Benarkah Salafiyyun Hanya Menyibukkan Diri Dalam Pembicaraan Masalah Hizbiyyah?

Tanya (Ustadz Wildan):

Apa pendapat Anda tentang perkataan sebagian da‘i yang menyatakan tidak seyogyanya bagi para penuntut ilmu menyibukkan diri mereka dengan membicarakan Al-hizbiyyah, Al-Jam‘iyyah Al-Hizbiyyah dan Al-Hizbiyyun melainkan seyogyanya bagi mereka memfokuskan diri mereka terhadap masalah-masalah aqidah dan ilmu-ilmu yang lainnya?

Jawab (Syaikh Kholid):

Siapa yang mengatakan As-Salafiyyun itu disibukkan dengan perkara ini saja. Alhamdulillah dakwaah Salafiyyah telah melahirkan para Ulama … (ada perkataan yang tidak jelas). Mereka, As-Salafiyyun adalah orang-orang yang antusias terhadap ilmu dan orang-orang yang paling disibukkan dengan ilmu, akan tetapi ini (masalah tahdzir) merupakan pintu yang tidak dijauhi kecuali oleh seorang mubtadi’ atau seorang hizby yang busuk. Dan ini merupakan pintu yang dijadikan oleh As-Salafiyyun sebagai pagar yang memagari Manhaj mereka. Dan ini telah mereka warisi dari para Salaf ash-Shalih dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pagar ini tidak seyogyanya diremehkan (yaitu at-Tahdzir terhadap Al-hizbiyyah dan Al-Hizbiyyun).

As-Salafiyyun merupakan orang yg paling antusias memperhatikan waktu-waktu mereka dalam menuntut ilmu. Ketika mereka menyebutkan hal-hal ini (yaitu Al-Hizbiyyun) mereka menyebutkan mereka untuk mentahdzir mereka dan menjelaskan kebatilan yg ada pada diri mereka. Silakan lihat perkataan yg indah dan mutiara Salafiyyah yg sangat indah yang disebutkan oleh Al-Imaam Ibnu Qayyim di dalam kitabnya Al-Fawaaid.

Engkau baca perkataan ini, beliau sebutkan ketika beliau menjelaskan Firman Allah Ta’ala:

“Akan jelas jalan orang-orang yg jahat …” … (ada perkataan yg tidak jelas). Jalan orang-orang yang jahat itu bermacam-macam, begitu pula metode-metode mereka bermacam-macam dan Ibnu Qayyim menjelaskan, yang wajib bagi seorang Muslim terhadap orang-orang yang jahat tersebut yang merusak aqidah manusia Manhaj mereka dan dakwah mereka. Maka As-Salafiyyun, dengan rahmat Allah, adalah orang-orang yang disibukkan dengan ilmu sedangkan mereka (Al-Hizbiyyun) adalah orang-orang yang menanamkan kegemaran pada para syabaab tentang anasyid-anasyid, main bola dan sandiwara-sandiwara dan perkara-perkara yang lainnya. Tidak menelorkan tholibul ilmu dan tidak pula mereka antusias untuk menuntut ilmu dari sumbernya. Subhaanallah, jadi mereka adalah orang-orang yang paling banyak menghabiskan waktu mereka dalam perkara-perkara yang telah kami sebutkan tadi yaitu dalam perkara-perkara yang batil yang menghabiskan waktu mereka.

As-Salafiyyun ketika mereka mentahdzir mereka tidak berbicara tentang tahdzir ini sekedar berbicara, melainkan tahdzir tersebut merupakan pagar dan juga merupakan upaya membentengi dan melindungi Al-Manhaj As-Salafiy dan tadi telah saya sebutkan kepada kalian bahwa ini merupakan kebiasaaan para As-Salaf.

Sebagaimana dikatakan oleh Ruwaifi’:

“Kami mendatangi Abul ‘Aliyah pada waktu itu kami adalah pemuda yang masih muda belia dimana kami ditahdzir oleh Abul ‘Aliyah dari mendatangi para Al-Qushash (tukang cerita). Ini adalah kebiasaan para As-Salaf.”

Aspek tahdzir merupaka aspek yg penting dan ia merupakan pagar (pelindung, ed-). Adapun tindakan membiarkan para syabaab begitu saja tidak dijelaskan kepada mereka hakikat/tentang apa yang harus dilakukan sehingga seorang Syabaab pergi dan mengambil ilmu dari sembarang orang dan kita dikejutkan dengan bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan Manhajiyah yang terjadi bahkan ada diantara mereka yang memerangi ad-da’wah As-Salafiyyah dengan peperangan yang membinasakan dan bentuk peperangan yang dahsyat.

Dan syubhat ini adalah syubhat yang ditiupkan oleh orang-orang yang lemah mental dan jiwanya, yaitu orang yang mengatakan “tidak perlu kita berbicara ttg orang-orang kafir tsb, tidak perlu kita berbicara ttg individu-individu ini, tidak ada alasan bagi kita untuk mentahdzir mereka dan seterusnya.”

Al-Jarh wa At-Ta’dil merupakan pintu yang sangat penting sebagaimana yang kami katakana. Al-Jarh wa At-Ta’dil (salah satu cabang ilmu hadits tentang kritik/celaan dan pujian) untuk memelihara dan melindungi Manhaj Salafi dari orang-orang yg menyusupkan hal-hal yang tidak benar dari kalangan Al-Hizbiyyun yang merusak Aqidah manusia dan merusak Manhaj para syabaab dan menjadikan mereka menyimpang dengan penyimpangan yang berbahaya atau besar.

[Tanya Jawab Al-Ustadz Wildan hafizahullah dengan Syaikh Kholid Ar-Radadi hafizahullah (Dosen Universitas Islam Madinah Al-Munawaroh, KSA) pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423H -- 19/02/2003M]

Sumber: Abdurrahman•WordPress


Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.