Apakah Perselisihan Ulama Tentang Kesalahan Al-Halaby, Ar-Ruhaily, Al-Ma'riby Adalah Masalah Ijtihadiyyah?

::: APAKAH PERSELISIHAN ULAMA TENTANG KESALAHAN AL-HALABY, AR-RUHAILY, AL-MA'RIBY ADALAH MASALAH IJTIHADIYYAH? :::

Oleh: Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Hadi Al-Madkholy -حفظه الله- | Tanggal fatwa: 11/02/2015

PERTANYAAN:
Apa pendapat Anda (kepada seseorang yang berkata)bahwa perselisihan 'Ulama pada kesalahan-kesalahan dari Abul Hasan, Al-Halaby, dan Ar-Ruhaily adalah "Masalah ijtihadiyah" maka bagi pelajar untuk meninjau antara dua pendapat dan mengambil pendapat yang kuat baginya dari apa yang terlihat (condong kepada alhaq)?

JAWAB:
Saya tanya orang ini, yang mengkritisi mereka (alhalaby dll ) dengan berkata: Fulan telah berkata -yakni- Al-Halaby..., telah berkata Ar-Ruhaily..., telah berkata Al-Ma'riby... pada kitab ini atau pada kaset itu, dan datang (orang yang mengkritik) dengan (rekaman)suaranya dan memberikan kepadamu bantahan terhadapnya, Orang yang membantahnya(kritikan kepada mereka), Apa yang ia katakan?

Jika dia datang kepadamu dengan sesuatu yang menolaknya (kebenaran dari kritikan terhadap mereka) maka setelah itu ambilah bersamanya, mereka ini setiap kali (datang kritikan kepada seseorang, mereka berkata) "kami tidak melihat (padanya)kecuali kebaikan, atau "kami tidak mendengar (tentangnya)kecuali kebaikan",

Kamu datangi orang yang semisal ini dan katakan kepadanya:

"Apakah kamu mendengarnya berkata demikian?"
Ia menjawab: "Tidak, tidak sampai kepadaku (ucapannya yang demikian)?

Apakah kamu mendengarnya berkata demikian?
Ia menjawab: "Tidak, tidak sampai kepadaku (ucapannya yang demikian)? "


KALAU BEGITU maka perkataanmu (kami tidak melihat atau mendengar tentang orang yang dikritik tersebut kecuali kebaikan) BUKANLAH HUJJAH.

Adapun seorang yang menjarh maka dia memiliki tambahan ilmu (tentang keadaan orang yang dikritisi), MAKA di saat itu benarlah apa yang dikatakan 'Ulama Hadist dalam istilah / ungkapan ilmu hadist:

يُقبلُ الجرح لأن مع صاحبه زيادة علم

"Jarh (kritikan) tersebut diterima dikarenakan ada bersamanya(pengkritik) tambahan pengetahuan (tentang yang ia kritisi)"

_________________
Adapun mereka ini (Al-Halaby, Ar-Ruhaily, Al-Ma'riby dan semisalnya) mereka telah berjalan menuju thoriqoh Ahlul Ahwa/pengekor hawa nafsu, Masing-masing dari yang telah disebutkan tersebut, mereka ini telah menyelisihi Ahlus Sunnah dan Salafiyyin.

BAHKAN Ar-Ruhaily berkata sekitar 20 tahun silam bahwa ia mengingkari manhaj ini, yang mana sekarang kita (Ahlussunnah) berada di atasnya, ini yang ia katakan pada pelajaran "Syarhu Risalatil Mu'allimin” pada (majlis)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, di Qiblatain, dengan terang-terangan ia berkata demikian.

Begitupun 'Ali Al-Halaby,  dan Abul Hasan telah berkata sekitar tahun 1416 H, dan ia mengingkari manhaj ini.

Begitu pula 'Ali Al-Halaby telah berkata sejak tahun 1412 hijriyah, ia mengingkari manhaj ini.

Mereka senantiasa saling berlomba-lomba setiap datang seseorang dan berkata sesungguhnya aku walaupun aku hidup belakangan dari zamannya, maka aku benar-benar akan mendatangkan apa yang para pendahulu(salaf) tidak mampu melakukannya.

Masing-masing menginginkan kedudukan yang utama baginya. Maka pergilah kalian (bersama keinginan tersebut)!

Manhaj ini, yang kita dan masyayikh kita di atasnya adalah manhaj yang para ulama telah mentazkiyah/ merekomendasi orang-orangnya bertahun-tahun silam. Kita masih berada di atasnya -walillahilhamd- dan semoga Allah kokohkan kita di atasnya.

Dan barangsiapa yang tidak menginginkan manhaj ini maka kita tidak menginginkan dia.

Dan barangsiapa yang telah merekomendasi mereka (Al-Halaby, Ar-Ruhaily, Al-Ma'riby dan semisalnya setelah datang tahdzir dengan bukti nyata) maka IA TELAH BERKATA DUSTA, tidak berkata dengan haq, karena ia menyelisihi tanpa bukti.

Akan tetapi jika ia adalah orang yang mengekor hawa nafsu maka ia adalah orang yang berdusta. NAMUN jika bukan demikian (yaitu bukan ahlul ahwa)berarti ia BELUM MENELITI..

وكلام المطّلع مُقدّم على كلام من لم يطّلع، والحقّ أحقّ أن يُتّبع.

"dan perkataan orang yang sudah meneliti dikedepankan atas perkataan orang yang belum meneliti, dan kebenaran lebih berhak untuk diikuti.."

------

ما رأيكم في اختلاف العلماء في كل من أبا الحسن والحلبي وإبراهيم الرحيلي؟
الشيخ محمد بن هادي المدخلي
تاريخ الفتوى:11/02/2015

السؤال:هذا يقول: ما رأيكم إن اختلاف العلماء في كل من أبا الحسن، والحلبي والرحيلي، مسألة اجتهادية، فلطالب النظر في القولين وترجيح له ما يظهر؟

الجواب:أنا أسأل هذا الناقد لهؤلاء يقول قال فلان، الحلبي ، قال الرحيلي، قال المأربي، في كتاب كذا في شريط كذا، ويأتي بصوته، ويعطيك إياه، المعارض له، ماذا يقول؟ إذا جاءك بما يدفعه، بعد ذلك خذ معه ،هؤلاء كلما ما رأينا إلا خيرًا ما سمعنا إلا خيرًا تأتي وتقول هل سمعته يقول كذا؟ يقول لا ما بلغني هل سمعته يقول كذا ؟ يقول لا ما بلغني.

إذًا فكلامك ليس بحجة والجارح معه زيادةُ علم، وحينئذٍ صدق ما قاله علماء الحديث، في مصطلح الحديث، يُقبلُ الجرح لأن مع صاحبه زيادة وهؤلاء قد ذهبوا إلى طريقة أهل الأهواء ، كل من ذكر وخالفوا أهل السُنة والسلفين، بل الرحيلي يقول : " من عشرين سنة تقريبًا وهو يُنكر هذا المنهج، الذي نحن عليه، هذا قاله في شرح رسالة المعلمين في شيخ الإسلام ابن تيمية في القبلتين، صرح بذلك فالشاهد، وعلى الحلبي وأبو الحسن قال: من عام أربعمائة وستة عشر، وهو منكر لهذا المنهج، وعلى الحلبي قال: أربعمائة وأثنى عشر وهو منكر لهذا المنهج، ويتسابقون كل ما جاء واحد قال إِني وَإِن كنت الْأَخير زِمانه لَآَت بما لم تَسْتطعه الأوَائل.

كل واحد يريد المرتبة الأولى لهُ، فليذهبوا، هذا المنهج الذي عليه نحن وأشياخنا، هو الذي زكى العُلماء أهلهُ قبل سنين، و لا نزال عليه -ولله الحمد- ونسأل الله أن يثبتنا عليه، ومن لا يريد هذا المنهج نحن لا نريده، ومن زكى هؤلاء فقد قال زورًا، ما قال حقًا، لأنهُ يخالف من غير دليل، ولكن إن كان صاحب هوى فهو صاحب زور، وإن لم يكن، فهو لم يطّلع، وكلام المطّلع مُقدّم على كلام من لم يطّلع، والحقّ أحقّ أن يُتّبع.

✲✹✲

Sumber: http://ar.miraath.net/fatwah/10872 (durasi 02:36)

✒ Alih Bahasa: Abu Kuraib bin Ahmad Bandung حفظه الله - [FBF 1]

Muroja'ah: Al-Ustadz Abu Yahya Al-Maidaniy حفظه الله

______________
مجموعـــة توزيع الفـــوائد
❂ WA Forum Berbagi Faidah [FBF]

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.