Kejujuran dan Dusta Serta Buahnya

Oleh: Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair al-Madkhali

Dari Abdullah bin Mas’ud رضىالله عنه berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda

عليكم بالصدق فان الصدق يهدي الى البر وان البر يهدي الى الجنة وما يزال الرجل يصدق ويتحرى الصدق حتى يكتب عند الله صديقا … واياكم والكذب فان الكذب يهدي الى الفجور وان الفجور يهدي الى النار وما يزال الرجل يكذب ويتحر الكذب حتى يكتب عند الله كذابا

“Berpeganglah kalian kepada kejujuran, karena itu akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Senantiasa seorang hamba berbuat jujur dan membiasakan sifat ini hingga dia dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang yang shiddiq (jujur) … Dan berhati-hatilah kalian dari dusta, karena dusta itu akan membimbing kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membimbing ke neraka. Senantiasa seorang hamba berdusta dan membiasakannya hingga dicatat di sisi Allah ta’ala sebagai seorang pendusta”. [Hadits Riwayat Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Malik, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi, sedangkan lafadznya dari Muslim]

Rawi Hadits: Beliau adalah Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil bin Hubaib Al-Hudzali رضىالله عنه, Abu Abdirrahman. Beliau termasuk As-Sabiqunal Awwalun dan termasuk ulama senior dari kalangan sahabat. Keutamaan beliau banyak ‘Umar رضىالله عنه mengangkat beliau sebagai amir di Kufah. Beliau wafat tahun 32 H di Madinah.


Mufrodat:
  • عليكم: isim fiil amr (kata benda yang menunjukkan perintah) yang artinya berpeganglah kepada kejujuran.
  • الصدق: kesesuaian berita dengan fakta
  • يهدي: menunjukkan dan membimbing
  • البر: berlapang-lapang dalam mengerjakan kebaikan. Al-bir merupakan suatu isim (kata benda) yang mencakup seluruh kebaikan, dan digunakan untuk amalan yang baik dan terus menerus.
  • يتحرى: bersandar dan bermaksud
  • الفجور: bersegera dalam hal kemaksiatan. Al-fujur merupakan isim yang mencakup seluruh kejelekan. Asal katanya adalah robekan yang luas.
  • اياكم: bentuk peringatan dari kejelekan atau dari hal yang berbahaya
  • الكذب: berbeda berita dengan fakta

Makna Hadits secara Umum:

ujur adalah suatu akhlak yang mulia dan termasuk pokok keutamaan. Dengan jujur ini kehidupan akan menjadi lurus dan berjalan secara terpuji. Kejujuran akan meninggikan pemiliknya dan akan mengangkat derajarnya di sisi Allah ta’ala maupun manusia. Pemilik sifat jujur ini ucapannya akan dihormati. Dia akan dicintai oleh manusia, sedangkan persaksian dan perkataannya diterima di sisi mereka. Maka hendaknya engkau membiasakan jujur dalam ucapan, aqidah dan perbuatan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang mulia telah membimbing kita kepada suatu masalah yang mendidik lagi agung, yaitu metode pendidikan akhlak, menumbuhkan akhlak dan menguatkannya di dalam jiwa. Metode tersebut yaitu membiasakan diri dengan perkataan yang baik dan perbuatan yang mulia, serta mengerjakan amalan berikutnya setelah amalan yang pertama, amalan ke empat menyusul amalan yang ke tiga, dan amalan ke enam menyusul amalan ke lima, sehingga pengulangan ini akan berpengaruh di dalam dirinya. Setiap kali ia terus menerus mengulang amalan tersebut, maka amalan tersebut makin lekat dan kokoh dalam jiwanya.

Barang siapa yang berusaha mengangkat dirinya kepada kedudukan shiddiqin (orang-orang yang jujur) dan berusaha agar kejujuran itu menjadi akhlaknya, kebiasaan dan tabiatnya, maka hendaklah ia membiasakan untuk jujur dalam ucapan dan perbuatan, dan hendaklah ia mengulang-ulang. Dengan demikian ia akan berakhlak dengan kejujuran dan akan menempati kedudukan shiddiqin dengan pertolongan Allah ta’ala.

Sebagaimana jujur termasuk pokok keutamaan, maka dusta merupakan pokok kehinaan. Dengan dusta bangunan masyarakat akan bercerai-berai dan urusan menjadi tidak teratur. Dusta menjatuhkan pemiliknya di mata manusia. Mereka tidak akan membenarkan ucapannya, tidak mempercayai perbuatannya, dan ucapannya batil. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memperingatkan dari perbuatan dusta.

Di dalam Al-Qur’anul Karim terdapat banyak ayat yang mencela dusta, menjauhkan manusia darinya dan mengancam dengan siksa yang keras.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara Dusta “Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah Tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka adzab yang pedih.” [An-Nahl:116-117]

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta.” [An-Nahl:105]

Bukankah syirik dan menjadikan tandingan bagi Allah ta’ala yang merupakan sebesar-besar kejahatan dan dosa merupakan kedustaan? Dan bukankah kemunafikan yang lebih jelek dari kekafiran yang terang-terangan itu adalah suatu kedustaan?

Demikian pula berbuat curang dalam bermuamalah, berniat menyelisihi janji, dan riya’ di dalam beramal. Semuanya merupakan bentuk-bentuk kedustaan.

Wahai muslim, jauhilah dusta. Jagalah dirimu agar tidak membiasakan diri berdusta. Karena dusta dan membiasakan diri dengannya serta mengulang-ulangnya, mengandung kebinasaan dan keterjerumusan ke dalam kejelekan yang tidak terkira dalamnya. Karena dusta akan menyeret pemiliknya dan menarik kepada kedudukan orang-orang yang durhaka. Dan sesungguhnya orng-orang yang durhaka itu tempatnya di dalam neraka.

Dan Sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.
mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. [Al-Infithar: 14-15]


Faedah yang Bisa diambil dari Hadits:

1. Kewajiban berpegang kepada kejujuran. Allah ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. [At-Taubah:119]

2. Di dalam hadits ini terdapat kaidah yang mendidik, yaitu bahwa barangsiapa ingin berakhlak dengan akhlak yang tinggi seperti jujur, sabar dan berani, maka hendaklah ia membiasakannya, mengulang-ulangnya dan menekuninya. Dengan membiasakan jujur dan berpegang kepadanya, dia akan menjadi seorang yang jujur. Dengan melatih kesabaran dan menanggung kesulitan-kesulitan, kesabaran akan menjadi akhlaknya. Dan dengan terus-menerus berbuat hina dan membiasakannya, seorang akan menjadi pendusta dan orang yang hina.

3. Dan di dalam hadits ini juga terdapat peringatan dari dusta dan dari membiasakannya.

4. Kedustaan itu menuntun kepada kejahatan, sedangkan kejahatan membimbing ke neraka. Semoga Allah ta’ala melindungi kita dari dusta, kejahatan dan neraka.

〰〰〰〰〰〰〰

Sekian Nasehat ‘ulama kita. Semoga Allah ta’ala memudahkan kita semua dapat mengamalkannya. Amin.

Perlu kita renungkan bersama bahwa :: Membangun kejujuran itu tidak perlu biaya hanya membutuhkan komitmen, sudahkah kaum muslimin di negeri ini membiasakan kejujuran dalam dunia pendidikannya???


Diambil dari buku: 21 Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah aqidah dan ittiba hadits ke 17’

Penulis: Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umar al-Madkhali ~hafidhahullaah~
Judul asli: Mudzakkiratul Haditsiin Nabawi fil Aqidati wal Ittiba’

Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Ummu Faruq
Muroja’ah Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar Al Bantuli
Diterbitkan oleh Al-Haura’

*Takhrij hadits silahkan merujuk kepada buku aslinya!!!*

# via situs AbuSalma•WordPress•Com #


Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.