Banyak Penuntut Ilmu Yang Mengingkari Bantahan Terhadap Orang-Orang Yang Menyimpang

Selayaknya kita membaca nasehat dan peringatan dari Asy-Syaikh Ahmad Bazmul ~hafizhahullaah~ di bawah ini untuk menangkal syubhat mereka.

Asy-Syaikh Ahmad Bazmul ~hafizhahullaah~ berkata ketika menyebutkan orang-orang yang suka membuat kaedah-kaedah baru dari dirinya sendiri yang diantaranya adalah melemparkan sikap merendahkan (tidak menghargai) kitab-kitab rudud (bantahan):

“Termasuk musibah dalam perkara ini adalah dengan munculnya di tengah-tengah kita orang yang dikelilingi para pemuda (pengajar –pent) lalu mendidik mereka dengan menanamkan kaedah-kaedah yang menyelisihi manhaj salaf, karena dia menganggap bahwa hal ini lebih besar maslahatnya. Ini merupakan kesalahan, karena hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Malik yang beliau riwayatkan dari beberapa guru beliau bahwasanya selama-lamanya tidak akan baik keadaan ummat ini kecuali dengan hal-hal yang menjadikan baik generasi awalnya, tidak ada jalan bagimu untuk meraihnya.

Jangan engkau katakan:

“Demi Allah, sekarang menghadapi para pemuda dan berbagai fitnah serta berbagai masalah, kami mendidik mereka dengan menanamkan masalah-masalah ilmu dan kami tidak ingin mereka menjarh!

Memang benar, kita tidak ingin para pemuda lancang untuk melakukan jarh, tetapi kita menginginkan dari mereka untuk mengetahui siapa pihak-pihak yang dijarh oleh para ulama.”

Kemudian beliau ~hafizhahullaah~ berkata:

“Kita ditimpa musibah dengan mereka orang-orang yang membuat-buat kaedah-kaedah semacam ini dan membuat-buat teori yang menyelisihi manhaj salaf dalam bentuk seorang syaikh salafy. Oleh karena itulah kita ditimpa musibah dengan banyaknya para pemuda yang sekarang menjadi penuntut ilmu yang mengingkari bantahan terhadap penyimpangan dan terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan orang yang salah, seakan-akan pihak yang membantah berbagai penyimpangan tersebut yang dia ini berada di atas manhaj salaf, seakan-akan dia justru dianggap menyelisihi manhaj salaf, dan seakan-akan orang yang mendidiknya dengan kaedah-kaedah rusak tersebut dialah yang berjalan di atas manhaj salaf. Maka timbangan (parameter) menurut sebagian manusia menjadi apa?! Menjadi terbalik.

Oleh karena itulah maka ini merupakan masalah yang sangat penting, dan jika engkau ingin mengetahui bagai prakteknya di lapangan maka lihatlah keadaan para pemuda di whatsapp, yaitu program percakapan (chating) yang terkenal yang ada di HP itu. Lihatlah keadaan mereka, engkau akan menjumpai salah seorang dari mereka ketika melihat ada orang yang memposting atau meletakkan faedah-faedah di program atau di handset yang menyelisihi manhaj salaf, tidak ada seorang pun yang membuka mulut dan tidak ada seorang pun yang mengingkari, padahal ucapannya dengan ungkapan yang mutlak seperti ini (tidak menyibukkan dengan fitnah dan bantahan –pent) merupakan kesalahan, dan menggunakannya di zaman ini merupakan fitnah, yaitu fitnah bagi sebagian orang (yang jahil). Jadi tidak ada seseorang yang mengingatkan dengan mengatakan: ‘Ini salah dan yang benar adalah begini’ atau ‘Perkaranya demikian dan demikian.’

Masalahnya (syubhat-syubhat semacam itu –pent) bukan bantahan-bantahan dari ahli bid’ah yang kita tidak perlu memperhatikan mereka, tetapi bantahan-bantahan yang menghujaninya justru muncul dari saudara-saudaranya sesama Salafiyun, seperti dengan mengatakan: ‘Takutlah kepada Allah wahai saudaraku, ini adalah masalah-masalah pribadi!’

BUKAN WAHAI SAUDARAKU, INI ADALAH MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN MANHAJ. SETIAP KALI ADA DUA PIHAK YANG BERSELISIH KALIAN ANGGAP ITU SEBAGAI MASALAH PRIBADI, PENILAIAN SEMACAM INI MERUPAKAN KESALAHAN.”

Sumber: Bayenahsalaf•Com dan AlWaraqat•Net

〰〰〰〰〰〰〰

Faedah-faedah yang bisa kita petik (namun tidak terbatas) dari perkataan Asy-Syaikh Ahmad Bazmul ~hafizhahullaah~:

1. Sebagian manusia yang mengaku bermanhaj salaf ada yang membuat kaedah-kaedah baru yang rusak dari dirinya sendiri.
2. Diantara kaedah-kaedah baru yang rusak itu adalah melemparkan sikap merendahkan (tidak menghargai) kitab-kitab rudud.
3. Tidak akan baik keadaan ummat ini kecuali dengan hal-hal yang menjadikan baik generasi awalnya selama-lamanya, dalam semua sisinya, diantaranya dalam menyikapi kesalahan dan orang-orang yang salah.
4. Orang-orang yang membuat-buat kaedah baru yang rusak tersebut merasa apa yang mereka lakukan lebih baik maslahatnya, sehingga secara tidak langsung mau tidak mau itu merupakan celaan terhadap manhaj salaf dari sisi tidak bisa menimbang maslahat dan mafsadat.
5. Fitnah semakin parah jika muncul dari orang yang dianggap berilmu karena akan menyesatkan orang-orang yang fanatik kepadanya.
6. Termasuk kaedah rusak adalah menjauhkan manusia dari kitab-kitab rudud dengan syubhat hanya menyibukkan mereka dengan ilmu dan tidak menyibukkan mereka dengan fitnah.
7. Memperhatikan bantahan para ulama bukan berarti membolehkan para pemuda lancang untuk melakukan jarh sendiri dengan mendahului para ulama, tetapi maksudnya untuk mengetahui pihak-pihak yang dijarh oleh para ulama sehingga bisa mewaspadai mereka, karena Allah memerintahkan kita untuk mengikuti para ulama, tentunya dengan sikap ilmiah tanpa taklid dan fanatik.
8. Meninggalkan dan menjauhi para ulama termasuk sebab terbesar seseorang akan menyimpang, karena mereka yang paling mengetahui tentang kebenaran dan kesesatan serta fitnah-fitnah yang muncul.
9. Banyak para pemuda dari kalangan penuntut ilmu yang mengingkari bantahan terhadap penyimpangan dan terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan orang yang salah, dan ini merupakan musibah.
10. Termasuk pemutarbalikan fakta adalah mengesankan pihak yang membantah berbagai penyimpangan yang dia ini berada di atas manhaj salaf sebagai sikap menyelisihi manhaj salaf, dan seakan-akan orang yang mendidiknya dengan kaedah-kaedah rusak tersebut dialah yang berjalan di atas manhaj salaf.
11. Yang menyedihkan, pengingkaran (penggembosan) terhadap Salafiyun yang membantah kesalahan dan orang-orang yang salah justru muncul dari sebagian saudara-saudara mereka yang mengaku di atas manhaj salaf.
12. Setiap kali ada dua pihak yang berselisih, sebagian manusia ada yang menganggap atau mengesankan kepada pihak lain bahwa hal itu semuanya adalah masalah pribadi, sehingga orang lain tidak boleh ikut campur, diantara tujuan syubhat semacam ini adalah untuk menyembunyikan belang atau kesalahan orang yang diikutinya.
13. Sebaliknya, ketika ada dua pihak yang berselisih terkadang memang karena masalah pribadi murni, tetapi tidak sedikit pihak yang salah membawa masalah pribadi kepada masalah manhaj, dengan tujuan menutupi kesalahannya yang bersifat pribadi tersebut dan mencari simpati, dukungan dan pembelaan dari pengikutnya atau orang-orang yang mengaguminya atau yang tertipu dengannya.
14. Ketika ada dua pihak yang berselisih, kita harus menilainya dengan ilmu dan bimbingan para ulama di samping mengetahui duduk perkaranya, lalu bersikap dengan ilmiah, jujur dan sportif tanpa fanatik kepada pihak manapun walaupun dia adalah orang yang dicintai atau diikuti atau dikaguminya, jika dia ternyata adalah pihak yang salah, karena membela pihak yang salah hanya akan membawa kepada penyesalan di hari kiamat nanti.

Allah berfirman:

هَذَا فَوْجٌ مُقْتَحِمٌ مَعَكُمْ لا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ (٥٩)قَالُوا بَلْ أَنْتُمْ لا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ (٦٠)قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ (٦١)وَقَالُوا مَا لَنَا لا نَرَى رِجَالا كُنَّا نَعُدُّهُمْ مِنَ الأشْرَارِ (٦٢)أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الأبْصَارُ (٦٣)إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ تَخَاصُمُ أَهْلِ النَّارِ (٦٤)

(59) (Dikatakan kepada orang-orang yang durhaka): “Ini adalah rombongan (pengikut kalian) yang masuk berdesak-desak bersama kalian (ke neraka).” Pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka berkata: “Tidak ada ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.”
(60) Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kalianlah yang tidak mendapatkan ucapan selamat datang, karena kalianlah yang menjerumuskan kami ke dalam neraka, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap.”
(61) Para pengikut itu berkata lagi: “Wahai Rabb kami, siapa saja yang menjerumuskan kami ke dalam adzab ini, maka tambahkanlah adzab kepadanya di dalam neraka dengan berlipat ganda.”
(62) Dan mereka berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu (di dunia) kami anggap sebagai orang-orang yang jahat (orang-orang yang mengikuti kebenaran)?!”
(63) Apakah Kami dahulu menjadikan mereka olok-olokan, ataukah karena mata kami tidak melihat mereka?”
(64) Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni neraka.
(QS. Shaad: 59-64)

Wallahu a’lam.

Kajian Al-FawaaidNet

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil serta tetap mencantumkan URL Sumber. Baarakallahu fiikum.