Batasan Definisi Bid'ah: Adakah Bid'ah Hasanah?

::: BATASAN DEFINISI BID'AH: ADAKAH BID'AH HASANAH? :::

Oleh: Asy-Syaikh Al-'Allamah Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رحمه الله

✹✹✹

Pertanyaan:


Apa definisi Bid’ah itu? Apakah sesuatu yang menyelisihi al-Kitab (Al-Qur’an) dan Sunnah dinamakan Bid’ah Hasanah, karena Syaikhul Islam berkata, “sesuatu yang menyelisihi Al-Kitab (Al-Qur’an) adalah bid’ah sedangkan yang tidak diketahui menyelisihinya maka terkadang tidak dinamakan bid’ah?

(Pertanyaan ini) disebabkan kami menemui sebagian jama’ah (sholat) bersikap ghuluw (ekstrim) contohnya dalam berdzikir yaitu dzikir-dzikir tertentu di pagi atau sore hari dimana mereka menambahkan (sesuatu) dalam dzikir-dzikir ini, maka apakah ini disebut bid’ah?

Jawaban:
“Batasan bid’ah - semoga Allah memberkahimu - :

أن يتعبد الإنسان لله بما لم يشرعه الله

Seseorang ber ta’abbud (beribadah) kepada Allah dengan sesuatu yang Allah tidak mensyari'atkannya.

Inilah batasannya, bukan “seseorang melakukan sesuatu yang Allah tidak menyariatkannya”. “Seseorang ber ta’abbud” yakni bahwa bid’ah ith terkait dengan suatu IBADAH. Adapun selain ibadah maka tidak berhubungan dengannya (bid’ah).

Maka, andaikan seseorang berta’abbud kepada Allah dengan sesuatu yang Dia (Allah) tidak mensyari'atkannya dari suatu aqidah, ucapan, atau perbuatan, kita katakan: INI BID'AH.

Adapun kalau sesuatu itu TERMASUK PERKARA -PERKARA SELAIN TA’ABBUD maka lakukanlah perkara yang baru tersebut sesuai dengan kehendakmu dan TIDAK seorangpun akan berkata “ini bid’ah (menurut syariat)”.

Oleh karena itu kita sekarang mendapati banyak perkara-perkara baru dalam urusan-urusan adat kebiasaan, bukankah begitu?

Kita sekarang menulis dengan komputer dan mesin ketik, merekam dengan recorder dan INI TIDAK DIKENAL DI ZAMAN PARA SHAHABAT NAMUN BUKAN TERMASUK PERKARA TA’ABBUD, tidak lain itu hanyalah bagian dari perkara-perkara adat kebiasaan, (bukan terkait ibadah) dan sekedar wasilah (media/ alat perantara).

Adapun ta’abbud kepada Allah semisal orang-orang yang (berniat) beribadah kepada Allah dengan menyucikan-Nya dari sifat-sifat-Nya yang Allah sendiri menyifati diri-Nya dengannya, mereka itulah pelaku bid’ah (mubtadi’).

Mereka yang ta’abbud kepada Allah dengan menetapkan permisalan/penyerupaan bagi-Nya, mereka berkata : “Kami beriman dengan sifat-sifat Allah bahwa sifat-sifat itu serupa dengan sifat-sifat kami”, mereka juga mubtadi’.

Jika demikian, apakah batasan bid’ah itu?

(التعبد لله بما لم يشرعه الله من عقيدة ،أو قول، أو عمل، سواء كان في أصل العبادة، أو في كيفيتها).

“TA’ABBUD kepada Allah dengan sesuatu yang Allah tidak mensyariatkannya dalam masalah akidah, ucapan atau amalan, BAIK terkait dalam hukum asal ibadah itu atau kaifiyah/ tata caranya.”

Sehingga, apabila orang-orang shalat berjama’ah lalu mereka katakan: “Kita akan berdzikir kepada Allah dengan seluruh dzikir-dzikir shalat; kita ucapkan SECARA BERSAMA-SAMA (ketika shalat):

 “SUBHANALLAH WALHAMDU LILLAH WALLAHU AKBAR”.

Kita katakan : “Ini bid’ah”.

Bid’ah dengan sebab apa, hukum asal ibadah atau kaifiyah/tata caranya?

(Jawabannya) dengan sebab tata caranya (tidak sesuai syariat Allah).”

Sumber: Silsilah Liqo`at Al-Bab Al-Maftuh > Liqo` Al-Bab Al-Maftuh [65]

______________________
الضابط في تعريف البدعة

السؤال:

ما هو تعريف البدعة؟ وهل ما خالف الكتاب، والسنة يسمى بدعة حسنة؛ لأن شيخ الإسلام يقول: ما خالف الكتاب فهو بدعة، وما لم يعلم أنه خالف فقد لا يسمى بدعة؛ لأننا نجد بعض الجماعات يغلون مثلاً في الأذكار، يعني: في أذكار معينة -مثلاً- في الصباح،أو في السماء فيزيدون في هذه الأذكار، فهل هذه تسمى بدعة؟

الجواب:

ضابط البدعة -بارك الله فيك-: أن يتعبد الإنسان لله بما لم يشرعه الله، هذا الضابط، لا أن يفعل ما لم يشرعه الله،

أن يتعبد، فالبدعة تتعلق بالعبادة، وإنما غير العبادة فما لها تعلق بها، فإذا تعبد الإنسان لله بما لم يشرعه من عقيدة ،أو قول، أو فعل قلنا: هذه بدعة، أما إذا كان من الأمور غير التعبدية ،فابتدع ما شئت، ولا أحد يقول: هذه بدعة؛ولهذا الآن عندنا ابتداعات كثيرة في الأمور العادية أليس كذلك؟

نكتب بالكمبيوتر الآن، وبالآلات الكاتبة، ونسجل في المسجل، وهذا ليس معروفاً في عهد الصحابة، لكن هذا ليس تعبداً، ولكن من الأمور العادية ،والوسائل.

أما التعبد لله ،مثل الذين يتعبدون لله ـ تعالى ـ بتنزيهه عن صفاته التي وصف الله بها نفسه، هؤلاء مبتدعة، يتعبدون لله تعالى بإثبات المثيل له فيقولون: نحن نؤمن بالصفات على أنها مماثلة لصفاتنا هؤلاء مبتدعة ـ أيضاً ـ . فالضابط في البدعة إذاً ما هو؟

(التعبد لله بما لم يشرعه الله من عقيدة ،أو قول، أو عمل، سواء كان في أصل العبادة، أو في كيفيتها).

فلو صلى أناس جماعة، ثم قالوا: سنذكر الله ـ  عز وجل ـ بأذكار الصلوات جميعاً، نقول جميعاً: سبحان الله، والحمد لله، والله أكبر، قلنا: هذه بدعة، بدعة بماذا ... بأصل العبادة،أو بكيفيتها؟ بكيفيتها.

المصدر: سلسلة لقاءات الباب المفتوح > لقاء الباب المفتوح [65]

رابط المقطع الصوتي

Unduh Audio (durasi 02:34)

✒ Alih Bahasa: Al-Ustadz Abu Yahya Almaidaniy حفظه الله - [FBF  5]

__________________
مجموعـــــة توزيع الفـــــــوائد
WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.