WHAT'S NEW?
Loading...

[Info Dakwah] Daurah Ilmiyah Bulan Sya’ban 1434H


Dengan mengharapkan ridha Allah, persiapkan

» Diri
» Masa
» Harta

... antum sekalian bagi acara daurah/kajian ilmiyah berikut:


» Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed ~hafidzahullah~

5-6 Sya’ban 1434H / 14-15 Jun 2013M

» Kaidah-kaidah Ahlussunnah wal Jamaah dalam Da’wah dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar

Radio Sreaming: http://www.salafybpp.com


Download rakaman:


340805 :: [Khutbah Jumaat] Kaedah dalam dakwah2.9MB

340805 :: [Sesi 1] Kaidah-kaidah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar10MB

340805 :: [Sesi 2] Kaidah-kaidah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar10MB

340806 :: [Sesi 3] Kaidah-kaidah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar9.6MB

340806 :: [Sesi 4] Kaidah-kaidah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar8.6MB

340806 :: [Sesi 5] Kaidah-kaidah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar14.4MB
Sumber : darulilmi



» Al-Ustadz Adnan Abdul Majid ~hafidzahullah~

6 Sya’ban 1434H / 15 Jun 2013M

» Mendulang Mutiara dalam Firman Allah - Surah Al-Waqi‘ah
» Sejuk Kala Kupanjatkan Do‘a

Radio Sreaming: http://www.adhwaus-salaf.or.id


Download rakaman:


ayo-mengaji/ustadz-irfan-zaadul-mustaqni-kitab-fiqih
Sumber : Ayo Mengaji



» Al-Ustadz Muhammad Afifuddin As-Sidawy ~hafidzahullah~

7 Sya’ban 1434H / 16 Jun 2013M

» Mewaspadai Fenomena Ashobiyyah Hizbiyyah

Radio Sreaming: http://www.bismillah.us


Download rakaman:


340807 :: [Sesi 1] Mewaspadai Fenomena Ashobiyah dan Hizbiyyah

340807 :: [Sesi 2] Tanya Jawab
Sumber : bismillah.us



» Al-Ustadz Qomar Suaidi ~hafidzahullah~

7 Sya’ban 1434H / 16 Jun 2013M

» Prinsip-prinsip Ahlussunnah yang Dilanggar Ahli Fitnah

Radio Sreaming: -/-


Download rakaman:


340807 :: [Sesi 1] Prinsip-prinsip Ahlussunnah yang Dilanggar Ahli Fitnah

340807 :: [Sesi 2] Prinsip-prinsip Ahlussunnah yang Dilanggar Ahli Fitnah
Sumber : ilmoe.com



» Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf ~hafidzahullah~

14 Sya’ban 1434H / 23 Jun 2013M

» Indahnya Indonesia Tanpa Terorisme

Radio Sreaming: -/-


Download rakaman:


-/-

-/-
Sumber : -/-




» Al-Ustadz Abdurrahman Lombok ~hafidzahullah~

12-14 Sya’ban 1434H / 21-23 Jun 2013M

» Waspadalah terhadap Tipu Daya Syaithan
» Kembali kepada Fitrah

Radio Sreaming: -/-


Download rakaman:


-/-

-/-
Sumber : -/-



» Al-Ustadz Luqman Ba‘abduh ~hafidzahullah~

20 Sya’ban 1434H / 29 Jun 2013M

» Menjadi Salafy Sejati

Radio Sreaming: -/-


Download rakaman:


340820 :: [Sesi 1] Menjadi Salafy Sejati

340820 :: [Sesi 2] Menjadi Salafy Sejati dan Tanya Jawab
Sumber : -/-



» Al-Ustadz Luqman Ba‘abduh ~hafidzahullah~

21 Sya’ban 1434H / 30 Jun 2013M

» Indahnya Hidup dengan Akhlaq Mulia

Radio Sreaming: -/-

Download rakaman:


340821 :: [Sesi 1] Indahnya Hidup dengan Akhlak Mulia

340821 :: [Sesi 2] Indahnya Hidup dengan Akhlak Mulia
Sumber : Tasjilat Al Hikmah



» Al-Ustadz Usamah Mahri ~hafidzahullah~

21 Sya’ban 1434H / 30 Jun 2013M

» Hukum-Hukum Seputar Puasa Ramadhan

Radio Sreaming: -/-

Download rakaman:


340821 :: [Sesi 1A] Hukum-hukum Seputar Puasa

340821 :: [Sesi 1B] Hukum-hukum Seputar Puasa

340821 :: [Sesi 2] Hukum-hukum Seputar Puasa
Sumber : Tasjilat Al Hikmah



» Al-Ustadz Abdurrahman Lombok ~hafidzahullah~

17-21 Sya’ban 1434H / 26-30 Jun 2013M

» Penyakit Hati dan Penawarnya

Radio Sreaming: -/-


Download rakaman:


340818 :: Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian Singapura - Ba’da Isyak

340819 :: Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian KL Ba’da Maghrib

340820 :: [Sesi 1] Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian KL Pagi

340820 :: [Sesi 2] Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian KL Ba'da Zohor

340820 :: [Sesi 3] Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian KL Ba'da Asar

340821 :: [Sesi 1] Penyakit Hati dan Penawarnya - Kajian KL Pagi

340821 :: [Sesi 2] Penyakit Hati dan Penawarnya & Tanya Jawab - Kajian KL Pagi

340821 :: [Sesi 3] Kajian Muslimah - Kajian KL Ba’da Asar


Jadi, marilah sama-sama kita merebut peluang keemasan ini untuk meraih ilmu syar'i pada aturcara daurah kali ini. Biiznillaah.

Baarakallahu fiikum.

[Info Dakwah] Daurah Ilmiah bersama Al-Ustadz Abdurrahman bin Rawiyah – Sya’ban 1434H

Insya Allah akan berlangsung acara dawroh bersama Al-Ustadz Abdurrahman bin Rawiyah hafidzahullah pada 17 hingga 21 Sya’ban 1434H bersamaan 26 hingga 30 Jun 2013M.

Dalam aturcara daurah kali ini akan berlangsung pembahasan Kitab:
| Amrodhul Qulub wa Syifa‘uha li Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah
| Download kitab di sini.

Jadi, marilah sama-sama kita merebut peluang keemasan ini untuk meraih ilmu syar'i pada aturcara daurah kali ini.





Pelan lokasi: SURAU NURUL HIDAYAH, Kg. Datok Sulaiman Menteri

View Larger Map

Pelan lokasi: SURAU BUKIT KUCHING, Gelang Patah, Johor

View Larger Map

Pelan lokasi: MASJID AL-QURTUBI

View Larger Map


- - - [via infosalaf.wordpress.com & salafymalaysia.blogspot.com].

Petikan Nasehat dari Ibnul Qoyyim ~Rahimahullah~

Setiap hamba memiliki Rabb yang pasti akan ia temui. Ia juga memiliki suatu tempat tinggal yang kelak pasti akan ia tempati. Maka, hendaknya ia jadikan Rabbnya ridha kepadanya sebelum ia menemui-Nya. Seyogyanya ia makmurkan tempat tinggal itu sebelum ia berpindah dan menempatinya.

Menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian. Karena menyia-nyiakan waktu berarti telah memutusmu dari Allah dan negeri akhirat. Sementara kematian hanya memutusmu dari dunia dan penduduknya.

Dunia semenjak awal hingga akhirnya tidak sebanding dengan kesedihan yang sesaat. Lalu bagaimana kiranya dengan kesedihan yang kekal selama-lamanya.

Apa saja yang kita cintai dari dunia ini, kelak akan berubah menjadi suatu hal yang kita benci. Dan apa yang kita benci dari dunia ini, kelak akan berubah menjadi suatu hal yang kita cintai.

Sebuah keuntungan terbesar di dunia adalah ketika engkau mampu menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang paling bermanfaat untuk jiwamu di hari kemudian.

Bagaimana dikatakan seseorang berakal, sementara ia tukar surga beserta kenikmatan yang ada di dalamnya dengan pelampiasan syahwat sesaat.

Seorang yang arif, ketika ia meninggalkan dunia, ia rasakan dirinya masih saja kurang dalam melakukan dua perkara, menangisi diri sendiri sebab dosa yang dilakukan, dan memuji Allah sebab rahmat-Nya yang begitu luas.

Maka takutlah dari murka-Nya, dan berharaplah terhadap rahmat-Nya. Jika kita takut kepada manusia, kita akan selalu khawatir dan berusaha lari darinya. Akan tetapi, jika kita takut kepada Allah, kita akan merasa tenteram dengan-Nya dan terus berusaha mendekat kepada-Nya. Yaitu, dengan ilmu yang membuahkan keikhlasan dalam beramal shalih dan berbagai ketaatan.

Seandainya ilmu itu dapat bermanfaat dengan tanpa adanya amal, pasti Allah tidak akan mencela Ahlul Kitab yang tidak mengamalkan ilmu mereka. Dan seandainya amal itu bermanfaat dengan tanpa ikhlas, pasti Allah tidak akan mencela kaum munafik yang beramal tanpa keikhlasan.

Bersamaan dengan itu, jauhilah berbagai dosa dan kemaksiatan. Maka lawanlah apa yang terbersit dalam qolbumu; berupa keinginan melakukan perbuatan dosa. Karena kalau tidak, ia akan menjadi syahwat. Lawanlah syahwat tersebut. Karena kalau tidak, ia akan berubah menjadi kebulatan tekad. Lawanlah kebulatan tekad itu, karena kalau tidak, ia akan berubah menjadi tindakan nyata.


[Al-Fawaid hal 33-34, karya Imam Ibnul Qoyyim ~rahimahullah~]

Sumber:
| Majalah Tashfiyah Edisi 23 / 1434H / 2013

Untaian Nasehat Persahabatan

Oleh: Al-Ustadz Abul Hasan Al-Wonogiry


Akhlaq yang mulia (akhlaaqul kariimah)

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar di atas akhlaq dan budi pekerti yang mulia.”

Disebutkan oleh Ibnu Rojab ~rahimahullah~ dalam Jamii’-nya termasuk dari akhlaq yang mulia adalah:

“Budi pekerti yang mulia, sifat bijaksana dalam keputusan, sifat malu, rendah hati, menahan dari mengganggu orang lain dengan ucapan atau perbuatan, memaafkan kesalahan, menahan amarah, berseri di depan teman, bersabar dengan gangguan teman.”

Ditanyakan pada Ibnul Mubaarok ~rahimahullah~: “Ringkaskan untuk kami bagaimanakah akhlaq yag mulia itu?” Maka beliau menjawab: “... tinggalkanlah sifat amarah.”

Berkata Ja’far bin Muhammad ~rahimahullah~: “Kemarahan itu kunci dari segala keburukan.”

Berakhlaq dengan akhlaq yang mulia tidak hanya teruntuk sesama muslim akan tetapi juga kepada semua manusia dan kepada binatang, juga kepada sesama muslim karena mereka adalah saudara kita yang sebenarnya di dunia dan akhirat nanti, kepada orang kafir sebagai bentuk da’wah kepada mereka dan menunjukkan kemuliaan agama Islam pada mereka.

قالوا: يا رسول الله ما خير ما أعطي الإنسان؟ قال: ”الخلق الحسن” [رواه البيهقي في شعب الإيمان]

Ditanyakan kepada beliau: “Ya Rosulullah! Apakah pemberian yang terbaik yang diberikan kepada seseorang?” beliau menjawab: “Akhlaq yang mulia.”

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ”بعثت لأتمم حسن الأخلاق.” [رواه الموطأ]

Beliau juga bersabda: “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”


Memperbaiki dan menutupi kejelekan serta aib saudaranya.

Jangan menghina cacat yang ada pada org lain, jika cacat tersebut terdapat dalam akhlak dan agamanya, bantulah ia untuk mmperbaikinya.

Jika cacatnya pada fisiknya, beradablah kepada Yang telah menciptakannya.

Begitulah seharusnya kita bersikap pada makhluk ciptaan Allah karena dengan begitu kita akan menerima kekurangan saudara kita sebagaimana mereka bisa menerima kekurangan diri kita, di mana tiada makhluk yang sempurna melainkan hanya Dialah yang maha sempurna, adapun kekurangan itu disempurnakan dan ditutupi, bukan dihina dan disebarkan.

Siapakah yang sempurna…?

Tidak akan engkau dapati manusia yang sempurna, di satu sisi sempurna, di sisi yang lain tidak sempurna. Apabila engkau pandang manusia dari segala sisi engkau dapati kesempurnaan, mudah dalam memaafkan setiap kesalahan, mudah dalam bersikap tawadhu’ dan yang lainnya.

Apabila engkau pandang manusia dari satu sisi engkau dapati semuanya akan kurang dan begitu sebaliknya apabila engkau pandang dari sisi yang lain engkau akan dapati semua sempurna sebagaimana ungkapan seorang penyair:

فعين الرضا عن كل عيب كليلة … ولكن عين السخط تبدي المساويا

“Pandangan keridhaan akan menampakkan keburukan sebagai kebaikan …

akan tetapi pandangn kebencian menampakkan semua kejelekan …”

Oleh:
| Al-Ustadz Abul Hasan al-Wonogiry
| Cikarang – Bekasi

Sumber:
| http://almuwahhidiin.com

Jika Engkau Tidak Malu, Berbuatlah Sekehendakmu

Oleh: Al Ustadz Abu Utsman Kharisman

(Syarh Hadits ke-20 Arbain anNawawiyyah)

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بِنْ عَمْرٍو الأَنْصَارِي الْبَدْرِي رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى، إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. [رواه البخاري]

Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara ungkapan yang dikenal manusia dari ucapan kenabian terdahulu ialah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah semaumu.” [HR. al-Bukhari]

Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshory al-Badri, disebut sebagai al-Badri karena beliau tinggal di daerah Badr. Para Ulama’ berbeda pendapat apakah beliau ikut dalam perang Badr atau tidak. Al-Imam alBukhari berpendapat bahwa beliau ikut dalam perang Badr, namun kebanyakan Ulama’ lain tidak berpendapat demikian. Beliau ikut dalam Baiatul ‘Aqobah, perang Uhud, dan perang-perang setelahnya. Meninggal setelah tahun ke-40 Hijriah.


Definisi Malu

Istilah ‘malu’ secara hakiki adalah: suatu akhlak (dalam jiwa) yang membangkitkan sikap menjauhi hal-hal yang buruk dan mencegah dari perbuatan mengurangi hak pihak yang memiliki hak [Syarhun Nawawi ala Shahih Muslim (2/6)].

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa malu adalah:

---» Akhlak/ perangai dalam jiwa/ batin yang membangkitkan suatu sikap.

---» Sikap yang dibangkitkan adalah keengganan untuk:

• Melakukan hal-hal buruk, termasuk yang menodai kehormatan dirinya
• Menyia-nyiakan hak Allah atau hak hamba Allah.

Ini adalah definisi malu secara syar’i. Atas definisi ini, malu seluruhnya adalah baik.

الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu adalah baik seluruhnya.” [HR Muslim no 54]

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” [HR al-Bukhari no 5652 dan Muslim no 53]

Jika ada sikap keengganan untuk melakukan hal-hal yang baik atau justru melalaikan kewajiban, maka itu bukanlah malu secara istilah syar’i. Hal itu disebut malu karena kemiripan keadaan dan perasaan, yaitu sama-sama enggan untuk melakukan sesuatu. Keengganan yang bukan karena sifat malas, namun sungkan dan merasa tidak enak dalam dirinya.

Orang yang enggan untuk menjalankan kewajiban atau kebaikan semacam itu, bukanlah akhlak yang terpuji, justru akhlak tercela, yang menunjukkan kelemahan, ketidakberanian dan ketidakberdayaannya.

Contoh: sungkan untuk beramar ma’ruf nahi munkar, sungkan untuk sholat berjamaah di masjid padahal dia laki-laki, sungkan untuk menuntut ilmu agama, sungkan untuk menutup auratnya, semua itu dengan alasan malu. Ini semua tidak pada tempatnya, dan keliru dalam memahami makna ‘malu’ yang dianjurkan dalam hadits.

Nabi Muhammad shollallaahu alaihi wasallam adalah orang yang paling pemalu, bahkan lebih pemalu dibandingkan gadis dalam pingitan. Namun beliau adalah orang yang paling pemberani.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنَ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا

“Adalah Nabi shollallaahu alaihi wasallam manusia yang lebih pemalu dibandingkan gadis dalam pingitannya.” [HR alBukhari no 3298 dan Muslim no 4284 dari Abu Said alKhudri]

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَشْجَعَ النَّاسِ وَلَقَدْ فَزِعَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَانْطَلَقَ نَاسٌ قِبَلَ الصَّوْتِ فَتَلَقَّاهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَاجِعًا وَقَدْ سَبَقَهُمْ إِلَى الصَّوْتِ وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ فِي عُنُقِهِ السَّيْفُ وَهُوَ يَقُولُ لَمْ تُرَاعُوا لَمْ تُرَاعُوا

“Adalah Rasulullah shollallahu alaihi wasallam adalah manusia terbaik, manusia paling dermawan, manusia paling pemberani. Pada suatu malam, penduduk Madinah merasa takut karena terdengar suara. Manusia kemudian menuju arah suara. Mereka berpapasan dengan Rasulullah shollallahu alaihi wasallam yang baru kembali dari arah suara, dan beliau telah mendahului mereka (paling awal) menuju ke arah suara. Beliau menunggang kuda Abu Tholhah tanpa membawa lampu penerangan dan di leher beliau tergantung pedang. Beliau bersabda: Jangan takut, jangan takut.” [H.R Muslim no 4266]

Nabi adalah manusia paling pemberani dalam pertempuran, paling pemberani dalam menyampaikan al-haq. Beliau adalah sangat pemalu, sangat menjaga diri untuk tidak melakukan hal-hal tercela dan mendzholimi pihak lain.


Makna Hadits Secara Umum

Dalam hadits ini Nabi menyatakan bahwa sesungguhnya salah satu di antara ajaran-ajaran yang diucapkan para Nabi di masa-masa awal kenabian adalah: Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.

Hadits ini memiliki 2 makna yang saling berkaitan dan tidak bertentangan:

Pertama: Hadits tersebut bermakna ancaman, yaitu: Jika engkau tidak tahu malu, berbuatlah sekehendakmu. Terserah engkau.

Hal tersebut adalah ancaman, bukan anjuran. Ungkapan semacam ini sama dengan ungkapan yang disebut dalam sebagian ayat:

اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ

“…Berbuatlah sekehendak kalian …” [Fushshilat: 40]

Ayat ini tidak bermakna anjuran agar orang berbuat sekehendaknya tanpa memperhatikan aturan. Ayat tersebut justru bermakna ancaman: Silakan berbuat sekehandakmu. Tapi ingat Allah Maha Melihat perbuatanmu, dan akan membalas sesuai perbuatanmu. Jika baik, balasannya baik. Jika buruk balasannya adzab.

Juga seperti dalam ayat:

وَمَنْ شَاءَ فَلْيَكْفُرْ

“Dan barangsiapa yang mau (silakan) dia kufur.” [al-Kahfi: 29]

Ayat tersebut bukan bermakna anjuran kepada seseorang untuk berbuat kekufuran, namun justru ancaman. Seakan-akan dinyatakan: Silakan seseorang berbuat kekufuran, akibatnya adalah demikian dan demikian. Silakan tanggung sendiri akibatnya.

Makna yang kedua: Jika suatu perbuatan tidak mengandung hal-hal yang memalukan, silakan kerjakan. Tidak mengandung hal yang memalukan artinya tidak ada penyia-nyiaan terhadap hak Allah dan hak makhlukNya.

Selama suatu perbuatan tidak mengandung hal itu, kerjakanlah, karena tidak ada masalah dalam hal itu.

Hal ini dikarenakan sebagian manusia enggan mengerjakan kebaikan dengan alasan malu. Maka, seharusnya ia singkirkan segala macam hambatan-hambatan yang menghalanginya untuk berbuat kebaikan, selama dalam hal itu tidak ada penyianyiaan terhadap hak Allah maupun hak hamba Allah. Selama tidak ada unsur maksiat kepada Allah dan tidak ada pendzhaliman terhadap orang lain atau diri sendiri, kerjakanlah.

(Dua makna tersebut tidak dianggap bertentangan oleh Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh)

Ajaran untuk Bersikap Malu Diwariskan dari Para Nabi Terdahulu

Nabi menyatakan bahwa ungkapan : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu, berasal dari ucapan-ucapan para Nabi sejak di masa-masa awal kenabian (Nabi Adam). Hal itu menunjukkan bahwa sikap malu adalah akhlak mulia yang terus diwariskan dari Nabi awal ke Nabi berikutnya, hingga Nabi terakhir. Hal tersebut adalah ajaran dari para Nabi kepada para pengikutnya.


Keutamaan-keutamaan Sikap Malu

Malu adalah tanda keimanan, dan keimanan akan mengantarkan pada surga

وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Dan sikap malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” [HR al-Bukhari no 8 dan Muslim no 50]

الْحَيَاءُ مِنَ الْإِيمَانِ وَالْإِيمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَالْبَذَاءُ مِنَ الْجَفَاءِ وَالْجَفَاءُ فِي النَّارِ

“Malu adalah bagian dari iman, dan iman di surga. Sedangkan berkata kasar adalah termasuk perangai yang kasar, dan perangai yang kasar (tempatnya) di neraka.” [HR atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan al-Albany]

الْحَيَاءُ وَالإِيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

“Sesungguhnya malu dan iman adalah kedua hal yang beriringan. Jika diangkat salah satu, maka terangkat yang lain.” [HR al-Hakim, dishahihkan oleh adz-Dzahaby]


Sikap malu memperindah keadaan

وَلَا كَانَ الْحَيَاءُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ

“Dan tidaklah perasaan malu ada pada sesuatu, kecuali akan memperindahnya.” [HR atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan Ibnu Hibban dan al-Albany]

Malu adalah termasuk Sifat Allah dan sikap tersebut dicintai oleh Allah:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla adalah pemalu lagi tertutup. Ia mencintai sikap malu dan sesuatu yang tertutup. Jika salah seorang dari kalian mandi hendaknya menggunakan penutup.” [HR Abu Dawud, anNasaai, dihasankan oleh as-Suyuthy dan dishahihkan al-Albany]


Malu adalah akhlak Islam

إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [HR Malik, Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al-Albany dalam Silsilah as-Shahihah]

(Faidah tentang keutamaan malu banyak diambil dari Syarh al-Arbain anNawawiyyah karya Sulaiman bin Muhammad alLuhaimid)


Malu Kepada Allah dengan Sebenar-benarnya

Seseorang yang memiliki perasaan malu terhadap Allah, akan menghasilkan perasaan muroqobah (senantiasa diawasi Allah), perbuatan ihsan, dan menjauhi kemaksiatan.

Nabi shollallahu alaihi wasallam memerintahkan kita untuk bersikap malu dengan sebenarnya kepada Allah:

اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ وَلَكِنَّ الْإِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Bersikap malulah kalian kepada Allah. Para Sahabat menyatakan: Wahai Rasulullah, kami telah bersikap malu kepada Allah, Alhamdulillah. Nabi bersabda: Bukan demikian. Tapi sesungguhnya sikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Allah adalah menjaga kepala dan apa yang ada padanya, menjaga perut dan yang dikandungnya, dan mengingat kematian dan akan datangnya kebinasaan, dan barangsiapa yang menginginkan kehidupan akhirat dan meninggalkan perhiasan dunia. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia telah bersikap malu dengan sebenar-benarnya kepada Allah.” [HR at-Tirmidizi, an-Nasaai, dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby]

‘Menjaga kepala dan yang ada padanya’ artinya: menjaga penglihatan (mata), ucapan (lisan), dan pendengaran (telinga). Juga bermakna: menjauhi kesyirikan, yaitu kepala tidak ditundukkan (sujud) kepada selain Allah.

‘Menjaga perut dan yang dikandungnya’ artinya menjaga perut dari makanan dan minuman yang haram, juga menjaga kemaluan dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah.

Sumber:
| http://www.salafy.or.id/jika-engkau-tidak-malu-berbuatlah-sekehendakmu

Lidah Tak Bertulang

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Banyak orang merasa bangga dengan kemampuan lisannya (lidah) yang begitu fasih berbicara. Bahkan tak sedikit orang yang belajar khusus agar memiliki kemampuan bicara yang bagus. Lisan memang karunia Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ yang demikian besar. Ia harus selalu disyukuri dengan sebenar-benarnya. Caranya adalah dengan menggunakan lisan untuk berbicara yang baik atau diam. Bukan dengan mengumbar pembicaraan semau sendiri.

Orang yang banyak bicara bila tidak diimbangi dengan ilmu agama yang baik, akan banyak terjerumus ke dalam kesalahan. Karena itu, Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan Rasul-Nya memerintahkan agar kita lebih banyak diam. Atau kalaupun harus berbicara maka dengan pembicaraan yang baik.

Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.” [al-Ahzab: 70]

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” [HR. al-Imam al-Bukhari hadits no. 6089 dan al-Imam Muslim hadits no. 46 dari Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~]

Lisan (lidah) memang tak bertulang. Sekali kita gerakkan, sulit untuk kembali pada posisi semula. Demikian berbahayanya lisan, hingga Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan Rasul-Nya mengingatkan kita agar berhati-hati dalam menggunakannya.

Dua orang yang berteman penuh keakraban bisa dipisahkan dengan lisan. Seorang bapak dan anak yang saling menyayangi dan menghormati pun bisa dipisahkan karena lisan. Suami-istri yang saling mencintai dan saling menyayangi bisa dipisahkan dengan cepat karena lisan. Bahkan darah seorang muslim dan mukmin yang suci serta bertauhid dapat tertumpah karena lisan. Sungguh betapa besar bahaya lisan.

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ تَعَالَى لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang dibenci oleh Allah yang dia tidak merenungi (akibatnya), maka dia terjatuh dalam neraka Jahannam.” [Sahih, HR al-Bukhari no. 6092]

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila berbicara dengan satu kalimat yang tidak benar (baik atau buruk), hal itu menggelincirkan dia ke dalam neraka yang lebih jauh dari jarak antara timur dan barat.” [Sahih, HR. al-Bukhari no. 6091 dan Muslim no. 6988 dari Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~]

Al-Imam an-Nawawi ~rahimahullah~ mengatakan: “Hadits ini (yakni hadits Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~ yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah) teramat jelas menerangkan bahwa sepantasnya bagi seseorang untuk tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang baik, yaitu pembicaraan yang telah jelas maslahatnya. Ketika dia meragukan maslahatnya, janganlah dia berbicara.” [al-Adzkar hlm. 280, Riyadhus Shalihin no. 1011]

Al-Imam asy-Syafi’i ~rahimahullah~ mengatakan: “Apabila dia ingin berbicara hendaklah dipikirkan terlebih dahulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah. Jika ragu, janganlah dia berbicara hingga tampak maslahatnya.” [al-Adzkar hlm. 284]

Dalam kitab Riyadhus Shalihin, al-Imam an-Nawawi ~rahimahullah~ mengatakan: “Ketahuilah, setiap orang yang telah mendapatkan beban syariat, seharusnya menjaga lisannya dari segala pembicaraan, kecuali yang telah jelas maslahatnya. Bila berbicara dan diam sama maslahatnya, maka sunnahnya adalah menahan lisan untuk tidak berbicara. Karena pembicaraan yang mubah bisa menyeret pada pembicaraan yang haram atau dibenci. Hal seperti ini banyak terjadi. Keselamatan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun.”


Keutamaan Menjaga Lisan

Memang lisan tidak bertulang. Apabila keliru menggerakkannya akan mencampakkan kita dalam murka Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ yang berakhir dengan neraka-Nya. Lisan akan memberikan ta’bir (mengungkapkan) tentang baik-buruk pemiliknya. Inilah ucapan beberapa ulama tentang bahaya lisan:

1. Anas bin Malik ~radhiyAllahu ‘anhu~“Segala sesuatu akan bermanfaat dengan kadar lebihnya, kecuali perkataan. Sesungguhnya berlebihnya perkataan akan membahayakan.”

2. Abu ad-Darda’ ~radhiyAllahu ‘anhu~“Tidak ada kebaikan dalam hidup ini kecuali salah satu dari dua orang: orang yang diam namun berpikir atau orang yang berbicara dengan ilmu.”

3. Al-Fudhail ~rahimahullah~: “Dua perkara yang akan bisa mengeraskan hati seseorang adalah banyak berbicara dan banyak makan.”

4. Sufyan ats-Tsauri ~rahimahullah~: “Awal ibadah adalah diam, kemudian menuntut ilmu, kemudian mengamalkannya, kemudian menghafalnya lantas menyebarkannya.”

5. Al-Ahnaf bin Qais ~rahimahullah~: “Diam akan menjaga seseorang dari kesalahan lafadz (ucapan), memelihara dari penyelewangan dalam pembicaraan, dan menyelamatkan dari pembicaraan yang tidak berguna, serta memberikan kewibawaan terhadap dirinya.”

6. Abu Hatim ~rahimahullah~: “Lisan orang yang berakal berada di belakang hatinya. Bila dia ingin berbicara, dia mengembalikan ke hatinya terlebih dulu. Jika terdapat (maslahat) baginya maka dia akan berbicara. Bila tidak ada (maslahat) dia tidak (berbicara). Adapun orang yang jahil (bodoh), hatinya berada di ujung lisannya sehingga apa saja yang menyentuh lisannya membuat dia akan (cepat) berbicara. Seseorang tidak (dianggap) mengetahui agamanya hingga dia mengetahui lisannya.”

7. Yahya bin ‘Uqbah ~rahimahullah~: “Aku mendengar Ibnu Mas’ud ~radhiyAllahu ‘anhu~ berkata, ‘Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang benar selain-Nya, tidak ada sesuatu yang lebih pantas untuk lama dipenjarakan daripada lisan’.”

8. Mu’arrif al-‘Ijli ~rahimahullah~: “Ada satu hal yang aku terus mencarinya semenjak sepuluh tahun dan aku tidak berhenti untuk mencarinya.” Seseorang bertanya kepadanya: “Apakah itu, wahai Abu al-Mu’tamir?” Mu’arrif menjawab, “Diam dari segala hal yang tidak berfaedah bagiku.”

[Lihat Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala karya Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti, hlm. 37—42]


Buah Menjaga Lisan

Menjaga lisan jelas akan memberikan banyak manfaat. Di antaranya:

1. Akan mendapat keutamaan dalam melaksanakan perintah Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan Rasul-Nya.

Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~ meriwayatkan bahwa Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” [Sahih, HR. al-Bukhari no. 6090 dan Muslim no. 48]

2. Akan menjadi orang yang memiliki kedudukan dalam agamanya.

Dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari ~radhiyAllahu ‘anhu~, ketika Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ ditanya tentang orang yang paling utama dari orang-orang Islam, beliau menjawab:

مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“(Orang Islam yang paling utama adalah) orang yang orang lain selamat dari kejahatan tangan dan lisannya.” [Sahih, HR. al-Bukhari no. 11 dan Muslim no. 42]

Hadits ini menjelaskan larangan mengganggu orang Islam, baik dengan perkataan maupun perbuatan. (Bahjatun Nazhirin, 3/8)

3. Mendapat jaminan dari Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ untuk masuk surga.

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d ~radhiyAllahu ‘anhu~:

مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya (mulut/lisan) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” [HR. al-Bukhari no. 6088]

Dalam riwayat al-Imam at-Tirmidzi (no. 2411) dan Ibnu Hibban (no. 2546), dari sahabat Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~. Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

“Barang siapa dijaga oleh Allah dari kejahatan apa yang ada di antara dua rahangnya serta kejahatan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka dia akan masuk surga.”

4. Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ akan mengangkat derajat-Nya dan memberikan ridha-Nya kepadanya.

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda dalam hadits dari Abu Hurairah ~radhiyAllahu ‘anhu~:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى مَا يُلْقِي لَهَا بَالاً يَرْفَعُهُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kalimat dari apa yang diridhai Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ yang dia tidak menganggapnya (bernilai) ternyata Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ mengangkat derajatnya karenanya.” [HR. al-Bukhari no. 6092]

Dalam riwayat al-Imam Malik, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad serta disahihkan oleh asy-Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam Bahjatun Nazhirin (3/11), dari sahabat Bilal bin al-Harits al-Muzani ~radhiyAllahu ‘anhu~ bahwa Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wasallam~ bersabda:

“Sesungguhnya seseorang berbicara dengan satu kalimat yang diridhai oleh Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan dia tidak menyangka akan sampai kepada apa (yang ditentukan oleh Allah ~subhanahu wa ta‘ala~, lalu Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ mencatat keridhaan baginya pada hari dia berjumpa dengan Allah.”

Demikianlah beberapa keutamaan menjaga lisan. Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ untuk melaksanakan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya, serta diberi kemampuan untuk mengejar keutamaan tersebut.

Wallahu a’lam.

Sumber:
| http://asysyariah.com/lidah-tak-bertulang.html

Lemah Lembut

Oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Sepertinya tidak ada orang yang tidak menyukai kelembutan. Orang yang memiliki sikap lemah lembut akan disukai banyak orang. Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk memiliki sikap ini, tidak hanya dalam pergaulan sehari-hari, namun juga ketika berdakwah.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita menemukan bermacam jenis orang yang memiliki watak berbeda-beda dan tabiat yang beraneka ragam. Ada di antara mereka yang bertabiat kasar, ada yang bertabiat tidak mau tahu, dan ada juga yang bertabiat lemah lembut. Semua ini adalah pemberian Dzat Yang Maha Mengetahui dan Mahabijaksana yang patut kita mengkaji hikmah di dalamnya. Dengan beragamnya tabiat dan watak itu, kita dituntut oleh agama untuk menjadi yang terbaik dan yang terpuji, menjadi orang yang lemah lembut dalam segala hal. Lemah lembut dalam sikap, tabiat, watak, dalam ucapan, tingkah laku, dan sebagainya.

Rasulullah bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ نُزِعَ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya dan tidaklah tercabut dari sesuatu melainkan akan merusaknya.” [HR Muslim dari Aisyah. -sahih-]

As-Sa’di ~rahimahullah~ dalam tafsirnya mengatakan:

“Dengan rahmat Allah yang diberikan kepadamu dan kepada para sahabatmu, engkau dapat bersikap lemah lembut terhadap mereka, merendah di hadapan mereka, menyayangi mereka, serta kebagusan akhlakmu terhadap mereka. Sehingga mereka mau berkumpul di sisimu, mencintaimu, dan melaksanakan segala apa yang kamu perintahkan. Jika kamu memiliki akhlak yang jelek dan keras niscaya mereka akan menjauhimu, karena yang demikian itu akan menyebabkan mereka lari dan menjadikan mereka murka terhadap orang yang memiliki akhlak yang jelek tersebut.

Jika akhlak yang baik menyertai seorang pemimpin di dunia maka akan menarik/memikat orang-orang menuju agama Allah dan akan menjadikan mereka mencintai agama. Bersamaan dengan itu, pemilik akhlak tersebut akan mendapatkan pujian dan pahala yang khusus.

Jika akhlak yang jelek melekat pada seorang pemuka agama, akan menyebabkan orang lain lari dari agama dan akan membenci agama. Bersamaan dengan itu, dia akan mendapatkan cercaan dan ganjaran yang khusus.

Kalau demikian Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ mengingatkan Rasul-Nya yang ma’shum (terbebas dari dosa-dosa), maka bagaimana lagi dengan selain beliau (dari kalangan manusia)? Bukankah termasuk kewajiban yang paling wajib untuk mengikuti akhlak Rasulullah dan bergaul bersama manusia sebagaimana Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ bersama mereka dengan kelemah-lembutan, akhlak yang baik, kasih sayang, dalam rangka melaksanakan perintah-perintah Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan menarik manusia ke dalam agama Allah?”

Di dalam kitab Bahjatun Nazhirin (1/683) disebutkan:

“(Betapa) tingginya kedudukan lemah-lembut dibanding akhlak-akhlak terpuji lainnya. Dan orang yang memiliki sifat ini pantas baginya untuk mendapatkan pujian dan pahala yang besar dari Allah ~subhanahu wa ta‘ala~.  Bila sifat lemah lembut ini ada pada seseorang dan menghiasi dirinya maka akan menjadi (indah) dalam pandangan manusia dan lebih dari itu dalam pandangan Allah ~subhanahu wa ta‘ala~.  Sebaliknya jika memiliki sifat yang kasar, angkuh, dan keras hati niscaya akan menjadikan dirinya jelek dan tercela di hadapan manusia.”

1. Sebagai salah satu pemberian Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ yang sangat berharga di dunia dan di akhirat, berdasarkan firman Allah:

“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu bisa bersikap lemah lembut kepada mereka.” [Ali ‘Imran: 159]

Rasulullah bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah Mahalembut serta mencintai kelembutan, dan Allah memberikan kepada sifat lembut yang tidak diberikan pada sifat kasar dan sifat lainnya.” [HR Muslim no. 2593. -sahih-]

2. Mendapatkan pujian dan kecintaan dari Allah dan Rasul-Nya.

Allah berfirman:

“(Orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan (orang lain). Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” [Ali ‘Imran: 134]

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ bersabda kepada al-Asyaj Abdul Qais:

“Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah: lemah lembut dan tidak tergesa-gesa.” [HR Muslim no. 17 dan no. 25. -sahih-]

3. Kelemah-lembutan akan menghiasi pemiliknya, sebagaimana dalam riwayat al-Imam Muslim ~rahimahullah~ dari ‘Aisyah yang tersebut pada awal tulisan.

4. Kelemah-lembutan akan mendorong orang lain untuk menerima kita dan dakwah Allah ini. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan hadits Anas yang diriwayatkan oleh Muslim ~rahimahullah~ tentang orang badui yang kencing di dalam masjid, lalu sebagian sahabat segera melarangnya. Namun Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk tidak memutus kencing orang badui tersebut.

Setelah selesai kencingnya, barulah Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ meminta para sahabat menyiram bekas kencing tersebut dan berkata dengan lembut kepada si badui:

“Sesungguhnya masjid ini tidaklah diperbolehkan untuk kencing dan tempat membuang kotoran. Masjid hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca Al-Qur’an.”

Masih banyak lagi keutamaan-keutamaan sifat lemah lembut yang tidak mungkin dibawakan dalam kesempatan ini.

Wallahu a’lam.

Sumber:
| http://asysyariah.com/lemah-lembut.html