Fatwa Syaikh Muhammad Bazmul terkait Jihad di Suriah

Berangkat untuk berjihad di Suriah tidaklah diperbolehkan, karena beberapa sebab berikut ini:

• Hukum dasar menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dijelaskan bahwa tidak boleh pergi berjihad kecuali bersama Pemimpin yang sah. Ini telah termaktub di dalam semua kitab-kitab Aqidah Ahlus Sunnah. Artinya bahwa kita tidaklah diperbolehkan untuk pergi berperang kecuali dengan izin dari Waliyyul Amr. Apabila Waliyyul Amr tidak memberikan izin, maka kita tidak boleh pergi berperang. Apabila keputusan pelaranganan Waliyyul Amr tersebut benar dan tepat, maka pahala akan diperoleh kedua belah pihak yaitu pemerintah dan kaum muslimin. Akan tetapi bila keputusan pelarangan tersebut keliru, maka pahala diperoleh kaum muslimin sedangkan pemerintah akan bertanggung jawab.[1]

Rasulullallah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya: “Pemimpin adalah sebagai tameng pelindung untuk kita berlindung dibaliknya, sehingga kita berperang dibelakangnya.”

• Disebabkan pula bendera yang diusung ditengah-tengah mereka (yang berjihad di Suriah, pen) adalah bendera Fanatik Kelompok, sedangkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam telah bersabda: “Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kefanatikan kelompok tertentu kemudian ia tewas terbunuh, maka ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyyah.”

• Dikarenakan pula, bahwa Jihad yang Syar’i memiliki batasan definisi tertentu karena Jihad merupakan amalan Syar’i. Perkara yang syar’i pastilah memiliki ketentuan-ketentuan didalamnya, dibutuhkan adanya keikhlasan dan kecocokan dengan syariat.

Diantara ketentuan-ketentuan didalam amalan Jihad yang diperintahkan oleh Allah diantaranya: mempersiapkan kekuatan, Allah berfirman (artinya): “ Dan siapkanlah oleh kalian segala kekuatan yang kalian mampu kerahkan.”

Adapun bagi yang ingin berangkat pergi berperang (di Suriah), amalan mereka ini menyelisihi Syariat. Diantara bentuk penyelisihannya adalah mereka pergi berangkat berjihad tanpa izin pemimpin (waliyul amr), dan mereka pergi berjihad di bawah bendera kefanatikan masing-masing kelompok, serta mereka pergi berjihad bukan dengan sifat perang yang syar’i, yaitu tanpa adanya persiapan kekuatan yang matang.

Nyata dan sangat jelas sekali spionase dalam skala global ataupun regional dalam rangka menggiring generasi muda untuk menuju beberapa daerah tertentu untuk terjun dalam medan pertempuran, ataukah dalam bentuk tawaran terkompromi dan keterpaksaan mereka untuk berperang di Negara mereka masing-masing. Ini merupakan perkara yang harus kita hadapi bukan untuk sekedar kita pasrah menyerahkannya. Kasus kejadian Iraq belumlah lama kita lewati.

Peperangan ini bukan pula dalam pembahasan Jihad Difa’i, yaitu jihad dalam rangka mempertahankan diri. Disebabkan kasus yang terjadi di Suriah adalah adanya sebagian orang yang turun keluar dan memilih untuk berkonfrontasi (menentang) pemerintah. Maka itu bukan termasuk Jihad Difa’i dalam rangka mempertahankan diri, pada asalnya.

Ini adalah jawaban yang segera dibutuhkan. Semoga Allah memberikan petunjuk dan jalan yang baik kepada kita semua.

Diterjemahkan oleh
Al-Ustadz Hamzah Lafirlaz ~hafizhahullah~

__Catatan__
[1] Yakni kaum muslimin tetap mendapatkan pahala, karena mereka menjalankan kewajiban nya yaitu mentaati waliyul amr, termasuk dalam urusan jihad. Adapun waliyul amr yang memutuskan pelarangan tersebut, mereka akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah kelak.

Sumber: Al-Waraqat•Net

Teks Arob:
〰〰〰〰〰〰〰
الخروج إلى سوريا للجهاد لا يجوز وذلك للأمور التالية:

لأن الأصل عند أهل السنة والجماعة أن لا جهاد إلا من وراء إمام وهذا نصت عليه جميع متون العقيدة. ومعنى ذلك أننا لا نخرج إلى القتال إلا بإذن ولي الأمر، فإذا لم يأذن حرم علينا الخروج، فإن كان منع الإمام لنا من الخروج حق وصواب فإن الأجر لنا وله، فإن كان منع الخروج خطأ فلنا وعليه. والرسول يقول فيما أخرجه مسلم في صحيحه: “الإمام جنة يتقى به يقاتل من ورائه“

ولأن الراية في ذلك القتال وأشباهه راية عمية، والرسول صلى الله عليه وسلم يقول: “من قاتل تحت راية عمية فقتل مات ميتة جاهلية.“

ولأن الجهاد الشرعي له ضوابطه إذ عمل شرعي وكل عمل شرعي لابد فيه من الإخلاص والمتابعة، ومما أمر الله به في الجهاد: إعداد العدة ، لقوله تعالى: (واعدوا لهم ما استطعتم من قوة)، والذين يريدون الخروج عملهم مخالف للشرع، من جهة أنه خروج بغير إذن الإمام، ومن جهة أنه خروج للقتال تحت راية عمية، ومن جهة أنه خروج على غير الصفة الشرعية لأنه بغير إعداد عدة.

ولأنه ثبت قطعياً عمل الاستخبارات العالمية والإقليمية على جذب الشباب إلى تلك المناطق بغرض قتلهم أو المساومة عليه والضغط على بلدانهم بهم، فهذا عمل ينبغي مواجهته ومكافحته لا التسليم له. وما نبأ العراق عنا ببعيد!

ولأن هذا القتال ليس من باب قتال الدفع أصلاً، والقضية أن بعض الناس في تلك البلاد اختار طريق المواجهة مع الحكام هناك … فليس من أبواب جهاد الدفع اصلاً.

هذا ما لزم في هذه العجالة ، سائلاً الله الهدى والرشاد للجميع.
〰〰〰〰〰〰〰



# Dari situs Dammajhabibah•Net #

#alfawaaid @ http://fb.me/6iGXTzyaf 

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.