikh Muqbil semasa hidupnya, namun kemudian melakukan penyimpangan-penyimpangan manhaj, sehingga ditahdzir dan di-jarh oleh para Ulama, maka mereka kemudian menjadi majruh. Demikian juga dengan Ali al-Halabiy, Saliem bin Ied al-Hilaliy yang sebelumnya dikenal luas identik sebagai murid Syaikh al-Albaniy, namun sepeninggal Syaikh al-Albaniy, banyak penyimpangan-penyimpangan Dien yang mereka lakukan, hingga status mereka pun berubah menjadi majruh. Hingga merekapun ditinggalkan, tidak layak diambil ilmunya.

Kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang majruh dan majhul. Majruh adalah orang-orang yang di-jarh karena memiliki sifat-sifat yang buruk sehingga tidak boleh mengambil ilmu darinya seperti pendusta, berpemahaman kekufuran atau bid’ah, menyimpang dari manhaj Salaf, orang yang mengikuti hawa nafsu, orang yang tidak berilmu, dan semisalnya. Sedangkan majhul adalah orang-orang yang tidak dikenal secara jelas dari mana ia mengambil ilmu, siapa yang mentazkiyah (memuji dan merekomendasikan) dia, dan semisalnya.

Sejak masa para Sahabat Nabi, telah ada jarh terhadap orang-orang tertentu agar tidak diambil ilmu darinya. Kadangkala jarh tersebut terhadap pihak yang memiliki ciri-ciri pemahaman tertentu, kadang pula menunjuk person tertentu secara langsung. Sahabat Nabi Ibnu Umar berlepas diri dari pihak-pihak yang mengingkari takdir, meski mereka banyak membaca al-Quran dan dianggap berilmu. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dari Yahya bin Ya’mar.

Di masa Tabi’in, banyak jarh terhadap orang-orang yang menyimpang. Di antaranya ucapan al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang menyatakan:

{ إِيَّاكُمْ وَمَعْبَدًا الْجُهَنِيَّ فَإِنَّهُ ضَالٌّ مُضِلٌّ }

“Hati-hati, jauhilah oleh kalian Ma’bad al-Juhaniy karena sesungguhnya dia orang yang sesat dan menyesatkan.” [Riwayat atTirmidzi dalam Sunannya]

Di masa Atbaaut Tabi’in juga banyak terdapat jarh untuk memurnikan Dien ini. Para Ulama di masa itu memperingatkan penyimpangan dan kesesatan seseorang agar umat jangan mengambil ilmu darinya.

Sebagai contoh, ucapan Abdullah bin al-Mubarok (Ibnul Mubarok) agar umat jangan mengambil ilmu hadits dari Amr bin Tsabit. Ibnul Mubarok menyatakan:

{ دَعُوْا حَدِيْثَ عَمْرو بْن ثَابِتٍ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ }

“Tinggalkanlah hadits (dari) ‘Amr bin Tsabit karena dia mencerca Salaf (Sahabat Nabi).” [Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqoddimah Shahihnya]

- - - -

DALIL DARI AL-QURAN DAN SUNNAH SERTA UCAPAN PARA SAHABAT NABI

Berikut ini adalah dalil-dalil dari al-Quran dan as-Sunnah serta perkataan para Sahabat Nabi yang menunjukkan hal itu, bahwa hendaknya ilmu itu diambil dari Ulama’ yang terpercaya dan jangan mengambil ilmu dari orang-orang yang menyimpang atau tidak dikenal:

Dalil Pertama:

{ ...فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ }

“…Dan bertanyalah kepada Ulama’ jika kalian tidak mengetahui.” [QS anNahl ayat 43 dan al-Anbiyaa’ ayat 7]

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu itu didapatkan dengan bertanya kepada Ulama secara langsung, atau melalui karya-karya tulis, rekaman ceramah, maupun fatwa-fatwa mereka.

Para Ulama’lah yang paham bagaimana mengambil kesimpulan hukum terhadap dalil-dalil al-Quran dan hadits Nabi dan bagaimana menerapkannya pada kondisi dan keadaan tertentu.

Dalil Kedua:

{ إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ }

“Sesungguhnya Ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar ataupun dirham. Para Nabi hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil (ilmu) maka ia telah mendapatkan bagian yang banyak.” [HR Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan al-Albaniy]

Hadits ini menunjukkan dalil bahwa barangsiapa yang ingin mengambil ilmu warisan para Nabi, maka ambillah dari para Ulama, karena merekalah pewaris para Nabi.

Dalil Ketiga:

{ الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ }

“Keberkahan itu bersama Ulama-Ulama besar (senior) kalian.” [HR al-Hakim, Ibnu Hibban]

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu menyatakan:

{ لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا الْعِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوْهُ مِنْ أَصَاغِرِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوْا }

“Manusia senantiasa dalam kebaikan selama ia mengambil ilmu dari Ulama-Ulama besar mereka. Jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (Ahlul Bid’ah) dan orang-orang buruk mereka, mereka akan binasa.” [Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayaanil Ilmi wa Fadhlihi]

Dalil Keempat:

{ جَاءَ بُشَيْرٌ الْعَدَوِيُّ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَجَعَلَ يُحَدِّثُ وَيَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَعَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَا يَأْذَنُ لِحَدِيثِهِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ مَالِي لَا أَرَاكَ تَسْمَعُ لِحَدِيثِي أُحَدِّثُكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَسْمَعُ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِنَّا كُنَّا مَرَّةً إِذَا سَمِعْنَا رَجُلًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ابْتَدَرَتْهُ أَبْصَارُنَا وَأَصْغَيْنَا إِلَيْهِ بِآذَانِنَا فَلَمَّا رَكِبَ النَّاسُ الصَّعْبَ وَالذَّلُولَ لَمْ نَأْخُذْ مِنَ النَّاسِ إِلَّا مَا نَعْرِفُ } [رواه مسلم]

Busyair al-‘Adawiy datang kepada Ibnu Abbas kemudian dia (Busyair) menyampaikan hadits: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda … Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda….” Ibnu Abbas tidaklah mendengar haditsnya dan tidak melihat ke arahnya. Kemudian ia berkata: “Wahai Ibnu Abbas, mengapa anda tidak mau mendengar haditsku padahal aku sampaikan hadits dari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sedangkan engkau tidak mau mendengarkannya.” Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya kami dulu sekali saja kami mendengar seseorang mengucapkan: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda….kami segera mengarahkan dengan penuh perhatian pandangan dan pendengaran kami kepadanya. Ketika manusia mulai menempuh kesulitan dan kemudahan (mulai banyak berdusta, pent), maka kami tidaklah mengambil (ilmu) kecuali dari orang yang kami kenal.” [HR Muslim]

Hadits ini menunjukkan dalil bahwa ilmu Dien itu tidaklah diambil dari orang yang tidak dikenal. Kita tidak boleh mengambil ilmu dari orang yang tidak dikenal.

Dalil Kelima:

{ يَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ يَأْتُونَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ لَا يُضِلُّونَكُمْ وَلَا يَفْتِنُونَكُمْ }

“Akan datang pada akhir zaman, para Dajjal para pendusta, yang mereka mendatangkan hadits-hadits yang tidak pernah didengar oleh kalian ataupun ayah-ayah kalian. Hati-hatilah dari mereka, jauhilah mereka. Jangan sampai mereka menyesatkan dan menimbulkan fitnah bagi kalian.” [HR Muslim dari Abu Hurairah]

Hadits ini menunjukkan dalil bahwa janganlah mengambil ilmu dari orang-orang majruh, yang pendusta atau menyimpang dalam Diennya.

Wallaahu A’lam.


Abu Utsman Kharisman
WA al-I'tishom

Diambil dari: Channel Telegram @goresanfawaid

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #mengambil_ilmu #dari_ulama_terpecaya

[ARTIKEL] Hukum Berdzikir Setelah Shalat

HUKUM BERDZIKIR SETELAH SHALAT

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin Rahimahullah

[ Pertanyaan ]

🔸Apakah dzikir yang mana seseorang mengeraskan suaranya setelah shalat wajib?
🔹Dan apa pendapat Anda berkaitan perkataan sebagian orang bahwasanya mengeraskan suara pada jaman Rasulullah (ﷺ) tujuannya untuk memberikan pengajaran?
🔸Dan apa pendapat Anda berkaitan dengan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim rahimahumallah, bahwa tempat untuk berdoa adalah sebelum salam dan tempat untuk berdzikir adalah setelah salam?

[ Jawaban ]

Dzikir-dzikir yang mana seseorang mengeraskan suaranya setelah shalat wajib adalah setiap dzikir yang disyariatkan setelah shalat.

Berdasarkan apa yang datang dalam Shahih al-Bukhari dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata,
“Adalah mengeraskan suara ketika berdzikir setelah orang-orang selesai dari shalat wajib diamalkan pada jaman Nabi Muhammad (ﷺ).”
Beliau radhiyallahu 'anhuma berkata,
“Dan aku mengetahui orang-orang selesai dari shalat apabila aku mendengar suara mereka.”

Maka ini menunjukkan bahwa setiap dzikir yang disyariatkan setelah shalat adalah dengan mengeraskan suara.

Adapun persangkaan dari sebagian ahli ilmu, bahwasanya mengeraskan suara ketika berdzikir pada jaman Nabi Muhammad (ﷺ) tujuannya adalah untuk memberikan pengajaran, dan tidak disunnahkan mengeraskan suara ketika berdzikir, maka sesungguhnya hal ini merupakan awal yang berbahaya. Karena, seandainya setiap sunnah yang datang kepada kita yang serupa dengan perkara ini kemudian kita katakan bahwa sunnah tersebut tujuannya untuk pengajaran, dan orang-orang sekarang ini telah mempelajarinya sehingga tidak disyariatkan sunnah ini, maka akan menjadi batal begitu banyak sunnah dengan metode ini.

Kemudian kita katakan, "Rasulullah (ﷺ) telah mengajarkan kepada para shahabat hal-hal yang disyariatkan setelah shalat. Sebagaimana dalam kisah orang-orang faqir yang mendatangi Rasulullah (ﷺ) karena orang-orang kaya telah mendahului mereka dalam amalan. Rasulullah (ﷺ) bersabda,
“Maukah aku beritahu kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa mencapai apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mendahului kalian?”
Kemudian Rasulullah (ﷺ) mengajarkan mereka untuk bertasbih, bertakbir dan bertahmid sebanyak 33 kali. Maka di sini Rasulullah (ﷺ) telah mengajari mereka dengan ucapan beliau.

Sehingga yang benar dalam permasalahan ini, disyariatkan bagi seseorang setelah selesai shalat-shalat wajib untuk mengeraskan setiap yang datang dari bacaan dzikir, baik itu tahlil, tasbih atau istighfar setelah salam sebanyak 3 kali, atau pun dengan ucapannya Allahumma antas salam.

Adapun yang penanya sebutkan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim berupa permasalahan bahwa tempat berdoa adalah sebelum salam dan berdzikir setelah salam, ini adalah pendapat yang sangat bagus. Dan yang menunjukkan hal ini adalah hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu ketika menyebutkan bahwa ketika Rasulullah (ﷺ) mengajari mereka bacaan tasyahhud, beliau bersabda setelahnya,
“Kemudian hendaknya engkau memilih doa yang ia senangi.”
Maka Rasulullah (ﷺ) membimbing seorang yang shalat untuk langsung berdoa setelah membaca tasyahhud dan sebelum salam.

Adapun berdzikir, tempatnya setelah salam. Berdasarkan firman Allah Ta'ala,

{ فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ }

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring.” (Q.S: An Nisa’ 103)

Maka dari sini, hal yang dikerjakan setelah salam adalah berdzikir dan hal yang dikerjakan sebelum salam adalah berdoa. Ini merupakan kandungan hadits, kandungan al-Qur'an. Dan demikian pula secara makna, menunjukkan bahwa seorang yang shalat menghadap Allah 'Azza wa Jalla, selama ia berada dalam shalatnya, ia bermunajat kepada Rabbnya, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi Muhammad (ﷺ). Apabila ia telah selesai dan mengucapkan salam, selesai pula dari hal tersebut. Sehingga bagaimana mungkin kita mengatakan,
“Akhirkanlah berdoa hingga engkau selesai bermunajat kepada Allah.“
Secara akal, menunjukkan bahwa tempat untuk berdoa adalah sebelum salam selama ia masih bermunajat kepada Rabbnya, Tabaraka wa Ta'ala.

Maka ini menunjukkan, bahwa pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan muridnya Ibnul Qayyim adalah pendapat yang benar yang berdasarkan dalil naql (al-Qur'an dan as-Sunnah) dan 'aql (secara akal). Akan tetapi tidak mengapa apabila seseorang terkadang berdoa setelah shalat. Adapun apabila menjadikan hal tersebut setelah shalat sunnah ratibah, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang, setiap selesai dari shalat sunnah ia mengangkat kedua tangannya sembari berdoa, hal ini tidak kami ketahui suatu sunnah pun dari Nabi Muhammad (ﷺ).

Sumber artikel: [Majmu' Fatawa wa Rasa-il asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin 13/244-246]

Alih bahasa: Al-Ustadz Abdulaziz Taufiq al-Bantuly hafizhahullah
http://www.salafybpp.com/fiqh/hukum-berdzikir-setelah-shalat

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Fiqih #Ibadah #shalat #dzikir #dzikir_bada_shalat #jahr #sirr