[ARTIKEL] Di Antara Perusak Ukhuwah: Ta'ashub Guru, Pendapat dan Kelompok

DI ANTARA PERUSAK UKHUWAH: TA'ASHUB GURU, PENDAPAT DAN KELOMPOK

Asy-Syaikh Robi’ bin Hadiy Al-Madkholiy -hafidhohullah- ta'ala berkata:

Sikap ta'ashub (fanatik buta) dan memperturutkan hawa nafsu termasuk di antara jalan-jalan yang (ditempuh) ahlul jahiliyyah dan bangsa Tatar, sebagaimana hal itu telah dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (rahimahullah ta'ala).

Seorang mukmin hendaknya berusaha untuk mengetahui kebenaran dan berpegang teguh dengannya, meskipun kebenaran sedang diselisihi oleh orang yang menyelisihi.

Selamanya, janganlah seseorang ta'ashub kepada kesalahan fulan atau fulan, atau ta'ashub kepada pendapat fulan dan fulan. Namun hendaknya dia berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah Rasul (ﷺ), memberikan wala' (loyal) maupun bermusuhan dengan berpatokan kepada ajaran Muhammad (ﷺ) setelah dia mengetahui bahwa Muhammad (ﷺ) telah mengajarkannya dan tidak berdasarkan persangkaan.

Dia mengetahui sesungguhnya permasalahan ini telah diajarkan oleh Muhammad (ﷺ), dan yang telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan (Sunnah) Rasulullah (ﷺ), dan yang telah dijadikan agama oleh salaf.

Ibnul Qayyim (rahimahullah) berpendapat sesungguhnya jika kamu telah mengetahui nash (teks dalil) dan telah memahaminya, wajib bagimu berpegang teguh dengannya. Artinya, jika kamu telah mengetahui ada seseorang yang berkata dengan dalil maka wajib bagimu berpegang teguh dengannya.

Jika kamu telah mengetahui banyak orang yang berkata dengan dalil yang mereka sampaikan, semakin bertambahlah kekokohan dan keyakinanmu.

Dan jika tidak kamu dapati seorangpun (yang berbicara dengan dalil) maka hal itu tidak menjadi syarat, karena yang terpenting: pedoman seorang muslim adalah firman Allah dan sabda Rasulullah; ilmu itu firman Allah, sabda Rasulullah dan ucapan sahabat, dan bukan penyamaran (kebenaran).

Adapun jika datang seorang yang jahil dan menobatkan dirinya sebagai imam (tokoh) dan berkecimpung dalam kebatilan dan kesesatan, kemudian kamu ta'ashub kepadanya, maka hal ini termasuk perbuatan jahiliyyah.

Bahkan seandainya ada seorang imam yang salah kemudian kamu ta'ashub kepadanya, maka pada dirimupun ada sifat jahiliyyah.

Allah ta'ala berfirman (artinya): Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” [Az-Zukhruf: 22]

Maka ta'ashub ini termasuk perkara dan perangai orang-orang jahiliyyah.

Adapun seorang muslim yang jujur, maka wajib baginya membersihkan diri dari ta'ashub dan dari menyelisihi ajaran Muhammad (ﷺ), (yang melarang) ta'ashub yang tercela!

Tidak ada yang ta'ashub kecuali { عصبي } (orang yang sakit syaraf) atau orang yang jelek. Orang yang sakit syaraf atau orang yang sakit jiwa yang mengalami gangguan jiwa atau dungu. Tidak ada yang ta'ashub kecuali orang yang dungu atau sakit syaraf.

Maka seorang muslim wajib menjauhkan diri (dari ta'ashub) agar tidak menjadi orang dungu, gila atau sakit syaraf. Hendaknya dia menjadi orang yang berakal yang mencari kebenaran. Dan jika dia mengetahui kebenaran, dia mengamalkannya meski kebenaran diselisihi oleh seluruh manusia di muka bumi. Dia tidak ta'ashub, tidak kepada imam tidak pula kepada makmum. Tidak pula kepada yang jujur maupun yang berdusta. Dia hanya berpegang teguh dengan al-haq.

Dinukil oleh: Kamal Ziyadiy - Muntada Sahab

Sumber: http://www.sahab.net/home/?p=1712

Alih Bahasa: Al-Ustadz Syamsu Muhajir Hafidzahullah (Ramadhan 1437H)
Diambil dari: Channel Telegram Salafy Malang Raya @salafymalangraya

•┈┈┈┈•••Edisi•••┈┈┈┈┈•
IIII مجموعة الأخوة السلفية •✦• MUS IIII
ⓣ http://bit.ly/ukhuwahsalaf

➥ #Manhaj #Nasehat #ta_ashub #perusak_ukhuwah

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.