[VIDEO] Hukum Shalat Tarawih 4 Rakaat Sekali Salam

Disampaikan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
{ Dengan Transkrip Terjemahan dalam Bahasa Indonesia }

URL Video:
https://youtu.be/KpEpxDM4Eb0(Durasi: 4:06)

Download video dalam pelbagai Versi:
https://savemedia.com/watch?v=KpEpxDM4Eb0

Himpunan Video AlFawaaidNet
| http://bit.ly/Vid_AlFawaaidNet (Video Singkat)
| http://bit.ly/Vid_Kajian_AlFawaaidNet (Video Kajian)

________
- - - - - - - - -
HUKUM SHALAT TARAWIH 4 RAKAAT SEKALI SALAM

[ Pertanyaan ]

Ini pertanyaan dari situs Miratsul Anbiya: Bolehkah shalat tarawih empat rakaat dengan sekali salam?

[ Jawaban ]

TIDAK, ITU TIDAK BENAR / TIDAK SAH, meskipun hal itu terjadi dua malam yang lalu di Masjid Nabawi dan dilakukan sesekali.

Yang benar, shalat (tarawih) empat rakaat dengan sekali salam hukumnya batil (tidak sah).

Sebab, Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu anha mengatakan, “Nabi ﷺ tidaklah menambah shalat (malam) pada bulan Ramadhan atau selainnya lebih dari 11 rakaat. Beliau shalat 4 rakaat, jangan engkau tanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat, jangan engkau tanya tentang bagusnya dan lamanya. Setelah itu, beliau shalat 3 rakaat.”

Ucapan Aisyah, “Beliau shalat 4 rakaat, jangan engkau tanya tentang bagusnya dan lamanya. Kemudian beliau shalat 4 rakaat, jangan engkau tanya tentang bagusnya dan lamanya…,” yang dimaksud dengan 4 rakaat di sini ialah dilakukan 2 rakaat, 2 rakaat.

Jika ada yang bertanya, Dari mana engkau datangkan (pemaknaan) ini?

Kita jawab kepadanya, Dari hadits Aisyah sendiri. Hadits yang (disebutkan di atas) ini adalah yang muttafaqun alaih (diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, -pent.). Adapun hadits Aisyah yang diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan, “… 4 rakaat, beliau salam setiap 2 rakaat.”

Maka dari itu, yang mutlak (yang diriwayatkan secara muttafaqun alaih, -pent.) wajib dibawa kepada yang muqayyad (yang diriwayatkan oleh Muslim saja). (Lafadz) yang umum wajib dibawa kepada (lafadz) yang khusus.
▪️Pada riwayat Muslim yang menyebutkan 4 rakaat, Aisyah mengatakan, “…jangan engkau tanya tentang bagusnya dan lamanya, beliau salam setiap 2 rakaat.”
▪️Apabila Nabi ﷺ setiap 2 rakaat, ini adalah tafsir bagi hadits yang (menyebutkan lafadz) mutlak. Oleh karena itu, diharuskan untuk memberi salam setiap 2 rakaat.

Jika demikian, pemahaman ini selaras dengan hadits, “Shalat malam itu 2 rakaat, 2 rakaat.”

Maka, 4 rakaat tersebut dilakukan dengan cara ini, yaitu salam setiap 2 rakaat. Kebiasaan salam setiap 2 rakaat ini adalah sabda beliau ﷺ, “Shalat malam dan siang hari 2 rakaat 2 rakaat.”

Jadi, harus ada salam setiap 2 rakaat. Apabila seseorang bangkit (setelah 2 rakaat, tidak salam), dia wajib untuk duduk kembali. Hal ini sebagaimana ketika dalam shalat subuh, seseorang bangkit ke rakaat ke-3 maka dia wajib untuk duduk kembali, bertasyahud, kemudian sujud sahwi, baru melakukan salam.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (yang menyebutkan) 4 rakaat dengan sekali salam,
ini adalah hadits yang syadz, menyelisihi hadits-hadits yang sahih.

Karena masalah ini memang demikian, semoga Allah merahmati al-Imam Ahmad ketika mengatakan, “Barang siapa bangkit ke rakaat ke-3 pada shalat malam, dia seperti bangkit ke rakaat ke-3 pada shalat subuh.”

Apa makna ucapan beliau ini?
▪️Shalatnya batal, apabila dia lakukan dengan sengaja. Apabila dia melakukannya karena lupa, dia diingatkan lalu melakukan sujud sahwi. Dia bertasyahud lalu melakukan sujud sahwi.
▪️Meskipun sudah berdiri, dia wajib duduk kembali.
▪️Walaupun sudah mulai membaca al-Fatihah, dia wajib duduk kembali, kemudian bertasyahud dan salam.

Inilah pendapat yang benar dalam masalah ini.

http://miraath.net/questions.php?cat=20&id=3804

Alih bahasa: Syabab Forum Salafy
WSI ~ http://forumsalafy.net/?p=11753
__________

Klik “JOIN” Channel Telegram
http://bit.ly/ukhuwahsalaf
http://bit.ly/ForumBerbagiFaidah
http://bit.ly/Alfawaaid

#VideoFawaid #Fiqih #Ibadah #shalat #shalat_taraweh #4rakaat_1salam

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.