WHAT'S NEW?
Loading...

[E-book : PDF] Kaidah-Kaidah Salafiyyah (Asy-Syaikh Ahmad Bazmul)


silakan unduh di sini

download PDF

Unduh Kitab Asli

IMG-20131121-WA0000

silakan unduh di sini

Bantahan Ilmiyah terhadap Syubhat-Syubhat Ibrahim Ar-Ruhaily dalam Masalah Jarh Wa Ta’dil

Pembaca rahimakumullah, jika kita mengamati sepak terjang dan pergaulan bebas serta pertemanan dari orang-orang semacam Hanan Bahanan, Ja’far Salih, Munajat dan yang semodel dengan mereka ini serta syubhat dan statemen yang mereka lontarkan terkait perkawanan dan pembelaan mereka dengan Halabiyun. Ya pergaulan bebas mereka, dukungan mereka demi terjalinnya ishlah, hubungan akrab diantara mereka adalah upaya terbuka untuk menghancurkan sekat pembatas antara Ahlussunnah As Salafiyun dengan orang-orang yang beredar di sekitar dakwah para dedengkot Mubtadi’ semisal Adnan Ar’ur, Abul Hasan Al Ma’riby dan Ali Hasan Al Halaby.

Menjadi penting bagi kita di masa-masa fitnah sekarang ini untuk mengetahui beberapa prinsip menyimpang yang didengungkan oleh Ibrahim Ar Ruhaily agar kita bisa membentengi diri dan keluarga serta handai taulan manakala kita menemukan suara sumbang yang mengajak untuk bergabung dengan pemahaman menyimpang yang didengungkannya dan dilariskan oleh orang-orang yang menjadi kepanjangan lidahnya. Dan lihatlah betapa miripnya syubhat-syubhat yang mereka pertontonkan tersebut dengan syubhatnya Firanda dan gurunya, Ibrahim Ar Ruhaily hadahumullah.

Semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya, amin.

〰〰〰〰〰〰〰

الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَبَعْدُ:

Ini adalah sebagian catatan penting terhadap Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily di dalam masalah jarh wa ta’dil, di mana dia berbicara pada sebagian masalah yang berkaitan dengan jarh wa ta’dil dan dia membawa hal-hal yang aneh. Maka saya ingin memberikan beberapa catatan untuk menjelaskan kebenaran dengan hujjah dan dalil yang shahih, disertai isyarat bahwa dia terjatuh pada kontradiksi yang banyak yang menunjukkan jauhnya dia dari ilmu ini.

Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan kita hidayah berupa kebenaran dan menolong kita untuk bisa mengikutinya dan kokoh di atasnya, sesungguhnya Dia Maha Kuasa mengabulkannya.


CATATAN PERTAMA:

Dr. Ibrahim Ar-Ruhaily berkata: “Ya, merujuk kepada ulama dan memperhatikan perbedaan mereka dalam masalah-masalah ini, jika yang mentazkiyah memiliki keutamaan berupa ilmu, wara’ dan senioritas maka perkataannya didahulukan, namun jika yang menjarh memiliki ilmu, keutamaan dan senioritas maka dilihat juga perkataannya.”

Catatan: Ar-Ruhaily telah terjatuh pada kesalahan besar yang tidak sepantasnya terjatuh padanya orang yang telah menggeluti ilmu hadits dan ilmu jarh wa ta’dil. Yang nampak bahwa dia jauh dari keahlian dalam ilmu ini, atau dia tidak menyadari bahaya ucapan ini dan pengaruhnya pada ilmu jarh wa ta’dil. Oleh karena itulah wajib untuk menjelaskan kesalahan ini berdasarkan dalil-dalil dari perkataan para ulama pakar hadits dan kritikusnya.

Pertama: Ar-Ruhaily menjadikan timbangan dalam mentarjih perkataan para ulama ahli hadits di dalam menilai seorang rawi berupa jarh wa ta’dil 3 perkara:

  1. Ilmu.
  2. Wara’.
  3. Senioritas.

Adapun ilmu dan wara’ maka tidak ada masalah pada keduanya, jadi keduanya termasuk syarat bagi penta’dil dan penjarh, jadi dia harus mengetahui sebab-sebab jarh wa ta’dil, demikian juga dia harus seorang yang wara’ dan bertakwa agar tidak menilai manusia tanpa alasan yang benar.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Lathif rahimahullah berkata:

“Disyaratkan pada penta’dil dan penjarh 4 syarat yaitu:
  1. Hendaknya dia seorang yang adil.
  2. Hendaknya dia seorang yang memiliki wara’ yang menghalangi dari fanatik dan hawa nafsu.
  3. Hendaknya dia seorang yang cerdas dan tidak lalai agar tidak tertipu lahiriah keadaan seorang rawi.
  4. Hendaknya dia mengetahui sebab-sebab jarh wa ta’dil agar tidak menjarh orang yang adil atau menta’dil orang yang sepantasnya dijarh.”
(Dhawabith Al-Jarh wat Ta’dil 1/26)

Adapun senioritas maka saya tidak mendapatkan ulama yang menyebutkannya, walaupun pada syarat-syarat lemah yang dinyatakan lemah oleh para ulama. Jadi saya tidak mengetahui dari Dr. Ar-Ruhaily membawanya.

Masalah senioritas disebutkan oleh para ulama ketika mengurutkan para rawi berdasarkan thabaqahnya, nah termasuk masalah-masalah yang dijadikan oleh para ulama sebagai sandaran di dalam menentukan urutan ini adalah siapa yang paling dahulu masuk Islam, dan hal ini dirinci pada kitab-kitab thabaqah. Adapun menjadikannya sebagai salah satu syarat bagi penjarh dan penta’dil maka ini termasuk hal yang paling aneh.

Kedua: Dipahami dari perkataan Dr. Ar-Ruhaily bahwa perkataan orang yang lebih senior didahulukan atas perkataan orang belakangan, sama saja apakah orang yang lebih senior sebagai pihak penta’dil atau penjarh, sama saja apakah pihak yang terdahulu benar atau salah, dan sama saja apakah pihak yang lebih senior memiliki hujjah atau tidak.

Penetapan kaedah yang dilakukan oleh Ar-Ruhaily semacam ini sangat berbahaya, di mana kaedah ini membatalkan kaedah-kaedah jarh wa ta’dil dan penerapan para ulama dalam ilmu yang mulia ini. Seandainya para ulama mengikuti kaedah yang dibuat olehnya, niscaya ilmu ini telah berakhir sejak awal kemunculannya. Tetapi Allah yang menjaga agama yang agung ini dan membangkitkan para ulama rabbani dari kalangan ahli hadits dan selain mereka untuk menjaganya.

Termasuk yang menunjukkan bathilnya ucapan Ar-Ruhaily adalah kesepakatan para ulama ahli hadits bahwa pihak yang memiliki hujjah dan ilmu didahulukan atas orang lain tanpa memandang siapa yang lebih dahulu dan siapa yang belakangan sama sekali.

Para ulama menyebutkan perbedaan ahli hadits ketika ada pertentangan antara jarh wa ta’dil namun tidak menyebutkan –walaupun dengan isyarat– masalah senioritas sama sekali.

Yang disimpulkan oleh Al-Iraqy rahimahullah adalah bahwasanya ada 3 pendapat:

“Jika terjadi pertentangan antara jarh dengan ta’dil pada seorang rawi di mana sebagian pihak menjarh dan sebagian lain menta’dilnya, maka dalam hal ini ada 3 pendapat:

Pendapat pertama: Jarh didahulukan secara mutlak, walaupun pihak yang menta’dil lebih banyak. Al-Khathib menukil pendapat ini dari jumhur ulama. Sedangkan Ibnu Shalah mengatakan bahwa ini adalah pendapat yang benar dan juga dibenarkan oleh ahli ilmu ushul seperti Al-Imam Fakhruddin dan Al-Amidy, alasannya karena pihak yang menjarh memiliki tambahan ilmu yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil, juga karena pihak yang menjarh membenarkan kabar pihak yang menta’dil tentang apa yang nampak dari keadaan seseorang, hanya saja pihak yang menjarh mengabarkan tentang perkara yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil.

Pendapat kedua: Jika pihak yang menta’dil lebih banyak maka didahulukan ta’dil. Pendapat ini dihikayatkan oleh Al-Khathib di dalam Al-Kifayah dan penulis kitab Al-Mahshuul. Alasannya karena banyaknya pihak yang menta’dil menguatkan keadaan mereka dan mengharuskan untuk mengamalkan berita mereka. Sebaliknya sedikitnya pihak yang menjarh melemahkan berita mereka. Al-Khathib menyatakan: ‘Ini adalah pendapat yang salah dan jauh dari orang yang salah paham, karena pihak yang menta’dil walaupun mereka banyak namun mereka tidak mengabarkan bahwa berita yang dikabarkan oleh pihak yang menjarh tidak ada, dan seandainya mereka mengabarkan seperti itu tentu itu merupakan persaksian bathil karena itu merupakan persaksian untuk menafikan sesuatu yang mungkin terjadi walaupun mereka (pihak yang menta’dil) tidak mengetahuinya.’

Pendapat ketiga: Jika terjadi pertentangan antara jarh dengan ta’dil maka salah satunya tidak bisa dikuatkan kecuali dengan hal yang bisa menguatkan, hal ini dihikayatkan oleh Ibnul Hajib. Sedangkan perkataan Al-Khathib konsekwensinya mengabaikan pendapat ketiga ini dengan mengatakan: ‘Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang dijarh oleh satu atau dua orang dan dita’dil oleh jumlah yang semisalnya, maka jarh didahulukan.’ Dan pada gambaran ini merupakan hikayat adanya ijma’ atas pendahuluan jarh, berbeda dengan yang dihikayatkan oleh Ibnul Hajib.”

[At-Tabshirah wat Tadzkirah hal 11]

Maka mana masalah senioritas yang didengung-dengungkan oleh Ar-Ruhaily, bahkan yang dia jadikan termasuk syarat yang harus ada pada pihak yang menta’dil dan pihak yang menjarh?

Ketiga: Ar-Ruhaily menyebutkan bahwa pihak yang mentazkiyah yang memiliki keutamaan berupa ilmu, wara’ dan senioritas maka perkataannya didahulukan, perkataannya ini konsekwensinya adalah perkataan pihak yang mentazkiyah harus didahulukan secara mutlak, jika perkataannya ditentang oleh pihak yang menjarh maka tidak menoleh kepada perkataan yang menjarh sama sekali, bahkan tidak dibandingkan antara jarh dan ta’dil dan tidak pula membandingkan bukti-bukti yang ditunjukkan oleh pihak yang mentazkiyah dan pihak yang menjarh.

Dan musibah terbesar adalah dia mengatakan tentang pihak yang menjarh bahwa perkataannya perlu dilihat dahulu, jadi dia tidak memastikan untuk mendahulukannya sebagaimana dia memastikan pada pihak yang mentazkiyah.

Ar-Ruhaily dalam menetapkan kaedahnya ini dia bersandar pada perkataan sebagian ahli ilmu ushul dan fikih serta tidak menoleh kepada perkataan ulama ahli hadits dan kritikusnya. Padahal hukum asalnya adalah bahwasanya jarh didahulukan atas ta’dil karena pihak yang menjarh memiliki tambahan ilmu yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil. Dan pihak yang menjarh tidak mendustakan pihak yang menta’dil pada ta’dil yang dia katakan, hanya saja pihak yang menjarh memberi tambahan ilmu berupa adanya sebab-sebab jarh yang sifatnya baru yang diketahui oleh pihak yang menjarh.

Al-Khathib Al-Baghdady rahimahullah berkata: “Para ulama sepakat bahwa siapa saja yang dijarh oleh satu atau dua orang dan dita’dil oleh jumlah yang semisalnya, maka jarh didahulukan, alasannya karena pihak yang menjarh mengabarkan tentang perkara tersembunyi yang dia ketahui dan dia membenarkan pihak yang menta’dil dan mengatakan kepadanya: ‘Anda mengetahui keadaannya yang nampak dari apa yang telah Anda ketahui, tetapi saya bersendirian mengetahui apa yang tidak Anda ketahui dari urusannya.’ Kabar dari pihak yang menta’dil tentang keadilan yang nampak dari seseorang tidaklah menafikan kejujuran perkataan pihak yang menjarh pada kabar yang dia sampaikan, karena itulah wajib untuk mendahulukan jarh atas ta’dil.”

[Al-Kifayah hal. 106-107]

Beliau juga berkata: “Yang dipegangi oleh jumhur ulama adalah bahwasanya hukum berdasarkan jarh dan menerapkannya adalah lebih kuat. Sekelompok ulama ada yang mengatakan: ‘Bahkan hukum yang berlaku adalah yang berdasarkan penilaian adil.’ Dan ini merupakan pendapat yang salah berdasarkan apa yang telah kami sebutkan bahwasanya pihak yang menjarh membenarkan pihak yang menta’dil pada ilmu yang nampak dan mereka mengatakan: ‘Kami memiliki tambahan ilmu yang tidak kalian ketahui tentang perkaranya yang tersembunyi.’ Kelompok ini beralasan bahwa banyaknya pihak yang menta’dil menguatkan keadaan mereka dan mengharuskan untuk mengamalkan kabar yang mereka sampaikan, dan sedikitnya pihak yang menjarh melemahkan berita yang mereka sampaikan, dan ini adalah pendapat yang salah dan jauh dari orang yang salah paham, karena pihak yang menta’dil walaupun mereka banyak namun mereka tidak mengabarkan bahwa berita yang dikabarkan oleh pihak yang menjarh tidak ada, dan seandainya mereka mengabarkan seperti itu dengan mengatakan: ‘Kami bersaksi bahwa apa yang kalian ketahui ini tidak terjadi padanya.’ tentu dengan hal itu mereka keluar (tidak bisa –pent) menjadi ahli ta’dil atau jarh, karena hal itu merupakan persaksian berupa penafian sesuatu yang mungkin dan bisa saja terjadi, walaupun mereka (pihak yang menta’dil) tidak mengetahuinya, sehingga pendapat yang tetap (benar) adalah apa yang telah kami sebutkan.”

[Al-Kifayah hal. 107]

Lihatlah perkataan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berikut ini di dalam Ijaabatus Saa’il hal. 498-499:

“Penanya: Jika seorang rawi dinilai tsiqah oleh satu orang namun dijarh oleh empat orang, atau dijarh oleh empat orang dan dinilai tsiqah oleh empat orang, perkataan siapa yang dipegangi? Mohon penjelasan dengan satu contoh dari kitab-kitab hadits dan biografi para perawi dalam masalah jarh mufassar, karena saya mendahulukan ta’dil pihak yang lebih banyak?

Jawab: Mendahulukan ta’dil pihak yang lebih banyak tidak benar, karena pihak yang menjarh mengetahui apa yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil. Misalnya: engkau melihat seseorang yang selalu shalat di shaff pertama dan atas dasar itu engkau menilainya sebagai orang yang terpercaya, tetapi temanmu mengetahui bahwa dia adalah orang yang lemah hafalannya. Atau engkau melihat seseorang yang selalu shalat di shaff pertama, namun temanmu mengetahui bahwa dia bekerja di bank riba atau suka membuat atau mengambil gambar makhluk yang bernyawa atau pekerjaannya tukang cukur jenggot. Jadi pihak yang menjarh mengetahui apa yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil, walaupun seseorang dinilai terpercaya oleh sepuluh orang namun ada satu orang yang menjarhnya secara terperinci maka jarh yang terperinci tersebut diterima, wallahul musta’an.”

Dr. Ar-Ruhaily telah jatuh pada sikap kontradiksi pada masalah ini dengan parah di mana dia menyatakan pada awal pertanyaan yang lalu ketika menjawab pertanyaan:

“Para ulama mengatakan bahwa masalah-masalah ini dikembalikan kepada kebenaran dan membandingkan perkataan para ulama serta mentarjihnya. Ini kita katakan berlaku bagi siapa? Bagi para imam jarh wa ta’dil, seperti Al-Bukhary, Yahya bin Ma’in dan Ahmad.”

Namun setelah itu dia mengatakan: “Perkataan seorang ulama tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi harus dilihat perkataannya dan membandingkannya dengan perkataan ulama lain, kemudian dipilih pendapat pihak yang hujjah menguatkannya. Yang dimaksud dengan hujjah itu apa? Al-Kitab, As-Sunnah dan ijma’.”

Di sini Ar-Ruhaily menetapkan untuk memperhatikan perbedaan para ulama jarh wa ta’dil dan mentarjihnya sesuai yang benar, namun di sana dia menetapkan bahwa perkataan pihak yang menta’dil dari para ulama yang memiliki keutamaan dan senioritas harus didahulukan.

Di tempat lain dia menetapkan: “Jadi sekarang seandainya kita menjumpai ada tiga ulama berbeda pendapat di dalam menilai seseorang di masa ini, pihak yang satu menjarhnya sementara pihak yang lain menta’dilnya, maka apakah kita mengambil perkataan pihak yang menjarh dan tidak memperhatikan perkataan pihak yang menta’dil padahal dia termasuk ulama? Ulama ini dia memiliki ijtihad dan ulama yang itu juga memiliki ijtihad. Adapun apa yang disebutkan para ulama bahwa jarh terperinci didahulukan atas ta’dil yang global, ini adalah kaedah yang benar, namun ketika mereka semua ulama, ini ulama dan itu ulama, sementara ulama ini memiliki tambahan ilmu pada sebuah masalah dan dia menjarh –maksudnya– dia memahami…”

Di sini Ar-Ruhaily menetapkan bahwa setiap ulama memiliki ijtihad, dan dia ingin menyatakan bahwa seseorang tidak bisa mengharuskan (mengilzam) orang lain dengan pendapat salah seorang ulama, baik dari pihak yang menjarh atau dari pihak yang menta’dil.

Lalu dia menetapkan bahwa kaedah mendahulukan jarh terperinci atas ta’dil yang global adalah kaedah yang benar, kemudian pada penerapannya dia tidak menetapkan benarnya kaedah tersebut, karena seandainya kaedah ini benar tentu dia akan sepakat terhadap pihak yang menjarh yang mereka ini adalah para ulama besar yang memiliki keahlian khusus dalam masalah ini dan mereka memiliki hujjah yang cukup ketika menjarh ahli bid’ah yang mereka jarh, hanya saja Ar-Ruhaily ketika menghadapi dalil-dalil para ulama dan hujjah mereka dalam menjarh orang-orang yang dijarh, dia berusaha menerapkan kaedah bahwa dalam masalah ijtihad tidak ada ilzam (pengharusan), karena semua pihak ulama, pihak yang menjarh ulama dan pihak yang menta’dil pun ulama.

Saya katakan kepada Ar-Ruhaily: Mana sikap murni mencari kebenaran dan mana sikap menilai perkataan ulama dengan kebenaran serta mengambil perkataan yang sesuai dengan kebenaran, sama saja apakah kebenaran itu bersama pihak yang menjarh atau ada pada pihak yang menta’dil?! Intinya Ar-Ruhaily telah bersikap kontradiksi dalam masalah ini dan menempuh jalan sendiri. Dan dalam hal ini dia melakukan seperti kelakuan Abul Hasan Al-Ma’riby yang mana dia tidak menerapkan kaedah-kaedah para ulama ahli hadits pada banyak ahlul ahwa’ dan ahli bid’ah.

Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah berkata: “Abul Hasan memiliki pengetahuan tentang jarh wa ta’dil, tetapi dia menyelisihi ahli hadits dalam menerapkan kaedah-kaedahnya dengan menempuh jalan Adnan Ar’ur, Al-Ikhwan Al-Muslimun, dan Quthbiyun. Kemudian dia tidak menerapkannya terhadap banyak ahlul ahwa’ dan ahlul bathil, dan karena dia memusuhi Ahlus Sunnah maka dia tidak mengatakan untuk mendahulukan jarh terperinci atas ta’dil yang global dan tidak menerima jarh dari ulama yang terpercaya walaupun tidak ditentang oleh ulama lain dengan tazkiyah pada orang yang dijarh tersebut.”

[Jinaayatu Abil Hasan Alal Ushuulis Salafiyyah, hal. 3]


CATATAN KEDUA:

Ar-Ruhaily berkata: “Adapun jika ulama sepakat atau hampir sepakat untuk menta’dil seseorang dan menta’dil sebagian Ahlus Sunnah sebagaimana yang ini terjadi sekarang, kalau sekarang engkau perhatikan sebagian orang yang dibicarakan kesalahannya seandainya engkau merujuk kepada mayoritas ulama maka engkau tidak akan menjumpai para ulama tersebut mentabdi’ orang-orang yang sekarang ditabdi’, dan engkau akan menjumpai pihak yang mentabdi’ mungkin hanya satu atau dua orang saja, dan ini selalu terjadi sehingga menjadi kaedah yang umum bahwasanya dia mentabdi’ dalam keadaan para ulama yang lain tidak mentabdi’…”

Ar-Ruhaily pada ucapannya ini terjatuh pada bentuk merancukan permasalahan yang hal ini tidak tersamar oleh penuntut ilmu pemula, yang nampak bahwasanya dia sedang berbicara tentang gambaran tertentu yang terlintas di pikirannya, bukan membicarakan kaedah-kaedah ilmu ini. Dan ini nampak jelas dari ucapannya yang sangat jauh dari kaedah-kaedah para ulama dan penerapan mereka pada ilmu ini.

Dari ucapannya Ar-Ruhaily terjatuh pada perkara-perkara berikut:

Perkara pertama: Dia membagi masalah ini yaitu perbedaan dalam jarh wa ta’dil menjadi dua jenis:

Jika ulama berbeda pendapat dalam jarh wa ta’dil dan perkataan mereka bertentangan, pada jenis ini dia menetapkan bahwa ta’dil didahulukan jika pihak yang mentazkiyah memiliki keutamaan ilmu, wara’ dan senioritas, adapun pihak yang menjarh maka dilihat dulu perkataannya.
Ulama sepakat atau hampir sepakat untuk menta’dil seseorang dan menta’dil sebagian Ahlus Sunnah, pada jenis ini dia menetapkan untuk mengambil pendapat pihak yang menta’dil dan tidak menoleh kepada perkataan pihak yang menjarh, bahkan dia menganggap perkataan pihak yang menjarh yang menyelisihi mayoritas ulama adalah pendapat yang syadz (ganjil) sehingga tidak perlu melihat perkataannya.

Dari ucapannya bisa diambil dua kaedah:

Kaedah pertama: Jika mayoritas ulama sepakat untuk menta’dil seseorang maka perkataan mereka diambil dan tidak perlu menoleh kepada perkataan yang menyelisihi mereka, walaupun yang menyelisihi termasuk ulama dalam bidang ini.

Yang nampak bahwasanya Ar-Ruhaily menguatkan pendapat yang mensyaratkan jumlah dalam menta’dil, dan dia dalam hal tersebut menyelisihi pendapat jumhur ahli hadits.

Al-Khathib rahimahullah berkata:

“Pasal: Jika orang banyak menta’dil seseorang namun dia dijarh oleh pihak yang jumlahnya lebih sedikit dibandingkan pihak yang menta’dil:

Yang dipegangi oleh jumhur ulama adalah bahwa hukum yang diberlakukan adalah yang berdasarkan jarh, dan mengamalkannya lebih tepat. Sekelompok ulama ada yang mengatakan: ‘Bahkan hukum yang berlaku adalah yang berdasarkan penilaian adil.’ Dan ini merupakan pendapat yang salah berdasarkan apa yang telah kami sebutkan bahwasanya pihak yang menjarh membenarkan pihak yang menta’dil pada ilmu yang nampak dan mereka mengatakan: ‘Kami memiliki tambahan ilmu yang tidak kalian ketahui tentang perkaranya yang tersembunyi.’ Kelompok ini beralasan bahwa banyaknya pihak yang menta’dil menguatkan keadaan mereka dan mengharuskan untuk mengamalkan kabar yang mereka sampaikan, dan sedikitnya pihak yang menjarh melemahkan berita yang mereka sampaikan, dan ini adalah pendapat yang salah dan jauh dari orang yang salah paham, karena pihak yang menta’dil walaupun mereka banyak namun mereka tidak mengabarkan bahwa berita yang dikabarkan oleh pihak yang menjarh tidak ada, dan seandainya mereka mengabarkan seperti itu dengan mengatakan: ‘Kami bersaksi bahwa apa yang kalian ketahui ini tidak terjadi padanya.’ tentu dengan hal itu mereka keluar (tidak bisa –pent) menjadi ahli ta’dil atau jarh, karena hal itu merupakan persaksian berupa penafian sesuatu yang mungkin dan bisa saja terjadi, walaupun mereka (pihak yang menta’dil) tidak mengetahuinya, sehingga pendapat yang tetap (benar) adalah apa yang telah kami sebutkan.”

[Al-Kifayah hal. 107]

Ibnu Shalah rahimahullah berkata: “Jika terkumpul pada seseorang jarh dan ta’dil maka jarh didahulukan, karena pihak yang menta’dil mengabarkan apa yang nampak dari keadaan orang tersebut, sedangkan pihak yang menjarh mengabarkan apa yang tidak diketahui oleh pihak penta’dil. Jika jumlah pihak yang menta’dil lebih banyak maka ada yang berpendapat bahwa ta’dil didahulukan. Namun pendapat yang benar –dan ini merupakan pendapat jumhur– adalah bahwasanya jarh didahulukan berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, wallahu a’lam.”

[Uluumul Hadits hal. 110]

Az-Zarkasy rahimahullah berkata: “Yang benar adalah mendahulukan jarh berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, maksudnya karena mendahulukan jarh mengandung tambahan ilmu yang tidak diketahui oleh pihak yang menta’dil, dan itu sesuatu yang mungkin ada, sama saja apakah jumlah yang menta’dil lebih banyak atau lebih sedikit atau seimbang. Jadi seandainya ada satu orang yang menjarh dan ada seratus orang yang menta’dil, tetap didahulukan perkataan satu orang tersebut.”

[An-Nukat 3/263]

Jadi jelas bahwa pendapat jumhur ulama menyatakan mendahulukan jarh atas ta’dil walaupun jumlah yang menta’dil lebih banyak. Maka mana dalil Ar-Ruhaily yang menunjukkan kaedah yang dia sebutkan ini. Bahkan dia tidak menyebutkan para ulama yang sepakat dengan pendapatnya. Apakah para ulama sepakat atau hampir sepakat terhadap pendapatnya?! Ataukah pendapatnya termasuk pendapat yang syadz yang tidak dijadikan pegangan oleh ahli hadits?!

Kaedah kedua: Jika sebagian ulama menyelisihi pendapat mayoritas maka dia menganggap pendapat mereka syadz dan tidak perlu menoleh kepadanya.

Ar-Ruhaily sering kali mendengung-dengungkan masalah ini dan dia ingin mengarahkan pandangan para penuntut ilmu bahwa perkataan sebagian ulama dalam jarh adalah pendapat yang syadz, dan ini merupakan kesalahan dan ketergelinciran yang besar.

Untuk menjelaskan kesalahan ini saya katakan:

1. Ar-Ruhaily tidak menjelaskan apa makna syadz (ganjil) menurutnya dan apa definisinya serta kapan dimutlakkan terhadap pendapat tertentu sebagai pendapat yang syadz. Yang dipahami dari ucapannya bahwa syadz menurut dia adalah: pendapat sebagian ulama yang menyelisihi pendapat mayoritas, sama saja sesuai dengan kebenaran atau menyelisihi kebenaran pada sikap menyelisihi tersebut. Jadi Ar-Ruhaily mensyaratkan pendapat syadz adalah menyelisihi pendapat mayoritas saja. Padahal ini termasuk kesalahan besar, dan saya tidak menyangka ada seorang ulama pun yang selamat dari sifat syadz menurut definisinya ini, karena tidak ada seorang ulama pun kecuali terkadang menyelisihi pendapat mayoritas ulama berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan pendapat yang dia pilih. Di samping itu makna syadz menurut ulama berbeda dengan apa yang diyakini oleh Ar-Ruhaily.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata:

“Syadz menurut bahasa yang kita diajak bicara dengannya adalah keluar dari rombongan. Dan lafazh ini ada di dalam syariat berdasarkan kesepakatan yang menunjukkan sebuah makna, namun para ulama berbeda pendapat pada makna tersebut. Sebagian ada yang mengatakan bahwa syadz adalah pendapat seseorang yang menyelisihi semua ulama. Pendapat ini telah kami jelaskan kebathilannya pada pembicaraan tentang ijma’ dalam kitab kami ini walhamdulillahi rabbil alamin. Hal itu karena seseorang jika menyelisihi jumhur namun kepada kebenaran maka dia terpuji, sedangkan syadz adalah tercela secara ijma’. Jadi mustahil seseorang terpuji dan tercela dari satu sisi pada waktu yang bersamaan, dan tidak mungkin sesuatu yang satu berkonskwensi pujian dan celaan secara bersamaan dalam satu waktu dan dari satu sisi. Ini merupakan dalil yang sifatnya aksiomatis. Semua shahabat dahulu berbeda pendapat dengan Abu Bakr dalam hal memerangi orang-orang yang murtad, jadi mereka ketika berbeda pendapat mereka semua salah dan beliau sendiri yang benar, sehingga pendapat ini adalah bathil.

Sebagian lain berpendapat: syadz adalah ulama sepakat atas sebuah perkara lalu salah seorang dari mereka keluar dari pendapat yang mereka semua memilihnya tersebut. Ini adalah pendapat Abu Sulaiman dan jumhur shahabat kami. Makna ini seandainya ada, maka ini adalah salah satu dari macam syadz dan bukan definisi syadz dan bukan uraiannya. Dan apa yang mereka sebutkan ini seandainya ada maka merupakan syadz dan kekafiran secara bersamaan berdasarkan apa yang telah kami jelaskan pada pembicaraan tentang ijma’ bahwa siapa saja yang menyelisihi ijma’ dalam keadaan dia meyakini bahwa itu merupakan ijma’ maka dia kafir, di samping masuk pada hal yang tidak mungkin dan mustahil. Sebatas yang saya ketahui kapan kita meyakini adanya ijma’ seluruh ulama dalam satu majelis lalu mereka sepakat kemudian salah seorang dari mereka menyelisihi mereka?! Dan pendapat yang kami pegangi –dan hanya Allah saja yang memberi taufik– adalah bahwasanya definisi syadz adalah sikap menyelisihi yang benar. Jadi siapa saja yang menyelisihi pendapat yang benar dalam sebuah masalah maka dia terjatuh pada pendapat yang syadz, sama saja apakah yang menyelisihi itu adalah seluruh penduduk bumi beserta keluarga mereka atau sebagian mereka, sedangkan jamaah dan rombongan adalah pihak yang benar walaupun di muka bumi tidak ada dari mereka kecuali satu orang saja, dia adalah jamaah dan dia adalah rombongan.

Dahulu hanya Abu Bakr dan Khadijah radhiyallahu anhuma saja yang masuk Islam, ketika itu keduanya adalah jamaah, dan seluruh penduduk bumi selain keduanya dan selain Rasulullah shallallahu alaihi was sallam adalah orang-orang yang syadz dan suka berpecah belah. Dan pendapat yang kami pilih ini tidak ada perselisihan di antara para ulama padanya. Dan siapa saja yang menyelisihinya, pasti mau tidak mau dia akan kembali kepadanya dan mengakuinya. Dan kebenaran merupakan asal yang dengannya langit dan bumi tegak.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ.

“Dan Kami tidaklah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar, dan sesungguhnya Kiamat itu pasti akan datang, maka maafkanlah mereka dengan cara yang baik.” [Al-Hijr: 85]

Jadi jika kebenaran merupakan asal, maka kebathilan adalah sikap keluar dan syadz darinya. Tatkala kebenaran tidak boleh menjadi sesuatu yang dianggap syadz dan tidak ada selain kebenaran atau kebathilan, maka sah jika dikatakan bahwa yang syadz adalah kebathilan. Dan ini merupakan pembagian yang awalnya bersifat aksiomatis dan hujjah yang telak dan mencukupi, walhamdulillah.

Orang yang berpendapat bahwa syadz maknanya adalah satu orang menyelisihi jamaah ditanya:

“Bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang menyelisihi jamaah?”

Jika dia menjawab: “Ini merupakan syadz.”

Dia ditanya lagi tentang tiga orang yang menyelisihi jamaah, lalu ditambah satu satu demikian seterusnya. Maka mau tidak mau hanya ada dua pilihan baginya: apakah dia akan mendapatkan jumlah tertentu yang dianggap syadz, atau apa yang melebihinya tidak dianggap syadz. Jadi dia akan membawa ucapan yang rusak tanpa landasan dalil sehingga dialah yang sesungguhnya terjatuh pada pendapat yang syadz atau ngeyel hingga keluar dari sesuatu yang masuk akal dan dari perkara yang disepakati oleh ummat, akhirnya mau tidak mau dia pun terjatuh pada sikap syadz yang sesungguhnya. Allah saja yang memberi taufik.”

[Al-Ihkaam Fii Ushulil Ahkaam, 5/82-83]

Berdasarkan perkataan Ibnu Hazm maka syadz ada dua jenis:

Jenis pertama: apa-apa yang menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, dan yang dimaksud adalah yang penyelisihannya terang dan jelas, yaitu yang tidak memiliki sandaran yang shahih bagi pendapatnya yang menyelisihi dalil-dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan ini adalah yang dimutlakkan pada sebagai pendapat yang lemah yang tidak perlu menoleh kepadanya.

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata: “Perbedaan pendapat ada yang memiliki bagian untuk diperhatikan dan ada yang tidak memiliki bagian untuk diperhatikan, dan ada jenis ketiga yang dikenal sebagai pendapat yang lemah, oleh karena inilah pada pendapat yang ketiga ini tidak perlu menoleh kepadanya dan tidak ada nilainya.”

Jadi setiap perbedaan pendapat yang memiliki bagian untuk diperhatikan maka tidak disebut syadz, walaupun menyelisihi mayoritas ulama.

Jenis kedua: Apa yang menyelisihi ijma’ yang meyakinkan, bukan ijma’ yang sifatnya masih dugaan atau yang diklaim.

Berdasarkan hal ini maka mungkin untuk dikatakan bahwa pendapat syadz adalah: yang tidak memiliki pendapat yang mencocokinya dari perkataan Salaf, bahkan muncul tanpa ada yang mendahuluinya.

Siapa saja yang menelusuri perkataan ulama dia akan mendapati mereka menghukumi sebuah pendapat sebagai pendapat yang syadz jika menyelisihi dalil-dalil shahih dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta ijma’ para ulama, atau menyelisihi dalil-dalil yang jelas dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta pendapat jumhur ulama, wallahu a’lam.

2. Dipahami dari ucapan Ar-Ruhaily bahwa makna syadz adalah siapa saja yang darinya sering berulang muncul jarh atau tabdi’, yaitu dari ucapannya: “Dan engkau akan menjumpai pihak yang mentabdi’ mungkin hanya satu atau dua orang saja, dan ini selalu terjadi sehingga menjadi kaedah yang umum bahwasanya dia mentabdi’ dalam keadaan para ulama yang lain tidak mentabdi’…”

Jadi dia menjadikan kaedah dalam menilai pendapat yang syadz adalah seorang ulama yang darinya sering berulang muncul jarh atau tabdi’ yang menyelisihi mayoritas ulama.

Ar-Ruhaily terjatuh pada kesalahan fatal dari sisi teori dan penerapan:

Adapun dari sisi teori yaitu bagaimana dia memvonis pendapat ulama yang darinya sering berulang muncul jarh atau tabdi’ sebagai pendapat yang syadz atau dia telah melakukan tindakan yang syadz. Jadi kalau menurut ucapan Ar-Ruhaily ini maka dia akan memvonis mayoritas imam jarh wa ta’dil sebagai orang-orang syadz dalam menetapkan hukum mereka, karena para imam tersebut hanya menilai seorang rawi berdasarkan sebab-sebab yang memenuhi syarat dalam jarh wa ta’dil menurut mereka dan tidak menoleh kepada pendapat yang lain, padahal secara asal mereka berbicara berdasarkan ilmu disertai sikap wara’.

Jadi berdasarkan ucapan Ar-Ruhaily kita akan memvonis Syu’bah, Ibnul Qaththan, Ibnu Mahdy, Malik, Ibnul Madiny, Abu Hatim, Abu Zur’ah dan yang lainnya telah melakukan tindakan syadz atau perkataan mereka syadz, dan ini merupakan kengawuran fatal dari Ar-Ruhaily.

Hanyalah dihukumi syadz bagi siapa yang melemahkan orang yang masyhur keadilannya dan terkenal tsiqahnya, seperti yang menilai lemah terhadap Malik, Asy-Syafi’iy dan Ahmad bin Hanbal. Juga seperti yang menilai lemah terhadap Asy-Syaikh Ibnu Baz, Al-Albany dan Ibnu Utsaimin di masa ini.

Adapun dari sisi penerapan, siapakah satu atau dua ulama yang mentabdi’ Ahlus Sunnah dan menyelisihi para ulama?! Jika yang dia maksud adalah Asy-Syaikh Rabi’ maka sungguh –demi Allah– ini termasuk kezhaliman. Jadi siapakah Ahlus Sunnah yang ditabdi’ oleh Asy-Syaikh Rabi’?! Apakah Sayyid Quthub atau Hasan Al-Banna atau Abdurrahman Abdul Khaliq atau Al-Ghazaly atau Ar’ur atau Al-Ma’riby?!

Mana buktinya, ataukah semua itu hanya tuduhan tanpa dalil dan bukti yang benar?! Wallahul musta’an.

Ar-Ruhaily telah terjatuh pada sikap kontradiksi yang aneh dengan menilai Asy-Syaikh Rabi’ atau sebagian ulama yang dikenal dengan kelurusan akidah dan manhaj serta mengerti keadaan manusia di masa ini sebagai orang-orang yang melakukan tindakan syadz atau keras dalam menghukumi orang-orang tertentu dan dia mencela tindakan syadz yang dituduhkan ini.

Padahal dia sendiri menetapkan bahwa siapa yang tidak mentabdi’ Jahm bin Shafwan dia boleh diambil ilmunya dan boleh belajar tauhid kepadanya. Dia juga tidak menghukumi orang yang tidak mentabdi’ Jahm bin Shafwan minimalnya dengan syadz, bahkan dia menganggapnya termasuk ulama yang boleh belajar tauhid kepadanya. Jadi mana sikap adil yang dia klaim itu?!

3. Menyandarkan sifat syadz terhadap ucapan-ucapan Ar-Ruhaily lebih pantas dibandingkan perkataan ulama lain, hal itu karena ucapan-ucapan dia yang lemah menurut para ulama dan sebagiannya bathil.

Diantaranya adalah mendahulukan ta’dil atas jarh terperinci, dan pendapat ini tidak ada yang mengatakannya kecuali sebagian ahli ilmu ushul yang ucapan mereka tidak teranggap dalam ilmu hadits. Adapun ulama hadits dan ahli musthalah maka mereka sepakat untuk mendahulukan jarh terperinci atas ta’dil, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Al-Khathib di dalam Al-Kifayah.

Sedangkan yang termasuk ucapan Ar-Ruhaily yang bathil adalah siapa yang tidak mentabdi’ Jahm bin Shafwan dia boleh diambil ilmunya dan boleh belajar tauhid kepadanya, padahal ulama sepakat mengkafirkan Jahmiyah.

Ar-Ruhaily berkata dalam majelisnya bersama Masayikh di Kuwait yang terekam dan tersebar di situs kulalsalafiyen:

“Seandainya ada seseorang yang tidak mentadi’ Jahm bin Shafwan datang kepadamu namun dia menguasai kitab Al-Ushuluts Tsalatsah lalu engkau mengatakan: ‘Jangan belajar kepadanya karena dia tidak mentabdi’ Jahm.’ Saya akan katakan kepadanya: ‘Belajarlah kepadanya!’ Jika dia menjawab: ‘Syaikh, dia ini tidak mentabdi’ ahli bid’ah.’ Maka saya buat contoh baginya dengan saya katakan: ‘Dengar, seandainya ada seseorang tidak mentabdi’ Jahm bin Shafwan, namun dia memiliki ilmu dan kebaikan, ambillah ilmu yang ada padanya dan tinggalkan sikapnya yang tidak mentabdi’ Jahm bin Shafwan!”

Perhatikan perkataan Al-Imam Ahmad yang dinukil oleh Adz-Dzahaby di dalam Taarikhul Islam 4/367:

“Al-Marrudzy berkata di dalam kitab Al-Qashash: Hasan bin Al-Bazzar dan Abu Nashr bin Abdul Majid serta yang lainnya ingin mendatangkan kitab Al-Mudallisun yang ditulis oleh Al-Karabisy yang di dalamnya dia mencela Al-A’masy dan Sulaiman At-Taimy.
Maka saya pergi kepadanya pada tahun 234 H lalu saya katakan: ‘Sesungguhnya kitabmu ini ada yang ingin menunjukkannya kepada Abu Abdillah (Al-Imam Ahmad –pent), maka tampakkanlah bahwa engkau telah menyesalinya!’
Dia menjawab: ‘Sesungguhnya Abu Abdillah adalah orang yang saleh, yang semisal dengan beliau akan mendapatkan taufik untuk sesuai dengan yang benar. Saya rela kitabku ditunjukkan kepada beliau. Abu Tsaur telah memintaku untuk menghapus kitab tersebut, tetapi saya menolak.’ Maka kitab tersebut ditunjukkan kepada Abu Abdillah dalam keadaan beliau tidak mengetahui itu tulisan siapa. Maka orang-orang pun mengetahui berbagai kesesatan dari kitab tersebut dan sebuah tempat yang padanya terdapat celaan terhadap Al-A’masy, di dalamnya juga disebutkan: ‘Jika kalian menganggap bahwa Al-Hasan bin Shalih (bin Hayyi –pent) meyakini bolehnya memberontak, maka ini Ibnuz Zubair juga telah memberontak.’
Maka Abu Abdillah berkata: ‘Penulis ini ingin membela Al-Hasan bin Shalih dengan cara mencela Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi was sallam, dia juga mengumpulkan hadits-hadits Rafidhah di dalam kitab ini.’ Abu Nashr berkata: ‘Sesungguhnya para pemuda kita sering mendatangi penulis kitab ini.”
Beliau berkata: “Kalau begitu peringatkan manusia dari bahayanya!’ (ini juga dalil yang membantah orang-orang yang mengharuskan menasehati sebelum tahdzir –pent). Kemudian terbongkarlah perkaranya hingga terdengar oleh Al-Karabisy.
Maka sampailah kepada saya bahwa dia mengatakan: Saya mendengar Husain Ash-Shayigh berkata: Al-Karabisy mengatakan: ‘Sungguh saya akan mengatakan sebuah ucapan agar Ahmad bin Hanbal kafir karena menyelisihinya.’ Lalu dia mengatakan: ‘Lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.’
Maka saya katakan kepada Abu Abdillah: ‘Sesungguhnya Al-Karabisy mengatakan: ‘Lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.’ Dia juga mengatakan: ‘Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kalam (perkataan) Allah dan bukan makhluk dari semua sisi, hanya saja lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk, dan barangsiapa tidak mengatakan: ‘Lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk’ maka dia kafir.’
Maka Abu Abdillah berkata: ‘Bahkan dialah yang kafir, semoga Allah memeranginya, apa yang dikatakan oleh Jahmiyah selain ini?! Mereka mengatakan: ‘Kalam Allah.’ Kemudian mereka mengatakan: ‘Makhluk.’ Itu tidak ada manfaatnya karena tidaklah kebaikan ucapannya yang pertama kecuali telah dia batalkan ketika dia mengatakan ‘Lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.’
Kemudian beliau berkata: ‘Allah tidak akan membiarkannya dalam keadaan dia mencela Tabi’in seperti Sulaiman Al-A’masy dan yang lainnya. Bisyr Al-Muraisy mati lalu meninggalkan pengganti Husain Al-Karabisy.’
Kemudian beliau bertanya: ‘Bagaimana kabar Abu Tsaur, apakah dia menyetujui pendapatnya?’
Saya jawab: ‘Dia telah meninggalkannya.’ Beliau berkata: ‘Dia telah melakukan sesuatu yang tepat.’ Saya berkata: ‘Saya telah bertanya kepada Abu Tsaur tentang orang yang menyatakan: ‘Lafazhku ketika membaca Al-Qur’an adalah makhluk.’ Abu Tsaur menjawab: ‘Dia mubtadi.’
Maka Abu Abdillah marah dan mengatakan: ‘Apa, mubtadi’, ini keyakinan Jahm itu sendiri, orang yang menggeluti ilmu kalam tidak akan beruntung.” –selesai penuturan Al-Marrudzy–

MAKA PERHATIKAN PERKATAAN AL-IMAM AHMAD YANG MANA BELIAU TIDAK RIDHA DENGAN VONIS MUBTADI’ DARI ABU TSAUR DAN BELIAU MARAH SERTA MENGANGGAPNYA SEBAGAI SIKAP MENGANGGAP ENTENG.

DAN SEKARANG AR-RUHAILY DATANG DAN MENETAPKAN BAHWA BOLEH BELAJAR TAUHID KEPADA ORANG YANG TIDAK MENTABDI’ JAHM BIN SHAFWAN. YANG LEBIH MENGHERANKAN LAGI ADALAH KARENA DIA PROFESSOR DI DALAM BIDANG AKIDAH, WALLAHUL MUSTA’AN.

MAKA KATAKANLAH DENGAN JUJUR, SIAPA YANG LEBIH PANTAS DIANGGAP SYADZ?! APAKAH ORANG YANG MEMBANTAH AHLI BID’AH DAN MEMBELA AS-SUNNAH DAN AHLUS SUNNAH?! ATAUKAH ORANG YANG MEMBELA AHLI BID’AH DENGAN DALIH SIKAP ADIL SERTA MEMBANTAH ULAMA AHLUS SUNNAH, BAHKAN MEMBANTU AHLI BID’AH MEMERANGI ULAMA DENGAN DALIH MENOLAK KEZHALIMAN DAN ALASAN LAIN?!


CATATAN KETIGA:

Ar-Ruhaily berkata: “Dan sesungguhnya Ahlus Sunnah sekarang ditabdi’ dan dicela, padahal mereka memiliki jasa yang jelas dan terang. Para ulama dan penuntut ilmu yang memiliki jasa besar di luar negeri ini dan di dalamnya –semoga Allah menjadikan mereka bermanfaat– mereka ditabdi’ hanya karena semata-mata terjatuh pada kesalahan atau sampai dengan cara mencari-cari alasan. Maka orang yang seperti ini tidak perlu didengar ucapannya, tetapi hal ini dirujuk kepada ulama besar. Jika mereka berpendapat yang mengharuskan untuk menyalahkan atau mentabdi’, maka kita mengikuti ulama kita.”

Catatan:

Pertama: Siapa Ahlus Sunnah yang mereka sekarang ditabdi’ dan dicela?!

Ar-Ruhaily menyebutkan secara umum tanpa menjelaskan sehingga urusannya mungkin tertuju pada siapa saja yang mengaku dia termasuk Ahlus Sunnah. Jadi bisa saja Sayyid Quthub dan Hasan Al-Banna termasuk Ahlus Sunnah menurut Ar-Ruhaily. Bisa juga Muhammad Al-Ghazaly dan Al-Qaradhawy termasuk Ahlus Sunnah menurutnya. Atau Abdurrahman Abdul Khaliq, Al-Ma’riby, Ar’ur, Al-Halaby, dan Muhammad Hassan termasuk Ahlus Sunnah menurutnya.

Maka wajib atasnya untuk menyebutkan nama-nama mereka dengan jelas agar diketahui apakah benar mereka itu termasuk Ahlus Sunnah atau bukan. Demikian juga agar diketahui apa sebenarnya yang membuat mereka dicela dan apa sebab-sebab celaan tersebut. Ar-Ruhaily menyebutkan secara umum dan tidak menjelaskan serta membiarkan perkaranya bisa ditujukan kepada siapa saja yang mengaku bahwa dirinya termasuk Ahlus Sunnah, padahal semua pihak mengklaim bahwa mereka termasuk Ahlus Sunnah.

Kedua: Ar-Ruhaily mengikuti manhaj muwazanah yang bid’ah itu dalam membela orang-orang yang dia anggap termasuk Ahlus Sunnah, hal itu dengan penilaiannya bahwa mereka memiliki jasa yang jelas dan terang dan bahwasanya mereka adalah ulama dan penuntut ilmu.

Ini termasuk alasan-alasan yang bathil yang digunakan sebagai tameng oleh siapa saja yang ingin membela salah seorang ahli bid’ah.

Maka yang wajib atas Ar-Ruhaily adalah menolak jarh dari mereka yang telah disebutkan oleh para ulama dengan menunjukkan bukti bahwa mereka benar-benar termasuk Ahlus Sunnah, bukan semata-mata klaim tanpa bukti.

Kemudian saya katakan kepadanya: Manakah usaha mereka dalam menjelaskan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan membelanya, dan mana usaha mereka dalam membantah ahli bid’ah dan mentahdzir mereka?!

Bahkan sesungguhnya usaha mereka yang sebenarnya adalah melancarkan perang terhadap ulama Salafiyun, mentahdzir, membatah serta menuduh para ulama tersebut dengan sifat yang paling buruk dan paling jelek. Dan usaha mereka yang sebenarnya adalah membela tokoh-tokoh mereka dari ahli bid’ah serta membela kaedah-kaedah dan perbuatan bid’ah mereka.

Seandainya Ar-Ruhaily memperhatikan keadaan mereka, niscaya dia akan mengetahui bahwa mereka sangat jauh sekali dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah dan dari kaedah-kaedah agung para ulama. Dan siapa saja yang memperhatikan keadaan mereka, pasti mengetahui bahwa mereka menampakkan manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah sebentar saja, kemudian tatkala mereka telah dikenal oleh orang-orang awam dan telah menguasai hati mereka, maka mereka pun menampakkan penyelisihan mereka terhadap manhaj yang agung ini, bahkan mereka menampakkan permusuhan terhadapnya dan terhadap orang-orang yang berpegang teguh dengannya. Contoh dari itu semua sangat banyak sekali.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

Ditulis oleh:
Abu Umar Abdul Basith

Sumber: Sahab•Net

Kaidah-Kaidah Salafiyyah Jalan Keluar dari Fitnah Hizbiyyah

Bismillahirrahmanirrahim.

Berikut ini adalah Pengalihan Bahasa dari Kitab

قَوَاعِد سَلَفِيَّة وَنَصَائِح تَوْجِيْهِيَّة لِلْخُرُوْجِ مِنْ فِتَنِ الحِزْبِيَّةِ

(Qawa’id Salafiyyah wa Nasha`ih Taujihiyyah Li al-Khuruj min Fitan al-Hizbiyyah.

KAIDAH-KAIDAH SALAFIYYAH
DAN NASEHAT-NASEHAT YANG MENGARAHKAN
SEBAGAI JALAN KELUAR DARI FITNAH-FITNAH HIZBIYYAH


Seuntai rangkaian mutiara kata dari asy-Syaikh Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul –Hafidzahullahu Ta’ala – sebagai buah tangan untuk seluruh Ahlus Sunnah dan Muslimin diberbagai belahan bumi. Terutama dalam menghadapi berbagai fitnah kelompok-kelompok sesat rafidhah, shufiyyah, dan sebagainya. Juga fitnah hizbiyyah yang muncul pada masa ini, baik fitnah Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Sururiyyah, Quthbiyyah, Ihya’ut Turats, Haddadiyah, dan tokoh-tokoh kebatilan lainnya, semacam al-Huwaini, al-Maghrawi, dll. Juga yang baru muncul Hajuriyyah dan Halabiyyah.



Bismillahirrahmanirrahim

الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على المبعوث رحمة للعالمين، وعلى آله وصحبه أجمعين، ومن سار على نهجهم إلى يوم الدين. أما بعد :

Segala Puji bagi Allah Rabb Semesta alam. Semoga Shalawat dan Salam terlimpahkan kepada Sang Utusan sebagai rahmat untuk sekalian alam. Semoga terlimpahkan pula kepada keluarganya, dan seluruh para shahabatnya, serta terlimpahkan pula kepada siapa saja yang meniti jejaknya sampai datangnya hari kiamat. Amma Ba’du :

Sungguh Allah telah memberi kemudahan kepadaku untuk bisa duduk bersama saudara-saudara kita Salafiyyin dari Negara Libyia. Mereka telah berprasangka baik terhadapku, sehingga memintaku agar bisa menyampaikan beberapa patah kata bimbingan (taujihiyyah) dan nasehat salafiyyah (nashihah salafiyyah). Padahal aku bukanlah orang yang pantas untuk melakukannya. Akan tetapi sebagai bentuk kecintaan terhadap kebaikan, dan sebagai bentuk kerjasama yang baik bersama Ahlul Fadhl wal ‘Ilmi (orang-orang yang memiliki keutaamaan dan ilmu/para ‘ulama), sehingga mendorongku untuk memenuhi permohonan mereka tersebut. Kemudian, aku melangsungkan beberapa penyampaian pelajaran dan saling mengingatkan bersama mereka tentang beberapa Kaidah-kaidah Salafiyyah yang sangat penting, dengan sebab itu tentu akan mendatangkan jalan keluar dari berbagai fitnah dengan Izin Allah Ta’ala.

Dalam kesempatan ini, al-Akh Malik al-Liby – Hafidzahullahu Ta’ala – telah berusaha keras untuk mentranskrip isi pertemuan tersebut menjadi sebuah tulisan. Beliau juga berkeinginan untuk bisa menyebarluaskannya. Sehingga disodorkanlah transkrip tersebut  kepadaku untuk dikoreksi. Semoga Allah membalas  kebaikan untuknya.

Maka aku pun mengkoreksi ulang, meneliti, dan merperbaikinya. Aku cantumkan juga beberapa tambahan yang memang dibutuhkan. Kemudian aku kirim ulang kepadanya agar bisa dipublikasikan dan diposting di situs ataupun website salafiyyah apabila itu dipandang sesuai. Semoga Allah membalas kebaikan untuknya

Hanya kepada Allah aku memohon untuk melimpahkan kepadaku dan kepada seluruh saudara-saudara kami Salafiyyin berupa taufiq dan jalan yang lurus. Semoga Allah menjadikan semua hasil usaha ini sebagai pembela kita dan bukan sebagai penghujat atas kita. Semoga Allah mengokohkan diri kita semua agar tegar diatas manhaj Salafi. Semoga Allah menyelamatkan diri kita semua dari berbagai fitnah yang tampak jelas maupun yang samar tersembunyi.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Ditulis oleh
Ahmad bin ‘Umar bin Salim Bazmul
1 Dzulqa’dah 1433 H



Asy-Syaikh Dr. Ahmad Bin ‘Umar Bazmul berkata :

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Segala puji bagi Allah, semoga Shalawat dan Salam terlimpahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang berloyalitas kepadanya. Amma Ba’du :

Sebagian dari saudara-saudara kami – jazahumullah khairan – telah mengajukan permohonan kepadaku agar bisa menyampaikan untaian nasehat kepada mereka semua.

Sebenarnya, permohonan mereka tersebut adalah permohonan yang memang sangat penting sekali barakallahu fikum. Terlebih lagi di zaman kita seperti ini yang sudah tercengkram dengan berbagai fitnah yang merajalela. Muncul padanya berbagai sekte dan kelompok sempalan. Sehingga mengakibatkan seorang muslim akan kebingungan bila tidak berpegang teguh dengan al-Kitab (al-Qur`an) dan as-Sunnah. Seorang muslim menjadi bingung  “Yang benar itu siapa?”.

Nasehat dariku, teruntuk pribadi saya sendiri dan seluruh saudara-saudaraku di Libyia dan seantero dunia, yang nasehat ini sesungguhnya terambil dari sisi para ‘ulama Ahlus Sunnah yang mulia, semoga Allah meridhai mereka semua….

Ini semua telah terangkum dalam kaedah-kaedah umum yang sangat baik bila dijadikan pegangan oleh seorang muslim, sebagai lentera penerang dan diambil manfaatnya dengan izin Allah Ta’ala :


KAEDAH PERTAMA

BERPEGANG TEGUH DENGAN AL-KITAB DAN AS-SUNNAH SESUAI DENGAN PEMAHAMAN MANHAJ AS-SALAF ASH-SHALIH Ridwanullah ‘Alaihim Ajmain

Kaedah ini merupakan kaedah yang telah masyhur dan tak asing lagi di telinga kita. Sudah terlalu banyak orang yang mendengungkannya. Akan tetapi sangat disayangkan sekali, orang yang bisa menerapkannya, mengamalkan kandungannya dengan amalan yang benar, ataupun sesuai dengan makna yang sebenarnya, jumlah mereka terlalu sangat sedikit sekali.

Berpegang teguh dengan al-Kitab (al-Qur`an) dan as-Sunnah sesuai petunjuk Salafus Shalih –Ridwanullah ‘Alaihim Ajmain – merupakan sebab yang paling utama untuk keselamatan diri. Adapun orang-orang yang menyimpang, mereka mengaku sebagai sosok pemegang teguh prinsip al-Kitab dan as-Sunnah sesuai Manhaj Salafus Shalih, akan tetapi realita menunjukkan mereka justru memecah dan memisahkan diri darinya.

Tidaklah yang menjadikan mereka terpecah dan terpisah-pisahkan, kecuali karena tidak mau menerapkan kaidah ini dengan penerapan yang benar. Namun hanyalah sekedar celotehan lisan belaka, lalu mereka bermanis tutur dalam berbagai kesempatan dan pertemuan. Padahal hakekat urusan mereka dan hakekat kondisi mereka menunjukkan, bahwa mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari al-Kitab dan as-Sunnah, sangat jauh pula dari Manhaj Salafus Shalih !

Oleh karena itu, Kaedah Pertama ini, tidaklah cukup sekedar pengakuan tutur manis lisan belaka. Akan tetapi harus benar-benar berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta Manhaj Salafus Shalih, baik dalam ucapan, amalan, maupun keyakinan; baik tampak maupun tersembunyi. Kaedah ini haruslah selalu terpatri dalam jiwa kita semua.


KAIDAH KEDUA

Ini merupakan penyempurna kaedah pertama, YAITU AGAR KITA MENGETAHUI DENGAN SEBENAR-BENARNYA DAN PENUH KEYAKINAN –DENGAN IZIN ALLAH TABARAKA WA TA’ALA – BAHWA INILAH JALAN KESELAMATAN, JALAN KESUKSESAN, DAN INILAH JALAN KEBENARAN.

Sebagian orang telah terpeleset dari manhaj yang lurus dan menyimpang dari al-Haq (kebenaran) karena adanya berbagai kerancuan padanya. Sehingga engkau dapati dia mengatakan, “Jangan-jangan mereka yang benar, sedangkan ternyata kalian diatas kebatilan?”, “Ataukah jangan-jangan mereka ini, yang telah bersama mereka Fulan dan Fulan yang benar…?”, dan berbagai bisikan-bisikan jahat lainnya.

Tidak demikian seharusnya…, ini semua adalah bisikan-bisikan keraguan yang muncul dari celah orang-orang yang yang tidak memiliki dasar keyakinan bahwa Keselamatan itu sesungguhnya bersama Manhaj Salaf.

Seorang muslim yang berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah, harus senantiasa yakin dengan sebenar-benarnya bahwa inilah al-Haq (kebenaran).

Ini merupakan kaidah yang sangat penting, karena itu akan menolong dirinya –dengan izin Allah Ta’ala – untuk selalu tegar kokoh di atas al-Haq dan menolongnya agar tidak menyimpang dari kebenaran tersebut.


KAIDAH KETIGA

Yang aku nasehatkan untuk diri saya pribadi dan untuk seluruh saudara-saudaraku dengannya :

AGAR KITA SELALU BERADA DI BARISAN ‘ULAMA KIBAR, YANG TELAH DIKENAL MEMBELA DAKWAH SALAFIYYAH DAN MEMPERJUANGKANNYA. MEMPERJUANGKAN KEUTUHAN DAKWAH SALAFIYYAH, SERTA MEMBANTAH PARA AHLUL  AHWA’ DAN AHLUL BID’AH.

Berkat keutamaan (anugrah) dari Allah Ta’ala, didapati di setiap masa adanya Para ‘Ulama Kibar. Sebagaimana di masa sekarang ini, ada asy-Syaikh al-Albany, ay-Syaikh Bin Baz, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin – rahmatullah ‘alaihim jamian – demikian  pula asy-Syaikh Muqbil dan asy-Syaikh an-Najmy – rahmatullah ‘alaihim jamian –

Di antara saudara-saudara mereka di barisan ‘Ulama Kibar yang masih hadir di tengah-tengah kita di antaranya adalah asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri, asy-Syaikh Zaid al-Madkhali, asy-Syaikh Shalih as-Shuhaimi, asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin Al-’Abbad, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali, dan semisal dengan mereka.

Maka kita bergabung bersama dalam barisan Ulama Kibar, dan kita mengetahui bahwa al-Haq ada bersama mereka Biidznillah ‘Azza Wa Jalla. Kondisi ini persis seperti yang dituturkan oleh Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu :

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا أَخَذُوا العِلْمَ عَنْ أَكَابِرِهِمْ وَعَن أُمَنَائِهِمْ، فَإِذَا أَخَذُوا ِمن صِغَارِهِمْ وَشِرَارِهِمْ هَلَكُوا

“Manusia akan selalu berada dalam kebaikan selama mereka masih mengambil ilmu dari Kibarul Ulama dan Ahlul Ilmi yang terpercaya. Namun apabila mereka mengambilnya dari golongan rendahan dan orang-orang yang jelek, mereka akan hancur binasa”.

Kaedah ini harus engkau pahami sebaik mungkin, karena dengan kaedah ini engkau akan bisa memahami kaedah  berikutnya yang sangat berkaitan erat :


KAIDAH KEEMPAT

BAHWA PARA ULAMA YANG BENAR-BENAR DI ATAS AL-HAQ, MEREKA ITU BERBEDA-BEDA

Terdapat perbedaan di antara para ‘ulama dalam pengetahuan mereka tentang al-Haq dan kebatila, secara global ataupun terperinci.

Kaidah ini benar-benar harus kita perhatikan. Karena kita mengetahui bahwa ‘ulama yang ini memiliki perhatian yang besar dalam membantah Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’ (pengekor hawa nafsu), demikian pula dalam pembelaan terhadap as-Sunnah, dan lain sebagainya.

Maka ‘ulama tersebut, yang memiliki perhatian yang besar dalam membantah Ahlul Bid’ah dan Ahlul Ahwa’, beliau memiliki pengetahuan yang terperinci dalam berbagai bid’ah yang ada. Maka ‘ulama tersebut lebih dekat kepada kebenaran lebih dekat, lebih mengenali kebatilan.

Disisi lain, terdapat pula sebagian di antara ‘ulama salafi  yang  kita sama sekali tidak meragukan kesalafiyahannya, dan beliau termasuk orang yang sangat kita cintai. Hanya saja beliau termasuk orang yang hendak “berbaik sangka” (kepada sebagian ahlul bathil), dan beliau tidak mengetahui hakekat keadaan gerombolan yang telah keluar masuk mengacak-acak dan mengobrak-abrik agama Allah. Maka terkadang engkau mendapati beliau terkadang masih membela mereka karena masih berbaik sangka terhadap mereka. Beliau tidak mengetahuinya dan mengira bahwa gerombolan tersebut berada di atas al-Haq. [1]

Bagaimana sikap seorang salafi terhadap para ‘ulama yang seperti ini ?

Sikapku adalah aku harus bisa membedakan para masyaikh salafiyyin, para masyaikh sunnah. Seorang ‘ulama itu semakin dia mengenal kondisi gerombolan orang tersebut (yang ternyata telah menyimpang, yang ternyata adalah para pengusung kebatilan), maka dia akan semakin mendapat taufiq (dalam berbagai kesimpulan dan penilaiannya) – dengan izin Allah ‘Azza wa Jalla – dan beliau akan semakin dekat dengan kebenaran dengan izin Allah! [2]

Oleh karenanya, asy-Syaikh Rabi’ misalnya, seluruh ‘ulama salafiyyin telah mempersaksikan bahwa beliau adalah seorang yang banyak berkecimpung dan mengenal seluk beluk hizbiyyah. Tidaklah beliau mengkritisi seseorang kecuali akan didapatkan – insya Allah – persis sebagaimana yang telah beliau terangkan. Pujian ini bukan diucapkan karena sebab kefanatikan ataupun dalam rangka mengagungkan beliau, sama sekali tidak, dan tidak. [3]

Mengapa para ‘ulama mengatakan tentang  asy-Syaikh Rabi’, bahwa beliau adalah orang yang mendapatkan taufiq dan tepat dalam bantahan-bantahannya terhadap Ahlul Bid’ah ?

Tentu saja para ‘ulama tersebut mengatakan demikian tidak lain disebabkan karena asy-Syaikh Rabi’ banyak berkecimpung membantah Ahlul Bid’ah dengan berbagai macam bentuk bid’ah dan kesesatan mereka, baik dari kalangan hizbiyyin, shufiyyin, rafidhah, dan lain sebagainya!

Asy-Syaikh Rabi’ telah terjun langsung dalam permasalahan ini, sangat berpengalaman, berinteraksi langsung dengan mereka (para ahlul batil dan ahlul bid’ah), dan beliau sangat kenal dengan uslub-uslub mereka. Sehingga seringnya beliau adalah orang yang mendapatkan taufiq (selalu tepat dalam bantahan-bantahannya) berkat fadhilah yang Allah anugerahkan. [4]

Dengan kaidah ini, terjawablah semua syubhat yang terlontar di tengah-tengah Salafiyyin. Syubhat yang muncul dalam selorohan “Bahwa Si Fulan yang telah diJarh (dicerca) oleh ‘ulama, kenyataannya dipuji oleh sebagian ‘ulama salafiyyin lainnya”.

Maka dikatakan : “Bahwa para masyaikh Salafiyyun tersebut, tidak ada seorangpun yang berada di atas sunnah yang mencela mereka. Kami menganggap para ‘ulama tersebut demikian dan tidaklah kami mentazkiyah seorangpun atas nama Allah.

Namun bagaimana mereka (para masyaikh salafiyun tersebut) memuji sebagian orang yang telah menyimpang, yang telah dibantah oleh sebagian ‘ulama yang lain?”

Jawabannya : “Apabila engkau menerapkan kaidah di atas, maka engkau akan mengetahui bahwa para ‘ulama yang telah mentazkiyah (memuji) sebagian orang yang telah terkena Jarh, maka sesungguhnya ‘ulama tersebut  tidak mengetahui dengan jelas hakekat kondisi orang itu. Karena ‘ulama tersebut lebih sedikit penelitiannya dalam masalah-masalah seperti ini (yakni terhadap kondisi orang-orang yang terkena Jarh), sehingga terkadang sebagian permasalahan tersebut tersamarkan atas mereka”.

Bukan karena para ‘ulama (yang memuji tersebut) sepakat/setuju dengan para ahlul bid’ah, tidak sama sekali. Para ‘ulama adalah orang yang paling jauh dari bid’ah. Namun ahlul bid’ah hadir bersimpuh di hadapan sebagian para ‘ulama, kemudian menangis dengan air mata buaya. Mereka sok menampilkan sunnah di hadapan para ‘ulama tersebut, dan menunjukkan bahwa mereka menginginkan al-Haq, dan bahwa mereka terdzhalimi (dengan adanya berbagai tuduhan). [5]

Sehingga sebagian masyaikh pun terkadang membela mereka (para tokoh menyimpang/ahlul batil tersebut) karena para ‘ulama tersebut mengira bahwa mereka memang terzhalimi, dan bahwa mereka masih berjalan di atas al-Haq.

Oleh karena itu, apabila kita telah mengetahui kaidah ini, maka kita berhasil melewati  banyak dari berbagai musykilah (kerumitan) yang ada.


KAIDAH KELIMA

KASIH SAYANG DAN CINTA YANG MENDALAM KEPADA SALAFIYYIN DAN ULAMA SALAFIYYIN MERUPAKAN RAMBU-RAMBU YANG PENTING UNTUK MEMBEDAKAN ORANG YANG JUJUR DAN PENDUSTA DALAM BERPEGANG TEGUHNYA DIA KEPADA MANHAJ SALAF.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf : “Barangsiapa yang menyamarkan bid’ahnya atas kami, sesungguhnya tidak akan bisa tersembunyi dari kami kecenderungan/kecintaannya”.

Kecenderungan/kecintaan (ulfah) itu akan terlihat ketika dia merasa gembira dengan suatu ungkapan yang muncul, dia akan cenderung kepadanya karena sebagai bentuk rasa cinta dan kasih sayangnya kepada ungkapan dan orang-orang yang mengungkapkannya, inilah arti ulfah.

Engkau akan sering temui seorang yang memiliki ulfah akan selalu tulus dan selalu merasa cocok dengannya, baik dalam perkara yang zhahir/tampak ataupun tersembunyi.

Sehingga apabila ada seseorang yang mengaku sebagai seorang Salafy, namun kita dapatkan pada dirinya tidak pernah menyebutkan para ‘ulama Salafiyyin, tidak pernah menyebutkan para da’i salafiyyin, bahkan kita dapati terkadang ia mencela para masyaikh Salafiyyin, dan ia tidak suka kalau nama-nama para ‘ulama Salafiyyin disebutkan.

Ini adalah tanda yang sangat jelas menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang yang buruk, ia memiliki kebencian terselubung, dan dirinya diliputi niatan yang tidak terpuji.


KAIDAH KEENAM

Ini merupakan salah satu kaedah penting :

FITNAH ITU APABILA TELAH DATANG MAKA MASUK PADANYA SEMUA MANUSIA DENGAN BERBAGAI KEBOHONGAN, DAN TIDAKLAH BISA MENGENALI FITNAH TERSEBUT KECUALI ULAMA. APABILA FITNAH ITU TELAH BERLALU (KARENA DIPADAMKAN OLEH PARA ULAMA) MAKA SEMUA MANUSIA AKAN MENGENALINYA, KARENA AKIBAT-AKIBATNYA YANG SANGAT JELEK.

Kaidah ini mengisyaratkan kepada Manhaj yang sangat penting dalam menyikapi fitnah yang terjadi. Yaitu hendaknya seorang muslim menjauhkan diri dari berbagai fitnah dengan cara senantiasa bergabung dibelakang barisan para ‘ulama kibar. Jangan ia berbicara tentang fitnah, dan hendaknya dia meninggalkannya. Hendaknya dia melihat bimbingan para ‘ulama kibar tentang fitnah-fitnah, kemudian hendaknya ia berpegang dengannya. Jangan menyibukkan dirinya dalam gelombang fitnah.

Mengapa demikian ? Dikarenakan fitnah itu akan masuk padanya semua pihak untuk membuat kebohongan, tanpa dilandasi hujjah (argumentasi), burhan (bukti), tidak pula ilmu. Turut terlibat dalam fitnah tersebut membuat waktu tersia-siakan. Terkadang dengan keterlibatannya dalam fitnah tersebut, seseorang justru menjadi pendukung kebatilan dan memerangi kebenaran tanpa dia sadari, dan dia tidak memaksudkan itu.

Lalu bagaimana jalan keluar dari fitnah ?

Menjauhlah dirimu dari fitnah, bergabunglah di belakang barisan ‘ulama kibar. Jangan kamu terjunkan dirimu dalam fitnah. Serahkanlah urusan fitnah kepada Ulama Kibar, mereka yang akan mengupasnya. [6]

Berhati-hatilah engkau, jangan turut menyalakan fitnah, jangan mengikuti jejak fitnah, jangan pula sok untuk berbicara tentang fitnah. Cukuplah bagimu bimbingan Ulama Kibar dalam mengenali fitnah. Oleh karenanya engkau akan temui, di antara sebab yang menjerumuskan sebagian generasi muda dan para da’i dalam kubangan fitnah, adalah tampilnya mereka dalam keruwetan dan tidak menjauhkan diri darinya.


KAIDAH KETUJUH

Saya nasehatkan kepada diri saya pribadi dan kepada saudara-saudaraku, yaitu dengan suatu kaidah yang telah ditetapkan dan dikenal, akan tetapi perlu selalu kita mengulanginya dan kembali meyebutkannya :

HENDAKNYA SELALU BERGABUNG DALAM BARISAN ULAMA SALAFIYYIN, DAN MENJAUHKAN DIRI DARI AHLUL BID’AH DAN AHLUL AHWA’. HENDAKNYA MENJAUH DARI ORANG YANG TIDAK JELAS BESERTA ORANG-ORANG YANG TELAH MENDAPATKAN TAHDZIR. ATAUPUN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARINYA PERMUSUHAN TERHADAP ULAMA SALAFIYYIN, DAN ORANG-ORANG YANG TAMPAK DARI SELA-SELA UCAPANNYA SESUATU YANG MENUNJUKKAN TIDAK ADA KECENDERUNGAN KEPADA SALAFIYYIN

Ini adalah perkara yang sangat penting. Karena sebagian generasi muda Salafiyyin terkadang berada  di sekitar seseorang, yang sebenarnya ia bukanlah seorang salafi, namun berpenampilan salafi. Para pemuda berkerumun disekitar orang tersebut, sehingga dia pun “membina” (para pemuda tersebut) kepada apa yang dia maukan, berupa berbagai fitnah dan petaka. Setelah mapan, kemudian dia memecahkan diri dari Salafiyyin, dan jadilah barisan Salafiyyin di daerah tersebut terpecah menjadi dua bagian atau bahkan lebih. (dan sebenarnya pecahan-pecahan tersebut, tidak bisa lagi dianggap sebagai salafy,pent).

Kemudian, mengapa saya justru ikut campur dalam urusan ini ?

Sesungguhnya saya menuntut ilmu di sisi para Ulama Salafiyyin, atau di sisi seoorang yang direkomendasi ‘ulama salafiyyin, atau kepada orang yang memang jelas, dikenal nyata sebagai seorang Salafy, berdakwah kepada manhaj salaf idan tidak sedikitpun didapatkan padanya tahdzir.

Ini juga merupakan salah satu kaedah penting, karena kita yakin bahwa seseorang jika ingin meminum air, ia akan memilih air yang bersih jernih sehingga ia tidak terserang penyakit karena kotornya air yang diminumnya.

Maka kita katakan, demikian juga dengan ilmu. Sesungguhnya Ilmu jauh lebih penting dari air, dan lebih penting daripada makanan dan minuman, karena seseorang membutuhkan ilmu terus-menerus. Sesungguhnya mengambil ilmu yang jernih dari Ahlul Ilmi yang dikenal beningnya dalam manhaj dan aqidah ini merupakan suatu kewajiban secara syar’i. Hal ini lebih selamat untuk ditempuh agar terhindar dari berbagai penyakit hati dan syubhat. Terhindarkan dari terjerumusnya dalam fitnah. Oleh karenanya banyak ditemui dari generasi muda dan para da’i yang menyimpang dan tersesat karena sebab tidak memperhatikan mengikuti kaedah ini.

Seorang Salafy harus menjauh dari Ahlul bid’ah yang sesat, ini sudah sangat gamblang. Akan tetapi permasalahannya adalah apabila ia tidak menjauh dari orang-orang yang menampakkan perkara-perkara yang rancu membingungkan, tidak pula ia menjauh dari orang-orang yang sudah terkena tahdzir dari sisi ‘ulama, meskipun sekilas ia menampilkan as-Sunnah. Namun para ‘ulama sedang membantahnya, menuntutnya untur rujuk dari kebathilan, dan para ‘ulama juga tengah menjelaskan kesalahan-kesalahan dan ketergelincirannya. Maka menyikapi tokoh-tokoh yang seperti itu, yang lebih selamat dan lebih utama bagi seseorang adalah menjauhi tokoh-tokoh seperti mereka itu.

Sebagaimana ungkapan yang dituturkan oleh Ahlul Ilmi : “Pada (hadits) yang shahih itu sudah terdapat kecukupan (tidak butuh lagi) kepada (hadits) yang dha’if”.

Demikian juga yang kita katakan : “Pada para ‘Ulama Salafiyyin, kitab-kitabnya, rekaman-rekamannya itu terdapat kecukupan dan tidak butuh lagi kepada Ahlul Bid’ah serta Ahlul Ahwa’. Tidak butuh pula dengan orang-orang yang sudah terkena Jarh, serta tidak membutuhkan orang-orang yang tidak berprinsip dan tidak punya pendirian (dalam bermanhaj).”

Kita tidak membutuhkan mereka, ini adalah Agama Allah, kita tidak main-main padanya. Setiap orang akan bertanggung jawab atas perkara ini. Hendaknya dia tinggalkan fanatisme terhadap tokoh-tokoh tertentu, tinggalkan fitnah dan segala yang bisa memunculkan fitnah pada dirinya, meskipun dirinya merasa memiliki ilmu yang luas, dan lain sebagainya.

Kaedah ini saling berkaitan erat dengan Kaedah berikutnya.


KAIDAH KEDELAPAN

Hendaknya kita ketahui bersama bahwa:

ORANG-ORANG YANG BERADA DI ATAS AL-HAQ (KEBENARAN) DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA, MAKA  DIRINYA MASUK KATEGORI “KABIR” (ORANG-ORANG BESAR).

SEORANG YANG BERADA DI ATAS SUNNAH DAN BERPEGANG TEGUH DENGANNYA SERTA BERJALAN DI ATAS MANHAJ SALAFY MAKA DIRINYA MASUK  KATEGORI  “KABIR” DENGAN AL-HAQ YANG IA BERJALAN DIATASNYA. SUNGGUH DIA BERADA DI ATAS KEBAIKAN YANG SANGAT  AGUNG ~BIIDZNILLAH TA’ALA~

Adapun barangsiapa yang menyelisihi al-haq, memusuhi, dan tetap bertahan di atas kebatiilannya maka ia “Shagir” (orang kecil/rendahan), meskipun ilmunya banyak.

Sehingga ilmu diambil dari golongan pertama diatas, dan tidak diambil dari golongan kedua. Ilmu diambil dari orang yang berada di atas al-Haq dan tidak diambil dari orang yang menyimpang dari al-Haq.


KAIDAH KESEMBILAN

Ini merupakan kaedah yang penting, aku nasehatkan diriku dan saudara-saudaraku berpegang dengannya :

MASING-MASING ORANG HENDAKNYA INSTROSPEKSI ATAS DIRI PRIBADINYA, BAIK DALAM UCAPAN ATAUPUN PERBUATANNYA.

Terkadang syaithan mendatangi salah seorang di antara kita, kemudian syaithan menjadikan dirinya ikut campur mengomentari berbagai ucapan, sehingga dirinya lancara berbicara tentang beberapa orang ataupun mengomentari saudara-saudaranya karena ingin membalas dalam perkara-perkara yang dilatarbelakangi kepentingan pribadi. Dirinya tampil berbicara seakan-akan sedang memperjuangkan Manhaj Salaf.

Maka hendaknya seseorang berusaha meluruskan niatnya, mengingkat pengawasan Allah ‘azza wa Jalla terhadapnya, tidak boleh mendzhalimi saudaranya, dan dia mengetahui apabila dirinya mau berdusta ataupun menampakkan sesuatu berbeda dengan yang ada dalam dirinya, sungguh Allah pasti mengetahuinya.

Sering kita temui dalam berbagai fitnah yang muncul di tengah-tengah Salafiyyin, mereka beramai-ramai menyerang seseorang, membantahnya, padahal saudara kita ini meskipun memiliki kesalahan-kesalahan, masih memungkinkan untuk dinasehati dengan hikmah dan lemah lembut. Dirinya masih bisa diluruskan dengan etika yang baik tanpa harus disikapi dengan keras, ataupun dicela yang justru akan mengakibatkan dirinya keluar dari lingkaran Salafiyyah.

Demikian cara kita bermuamalah dalam perkara fitnah yang menyebabkan sebagian salafiyyin terjatuh didalamnya. Demikian pula cara kita bermuamalah bersama sebagian Salafiyyin yang menampakkan ketulusan mencari al-Haq. [7]

Adapun jika yang kita hadapi adalah orang-orang yang menampakkan permusuhan, bertahan di atas kebatilan, enggan menyambut al-Haq, ini adalah ciri-ciri orang yang menyimpang dan menjauh dari al-Haq seperti ‘Ali al-Halaby dan para pengikutnya. [8]


KAIDAH KESEPULUH

Diantara prinsip penting dalam permasalahan ini:

ILMU, ILMU

Banyak kita dapatkan di tengah-tengah Salafiyyin, seorang salafy akan tetapi tidak menghadapkan dirinya mencari ilmu, dirinya tidak mau mempelajari Ilmu. Enggan membaca bimbingan ilmu dari para Ulama Kibar, tidak mendengarkan rekaman-rekaman Ulama. Ilmu, sungguh kita sangat amat membutuhkannya. Dengan sebab ilmu –biidznillah- akan membuahkan Rasa Takut kepada Allah. Dengan ilmu kita bisa mengenali mana yang Haq dan mana yang batil beserta perinciannya. Dengan ilmu engkau mengetahui bagaimana beribadah kepada Allah. Dengan Ilmu engkau bisa tahu bagaimana menyikapi berbagai kejadian dan permasalahan yang terjadi.

Banyak permasalahan yang timbul di tengah-tengah Salafiyyin, asal muasal kemunculannya disebabkan kejahilan dari Ilmu Syar’i, ataupun mengikuti hawa nafsu, dan berbangga dengan hasil pemikiran pribadi.

Sebagaimana disebutkan dalam Hadits dari shahabat Anas bin Malik, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ : هَوَى مُتَّبَعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ المَرْءِ بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan:  Hawa Nafsu yang dituruti, rakus yang ditaati, dan kebanggaan terhadap diri pribadi”.

Seandainya engkau katakan kepadanya kalimat berupa nasehat, dia tidak mau mendengarkan. Bahkan dia justru mengatakan kepadamu : “Ah tidak begitu, tapi menurut saya pribadi justru begini…”, “Kamu itu siapa, sok bisa ikut berpendapat”,

Apa kamu punya ilmu untuk bisa menjaga dirimu sendiri dari segala jenis ketergelinciran dan penyimpangan?. Tidak akan kita dapatkan (orang yang memiliki salah satu sifat dari tiga sifat diatas yang mau menerima nasehat,pent) Kecuali orang yang Allah rahmati.

Maka Ilmu berada pada posisi penting dalam Manhaj Salafy. Baik Ilmu terkait dengan bantahan (terhadap kebatilan dan ahlul batil), Ilmu dalam pembahasan Tauhid dan Fiqih atau ilmu lainnya yang menyangkut dengan peribadatan yang diamalkan oleh seorang muslim kepada Rabbnya setiap hari.


KAIDAH KESEBELAS

Aku tutup pembicaraanku, meskipun sebenarnya masih banyak sekali yang harus disampaikan. Aku tutup dengan kaidah yang terakhir, meskipun yang lebih layak justru diletakkan sebagai kaidah yang pertama. Akan tetapi karena kita semua sudah mengetahuinya…

yaitu:

IKHLAS KEPADA ALLAH

menghadapkan wajah hanya kepada-Nya dengan kita memanjatkan do’a agar dijauhkan dari berbagai fitnah, dan semoga Allah menunjukkan kita ke jalan yang lurus, melimpahkan taufiq kepada kita di atas al-Haq, menjauhkan diri kita dari segala bentuk perselisihan. Kita harus memohon kepada Allah pada perkara-perkara seperti ini, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memohon perlindungan kepada Allah dari sifat nifaq dan penyimpangan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam selalu memohon ketegaran.

Beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits :

اِهْدِنِي لِمَا اخُتُلِفَ فِيهِ مِنَ الحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

“Berikanlah petunjuk kepadaku kepada al-Haq tentang apa yang mereka perselisihkan -dengan izinmu-, sesungguhnya Engkau Ya Allah memberikan petunjuk kepada siapapun yang Engkau kehendaki”.

Jikalau kita perhatikan sebagian Salafiyyin, kita dapati sebagian mereka tidak menghadapkan wajah kepada Allah untuk meminta permohonan agar diselamatkan dari berbagai fitnah. Bahkan dia merangsek maju dengan berangan-angan untuk bisa merubah keadaan, mengerjakan ini dan itu, membantah…, jangan demikian, jangan.

Permasalahannya bukanlah sekedar angan-angan. Jangan kalian berangan-angan untuk bisa bertemu musuh. Fitnah adalah musuh kita. Seseorang janganlah berangan-angan untuk bisa bertemu dengan musuh. Akan tetapi bila ternyata dia bertemu musuh, maka hendaknya dia tegar dan kokoh di atas al-Haq dengan cara senantiasa bersama Ulama Kibar dan menjauh dari fitnah serta tidak ikut menceburkan diri padanya, sebagiamana telah lalu penjelasannya.

Namun apabila dia berangan-angan maka ini sikap dan tindakan yang buruk. Tidak memohon kepada Allah agar dikokohkan di atas al-haq, tidak meminta kepada Allah agar menjadikan dirinya termasuk orang-orang yang mengamalkan al-haq, yang jauh dan menjauhkan dari kebatilan. Tidaklah diragukan lagi bahwa sikap seperti ini merupakan celaan.

Wajib atas salafiyyin semuanya, agar menghadapkan wajah-Nya kepada Allah, memohon agar diberikan petunjuk di atas al-Haq dan kokoh di atas kebenaran.

Aku memohon kepada Allah agar memberikan manfaat kepada diri saya pribadi dan kalian semua dengan apa yang telah kita ucapkan dan dan kita dengarkan. Semoga Allah jadikan rangkaian kata ini sebagai hujjah pembela kita di hadapan Allah dan bukan menjadi penghujat atas diri-diri kita semua.

وصلى الله وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

Diterjemahkan oleh
Al-Ustadz Hamzah Lafirlaz.

Suntingan dan catatan kaki oleh
Admin Dammajhabibah•Net

[1] Seperti Abul Hasan dan ‘Ali Hasan al-Halabi yang masih dibela oleh sebagian pihak dari kalangan ‘ulama.

[2] Sebagaimana asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Ahmad an-Najmi, asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri, dan para ‘ulama sunnah lainnya, yang sangat mengerti seluk beluk penyimpangan Ihya’ut  Turats, ‘Abdurrahman ‘Abdul Khaliq, Abu Ishaq  al-Huwaini, al-Maghrawi, Abul Hasan al-Ma’ribi, ‘Ali Hasan al-Halabi, dan yang lainnya.

[3] Sehingga pujian para ‘ulama Kibar terhadap asy-Syaikh Rabi’ – baik pujian asy-Syaikh Bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, dan asy-Syaikh al-’Utsaimin, serta para ‘ulama sunnah lainnya – memiliki arti dan kedudukan yang penting. Bukan seperti yang diucapkan oleh para Halabiyyun, bahwa pujian para ‘ulama terhadap asy-Syaikh Rabi’ tersebut adalah pujian-pujian yang sudah lama. Atau pujian tersebut sifatnya global.

Ada pula cara mereka mementahkan berbagai rekomendasi dan dukungan para ‘ulama kibar terhadap manhaj asy-Syaikh Rabi dan bantahan-bantahan beliau terhadap ahlul bid’ah, yaitu dengan mengatakan bahwa pujian-pujian tersebut tidak menjadikan asy-Syaikh Rabi’ ma’shum.

Subhanallah, inilah bualan-bualan mereka dalam rangka menafikan berbagai dukungan para ‘ulama terhadap asy-Syaikh Rabi’ dan manhaj beliau dalam membantah dan mentahdzir ahlul bid’ah. Dengan itu, para Halabiyun ingin mengesankan kepada umat, bahwa manhaj asy-Syaikh Rabi’ tidak didukung oleh para ‘ulama Kibar.

[4] Mengingatkan kita pada surat-surat asy-Syaikh Bin Baz kepada asy-Syaikh Rabi’ yang meminta kepada beliau membantah kebatilan ahlul batil. Juga pengakuan asy-Syaikh al-’Utsaimin ketika beliau ditanya tentang kesesatan Sayyid Quthb, beliau mengarahkan si penanya untuk merujuk beberapa kitab ‘ulama tentang hal itu, di antaranya karya asy-Syaikh Rabi’. Sebagaimana dalam jawaban beliau berikut ini,

“Penelitianku terhadap karya-karya tulis Sayyid Quthb sedikit, dan aku tidak tahu tentang kondisi orang ini, namun para ‘ulama telah menulis tentang sesuatu yang berhubungan dengan karyanya di bidang tafsir “Fii Zhilal al-Qur’an” dan mereka telah menulis berbagai catatan (kritikan) terhadap kitabnya di bidang tafsir tersebut, seperti yang ditulis oleh asy-Syaikh ‘Abdullah ad-Duwaisy rahimahullah, dan saudara kami asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali telah menulis berbagai catatan (kritikan) terhadap kitabnya di bidang tafsir dan yang lainnya, barangsiapa yang ingin merujuknya maka silakan merujuknya.”

Tentunya hal ini menunjukkan ketsiqahan (kepercayaan) beliau terhadap ilmu, aqidah,manhaj dan akhlaq asy-Syaikh Rabi’.

[5] Demikianlah, yang dilakukan oleh sebagai tokoh menyimpang/ahlul bid’ah, tatkala ‘ulama sunnah tampil membongkar kedok-kedok dan membantah syubhat-syubhat mereka, sehingga tampak jelas berbagai kebatilan mereka di hadapan umat. Maka mereka datang kepada ‘ulama lainnya, yang belum mengetahui kondisi mereka sebenarnya. Menampakkan sunnah, dan mengesankan bahwa dirinya selama ini terzhalimi, dan bahwa segala tuduhan terhadapnya adalah tidak benar.

[6] Artinya kita berbicara sebagaimana para ‘ulama kibar telah menyimpulkan dan jangan melancanginya. Misalnya ketika terjadi Fitnah Hajuriyah atau Fitnah Halabiyyah janganlah lancang ikut-ikutan berbicara dan menilai dengan pendapat masing-masing. Namun lihat dan dengarlah bagaimana bimbingan ‘ulama kibar dalam masalah ini. Ketika para ‘ulama kibar telah memberikan penilaian dan tahdzir dari bahaya Fitnah Hajuriyah dan Fitnah Halabiyyah tersebut, maka ikuti dan pegang erat nasehat tersebut. Sampaikanlah kepada umat fatwa dan nasehat para ‘ulama kibar tersebut.

Ada sebagian pihak, yang mengatakan bahwa dirinya tidak mau turut campur dalam fitnah. Masalah fitnah biarlah para ‘ulama yang berhak berbicara. Namun sayang, dia tidak mau tahu bimbingan, fatwa, dan nasehat para ‘ulama kibar. Ketika disampaikan bahwa ‘ulama kibar telah berfatwa dan mentahdzir dari fitnah tersebut, dia masih mengatakan bahwa dirinya tidak ikut-ikutan fitnah. Tidak pula dia mau menukilkan dan menyampaikan bimbingan dan fatwa ‘ulama kibar kepada umat. Allahul Musta’an. Suatu sikap yang justru membingungkan umat dan menimbulkan fitnah baru.

[7] Yakni misalnya saudara-saudara kitab Salafiyyin Ahlus Sunnah, yang menginginkan kebenaran dan kebaikan, tapi tanpa dia sadari terseret kepada bid’ah-bid’ah halabiyyin. Masih menaruh respek terhadap ‘Ali al-Halabi karena kitab-kitabnya yang banyak. Atau masih kagum dengan penulis Madarikun Nazhar. Namun saudara-saudara kita Salafiyin tersebut adalah orang-orang yang sangat bisa menerima nasehat. Apabila dijelaskan siapa ‘Ali al-Halabi dan tokoh semisalnya, dia akan mudah menerima.

[8] Para pengikut fanatik ‘Ali al-Halabi, di antaranya berkumpul di situs Kulassalafiyeen.

Konsekuensi Saling Cinta Karena Allah

Konsekuensi Saling Cinta Karena Allah

Faidah Ilmiyah dari Asy-Syaikh Al-Albani ~rahimahullah~

Penanya: “Seseorang yang mencintai saudaranya karena Allah, apakah dia wajib menyatakan, Aku mencintaimu karena Allah?”

Syaikh: Benar, akan tetapi cinta karena Allah itu memiliki Nilai Tukar yang tinggi, sedikit orang yang bisa membayarnya. Apakah kalian tahu apakah Nilai Tukar untuk rasa cinta karena Allah? Apakah ada diantara kalian yang mengetahui Bentuk Nilai Harganya? Barangsiapa yang mengetahui hendaknya memberikan jawaban…

Salah seorang hadirin: “Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ mengatakan, “Ada tujuh golongan manusia yang mendapatkan naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali hanya naungan-Nya…diantara mereka adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah. Keduanya berjumpa karena Allah, berpisah juga karena Allah.”

Syaikh: “Ini merupakan suatu pernyataan yang benar didalam makna yang terkandung didalamnya. Akan tetapi bukanlah merupakan jawaban untuk pertanyaan yang disodorkan. Ini lebih mendekati definisi dari cinta karena Allah, meskipun tidak dalam makna yang sempurna.

Adapun pertanyaan yang saya sodorkan adalah, Apakah Nilai Tukar yang harus dibayarkan sebagai harga dari dua orang yang saling mencintai karena Allah? Yaitu yang harus keduanya saling membayarkan sebagai nilai tukar? Maksud saya bukanlah ganjaran yang akan didapatkan di akherat.

Saya ingin mengatakan dalam pertanyaan saya, Apakah bukti perbuatan nyata yang harus ditunjukkan oleh dua orang yang saling mencintai karena Allah sebagai konsekwensi?

Karena bisa jadi ada dua orang yang telah mengikrarkan diantara keduanya saling mencintai. Realita menunjukkan bahwa cintanya hanya sesaat karena sebab tertentu. Terus apa hakekat saling mencinta karena Allah? Bagaimana pembuktian konsekuensinya?

Salah seorang hadirin: “Hendaknya dia mencintai apa yang ada pada saudaranya sebagaimana dia mencintai apa yang ada pada dirinya.”

Syaikh: “Ini merupakan sifat cinta atau diantara sebagian sifat cinta.”

Salah seorang hadirin: “Katakanlah, jika kalian mencintai Allah maka ikutilah diriku, pasti Allah akan mencintai kalian (Ali Imran:31).

Syaikh: “Ini jawaban yang benar tapi untuk pertanyaan yang lainnya.”

Salah seorang hadirin: “Jawaban bisa jadi terletak didalam sebuah hadits yang shahih berikut: “Ada tiga perkara, barangsiapa didapatkan pada diri seseorang maka dia akan dapatkan manisnya Iman…Salah satunya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah.”

Syaikh: “Ini merupakan pengaruh dari rasa cinta karena Allah, yaitu dia merasakan rasa manis didalam hatinya.

Salah seorang hadirin: Allah Ta’ala berfirman, “Demi masa.Sungguh manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, dan mereka saling mewasiatkan diatas Al-Haq serta saling mewasiatkan diatas Kesabaran.”

Syaikh: “Bagus sekali, ini dia jawaban yang paling tepat. Penjelasannya adalah, jikalau misalnya saya mencintai dirimu karena Allah, maka sebagai konsekuensi saya harus berusaha menjaga nasehat. Demikian pula dirimu juga harus membalas dengan balasan yang semisal.

Amat sedikit orang yang mengikrarkan saling mencinta karena Allah kemudian bisa menjaga cinta tersebut dengan saling bernasehat.

Rasa cinta ini terselip didalamnya keikhlasan tapi lemah tidak dengan sempurna. Dalam bentuk, masing-masing diantara keduanya berusaha menjaga perasaan saudaranya, khawatir kecewa, khawatir menjauh, dan kekhawatiran lainnya.

Dari sisi inilah Cinta karena Allah memiliki nilai tukar yang tinggi. Yaitu masing-masing orang yang saling mencintai untuk selalu menjaga diri dengan cara saling menasehati.

Dia perintahkan untuk mengerjakan yang Ma’ruf dan mencegah dari yang munkar secara berkesinambungan tanpa henti. Maka nasehat dari dirinya ini menjadi naungan, sehingga benar apa yang selalu ada di tengah para sahabat, ketika terjadi perselisihan diantara mereka, maka masing-masing saling mengingatkan dengan membacakan “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih, serta saling mewasiatkan diatas Al-Haq dan saling mewasiatkan diatas kesabaran.”

Referensi: Al-Hawiy Min Fatawa Al-Albany Hal 165-166.

〰〰〰〰〰〰〰
ﺳﺎﺋﻞ: ﺍﻟﺬﻱ ﻳﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﺠﺐ
ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ ﻟﻪ ﺃﺣﺒﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ؟

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻧﻌﻢ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﻟﻪ ﺛﻤﻦ ﺑﺎﻫﻆ ، ﻗَـﻞّ ﻣﻦ ﻳﺪﻓﻌﻪ،
ﺃﺗﺪﺭﻭﻥ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺛﻤﻦ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ؟ ﻫﻞ ﺃﺣﺪ ﻣﻨﻜﻢ ﻳﻌﺮﻑ
ﺍﻟﺜﻤﻦ ؟ ﻣﻦ ﻳﻌﺮﻑ ﻳﻌﻄﻴﻨﺎ
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ …

ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ: ﻳﻘﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ
ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﺳﺒﻌﺔ
ﻳﻈﻠﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻇﻠﻪ ﻳﻮﻡ ﻻ ﻇﻞ ﺇﻻ
ﻇﻠﻪ ” ، … ﻣﻨﻬﻢ ﺭﺟﻼ ﺗﺤﺎﺑﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﺍﺟﺘﻤﻌﺎ ﻋﻠﻰ ﺫﻟﻚ ﻭﺍﻓﺘﺮﻗﺎ
ﻋﻠﻯﺬﻟﻚ.

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻫﺬ ﻛﻼﻡ ﺻﺤﻴﺢ ﻓﻲ
ﻧﻔﺴﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻟﻴﺲ ﺟﻮﺍﺑﺎً ﻟﻠﺴﺆﺍﻝ ،
ﻫﺬﺍ ﺗﻌﺮﻳﻒ ﻟﻠﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻘﺮﻳﺒﺎً
ﻭﻟﻴﺲ ﺑﺘﻌﺮﻳﻒ ﻛﺎﻣﻞ ، ﺃﻧﺎ ﺳﺆﺍﻟﻲ
ﻣﺎ ﺍﻟﺜﻤﻦ ﺍﻟﺬﻱ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﺪﻓﻌﻪ
ﺍﻟﻤﺘﺤﺎﺑﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻟﻶﺧﺮ ،
ﻭﻻ ﺃﻋﻨﻲ ﺍﻷﺟﺮ ﺍﻷﺧﺮﻭﻱ،
ﺃﺭﻳﺪ ﺃﻥ ﺃﻗﻮﻝ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻣﺎ ﻫﻮ
ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ ﺍﻟﻌﻤﻠﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﺑﻴﻦ ﺍﺛﻨﻴﻦ ﻣﺘﺤﺎﺑﻴﻦ ؟ ﻓﻘﺪ ﻳﻜﻮﻥ
ﺭﺟﻼﻥ ﻣﺘﺤﺎﺑﺎﻥ ، ﻭﻟﻜﻦ ﺗﺤﺎﺑﺒﻬﻤﺎ
ﺷﻜﻠﻲ ، ﻭﻣﺎ ﻫﻮ ﺣﻘﻴﻘﻲ ﻓﻤﺎ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺤﺐ ﺍﻟﺤﻘﻴﻘﻲ؟

ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ: ” ﺃﻥ ﻳﺤﺐ ﻷﺧﻴﻪ
ﻣﺎ ﻳﺤﺒﻪ ﻟﻨﻔﺴﻪ .”

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻫﺬﺍ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﺤﺐ ﺃﻭ ﺑﻌﺾ
ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺤﺐ …

ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ: ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ )) ﻗﻞ ﺇﻥ
ﻛﻨﺘﻢ ﺗﺤﺒﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺎﺗﺒﻌﻮﻧﻲ
ﻳﺤﺒﺒﻜﻢ ﺍﻟﻠﻪ ” ] ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ .[31

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻫﺬﺍ ﺟﻮﺍﺏ ﺻﺤﻴﺢ ﻟﺴﺆﺍﻝ
ﺁﺧﺮ ..

ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ: ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻗﺪ ﻳﻜﻮﻥ
ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ” ﺛﻼﺙ ﻣﻦ
ﻛﻦ ﻓﻴﻪ ﻭﺟﺪ ﻓﻲ ﺣﻼﻭﺓ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ
” …. ﻣﻦ ﺿﻤﻨﻪ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺗﺤﺎﺑﺎ ﻓﻲ
ﺍﻟﻠﻪ .

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﻫﺬﺍ ﺃﺛﺮ ﺍﻟﻤﺤﺒﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ،
ﻣﺎ ﻫﻮ ، ﺣﻼﻭﺓ ﻳﺠﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﻗﻠﺒﻪ.
ﺃﺣﺪ ﺍﻟﺤﻀﻮﺭ: ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﻟﻰ:
)) ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ
ﺇﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺀﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ
ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ .((

ﺍﻟﺸﻴﺦ: ﺃﺣﺴﻨﺖ ، ﻫﺬﺍ ﻫﻮ
ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ، ﻭﺷﺮﺡ ﻫﺬﺍ ﺇﺫﺍ ﻛﻨﺖُ ﺃﻧﺎ
ﺃﺣﺒﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﻌﻼً ﺗﺎﺑﻌﺘﻚ
ﺑﺎﻟﻨﺼﻴﺤﺔ، ﻛﺬﻟﻚ ﺃﻧﺖ ﺗﻘﺎﺑﻠﻨﻲ
ﺑﺎﻟﻤﺜﻞ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﻓﻬﺬﻩ ﺍﻟﻤﺘﺎﺑﻌﺔ ﻓﻲ
ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻗﻠﻴﻠﺔ ﺟﺪﺍً ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻤﺪﻋﻴﻦ
ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ ، ﺍﻟﺤﺐ ﻫﺬﺍ ﻗﺪ
ﻳﻜﻮﻥ ﻓﻴﻪ ﺷﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻹﺧﻼﺹ ،
ﻭﻟﻜﻦ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻛﺎﻣﻞ ،ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻥ ﻛﻞ
ﻭﺍﺣﺪ ﻣﻨﺎ ﻳﺮﺍﻋﻲ ﺍﻵﺧﺮ ، ﺑﻴﺨﺎﻑ
ﻳﺰﻋﻞ ، ﺑﻴﺨﺎﻑ ﻳﺸﺮﺩ ….ﺇﻟﻰ
ﺁﺧﺮﻩ ، ﻭﻣﻦ ﻫﻨﺎ ﺍﻟﺤﺐ ﻓﻲ ﺍﻟﻠﻪ
ﺛﻤﻨﻪ ﺃﻥ ﻳﺨﻠﺺ ﻛﻞ ﻣﻨﺎ ﻟﻶﺧﺮ
ﻭﺫﻟﻚ ﺑﺎﻟﻤﻨﺎﺻﺤﺔ ، ﻳﺄﻣﺮﻩ
ﺑﺎﻟﻤﻌﺮﻭﻑ ﻭﻳﻨﻬﺎﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻨﻜﺮ ﺩﺍﺋﻤﺎً
ﻭﺃﺑﺪﺍً ﻓﻬﻮ ﻟﻪ ﻓﻲ ﻧﺼﺤﻪ ﺃﺗﺒﻊ ﻟﻪ
ﻣﻦ ﻇﻠﻪ ، ﻭﻟﺬﻟﻚ ﺻﺢ ﺃﻧﻪ ﻛﺎﻥ ﻣﻦ
ﺩﺃﺏ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺣﻴﻨﻤﺎ ﻳﺘﻔﺮﻗﻮﻥ ﺃﻥ
ﻳﻘﺮﺃ ﺃﺣﺪﻫﻤﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻵﺧﺮ )) ﻭﺍﻟﻌﺼﺮ
ﺇﻥ ﺍﻹﻧﺴﺎﻥ ﻟﻔﻲ ﺧﺴﺮ ﺇﻻ ﺍﻟﺬﻳﻦ
ﺀﺍﻣﻨﻮﺍ ﻭﻋﻤﻠﻮﺍ ﺍﻟﺼﺎﻟﺤﺎﺕ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮ
ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺗﻮﺍﺻﻮﺍ ﺑﺎﻟﺼﺒﺮ .((

ﺍﻟﻤﺼﺪﺭ: ﺍﻟﺤﺎﻭﻱ ﻣﻦ ﻓﺘﺎﻭﻯ
ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ . ﺹ) 166-165 (
〰〰〰〰〰〰〰

Faidah dari Al-Ustadz Hamzah Rifai La Firlaz ~hafidzahullaah~

# Forward dari WhatsApp Salafy Indonesia #


Bolehkah Mengambil Ilmu Dari Orang Yang Mengajarkan Kitab Akidah Salafiyah Tetapi Membela & Melindungi Orang Yang Menyimpang?

Bolehkah Mengambil Ilmu Dari Orang Yang Mengajarkan Kitab Akidah Salafiyah Tetapi Membela & Melindungi Orang Yang Menyimpang?

Oleh Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly ~hafidzahullaah~

PERTANYAAN:

Orang yang mengajarkan kitab-kitab akidah Salafiyah kemudian dia tidak meletakkan wala’ dan bara’ di atasnya, bahkan dia memuji tokoh-tokoh yang menyimpang, terkhusus dedengkot orang-orang yang menyimpang dari kelompok-kelompok di masa ini, membela dan melindungi mereka, serta mencela siapa saja yang membantah mereka, menjelaskan kesalahan-kesalahan mereka serta memperingatkan bahaya kitab-kitab mereka dan bahaya mendengar kaset-kaset mereka. Apakah orang yang seperti ini dia adalah seorang salafy dan bolehkah mengambil ilmunya seta menghadiri durusnya ataukah tidak?

JAWAB:

Wahai penanya ~semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan anda~, sesungguhnya apa yang Anda sebutkan dari kelakuan pengajar kitab-kitab akidah Salafiyah yang shahih, kemudian dia berpaling dari menerapkan apa yang telah dia pelajari dan yang dia ajarkan kepada para pemuda, bahkan dia menghancurkan semua itu dengan tidak menerapkan sikap wala’ dan bara’ karena Allah, cinta dan benci karena Allah, sungguh kelakuannya benar-benar sikap yang menimbulkan kecurigaan dan sikapnya merupakan sikap yang aneh yang bisa mendatangkan kemurkaan Allah yang Maha Dekat dan Mengabulkan doa.

Yang lebih parah dari itu adalah sikapnya yang nampak dan terang-terangan memuji kezhaliman dan orang-orang yang zhalim serta bid’ah dan ahli bid’ah tanpa rasa takut kepada Allah, juga tanpa rasa malu terhadap para pembawa ilmu yang mereka mempelajari ilmu untuk mereka amalkan dan mereka ajarkan kepada orang lain dalam rangka mengharapkan keridhaan Allah dan menampakkan prinsip “cinta dan benci semata-mata karena Allah” serta “loyalitas dan bermusuhan semata-mata karena Allah” yang mana ini merupakan tali ikatan iman yang paling kuat dan dengannya akan diraih kewalian di sisi Allah.

Di samping memuji orang-orang yang zhalim serta ridha terhadap berbagai kesesatan mereka, dia juga memuji ahlul haqq para pembawa Al-Kitab dan As-Sunnah yang membela keduanya dari kejahatan orang-orang yang sesat dari para pembawa kerusakan di muka bumi yang menyebarkannya dan membela orang-orangnya. Maka celaka baginya dan bagi mereka akibat kelakuan mereka itu, dan celaka bagi mereka akibat pembelaan mereka terhadap kebathilan dan para pengusung kebathilan, jika mereka tidak kembali kepada kebenaran yang nyata dan terus-menerus tenggelam dalam kejahatan dengan menjadi musuh bagi Ahlus Sunnah yang akan terus membantah ahlul ahwa’ wal bida’, celaka baginya karena membela para penyeru kesesatan serta menyebarkan berbagai penyimpangan mereka serta menegaskan permusuhan terhadap ahlul haqq dengan cara memperingatkan agar tidak membaca kitab-kitab mereka dan tidak mendengarkan kaset-kaset mereka, walaupun dia mengaku bahwa dia adalah seorang salafy.

Yang benar dia bukanlah seorang salafy, dan tidak boleh memberinya kesempatan untuk mengajarkan akidah, bahkan wajib untuk menghentikannya dari mengajar dan melarangnya karena sikapnya yang terang-terangan membela kebathilan dan membenci al-haqq dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya tanpa peduli. Yang lebih baik baginya dan bagi siapa saja yang menempuh jalannya adalah dengan mereka kembali kepada kebenaran lalu hidup di bawah naungannya yang sejuk dan rindang, dan hendaknya mereka meninggalkan kebathilan yang hanya akan menyeret pelakunya ke Jahannam yang merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.

[Pertanyaan ke 18 dari kitab Al-Ajwibah Al-Atsariyah Alal Masail Al-Manhajiyyah, hal 70-71, terbitan Daar Adhwaus Salaf dan Al-Miirats An-Nabawy cetakan pertama tahun 1433 H]