WHAT'S NEW?
Loading...

Menuju Kesucian Jiwa

Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Era globalisasi semakin menjauhkan manusia dari kesucian jiwa. Jiwa yang suci menjadi barang yang langka. Pencemaran batin dengan berbagai maksiat dalam bentuk kekafiran, kesyirikan, dan syahwat birahi, merambah deras melalui sarana media elektronik dan media cetak. Kini, apa pun yang dimaukan dan segala yang digandrungi oleh jiwa telah berada dalam jangkauan. Bahkan, dunia berikut gemerlapnya ibarat dalam genggaman tangan. Semuanya dapat dinikmati melalui sebuat alat komunikasi mini bernama telepon genggam.

Iman yang semakin menipis, kebodohan yang kian menebal, diiringi oleh semakin mudahnya segala fasilitas maksiat, semakin murah lagi canggih. Apa jadinya? Tak lain, jiwa semakin ternoda, noktah bahkan bercak hitam kian melekat dalam kalbu. Membuatnya semakin buta akan kebenaran, semakin buta akan kebaikan, hingga tak kenal yang baik dan tak mengingkari yang mungkar. Lebih parah lagi, noda-noda itu telah membalik pola berpikirnya sehingga yang baik dia anggap jelek, yang jelek dianggap baik, hal yang tabu dianggap biasa, dan rasa malu nyaris sirna.

Sungguh benar sabda Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Apabila engkau tidak lagi punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” [HR. al-Bukhari]

Memang, apabila benteng iman telah roboh, tak tersisa selain benteng malu. Apabila benteng malu pun ikut roboh, tak ada penghalang bagi seseorang untuk melakukan maksiat walaupun di depan orang, di siang bolong dan terang benderang. Inikah buah dari modernisasi dan globalisasi yang kebablasan? Kalau ini buahnya, lantas apa yang dibanggakan darinya? Akankah kita membanggakan dekadensi moral yang semakin hari kian terpuruk, iman yang kian menipis, serta kebodohan yang kian menutupi akal pikiran dan hati nurani? Apa artinya kecanggihan teknologi apabila tidak tersisa nilai religi?

Kemanakah jiwa-jiwa suci itu? Apakah itu hanya ada di masa dahulu, yang kini tinggal cerita dan kenangan? Ataukah itu hanya sebuah kebanggaan yang kita banggakan dan hanya sebatas itu, tanpa kita mencontohnya? Atau menjadi kebanggaan pun tidak, karena kini kebanggaan orang-orang telah beralih kepada bintang-bintang film, atlet, dan selebritas walaupun kehidupan mereka kelam? Sungguh celaka apabila hal ini yang terjadi. Mereka telah kehilangan teladan.

Sampai kapankah ini semua akan berlangsung? Tidakkah kita segera mengakhirinya sebelum semakin jauh? Tidakkah sudah datang waktunya kita terbangun dari ‘mimpi indah’ dalam buaian setan, dan tersadar dari mabuk gemerlapnya dunia?

Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ telah berseru,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” [al-Hadid: 16]

Toh, dunia seisinya tak ada nilainya dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi.

Toh, beratnya mengekang jiwa tak sebanding dengan beratnya menahan siksa neraka.

Untukmu, mari menuju jiwa yang suci …


Definisi Tazkiyatun Nufus

Tazkiyatun nufus adalah rangkaian dari dua kata: tazkiyah dan nufus. Tazkiyah memiliki makna suci dan berkembang. [Mu’jam Maqayis al-Lughah dan Tahdzibul Lughah]

Adapun nufus adalah bentuk jamak dari kata nafs, yang artinya jiwa. Jadi, pembahasan tazkiyatun nufus atau tazkiyatun nafs artinya pembahasan mengenai penyucian jiwa dan pengembangannya, agar semakin bersih dan suci sehingga berkembang dengan semakin tunduk kepada Rabbnya, serta berkembang dengan banyak beramal.

Ibnu Taimiyyah ~rahimahullah~ juga menjelaskan:

“Asal makna zakah (atau tazkiyah, –pen.) adalah penambahan dalam kebaikan. Dari kata ini, muncul ungkapan, ‘Zaka az-zar’u,’ artinya tumbuhan itu berkembang. Demikian pula, ‘Zaka al-maalu,’ artinya harta itu bertambah. Kebaikan itu tidak akan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, sebagaimana tumbuhan tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari semak dan gulma di sekelilingnya. Begitu pula jiwa dan amalan, tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari segala yang berlawanan dengannya. Seseorang juga tidak akan bersih dan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, karena kejelekan itu akan menodainya.” [az-Zuhd wal Wara’]


Makna Nafs dan Pentingnya Pembahasan Tazkiyatun Nufus

Apa hakikat nafs yang biasa kita terjemahkan dengan jiwa?

Tentang hal ini, para pakar Islam dari kalangan ulama fikih dan akidah serta ulama ahli tafsir dan bahasa, telah banyak membahasnya, baik dalam literatur tafsir maupun mu’jam, yakni kamus-kamus Arab.

Ringkas kata, Ibnul Qayyim ~rahimahullah~ telah membahas masalah ini juga dalam kitabnya, al-Arwah, yang kesimpulannya bahwa mayoritas pakar Islam berpendapat bahwa nafs atau jiwa dalam hal ini maksudnya adalah ruh.

“Hakikat keduanya adalah satu. Mereka yang berpendapat demikian adalah jumhur (mayoritas) ulama,” ungkap Ibnul Qayyim.

Meskipun demikian, dalam penggunaan kata nafs dan ruh terkadang memiliki maksud yang lain. Namun, yang dimaksud dalam kajian tazkiyatun nufus adalah ruh.

Makna ini telah didukung oleh banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Dalil-dalil tersebut menyebutkan kata nafs dengan makna ruh. Bahkan, disebut pula bahwa ruh ada yang baik (thayyibah) ada pula yang jelek (khabitsah).

Dalam sebuah hadits, Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menceritakan proses pencabutan ruh seorang manusia oleh malaikat. Apabila manusia itu mukmin yang baik, malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ

“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan keridhaan-Nya.”

Lantas dibawalah nyawa tersebut oleh para malaikat ke langit, dengan bau yang sangat harum semerbak. Setiap kali melewati kumpulan para malaikat, mereka pun berkata:

مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟

“Ruh siapakah yang baik ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut mengatakan, “Fulan bin Fulan,” disebutlah namanya yang terbaik semasa hidup di dunia. Sebaliknya, apabila manusia itu adalah seorang kafir atau munafik, para malaikat mengatakan:

أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ

“Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dan kemarahan-Nya.”

Para malaikat kemudian membawa ruh tersebut menuju langit, dengan bau yang sangat busuk. Setiap ruh tersebut melewati kumpulan para malaikat, mereka mengatakan:

مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟

“Ruh siapa yang jelek ini?”

Para malaikat pembawa ruh tersebut menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan menyebutkan namanya yang terjelek ketika dia hidup di dunia.

Demikianlah Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ menjelaskan adanya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk. Dalam hadits yang lain, beliau juga mengisyaratkan adanya ruh yang baik dan yang buruk.

الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ

“Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” [Sahih, HR. Muslim]

Ulama menjelaskan:

“Yang baik akan cenderung kepada yang baik, dan yang jelek akan cenderung kepada yang jelek.” [Syarah Jami’ Shagir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, dll.]

Oleh karena itulah, dalam pembukaan khutbah, dahulu Nabi ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ sering berlindung kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari kejelekan jiwa.

Sabdanya:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا

“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon perlindungan dari kejelekan-kejelekan jiwa kami.” [Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain]

Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun mengajari seseorang untuk berdoa:

اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي

“Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan jiwaku, dan kokohkan tekadku pada urusanku yang paling lurus.”

Masih ada lagi doa-doa lain untuk minta perlindungan kepada Allah ~subhanahu wa ta‘ala~ dari jiwa yang jelek. Melihat kenyataan yang ada, tentu amat penting bagi kita untuk senantiasa mengontrol kondisi jiwa kita serta mengusahakan segala hal untuk menggapai kesucian jiwa dan membebaskannya dari segala yang mengotorinya.

Ibnul Jauzi ~rahimahullah~ mengatakan saat mengomentari hadits bahwa ruh itu berkelompok-kelompok:

“Diambil dari hadits tersebut sebuah faedah, yaitu apabila seseorang mendapatkan pada jiwanya sikap lari dari seorang yang saleh, seyogianya ia mencari tahu sebabnya, lalu ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari sifat tercela ini.” 

[Dinukil dari kitab Dalil al-Falihin]

Sumber:
| http://asysyariah.com
| Majalah AsySyariah Edisi 079

Iringi Keburukan Dengan Kebaikan

Oleh: Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman ~Hafidzahullah~
(Syarh Hadits Ke-18 Arbain An-Nawawiyyah)

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Dari Abu Dzar, Jundub bin Junadah dan Abu ‘Abdurrahman, Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Bertaqwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan susullah sesuatu perbuatan dosa dengan kebaikan, pasti akan menghapuskannya dan bergaullah sesama manusia dengan akhlaq yang baik”. [HR. Tirmidzi, ia telah berkata: Hadits ini hasan, pada lafazh lain derajatnya hasan shahih]


Sedikit Penjelasan tentang Sahabat yang Meriwayatkan Hadits

Abu Dzar al-Ghiffary berasal dari Ghiffaar (jalur yang dilewati penduduk Makkah jika akan berdagang ke Syam) , nama aslinya Jundub bin Junaadah adalah orang ke-5 yang masuk Islam saat Nabi masih berada di Makkah dan berdakwah secara sembunyi. Beliaulah orang pertama yang mengucapkan salam secara Islam kepada Nabi. Selama masa mencari Nabi di Makkah beliau tinggal di dekat Ka’bah selama 15 hari tidak makan dan minum apapun kecuali air zam-zam hingga menjadi gemuk. Setelah bertemu Nabi dan masuk Islam beliau kembali pada kaumnya, mengajarkan Islam kepada mereka, dan tinggal di sana. Setelah perang Uhud, barulah Abu Dzar bisa menyusul Nabi hijrah ke Madinah.

Sedangkan Muadz bin Jabal adalah Sahabat Nabi yang paling mengetahui tentang halal dan haram [HR Ibnu Hibban]. Nabi juga memerintahkan untuk mengambil (ilmu) al-Quran dari 4 orang, yaitu : Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal dan Salim maula Abi Hudzaifah [HR Al-Bukhari]. Muadz bin Jabal juga diutus Nabi ke Yaman untuk berdakwah di sana.


PENJELASAN UMUM MAKNA HADITS

Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memberikan bimbingan dalam 3 hal:
---» Bertakwa kepada Allah di manapun kita berada. Di waktu sendirian maupun di tengah keramaian. Di setiap waktu dan tempat.

---» Jika suatu ketika kita melakukan dosa, susulkanlah / iringi dengan banyak perbuatan ibadah dan kebaikan, agar bisa menghapus dosa itu.

---» Bergaullah sesama manusia dengan akhlak yang baik


Definisi Taqwa

Thalq bin Habiib(seorang Tabi’i, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas) menjelaskan definisi taqwa:

“Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah.”

Banyak para Ulama’ yang memuji definisi ini di antaranya al-Imam adz-Dzahaby, kemudian beliau mensyarah (menjelaskan) maksud dari definisi tersebut dalam Siyaar A’laamin Nubalaa’ (4/601).

Beberapa poin penting dari definisi taqwa menurut Thalq bin Habiib tersebut:
  • Taqwa adalah amalan ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada Allah.
  • Taqwa harus berupa amal perbuatan, tidak cukup hanya dalam hati atau ucapan saja.
  • Taqwa harus didasarkan cahaya dari Allah, yaitu ilmu syar’i dan ittiba’
    (mengikuti Sunnah Nabi).
  • Tidak mungkin seseorang bisa bertakwa kepada Allah tanpa ilmu. Dengan ilmu ia akan tahu mana hal-hal yang diperintah Allah (wajib atau sunnah), yang dilarang Allah (haram atau makruh), dan mana yang boleh dikerjakan (mubah).
  • Seseorang bisa beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunan dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam.
  • Taqwa harus didasari keikhlasan melakukannya karena Allah bukan karena tendensi yang lain. Ia jalankan ketaatan karena mengharap pahala Allah, dan ia tinggalkan kemaksiatan karena takut dari adzab Allah.


Iringilah Perbuatan Dosa dengan Kebaikan-Kebaikan Niscaya akan Menghapus Dosa Tersebut

Amal ibadah yang dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah Rasul selain menambah pahala juga bisa menghapus dosa sebelumnya. Di antaranya adalah sholat, puasa, shodaqoh, umrah, amar ma’ruf nahi munkar, duduk di majelis ta’lim, dan semisalnya.

الصَّلَوَاتُ اْلخَمْسُ وَاْلجُمُعَةُ إِلَى اْلجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَ اْلكَبَائِر (رواه مسلم)

“(antara) sholat lima waktu (yang satu dengan berikutnya), Jumat dengan Jumat, Romadlon dengan Romadlon, sebagai penghapus dosa di antaranya jika dosa-dosa besar ditinggalkan.” [HR Muslim]

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَنَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ يُكَفِّرُهَا الصِّيَامُ وَالصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

“Fitnah yang dialami seorang laki-laki pada keluarga, harta, diri, dan tetangganya dihapuskan oleh puasa, sholat, shodaqoh, dan amar ma’ruf nahi munkar.” [HR Muslim]

Namun, yang bisa dihapus dengan perbuatan-perbuatan baik (ibadah) itu adalah untuk dosa-dosa kecil saja, sedangkan dosa besar hanya bisa dihapus dengan taubat nashuha. Syarat taubat nashuha adalah bertaubat dengan ikhlas karena Allah semata, menyesal secara sungguh atas perbuatannya, meninggalkan perbuatan maksiat tersebut, bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya, dan jika terkait dengan hak hamba Allah yang lain, ia harus meminta maaf (minta dihalalkan).

Apa perbedaan dosa besar dengan dosa kecil? Dosa besar adalah segala macam perbuatan atau ucapan yang dilarang dan dibenci Allah dan diancam dalam dalil-dalil alQuran atau hadits dengan adzab neraka, laknat Allah, kemurkaan Allah, tidak akan masuk surga, tidak termasuk orang beriman, Nabi berlepas diri dari pelakunya, atau dosa yang ditegakkan hukum had di dunia, seperti membunuh, berzina, mencuri, dan semisalnya. Sedangkan dosa kecil adalah sesuatu hal yang dibenci atau dilarang Allah dan Rasul-Nya namun tidak disertai dengan ancaman-ancaman seperti dalam dosa besar.

Namun, harus dipahami bahwa suatu dosa yang asalnya kecil bisa menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan dianggap remeh.

Sahabat Nabi Anas bin Malik menyatakan:

لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ

“Tidak ada dosa kecil jika dilakukan secara terus menerus.” [Riwayat ad-Dailamy dan al-Iraqy menyatakan bahwa sanadnya jayyid (baik)]

Rasulullah ~shallallaahu ‘alaihi wa sallam~ bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Hati-hatilah kalian dari dosa yang diremehkan (dosa kecil) karena dosa itu bisa berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” [HR Ahmad, At-Thabarany, Al-Baihaqy, dinyatakan oleh al-Iraqy bahwa sanadnya jayyid (baik)]


Majelis Ilmu Menghapus Dosa dan Menggantikan Keburukan Menjadi Kebaikan

Duduk di majelis ta’lim yang di dalamnya dibahas ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits yang shohih dengan pemahaman Salafus Sholeh, bisa menyebabkan dosa terampuni. Bahkan keburukan-keburukan diganti dengan kebaikan.

مَا مِنْ قَوْمٍ اجْتَمَعُوا يَذْكُرُونَ اللَّهَ لاَ يُرِيدُونَ بِذَلِكَ إِلاَّ وَجْهَهُ ، إِلاَّ نَادَاهُمْ مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ قُومُوا مَغْفُورًا لَكُمْ قَدْ بُدِّلَتْ سَيِّئَاتُكُمْ حَسَنَاتٍ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul mengingat Allah,  tidak menginginkan kecuali Wajah-Nya, kecuali akan ada penyeru dari langit: Bangkitlah dalam keadaan diampuni, keburukan-keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan.” [HR Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh  al-Albany]

Atha’ bin Abi Robaah –salah seorang tabi’i (murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas,  Ibnu Umar, Abu Hurairah) berkata:

“Barangsiapa yang duduk di (satu) majelis dzikir, Allah akan hapuskan baginya 10 majelis batil (yang pernah diikutinya). Jika majelis dzikir itu dilakukan fii sabiilillah, bisa menghapus 700 majelis kebatilan (yang pernah diikutinya).”

Abu Hazzaan berkata:

“Aku bertanya kepada Atha’ bin Abi Robaah, ‘Apa yang dimaksud dengan majelis dzikir?’ Atho’ menjelaskan: ‘(majelis dzikir) adalah majelis (yang menjelaskan) halal dan haram, tentang bagaimana sholat, berpuasa, menikah, thalak, dan jual beli’.” [Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nu’aim (3/313), al-Bidayah wanNihaayah karya Ibnu Katsir(9/336)]


Akhlak yang Baik

Para Ulama’ Salaf  mendefinisikan akhlaq yang baik, di antaranya:

Al-Hasan al-Bashri mengatakan :
“Akhlaq yang baik adalah dermawan, banyak memberi bantuan, dan bersikap ihtimaal (memaafkan).”

Asy-Sya’bi menjelaskan:
“Akhlaq yang baik adalah suka memberi pertolongan dan bermuka manis.”

Ibnul Mubaarok mengatakan:
“Akhlaq yang baik adalah bermuka manis, suka memberi bantuan (ma’ruf) , dan menahan diri untuk tidak mengganggu/menyakiti orang lain.”

[Jaami’ul ‘Uluum wal Hikaam karya Ibnu Rajab juz 1 hal. 454-457]

Keutamaan akhlaq yang baik banyak disebutkan oleh Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam hadits beliau:

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” [HR Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi, al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahaby]

إِنَّ اْلمُؤْمِنَ لَيُدْركُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَاتِ الصَّائِمِ وَاْلقَائِمِ

“Sesungguhnya seorang mukmin dengan kebaikan akhlaqnya bisa mencapai derajat orang-orang yang (banyak) berpuasa dan (banyak) melakukan qiyamullail.” [HR Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, dishohihkan oleh adz-Dzahaby]

أَكْثَر مَا يُدْخِلُ اْلجَنَّةَ تَقْوَى اللهِ وَحُسْنُ اْلخُلُقِ

“(Hal) yang paling banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang baik.” [HR Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al-Albany]

أَنَا زَعِيْمُ بَيْتٍ فِي أَعْلَى اْلجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku menjamin rumah di bagian surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaqnya.” [HR Abu Dawud dan AtThobrooni dan dihasankan oleh Syaikh al-Albany]


Sumber:
| http://www.salafy.or.id

Pengajaran Akhlak Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~

Oleh: Ustadz Abu Faruq Ayip Syafruddin

Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ adalah contoh panutan dalam setiap aspek kehidupan. Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ senantiasa memberikan contoh aplikatif sehingga mudah untuk di laksanakan setiap orang. Bagaimana beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ berinteraksi dengan anak -anak, merintahkan meraka, bermain bersama dengan mereka, berlemah lembut pada mereka, tidak pernah marah, membentak apalagi memukul. Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ pun suka bercanda dengan anak-anak dan bermuamalah secara akrab.

Dari Anas Bin Malik Radhiyallahu’anhu ia berkata: “saya membantu Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ selama sepuluh tahun. Demi Allah , beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘kenapa kamu melakukan demikian’ atau ‘kenapa tidak engkau lakukan demikian’.” [HR Bukhari Muslim dan selain keduanya]

Dalam Riwayat lain, dari ‘Aisyah ~radhiyallahu ‘anha~ mengungkapkan bahwa Rasulullah ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ tak pernah memukul kepada istri maupun pembantu, beliau lakukan memukul hanya saat jihad (berperang) di jalan Allah saja. [HR Muslim]

Beliau adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dalam riwayat Muslim di sebutkan, hadist dari Anas bin Malik ~radhiyallahu ‘anhu~, Anas bin Malik berpesan, satu hari beliau mengutuskan untuk satu keperluan. Saya menjawab, ‘Demi Allah, aku tak akan pergi’.  Tetapi dalam hatiku tetap akan pergi menjalankan perintah Nabi. Saya pun keluar melewati anak-anak yang sedang bermain di pasar. ternyata Rasulullah sudah berdiri di belakang dan memegang tengkelukku.

Aku melihat ke arah beliau dan beliau tertawa. Kemudian Beliau bersabda, “Hai Unais pergilah melaksanakan perintahku.” Aku pun menjawab, “Ya aku akan pergi Wahai Rasulullah.” Demi Allah aku menjadi pelayan beliau selama sembilan tahun, tidak pernah aku mendengar Beliau ~shallallahu ‘alaihi wa sallam~ mengatakan sesuatu yang aku lakukan, “kenapa engkau melakukan demikian.” Tidak juga sesuatu yang “tidak aku lakukan” kenapa engkau tidak lakukan demikian?

Itulah pribadai pendidik nan agung!

Wallallahu a’lam.


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/pengajaran-akhlak-ala-rasulullah-shallallahualaihiwassalam/

Berhias Dengan Akhlak Mulia

Di dalam Al-Qur`an banyak dijumpai ayat-ayat yang memerintahkan agar manusia memiliki akhlak yang baik. Akhlak yang baik (akhlakul karimah) sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan yang kadang dihadapkan dengan berbagai cobaan. Dengan akhlak yang baik, berbagai bentuk cobaan hidup bisa dijalani sehingga kita senantiasa diridhai Allah.

Terkadang dalam kehidupan sehari-hari, kita harus dihadapkan dengan tantangan dan gesekan-gesekan hidup. Gesekan itu bisa datang dari diri kita sendiri atau dari orang lain. Tak jarang kita dihadapkan dengan orang-orang terdekat seperti kedua orang tua, sanak famili, teman-teman, dan bahkan dari seluruh masyarakat.

Ini adalah suatu kemestian, terlebih kalau kita hidup bersama orang lain. Yang demikian itu terjadi karena kita tidak memiliki hati yang satu dan tujuan yang sama. Itulah yang mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan dalam hidup. Sebagai individu saja, kita sering mengalami problema, maka terlebih lagi kalau terkait dengan orang lain. Oleh karena itu, Islam mengajarkan akhlak yang mulia untuk menghadapi semua itu dan bergaul bersama orang lain dengan pergaulan yang baik.

Sudahkah Anda berbakti kepada kedua orang tua dan tahukah hukumnya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepadamu (agar kamu mengatakan kepada mereka) janganlah kalian menyembah kecuali hanya kepada-Nya dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua.” [Al-Isra`: 23]

Pernahkah anda kasihan terhadap orang yang mendapatkan musibah dan terdorong untuk segera membantunya?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlah kalian tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” [Al-Maidah: 2]

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang memberikan kemudahan terhadap kesulitan saudaranya, niscaya Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” [Shahih, HR. Muslim dari Abu Hurairah]

Bisakah Anda tawadhu’ (merendahkan diri) di hadapan saudara Anda?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang-orang yang mengikutimu dari orang-orang yang beriman.” [Asy-Syu’ara`: 215]

Bisakah Anda menahan marah ketika melihat kekurangan pada diri saudara Anda?

---» Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Seseorang datang kepada Rasulullah lalu mengatakan: “Wahai Rasulullah!! Nasehatilah aku”. Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu marah.” Orang tersebut mengulangi (pertanyaannya), Rasulullah tetap mengatakan: “Jangan kamu marah.” [Shahih, HR. Al-Bukhari]

Bisakah Anda menjadi orang pemaaf ketika saudaramu bersalah dan langsung meminta maaf?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan serulah kepada kebajikan dan berpalinglah dari orang-orang jahil.” [Al-A’raf: 199]

Bisakah Anda menebar salam dan tersenyum di hadapan saudaramu?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabada:

“Hak orang muslim terhadap muslim lainya ada lima; menjawab salam, menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, menjawab undangan dan menjawab orang yang bersin.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyAllaahu ‘anhu]

Bisakah Anda lemah lembut di hadapan saudaramu?

---» Padahal Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Maka dengan rahmat Allah-lah kamu menjadi lemah lembut kepada mereka dan jika kamu berlaku kasar terhadap mereka, niscaya mereka akan menyingkir dari sisimu.” [Ali ‘Imran: 159]

Pernahkah Anda sadar membaca Bismillah ketika ingin makan dan minum, dan bahwa makan dan minum dengan tangan kanan adalah wajib sementara dengan tangan kiri adalah haram?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Hai nak, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kanan dan makanlah yang ada di sekitarmu.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Dan pernahkah Anda sadar bahwa makan dan minum dengan tangan kiri adalah cara syaithan?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Maka sesungguhnya syaithan makan dan minum dengan tangan kiri.” [HR. Muslim]

Masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam?

---» Allah subhanahu wa ta‘ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian masuk ke rumah-rumah yang bukan rumah kalian sampai kalian meminta izin dan mengucapkan salam atas penghuninya.” [An-Nur: 28]

Sayangkah Anda kepada saudara Anda sesama muslim?

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang tidak menyayangi manusia maka Allah tidak akan menyayanginya.” [Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah radhiyAllaahu ‘anhu]

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan sebagian dari akhlak yang harus ada pada seseorang dan dalam hidup bermasyarakat.


Berakhlak Yang Baik

Kita menginginkan semua orang baik di hadapan kita dan menginginkan agar mereka cinta dan sayang. Kita berharap memiliki teman yang mengetahui jati diri kita, keluarga kita, dan berusaha meringankan beban hidup kita. Kita mencari teman yang bisa kita ajak menuju segala bentuk kebajikan. Kita ingin memiliki teman yang tawadhu’, lapang dada, penyayang, ramah tamah, ringan tangan, penyabar, yang suka mengingatkan ketika kita lupa dan yang menasehati ketika bersalah, selalu bermuka manis dan ceria, memiliki tutur kata yang baik, lemah lembut, dermawan, menerima kekurangan orang lain, pemaaf dan akhlak-akhlak baik lainnya.

Untuk mendapatkan hal yang demikian, tentu memiliki syarat-syarat yang harus dilakukan yaitu “Berakhlaklah dengan akhlak yang baik”. 

---» Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Bertakwalah di mana saja kamu berada dan susullah perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya akan menghapuskan perbuatan jelek tersebut dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik.” [Hasan, HR. At-Tirmidzi dari Mu’adz bin Jabal dan Abu Dzar radhiyAllaahu ‘anhu]

Dalam hadits ini ada beberapa pelajaran penting, di antaranya anjuran untuk selalu memberikan wasiat kepada saudaranya dan mengingatkan kewajiban-kewajibannya. Juga bahwa setiap orang harus selalu merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta‘ala, perbuatan baik akan menghapuskan perbuatan jelek, dan bergaul dengan setiap orang dengan akhlak yang baik.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abdurrahman Lombok
| Majalah "Syariah" Edisi 1

Sumber:
| http://asysyariah.com/berhias-dengan-akhlak-mulia.html

(Bhgn. 1) Dakwah Kepada As-Sunnah dan Tahdzir dari Bid’ah

Merupakan salah satu prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jama’ah para pengikut salaf ialah dakwah kepada As-Sunnah An-Nabawiyah. Di mana hal ini adalah landasan utama persatuan dan kesatuan serta sebab bersatunya kaum muslimin. Bahkan sebagai perlindungan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana wajibnya untuk tetap iltizam dengan As-Sunnah, maka wajib pula mengajak manusia kembali kepadanya. Di samping itu juga mentahdzir dari semua hal yang menyelisihinya baik berupa pemukiran orang tertentu atau syubhat dan aturan-aturan organisasi.

As-Sunnah adalah asas persatuan, sumber kemuliaan, kekuatan dan kebaikan dunia serta akhirat.

Rasulullah adalah teladan dalam agama ini. Kemudian para sahabatnya, karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan tazkiyah (pujian) kepada mereka. Dan rasul-Nya wafat meninggalkan dunia ini dalam keadaan ridho kepada para sahabatnya.

Maka jelaslah, al haq dan hidayah serta bimbingan beredar bersama mereka, di manapun mereka berada. Mereka tidak akan bersatu (sepakat) di atas kebatilan. Berbeda dengan orang-orang selain mereka, dari berbagai kelompok sempalan yang ada, karena mereka justeru bersatu di atas kebatilan dan kesesatan.

---» Syaikul Islam Ibnu Taimiyah menerangkan:

“Tadak ada pembelaan terhadap sosok tertentu secara umum dan mutlak kecuali kepada Rasulullah. Tidak pula kepada kelompok tertentu kecuali kepada para sahabat. Kerena sesungguhnya al-huda beredar bersama Rasulullah di manapun beliau berada. Begitu pula halnya para sahabatnya.”

Sejumlah nash syari’at telah menguraikan anjuran dan dorongan untuk mengikuti prinsip mulia ini. Prinsip yang menjadi acuan persatuan dan kesepakatan di atas As Sunnah dan jalan yang terang. Sehingga, tidak ada hujjah melainkan pada orang yang menjadikannya sebagai hujjah dan tidak ada ishmah (keterjagaan) dari penyimpangan kecuali bagi mereka yang berpegang teguh dengan As Sunnah, dalam ilmu dan amal, ataupun pendalilan, serta pemahaman dan ittiba’.

---» Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab: 21]

Uswah adalah teladan, maka tidak ada telaadan (yang baik) kecuali beliau, tidak ada ittiba’ kecuali beliau, dan tidak ada keselamatan kecuali berjalan di atas jalan yang dilaluinya.

---» Allah berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Ali Imran 31]

Maka tidaklah benar pengakuan cinta seseorang kecuali dia membuktikannya dan meluruskan jalannya, yaitu dengan ittiba’ dan tetap berpegang dengan As Sunnah.

---» Ibnu Qayyim menjelaskan:

“Tatkala semakain banyak orang-orang yang mengaku cinta, mereka dituntut menunjukkan bukti nyata pengakuan cintanya itu. Dan memang, kalau setiap orang diberikan tuntutannya menurut pengakuannya maka orang yang sedang merasakan lega akan mengaku-aku terbakar kesedihan. Bermacam-macam bentuk orang yang mengaku-aku dalam soal persaksian, sehingga ada yang berpendapat tidak diterima pengakuan tersebut kecuali jika ada bukti yang nyata.” Maka Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.’ Akhirnya semua mundur, kecuali para pengikut habib (kekasih, yakni Rasulullah) dalam setiap ucapan dan tindakan serta akhlaknya.”


Sumber:
| http://www.salafy.or.id/dakwah-kepada-as-sunnah-dan-tahdziir-dari-bidah/
| 10 Mei 2013

(Bhgn. 2.1) Penjelasan Syarhus Sunnah lil Muzani

PUJIAN DAN SANJUNGAN KEPADA ALLAH

Al-Muzani rahimahullah menyatakan:

الْحَمْدُ لِلّهِ أَحَقُّ مَنْ ذُكِرَ وَأَوْلَى مَنْ شُكِرَ وَعَلَيْهِ أُثْنِي الْوَاحِدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَيْسَ لَهُ صَاحِبَةٌ وَلاَ وَلَد جَلَّ عَنِ الْمَثِيْلِ فَلاَ شَبِيْهَ لَهُ وَلاَ عَدِيْلَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ الْعَلِيْمُ الْخَبِيْرُ اْلمنِيْعُ الرَّفِيْعُ

“Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Paling berhak untuk diingat, Yang Paling Utama untuk disyukuri. Kepada-Nyalah aku memuji. Yang Maha Tunggal, Tempat bergantung (seluruh makhluk), Yang tidak memiliki istri maupun anak. Maha Mulya (jauh) dari yang semisal. Tidak ada yang serupa bagi-Nya maupun sebanding. Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Berilmu, Maha Mengetahui secara detail. Maha Mencegah dan Yang Maha Tinggi.”

PENJELASAN:

Allah terpuji di dunia dan di akhirat. Allah terpuji dalam segenap keadaan.

وَهُوَ اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ لَهُ اْلحَمْدُ فِي اْلأُوْلَى وَاْلآخِرَةِ وَلَهُ اْلحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Dan Dialah Allah Yang tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia, bagiNya pujian di dunia dan di akhirat, dan hanya milikNyalah keputusan hukum, dan kepadaNya kalian semua akan dikembalikan.” [Al-Qoshos: 70]

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَسُرُّهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتِ وَإِذَا أَتَاهُ اْلأَمْرُ يَكْرَهُهُ قَالَ اْلحَمْدُ ِللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ

Dari ‘Aisyah Ummul Mu’minin – semoga Allah meridlai beliau – beliau berkata: Adalah Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam jika ditimpa keadaan yang menyenangkan, beliau berkata:

“Alhamdulillah alladzii bi ni’matihii tatimmus shoolihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan kenikmatan dariNya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Sedangkan jika beliau ditimpa sesuatu yang tidak disenanginya, beliau mengucapkan: Alhamdulillah ala kulli haal (Segala puji bagi Allah dalam segenap keadaan).” [HR Ibnu Majah, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany dalam as-Shahihah no 265]

Tidak ada sesuatu hal yang paling dicintai oleh Allah selain pujian untukNya. Dinyatakan dalam hadits:

وَمَا مِنْ شَيْءٍ أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْحَمْدِ

“Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah selain pujian (untukNya).” [HR Abu Ya’la, dihasankan oleh Syaikh al-Albany]

Karena itu, bentuk dzikir yang berupa pujian dan tauhid (Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin) mengandung pahala yang lebih besar. Dalam sebuah hadits dinyatakan:

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنْ الْكَلَامِ أَرْبَعًا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلَاثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلَاثُونَ سَيِّئَةً

“Sesungguhnya Allah memilih 4 ucapan: Subhaanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), Laa Ilaaha Illallah (Tidak ada sesembahan yang haq selain Allah), Allaahu Akbar (Allah Maha Besar). Barangsiapa yang mengucapkan: Subhaanallah, Allah tulis baginya 20 kebaikan atau dihapus darinya 20 keburukan. Barangsiapa yang mengucapkan Allaahu Akbar, maka juga terhitung demikian. Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, maka juga terhitung demikian. Barangsiapa yang mengucapkan Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin sungguh tulus dalam jiwanya, tercatat untuknya 30 kebaikan dan dihapuskan baginya 30 keburukan.” [HR anNasaai, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan al-Albany]


Allahlah yang Paling Berhak untuk Diingat

Al-Muzani menyatakan: Segala puji bagi Allah, (Dzat) Yang Paling berhak untuk diingat…
Seharusnya, Allah adalah yang paling kita ingat selalu. Namun, kelemahan iman menyebabkan kita sering melupakan Allah. Karena itu, untuk mengingat-Nya kita butuh pertolongan-Nya. Nabi mengajarkan doa yang dibaca setelah tahiyyat sebelum salam:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, tolonglah saya untuk mengingatMu, bersyukur kepadaMu, dan mempersembahkan ibadah terbaik untukMu.” [HR Abu Dawud, An-Nasaai, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Albany]

Tidak ada suatu ibadah yang secara eksplisit Allah perintahkan dalam Al-Quran untuk diperbanyak tanpa batasan tertentu selain dzikir (mengingat Allah).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (mengingat Allah) dengan dzikir yang banyak.” [Al-Ahzab: 41]

Jika seseorang duduk di suatu tempat atau berbaring dan sepanjang itu sedetikpun tidak mengingat Allah, hal itu akan menjadi kekurangan dan penyesalan baginya pada hari kiamat.

مَنْ قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ تِرَةٌ وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَا يَذْكُرُ اللَّهَ فِيهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنْ اللَّهِ تِرَةٌ

“Barangsiapa yang duduk di suatu tempat duduk, tidak mengingat Allah di tempat itu, maka akan menjadi ‘tiroh’ (kekurangan/ penyesalan), dan barangsiapa yang berbaring di suatu pembaringan tidak mengingat Allah padanya, akan menjadi ‘tiroh’ baginya.” [HR Abu Dawud, dishahihkan oleh al-Hakim, disepakati keshahihannya oleh adz-Dzahaby]

Sekedar berbaringpun, jangan lupakan Allah. Jangan lupakan berdzikir kepada Allah. Ada suatu dzikir yang jika diucapkan ketika seseorang berbaring pada pembaringannya, Allah akan ampuni dosa-dosanya yang kecil, meski sebanyak buih di lautan. Dzikir itu adalah:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

“Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah satu-satunya, tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya lah Kerajaan dan pujian, dan Dia Maha berkuasa di atas segala sesuatu. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. Maha Suci Allah dan segala puji bagiNya. Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Dia. Dialah Yang Terbesar.” [HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya, dan dishahihkan Syaikh al-Albany dalam as-Shahihah no 3414).

Barangsiapa yang mengingat Allah, Allah akan mengingatnya. Jika Allah mengingat seseorang, maka itu adalah suatu anugerah yang terbesar.

… فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ …

“… maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian …” [Al-Baqoroh: 152]

… أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ …

“Aku sesuai persangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatku. Jika ia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia mengingatKu pada sekumpulan (orang), niscaya Aku akan mengingatnya di kumpulan (makhluk) yang lebih baik dari mereka …” [HR Al-Bukhari no 6856 dan Muslim no 4832 dan 4851]

Sholat memiliki faedah dan manfaat yang sangat berlimpah. Di antaranya adalah mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Namun, manfaat tersebut masih kalah dengan manfaat satu lagi yaitu: Allah akan mengingat hamba itu ketika ia benar-benar mengingat Allah dalam sholatnya.

… وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ …

“dan tegakkanlah sholat sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, dan Allah mengingat kalian adalah lebih besar (manfaat dan keutamaannya)” [Al-Ankabuut: 45]

Banyak berdzikir akan menyebabkan seseorang mendapatkan kesuksesan dan keberuntungan

… وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“… dan banyaklah berdzikir (mengingat Allah) agar kalian beruntung.” [Al-Anfaal:45 dan al-Jumu’ah: 10]


Allahlah Paling Berhak untuk Disyukuri

Al-Muzani menyatakan: “dan Dia (Allah) Yang Paling Utama untuk disyukuri…”

Jika ada pihak yang paling berjasa, paling berbuat baik dalam kehidupan kita, maka Ia adalah Allah. Darinyalah sumber segala kenikmatan, manfaat, rezeki, atau kebaikan yang kita terima.

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

“Apa saja nikmat yang kalian dapatkan, maka itu dari Allah.” [An-Nahl: 53]


Seseorang dikatakan bersyukur jika ia melakukan 4 hal

1. Mengakui nikmat tersebut. Ia mengakui bahwa itu adalah nikmat dari Allah, tidak didapatkannya berkat keahliannya, namun karena pertolongan dan pemberian Allah.

2. Memuji Allah.

Sahabat Nabi Ibnu Abbas menyatakan: “Ucapan Alhamdulillah adalah kalimat yang diucapkan oleh seluruh orang yang bersyukur.” [Tafsir Ibnu Katsir 1/128]

إِنَّ اللَّهَ لَيَرْضَى عَنِ الْعَبْدِ أَنْ يَأْكُلَ الْأَكْلَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا أَوْ يَشْرَبَ الشَّرْبَةَ فَيَحْمَدَهُ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya Allah sungguh ridha kepada seorang hamba yang makan suatu makanan kemudian memuji Allah atasnya, atau meminum suatu minuman kemudian memuji Allah atasnya.” [HR Muslim no 4915]

3. Tunduk dan mencintai Allah.

4. Menjalankan ketaatan kepada Allah sebagai perwujudan syukur. Ia gunakan nikmat pemberian Allah untuk mentaatiNya, tidak untuk bermaksiat kepadaNya.

[Disarikan dari Madaarijus Saalikin karya Ibnul Qoyyim 2/247]

Allah tidak akan mengadzab seseorang yang beriman dan bersyukur kepadaNya:

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآَمَنْتُمْ …

“Mengapa Allah menyiksa kalian jika kalian bersyukur dan beriman ...?” [An-Nisaa’: 147]


Allah Maha Tunggal

Al-Muzani menyatakan:

“Dialah Allah Yang Maha Tunggal.

Al-Waahid dan al-Ahad adalah dua Nama Allah yang bermakna ‘Maha Tunggal/ Esa’.”

… قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“…katakanlah Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia adalah Yang Maha Tunggal (al-Waahid) lagi Maha Perkasa.” [Ar-Ra’d: 16]

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah bahwa aku hanyalah pemberi peringatan. Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah Yang Maha Tunggal lagi Maha Perkasa.” [Shaad: 65]

Ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah memiliki Nama al-Waahid adalah dalam surat Yuusuf: 39, Ibrahim: 48, Az-Zumar: 4, Ghafir: 16.

Sedangkan Nama Ahad, ada dalam ayat:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: “Dia Allah Yang Maha Tunggal.” [al-Ikhlash: 1]

Nama Allah al-Waahid dan al-Ahad disebutkan dalam satu hadits. Suatu hari Rasulullah shollallahu alaihi wasallam masuk ke dalam masjid. Di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang sholat, kemudian dalam tasyahhud ia bertawassul dengan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah dalam doanya:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepadaMu Ya Allah bahwa Engkau adalah al-Waahid al-Ahad as-Shomad Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada sesuatupun yang setara denganNya agar Engkau mengampuni dosa-dosaku Sesungguhnya Engkau Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Setelah mendengar hal itu Nabi menyatakan tiga kali:

قَدْ غُفِرَ لَهُ

“Ia telah diampuni …” [HR anNasaai no 1284 dan Ahmad no 18206, dishahihkan Syaikh al-Albany]


Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman
| 21 Mei 2013

Sumber:
| http://www.salafy.or.id/penjelasan-syarhus-sunnah-lil-muzani-bag-ke-2-a/

(Bhgn. 1) Penjelasan Syarhus Sunnah lil Muzani

Pendahuluan

Ismail bin Yahya Al-Muzani (dikenal dengan Al-Muzani) seorang Ulama’ dari Mesir, meninggal pada tahun 264 H adalah murid Al-Imam Asy-Syafi’i. Bahkan, beliaulah yang memandikan jenazah Al-Imam Asy-Syafi’i.

---» Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah berkata:

“Al-Muzani adalah penolong madzhabku”.

Syarhus Sunnah adalah salah satu karya Al-Imam Al-Muzani dalam bidang akidah. InsyaAllah secara bersiri akan ditampilkan tulisan penjelasan terhadap Syarhus Sunnah lil Muzani tersebut. Pembahasan akidah yang disampaikan berkisar tentang:

---» ketinggian Allah di atas ‘Arsy,
---» iman terhadap Malaikat,
---» penciptaan Adam,
---» surga dan neraka,
---» keimanan terhadap takdir,
---» hakikat keimanan,
---» keyakinan bahwa Al-Quran adalah Kalam Allah bukan makhluk,
---» keimanan terhadap Sifat-Sifat Allah,
---» tidak gegabah dan bermudah-mudahan dalam mengkafirkan seseorang yang asalnya muslim,
---» ketaatan kepada pemimpin muslim,
---» ajal makhluk,
---» fitnah kubur,
---» pengadilan hari kiamat,
---» kecintaan terhadap para Sahabat Nabi.

Tidak luput pula pembahasan tentang:

---» 4 rukun Islam (sholat fardhu, zakat, shoum Ramadhan, haji),
---» menghindari najis,
---» thoharoh (wudhu dan mandi wajib),
---» sholat Sunnah (witir, rowatib, Iedul Fithri dan Iedul Adha, sholat gerhana, dan istisqo’).

Beberapa contoh dosa besar juga dibahas, yaitu tentang perbuatan mengadu domba, ghibah, dusta, dan bertindak sewenang-wenang. Pada tulisan pertama ini baru akan disampaikan tentang biografi Al-Imam Al-Muzani, sebab penulisan risalah Syarhus Sunnah, serta penjelasan terhadap muqoddimah yang beliau sampaikan.


BIOGRAFI IMAM Al-MUZANI

Nama Lengkap

(Abu Ibrahim) Ismail bin Yahya bin Isma’il Al-Muzani

Masa Kehidupan

(175 – 264 H). Beliau hidup selama 89 tahun. Pada masa kehidupan beliau hiduplah 11 penguasa Al-Abbasiyah. Di antaranya Harun ar-Rasyid (193 H), Muhammad Al-Amin (198 H), Al-Ma’mun (218 H)-awal pemerintah fitnah khuluqul qur’an- bermula, Al-Mu’tashim (227), Al-Watsiq (232 H), Al-Mutawakkil (247 H)-penguasa yang mulai menghidupkan Sunnah-.

Pujian Ulama terhadap Beliau

---» Al-Imam Ibnu Abdil Bar (salah seorang Ulama’ Malikiyyah) menyatakan:

“Beliau adalah Sahabat Asy-Syafi’i yang paling berilmu, kecerdasan dan pemahamannya sangat detail, kitab-kitab dan ringkasan-ringkasan karyanya tersebar di seluruh penjuru bumi baik di timur maupun barat. Beliau adalah seorang yang bertaqwa, wara’, dan (menjaga) agama. Sangat penyabar dalam (menyikapi) keadaan yang sedikit dan kekurangan.” [Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8]

---» Al-Imam Ibnul Jauzi (salah seorang Ulama’ Al-Hanabilah) menyatakan:

“Beliau adalah Sahabat Asy-Syafi’i–semoga Allah merahmatinya-. Beliau adalah seorang yang faqih (paham permasalahan agama) lagi cerdas. Terpercaya dalam hadits. Beliau memiliki (semangat) beribadah dan keutamaan. Beliau termasuk makhluk Allah Azza Wa Jalla yang terbaik. Senantiasa melakukan ribath (berjaga di perbatasan kaum muslimin).” [Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8]

---» Al-Imam adz-Dzahaby (salah seorang Ulama’ Syafi’iyyah) menyatakan:

“Beliau adalah Imam yang sangat berilmu. Orang yang faqih dalam agama ini. Tanda (syiar-nya) kezuhudan.” [Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 8]

Tempat Tinggal

Mesir

Guru-guru Beliau

Beliau mengambil ilmu dari beberapa Ulama’, di antaranya:

---» Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i
---» Ali bin Ma’bad bin Syaddad Al-Bashri
---» Nu’aim bin Hammad, Ulama’ yang pertama kali menyusun kitab Al-Musnad.
---» Ashbagh bin Nafi’

Murid-murid Beliau

Di antara murid beliau yang terkenal adalah :

---» Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (dikenal dengan Ibnu Khuzaimah), salah seorang guru Al-Bukhari dan Muslim (selain periwayatan hadits dalam Shahihnya) serta Ibnu Hibban Al-Bustiy (Ibnu Hibban adalah guru Al-Hakim).

---» Abu Ja’far at-Thohawy, penulis kitab Akidah at-Thohawiyah. At-Thohawy menyatakan: “Orang pertama yang aku tulis hadits (Nabi) darinya adalah Al-Muzani.” Al-Muzani adalah paman at-Thohawy dari jalur ibu.

---» Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Raziy, penulis kitab tafsir berdasarkan atsar, yang dikenal dengan Tafsir Ibn Abi Hatim. Al-Imam Ibnu Katsir banyak mengambil rujukan dari kitab tersebut dalam tafsirnya.

Penolong Madzhab Asy-Syafi’i

---» Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menyatakan tentang Al-Muzani:

الْمُزَنِى نَاصِرُ مَذْهَبِى

“Al-Muzani adalah penolong madzhabku.” [Siyar A’lamin Nubalaa’ karya adz-Dzahaby, 12/493, Thobaqot Asy-Syafiiyyah Al-Kubro karya Tajuddin as-Subkiy, 2/94]

---» Asy-Syafi’i-lah yang mengarahkan Al-Muzani untuk menekuni ilmu fiqh. Suatu hari Asy-Syafi’i menyatakan kepada Al-Muzani:

“Apakah tidak sebaiknya kau mempelajari ilmu yang jika engkau benar engkau mendapat pahala, dan jika salah (dalam berijtihad) engkau tidak berdosa?”

Al-Muzani berkata: “Ilmu apa itu?”, Asy-Syafi’i menyatakan: “ilmu fiqh.” Sejak saat itu Al-Muzani berguru fiqh secara intensif kepada Asy-Syafi’i. [Thobaqoot Asy-Syafiiyyah Al-Kubro karya Tajuddin as-Subkiy, 2/98]

Kecerdasan dan Kekuatan Hujjahnya dalam Berdebat

Al-Imam Asy-Syafi’i pernah berkata dengan menunjuk pada Al-Muzani:

هذَا لَوْ نَاظَرَ الشَّيْطَانَ قَطَعَهُ أَوْ جَدَلَهُ

“(Anak) ini kalau (seandainya) mendebat syaithan, niscaya akan mengalahkannya.” [Hilyatul Awliyaa’ karya Abu Nuaim, 9/139]

Kekuatannya dalam Beribadah

---» Umar bin Utsman Al-Makkiy menyatakan:

“Saya tidak pernah melihat seseorang yang… (kekuatan) ibadahnya dan keistiqomahan ibadahnya seperti Al-Muzani.” [Wafayaat Al-A’yan (2/352) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25]

---» Abu Sa’id bin as-Sukkary menyatakan:

“Aku pernah melihat Al-Muzani, aku tidak melihat orang yang lebih (kuat) beribadah kepada Allah (selain dia).” [Wafayaat Al-A’yan (2/351) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25]

---» Yusuf bin Abdil Ahad Al-Qummy menyatakan:

“Saya pernah menemani Al-Muzani pada suatu malam, matanya sedang sakit. Dia selalu memperbarui wudhu’ kemudian berdoa. Ketika merasa mengantuk, ia berwudhu’, kemudian berdoa, demikian dilakukan hingga 17 kali.” [Manaqib Asy-Syafi’i karya Al-Baihaqy (2/350) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 24]

Senang Memandikan Jenazah

Al-Muzani sangat bersemangat untuk ikut serta memandikan jenazah, sebagai bentuk ibadah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala.

---» Adz-Dzahaby menyatakan:

“Beliau (Al-Muzani) suka memandikan jenazah sebagai bentuk ibadah dan mengharapkan pahala (dari Allah),” Al-Muzani menyatakan: “Aku berusaha untuk (selalu) ikut memandikan jenazah untuk melembutkan hatiku, sehingga kegiatan itu kemudian menjadi kebiasaanku.” [Siyaar A’laamin Nubalaa’ (12/495) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25]

Bahkan beliaulah yang memandikan jenazah Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah bersama arRabi’ bin Sulaiman Al-Muroodiy. [Wafayaat Al-A’yaan (1/218) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 25]

Catatan:

---» Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda:

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ أَرْبَعِينَ مَرَّةً ، وَمَنْ حَفَرَ لَهُ فَأَجَنَّهُ أُجْرِىَ عَلَيْهِ كَأَجْرِ مَسْكَنٍ أَسْكَنَهُ إِيَّاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ كَفَنَّهُ كَسَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ سُنْدُسِ وَإِسْتَبْرَقِ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang memandikan seorang muslim kemudian menyembunyikan (aibnya), Allah akan ampuni untuknya 40 kali. Barangsiapa yang menggalikan kubur untuknya kemudian menguburkannya, akan dialirkan pahala seperti pahala memberikan tempat tinggal hingga hari kiamat. Barangsiapa yang mengkafaninya, Allah akan memberikan pakaian untuknya pada hari kiamat sutera halus dan sutera tebal dari surga.” [HR Al-Baihaqy, At-Thobarony, dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Albany)

Karya-karya Al-Muzani

Semasa hidupnya, Al-Muzani telah menghasilkan beberapa karya tulis yang bermanfaat, di antaranya:

• Ahkaamul Qur’aan
• Ifsaadut Taqliid (kerusakan perbuatan taqlid). Az-Zarkasyi kadang menyebut kitab ini dengan sebutan Fasaadut taqliid, kadang disebut Dzammut Taqliid
• Al-Amru wan Nahyu ala Ma’na Asy-Syafi’i
• At-Targhiib fil ‘ilmi
• Al-Jaami’ul Kabiir
• Al-Jaami’us Shoghiir
• Ad-Daqoo-iq wal ‘Aqoorib
• Syarhus Sunnah, karya beliau yang kita kaji dalam buku ini.
• Al-Mabsuuth fil furuu’.
• Al-Mukhtasharul Kabiir.
• Mukhtasharul mukhtashar, yang dikenal dengan mukhtashar Al-Muzani

---» Abul Abbas as-Suraij menyatakan tentang mukhtashar Al-Muzani:

“Kitab ini adalah pondasi / induk dari kitab-kitab bermadzhab Asy-Syafi’i. Terhadap permisalan-nya mereka mengurutkan, ucapannya mereka jelaskan.” [Al-Waafiy bil wafayaat (9/238) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 43]

---» Al-Baihaqy menyatakan:

“Aku tidak mengetahui adanya suatu kitab yang ditulis dalam Islam yang lebih besar manfaatnya, lebih luas keberkahannya, lebih banyak buahnya. Bagaimana tidak, (hal itu didukung oleh) akidahnya (yang benar) dalam agama Allah, dan ibadahnya kepada Allah, kemudian (kesungguhannya) dalam menyusun kitab ini.” [Manaqib Asy-Syafi’i (2/328) melalui Isma’il bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu syarhus sunnah hal 44]

---» Al-Muzani menyatakan dalam pembukaan pada Mukhtashar Al-Muzani:

“Aku ringkaskan dalam kitab ini (suatu pengetahuan) yang berasal dari ilmu Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah dan dari makna ucapan-ucapannya. Untuk mendekatkan (pemahaman) kepada yang menginginkannya. Disertai dengan penjelasan larangan untuk bersikap taqlid (fanatisme membabi buta) terhadap beliau (Asy-Syafi’i) ataupun selainnya. Untuk dilihat hal itu dalam agamanya, dan agar dijaga untuk dirinya.” [Mukhtashar Al-Muzani fii furuu’isy syaafiiyyah hal 7 cetakan Daarul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut Lebanon]

• Al-Masaa-ilul Mu’tabaroh
• Akidah Ahmad bin Hanbal
• Al-Mantsuuroot
• Nihaayatul Ikhtishar
• Al-Watsaa-iq
• Al-Wasaa-il

LATAR BELAKANG PENULISAN Syarhus Sunnah lil Muzani

Hal yang melatarbelakangi penulisan kitab Syarhus Sunnah karya Al-Muzani itu adalah sebagai berikut:

Sekelompok orang berkumpul dan membicarakan tentang Ulama’-Ulama’ Ahlussunnah di antaranya Malik, Asy-Syafi’i, Sufyan ats-Tsaury, dan lain-lain hingga menyinggung tentang Al-Muzani. Salah seorang menyangkal bahwa Al-Muzani adalah termasuk Ulama’ (Ahlussunnah), karena (menurut dia) Al-Muzani memiliki pemahaman yang menyimpang tentang taqdir dan bahwasanya Al-Muzani suka berdebat dengan menggunakan qiyas. Maka salah seorang yang hadir di majelis tersebut kemudian mengirim surat kepada Al-Muzani agar dituliskan tentang akidahnya. Al-Muzani kemudian membalas surat itu dengan risalah Syarhus Sunnah ini. [Ismail bin Yahya Al-Muzani wa risaalatuhu Syarhus Sunnah karya Doktor Jamal ‘Azzun hal 77]


KALIMAT PEMBUKA (MUQODDIMAH)

بسم الله الرحمن الرحيم
عَصَمَنَا اللهُ وَإِياَّكُمْ بِالتَّقْوَى وَوَفَّقَنَا وَإِياَّكُمْ لِمُوَافَقَةِ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّكَ أَصْلَحَكَ اللهُ سَأَلْتَنِي أَنْ أُوْضِحَ لَكَ مِنَ السُّنَّةِ أَمْرًا تُصَبِّرُ نَفْسَكَ عَلَى التَّمَسُّكِ بِهِ وَتَدْرَأُ بِهِ عَنْكَ شُبَهَ اْلأَقَاوِيْلِ وَزَيْغَ مُحْدَثاَتِ الضَّالِّيْنَ وَقَدْ شَرَحْتُ لَكَ مِنْهَاجًا مُوْضِحًا مُنِيْرًا لَمْ آلُ نَفْسِيْ وَإِياَّكَ فِيْهِ نُصْحًا بَدَأْتُ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ ذِي الرُّشْدِ وَالتَّسْدِيْدِ

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Semoga Allah menjaga kita dengan taqwa dan memberikan taufiq kepada kita untuk (berjalan) sesuai petunjuk. Amma Ba’du. Sesungguhnya anda -semoga Allah memperbaiki keadaan anda- meminta kepada saya untuk menjelaskan as-Sunnah dengan penjelasan yang membuat jiwa anda bisa bersabar dalam berpegang teguh kepadanya, dan dengan penjelasan itu bisa menolak ucapan-ucapan yang mengandung syubhat (kerancuan), dan penyimpangan orang-orang yang mengada-ada lagi sesat. Saya akan jelaskan (sebentar lagi) manhaj (metode) yang jelas terang benderang dengan sepenuh jiwa pemberian nasehat untuk diri saya maupun anda. Saya mulai dengan memuji Allah yang memiliki petunjuk dan pengokohan (di atas kebenaran).”

PENJELASAN:

Al-Muzani memulai tulisannya dengan basmalah (Bismillahirrohmaanir rohiim). Hal itu adalah sesuai dengan Sunnah Nabi shollallahu alaihi wasallam. Tulisan-tulisan dari Nabi yang dikirim kepada para pembesar-pembesar di negeri lain, sebagai dakwah kepada Islam, selalu diawali dengan Bismillahirrohmaanir rohiim.

Contohnya adalah surat yang dikirim oleh Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam kepada Hiraqla pembesar Romawi:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ { يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ }

“Bismillahirrohmaanirrohiim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Hiraqla pembesar Romawi. Semoga keselamatan untuk (orang-orang) yang mengikuti petunjuk. Amma Ba’du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam. Masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah akan memberikan pahala dua kali kepadamu. Jika engkau berpaling, engkau juga akan menanggung dosa Al-Arisiyyin (rakyat jelata yang mengikutimu). Wahai Ahlul Kitab, marilah kita bersatu pada kalimat yang sama di antara kita, yaitu agar kita tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah dan kita tidak mensekutukan-Nya dengan suatu apapun, dan janganlah kita menjadikan orang di antara kita sebagai Tuhan selain Allah. Jika kalian berpaling, ucapkanlah: persaksikanlah bahwa kami adalah kaum muslimin.” [HR Al-Bukhari no 4188 dan Muslim no 3322]

Pada muqoddimah ini juga Al-Muzani mendoakan agar Allah menjaga beliau dan orang yang membaca risalah beliau tersebut dengan ketaqwaan dan agar semuanya mendapatkan hidayah Allah. Ini adalah salah satu kebiasaan Ulama’ Ahlussunnah yang menunjukkan kasih sayang mereka kepada kaum muslimin. Mereka mendoakan dan memberikan pengajaran yang benar kepada umat.

Beliau menyatakan :

وَقَدْ شَرَحْتُ لَكَ

Kalimat ini bisa mengandung 2 penafsiran, yaitu:

---» ‘Aku telah menjelaskannya kepadamu’.

Jika ini yang dimaksud, berarti beliau telah menulis semua isi risalah dan memberi muqoddimah setelahnya.

---» ‘Aku akan menjelaskan kepadamu sebentar lagi’.

Kata ‘qod’ dalam bahasa Arab jika diikuti kata kerja lampau (fi’il madhi) kebanyakan memang berarti ‘telah’ / sudah’, namun kadangkala juga bermakna akan mengerjakan perbuatan dalam waktu dekat. Seperti ucapan seseorang yang mengumandangkan iqoomah sebelum sholat: «Qod qoomatis sholaah», yang artinya: “sholat akan ditegakkan sebentar lagi”.

Penjelasan yang Terang Benderang

Al-Muzani menyatakan:

“Saya akan jelaskan (sebentar lagi) manhaj (metode) yang jelas terang benderang…”

Para Ulama’lah yang menjelaskan ajaran Islam dengan jelas dan terang benderang. Membersihkan dan memurnikannya dari berbagai pemikiran yang menyimpang.

يَحْمِلُ هذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu ini dibawa oleh orang-orang yang adil (para Ulama’) pada setiap generasi. Mereka menghilangkan penyimpangan makna (Al-Quran dan hadits) yang dilakukan oleh para Ahlul Bid’ah, pengakuan dari para penolak (agama), dan penafsiran (menyimpang) dari orang-orang yang bodoh.” [H.R Al-Baihaqy dan lainnya, dishahihkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Ilal karya Al-Khollal–Tadriibur Rowi, 1/303]

Sesungguhnya ajaran yang disampaikan oleh Nabi shollallahu alaihi wasallam adalah ajaran yang telah terang benderang. Kemudian datang para penyimpang, namun pada setiap waktu akan selalu ada para Ulama’ yang membersihkan kekotoran-kekotoran tersebut hingga ajaran itu kembali menjadi terang benderang.

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Aku telah tinggalkan untuk kalian (ajaran yang jelas) yang putih (bersinar), malamnya bagaikan siangnya. Tidaklah ada yang menyimpang sepeninggalku kecuali ia akan binasa.” [HR Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Abi Ashim, dinyatakan bahwa sanadnya hasan oleh Al-Mundziri, dan dishahihkan Al-Albany).

Sikap an-Nashiihah terhadap Kaum Muslimin

Al-Muzani menyampaikan bahwa dalam menulis risalah ini ia sampaikan dengan sepenuh hati pemberian an-nashiihah (nasehat). Beliau menyatakan: Saya akan jelaskan (sebentar lagi) manhaj (metode) yang jelas terang benderang dengan sepenuh jiwa pemberian nasehat untuk diri saya maupun anda

Sikap anNashiihah adalah ketulusan; keikhlasan untuk memberikan yang terbaik, tidak ada niatan (buruk) lain di baliknya.

عَنْ جَرِيرٍ قَالَ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى إِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

Dari Jarir radhiyallahu anhu ia berkata: “Aku berbaiat (bersumpah setia) kepada Rasulullah shollallahu alaihi wasallam untuk menegakkan sholat,menunaikan zakat, dan bersikap an-nashiihah kepada seluruh muslim.” [H.R Al-Bukhari no 2514 dan Muslim no 83]

Selanjutnya, Al-Muzani dalam muqoddimah ini menyatakan :

بَدَأْتُ فِيْهِ بِحَمْدِ اللهِ ذِي الرُّشْدِ وَالتَّسْدِيْدِ

“Saya mulai dengan memuji Allah yang memiliki petunjuk dan pengokohan (di atas kebenaran).”

Beliau mulai pujian kepada Allah. Sebagaimana Nabi shollallahu alaihi wasallam selalu memulai khutbah atau ceramah beliau dengan memuji Allah terlebih dahulu.


... Bersambung.


Ditulis oleh:
| Al-Ustadz Abu Utsman Kharisman
| 15 Mei 2013

Sumber:
| http://www.salafy.or.id/penjelasan-syarhus-sunnah-lil-muzani-bag-ke-1/

[Audio] Al-Ustadz Qomar Suaidi – Lanjutan kajian kitab Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah

Alhamdulillah telah terselenggara kajian kitab Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah via tele conference bersama Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc hafidzahullah. Kajian mingguan ini bermula pada Sabtu, Ba’da Isyak, 09 Rejab 1434H berlokasi di teratak Abu Umar, di Kampung Datuk Keramat, KL. Semoga kami mendapatkan kemudahan untuk bisa terus mengkaji kitab ini sehingga selesai. Insya Allah.

Selanjutnya, ikutilah kajian beliau melalui ramakan audio berikut:

Ikuti kajian awal pada sesi daurah yang lalu di sini 


340708 :: [Sesi 9] Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah13.1MB

340722 :: [Sesi 10] Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah3.3MB

340729 :: [Sesi 11] Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah9.2MB

340807 :: [Sesi 12] Ad-Durus Al-Muhimmah Li ‘Ammatil Ummah9.1MB

Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih “Save Link As ...”. Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

Menyikapi Bulan Rajab

Bukan Termasuk Petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam Mengkhususkan Ritual Ibadah Tertentu di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan oleh Allah ta’ala. Namun tidak sedikit kaum muslimin yang masih jauh dari bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyambut datangnya bulan ini, yaitu mengkhususkan ritual-ritual ibadah tertentu seperti puasa, shalat Raghaib, peringatan malam 27, dan lain sebagainya.

Berikut penjelasan para ulama tentang pengkhususan ritual ibadah tertentu pada bulan ketujuh penanggalan hijriyah ini. Semoga kita bisa mengambil pelajaran darinya.



Fatwa Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’

Pertanyaan:

Di sana ada hari-hari tertentu (khusus) di bulan Rajab yang ditunaikan padanya puasa sunnah, apakah hari-hari tersebut jatuh pada awal bulan, pertengahan, ataukah di akhirnya?

Jawab:

Tidak ada hadits-hadits khusus yang tetap (shahih) tentang keutamaan puasa pada bulan Rajab selain hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i dan Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dari shahabat Usamah, bahwa dia berkata:

“Aku berkata: Wahai Rasulullah, aku tidak melihat engkau berpuasa pada bulan tertentu sebagaimana puasa engkau pada bulan Sya’ban.”

---» Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذلك شهر يغفل عنه الناس بين رجب ورمضان، وهو شهر ترفع فيه الأعمال إلى رب العالمين فأحب أن يرفع عملي وأنا صائم

“Itu adalah bulan yang orang-orang lalai darinya, bulan yang terletak antara Rajab dan Ramadhan, dan itu adalah bulan yang mana seluruh amalan diangkat ke hadapan Rabbul ‘Alamin, maka aku senang jika amalanku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” [HR. Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Abi Syaibah, Abu Ya’la, Ibnu Zanjuyah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Barudi, Sa’id bin Manshur]

Hadits-hadits yang ada menunjukkan keumuman tentang dorongan untuk berpuasa tiga hari di setiap bulan, dan dorongan untuk berpuasa pada hari-hari Bidh di setiap bulan, yaitu tanggal 13, 14, dan 15, dorongan untuk berpuasa pada bulan-bulan haram, puasa pada hari Senin dan Kamis. Dan bulan Rajab masuk ke dalam keumuman dari itu semua.

Jika engkau bersemangat untuk memilih hari-hari tertentu pada setiap bulannya, maka pilihlah hari-hari Bidh yang tiga tersebut, atau hari Senin dan Kamis, kalau tidak maka terserah karena perkaranya sangat mudah.

Adapun pengkhususan puasa pada hari-hari tertentu di bulan Rajab, maka kami tidak mengetahui dasarnya dalam syari’at ini. Wabillahit Taufiq.

Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’
Ketua: ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi
Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan
Anggota : ‘Abdullah bin Qu’ud
Sumber: Fatawa Al-Lajnah Ad-Da-imah Lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ [III/176]
Pertanyaan pertama dari fatwa no. 2608



Penjelasan Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah

Beliau ditanya:

Sebagian orang mengkhususkan bulan Rajab dengan melakukan berbagai bentuk ibadah tertentu seperti shalat Raghaib[1] dan menghidupkan malam ke-27. Apakah yang demikian itu ada dasarnya di dalam syari’at ini? Jazakumullahu khairan.

Beliau menjawab:

Pengkhususan bulan Rajab dengan ibadah shalat raghaib atau peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa malam tersebut adalah malam Isra’ Mi’raj, maka ini semua adalah bid’ah dan tidak boleh untuk dilaksanakan, amaliyah seperti itu tidak ada dasaranya dalam syari’at ini.

Para ulama juga telah memperingatkan tentang permasalahan ini, dan kami pun juga sudah pernah menulis tentangnya lebih dari sekali, dan kami telah jelaskan kepada orang-orang bahwa shalat raghaib adalah bid’ah, yaitu sebuah ritual yang dilakukan oleh sebagian orang di malam Jum’at pertama bulan Rajab.

Demikian pula peringatan malam 27 dengan keyakinan bahwa itu adalah malam Isra’ Mi’raj, itu semua adalah bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at.

Malam Isra’Mi’raj tidak diketahui secara pasti kapan terjadinya. Kalaupun diketahui, tetap tidak diperbolehkan untuk mengadakan peringatan malam tersebut, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah memperingatinya, demikian pula para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun dan para shahabat yang lain radhiyallahu ‘anhum. Kalau seandainya peringatan seperti itu termasuk sunnah, maka niscaya mereka akan mendahului kita untuk memperingatinya.

---» Segala kebaikan itu ada pada sikap mengikuti mereka dan berjalan di atas manhaj mereka sebagaimana Allah ‘azza wajalla firmankan:

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” [At-Taubah: 100]

---» Dan telah shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa yang mengada-adakan perkara baru dalam urusan (agama) kami ini yang pada dasaranya bukan berasal dari agama tersebut, maka dia tertolak.” [HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad]

---» Dan beliau ‘alaihish shalatu wassalam juga bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim, Ahmad]

Dan makna ‘maka amalannya tersebut tertolak’ adalah ‘tertolak kepada pelakunya’.

---» Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam khuthbahnya:

أما بعد فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد – صلى الله عليه وسلم – ، وشر الأمور محدثاتها ، وكل بدعة ضلالة

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” [HR. Muslim, An-Nasa’i]

Maka yang wajib atas segenap kaum muslimin adalah untuk mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan istiqamah di atasnya, saling mewasiati untuk itu dan waspada dari segala bentuk kebid’ahan sebagai realisasi dari pengamalan firman Allah ‘azza wajalla:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” [Al-Maidah: 2]

---» Dan firman-Nya subhanahu wata’ala:

وَالْعَصْرِ سورة العصر الآية إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ سورة العصر الآية إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr: 1-3]

---» Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

الدين النصيحة ، قيل : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم.

“Agama itu adalah nasehat. Ditanyakan kepada beliau: untuk siapa wahai Rasulullah? Beliau bersabda: untuk Allah, untuk kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan segenap umat Islam.” [HR. Muslim]

Adapun umrah, maka tidaklah mengapa untuk ditunaikan pada bulan Rajab, karena telah shahih di dalam Ash-Shahihain dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menunaikan umrah pada bulan Rajab[2]. Dahulu para salaf juga menunaikan umrah pada bulan Rajab, sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah di dalam kitabnya ‘Al-Latha-if’ dari shahabat ‘Umar, anaknya (Ibnu ‘Umar), dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Dan dinukilkan dari Ibnu Sirin bahwa para salaf dahulu juga melakukan yang demikian. Wallahu Waliyyut Taufiq.

Sumber:
| Majmu’ Fatawa Ibn Baz [XI/476-477]



Penjelasan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له شهادة أرجو بها النجاة يوم نلاقيه وأشهد أن محمداً عبده ورسوله أرسله بالهدى ودين الحق فبلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح الأمة فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. أما بعد.

---» Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].

---» Dan Allah ‘azza wajalla juga berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” [At-Taubah: 36]

---» Sesungguhnya bulan-bulan Hilaliyah ini merupakan bulan-bulan yang Allah tetapkan untuk hamba-hamba-Nya sebagai waktu-waktu bagi manusia dalam bermu’amalah dan beribadah.

قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji.” [Al-Baqarah: 189].

Di antara bulan-bulan tersebut adalah empat bulan yang diharamkan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram yang merupakan tiga bulan yang berurutan, dan Rajab secara sendiri yang terletak antara bulan Jumadal Tsaniyah dan Sya’ban.

Dan sebentar lagi, bulan ini (yakni Rajab, pent) akan tiba mendatangi kalian. Bulan ini merupakan salah satu dari empat bulan-bulan haram yang memiliki keutamaan. Sudah semestinya pada bulan tersebut untuk menjauhi berbagai bentuk maksiat sebagaimana pada tiga bulan yang lain, namun tidak pernah disebutkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau mengkhususkan pada bulan itu dengan menambah ibadah shalat maupun puasa. Semua hadits yang menyebutkan tentang permasalahan ini adalah hadits-hadits yang lemah dan tidak bisa dijadikan hujjah.

Sebagian orang beribadah kepada Allah ‘azza wajalla dengan berpuasa pada tiga bulan: Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan, namun tidak dibenarkan untuk mengkhususkan puasa pada bulan Rajab.

Adapun Sya’ban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memperbanyak puasa pada bulan tersebut sampai pernah beliau berpuasa sebulan penuh ataupun mayoritasnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.[3]


Wahai saudara-saudaraku,

Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah suatu perkara yang diada-adakan dalam agama ini. Sesungguhnya seluruh amalan yang dengannya engkau beribadah kepada Allah, namun amalan tersebut tidak pernah disyari’atkan di dalam Kitabullah maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sesungguhnya itu adalah kebid’ahan yang tidaklah menambah bagi engkau kecuali semakin jauh dari Allah ‘azza wajalla.

---» Karena setiap orang yang berbuat bid’ah, berarti kebid’ahannya itu akan memberikan makna bahwa agama ini belum sempurna semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal Allah ta’ala telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِيناً

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” [Al-Maidah: 3]

Allah berfirman yang demikian itu dalam sebuah ayat yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari Jum’at, di hari ‘Arafah ketika haji wada’.

Sehingga agama ini telah sempurna, tidak butuh kepada penyempurnaan, dan tidak pula butuh kepada sesuatu yang diada-adakan. Setiap manusia yang beribadah kepada Allah dengan menjalankan suatu amalan yang tidak disyari’atkan di dalam Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya, maka amalannya tersebut tertolak dan dia tersesat disebabkan amalannya itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam rangka memberikan peringatan kepada umatnya:

إياكم ومحدثات الأمور فإن كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة

“Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan (tuntunan syari’at) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” [HR. Muslim]

Ambillah prinsip ini wahai saudaraku muslim, ambillah petunjuk ini, bahwa setiap amalan yang dengannya seseorang beribadah (kepada Allah), baik itu amalan hati seperti aqidah/keyakinan, atau amalan lisan seperti dzikir-dzikir bid’ah, atau amalan anggota badan seperti amaliyah bid’ah, jika tidak memiliki saksi (berupa dalil/hujjah, pent) dari Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, maka tidaklah didapatkan kecuali kerugian di dunia dan akhirat.

أسأل الله تعالى أن يبصرني وإياكم بدينه وأن يرزقنا علماً نافعاً وعملاً صالحاً يُقربنا إليه وأعوذ به من الجهل والبدع

Saya memohon kepada Allah ta’ala agar Dia memberikan bashirah (ilmu pengetahuan) kepadaku dan kepada kalian semua tentang agama-Nya, dan agar Dia memberikan rizki kepada kita semua berupa ilmu yang bermanfaat dan amalan shalih yang bisa mendekatkan diri kita kepada-Nya. Dan saya memohon perlindungan kepada-Nya dari kebodohan dan kebid’ahan.

اللهم إنا نسألك يقيناً لا شك معه وإيماناً لا كفر معه واتباع لا ابتداع معه وإخلاصاً لا شرك معه يا ذا الجلال والإكرام يا حي يا قيوم

“Ya Allah, kami memohon kepada Engkau keyakinan yang tidak ada keraguan bersamanya, keimanan yang tidak ada unsur kekufuran bersamanya, sikap ittiba’ (mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) yang tidak ada sikap ibtida’ (mengada-adakan perkara baru dalam agama) bersamanya, ikhlas yang tidak ada kesyirikan bersamanya, wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, wahai Dzat yang maha hidup lagi terus-menerus dalam mengurus makhluk-Nya.”


Wahai saudara-saudara kaum muslimin,

---» Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang agung:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [Al-Ahzab: 56]

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” [Al-Baqarah: 285]

اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم صلِّ وسلم على عبدك ورسولك محمد اللهم ارزقنا محبته واتباعه ظاهراً وباطنا اللهم احشرنا في زمرته اللهم اسقنا من حوضه اللهم أدخلنا في شفاعته اللهم اجمعنا به وبمن أنعمت عليهم في جنات النعيم إنك على كل شيء قدير

Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad, Ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada hamba dan rasul Engkau Muhammad.

Ya Allah, limpahkanlah rizki kepada kami untuk bisa mencintai beliau, mengikuti sunnah beliau, zhahir maupun batin.

Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam barisan beliau, ya Allah, berilah kami kesempatan untuk minum dari telaga beliau (nanti pada hari Qiyamat, pent), ya Allah, masukkanlah kami ke dalam jajaran orang-orang yang mendapatkan syafa’at beliau.

Ya Allah, kumpulkanlah kami bersama beliau dan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat di surga yang penuh kenikmatan.

---» Sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.

اللهم ارض عن خلفائه الراشدين وعن الصحابة أجمعين وعن التابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين اللهم ارض عنا كما رضيت عنهم اللهم أصلح أحوالنا كما أصلحت أحوالهم

“Ya Allah, ridhailah para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidun, para shahabat, dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik sampai datangnya hari pembalasan. Ya Allah, ridhailah kami sebagaimana Engkau telah meridhai mereka.”

---» Ya Allah, perbaikilah keadaan kami sebagaimana Engkau telah memperbaiki keadaan mereka.

اللهم اجمع قلوبنا على الحق يا رب العالمين اللهم آلف بين قلوبنا اللهم اهدنا سبل السلام اللهم ألق بيننا المودة والمحبة يا رب العالمين اللهم أبعد عنا اختلاف القلوب والعداوة والبغضاء إنك على كل شيء قدير.

“Ya Allah, kumpulkanlah hati-hati kami di atas al-haq, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, satukanlah hati hati kami, ya Allah, berilah kami petunjuk kepada jalan keselamatan, ya Allah, tanamkan kecintaan dan kasih saying di antara kami, wahai Rabb semesta alam. Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala bentuk perselisihan hati, permusuhan, dan kebencian, sesungguhnya Engkau maha mampu atas segala sesuatu.”

---» Wahai hamba-hamba Allah,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” [An-Nahl: 90]

Sumber:
| http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=102207



Penjelasan Fadhilatul ‘Allamah Dr. Shalih bin Sa’d As Suhaimi hafizhahullah


Dan termasuk kebid’ahan yang tersebar pada masa ini adalah apa yang diyakini oleh orang-orang (kaum muslimin, pent) berupa pengkhususan bulan Rajab untuk melakukan ibadah tertentu seperti puasa atau menentukan hari tertentu (seperti malam 27 Rajab, pent) untuk menyelenggarakan ritual perayaan dan ibadah-ibadah tertentu dengan anggapan bahwa pada bulan tersebut adalah malam terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj.

Penentuan semacam ini tidak ada dalilnya dari Kitabullah ta’ala maupun dari sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak ragu lagi bahwasanya peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah benar adanya, dan beriman terhadapnya apa hukumnya?! Wajib, dan seorang muslim tidak ragu dalam perkara ini.

---» Bahkan beriman dengan (Isra’ Mi’raj) merupakan perkara yang sudah diwajibkan oleh Allah tabaraka wata’ala di dalam kitab-Nya:

سُبْحَانَ الَذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ المَسْجِدِ الحَرَامِ إلَى المَسْجِدِ الأَقْصَا الَذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya.” [Al Isra': 1]

Dan beliau telah diisra’kan dengan ruh dan jasadnya, tidak dengan ruhnya saja, dan bukan pula kejadian dalam mimpi saja, bahkan beliau diisra’kan dengan ruh dan jasadnya shallallahu ‘alaihi wasallam -hingga beliau sampai di sidratul muntaha- shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.

Ini merupakan kedudukan yang tidak dicapai oleh seorang nabi pun sebelumnya, dan ini merupakan kekhususan yang Allah berikan kepadanya shalawatullahi wasalamuhu ‘alaihi.

Dan walaupun Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang tsabit (tetap dalam syari’at ini) dan beriman dengannya adalah wajib dan telah diwajibkan pula ketika itu shalat lima waktu, akan tetapi kita tidak memiliki dalil yang pasti bahwa itu terjadi di bulan Rajab.

Kemudian di sana ada perkara lainnya, yaitu bahwasanya walaupun kita mendapatkan dalil bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu terjadi pada bulan Rajab, apakah kita disyaria’tkan untuk melakukan ritual ibadah tertentu pada bulan tersebut?

Jawabannya adalah: tidak, karena segala bentuk ibadah itu sifatnya adalah tauqifiyyah (tetap dan paten sesuai dengan tuntunan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam) yang harus diketahui (dalil dan landasannya, pent) dari syari’at ini. Dan setelah mengalami peristiwa Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hidup selama sekitar 13 tahun, dan beliau tidak pernah mengadakan acara-acara tertentu untuk memperingati peristiwa tersebut.

Apakah kita yang lebih bersemangat mengikuti al-haq ataukah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam? Tentunya beliau, ini tentunya tidak ragu lagi.

Sesungguhnya perbuatan mengada-adakan ibadah tertentu untuk memperingati Isra’ dan Mi’raj pada tanggal 12 atau 27 Rajab itu terjadi pada abad ke-4 Hijriyyah, setelah banyak bermunculannya sikap taqlid kepada orang-orang Yahudi dan Nashara dalam memperingati hari-hari ‘ied (hari raya-hari raya), seperti peringatan-peringatan hari-hari kelahiran atau yang lainnya dari bentuk peringatan-peringatan (hari raya) jahiliyyah yang Allah tidak menurunkan satu hujjahpun, maka itu semua adalah peringatan-peringatan jahiliyyah dan bid’ah yang diada-adakan.

Hari-hari ‘ied dalam Islam, ada berapa hari ‘ied kita? Aku katakan: hari ’ied Islam ada tiga, apa saja itu? ‘Iedul Fithri, ‘Iedul Adh-ha, dan ‘Iedul Usbu’ yang itu merupakan hari Jum’at. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam telah menamakan itu semua dengan ‘ied dan tidak ada ‘ied yang keempat dari hari-hari ‘ied tersebut. Tidak ada ‘ied (hari ulang tahun) kelahiran, ataupun i’ed (hari raya) nasional, ‘ied perayaan Isra’ dan Mi’raj, ………..

Itu semua adalah ‘ied (perayaan/hari raya) jahiliyyah, semuanya adalah ‘ied jahiliyyah, tidak diketahu (dikenal) kecuali setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali setelah empat abad kemudian.

Kita mengajukan pertanyaan di sini:

Siapakah yang berada di atas al-haq?

Mereka generasi pertama yang hidup pada masa-masa generasi terbaik dan diutamakan? Ataukah Al-Fathimiyyun Al-’Ubaidiyyun yang menisbahkan kepada Fathimah radhiyyallahu ‘anha secara palsu dan dusta setelah empat abad (dari wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent)?! Siapa yang berada di atas al-haq?! Siapa yang lebih benar jalannya?!

Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih daripada kecintaan mereka kepada beliau. Mereka (para shahabat tersebut) datang membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan ruh dan jiwa-jiwa mereka, mereka menghadapi panah-panah dan tombak-tombak dengan dada-dada mereka yang suci dalam rangka menebus dirinya untuk (membela) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Walaupun demikian, mereka tidak pernah mengadakan peringatan-peringatan semacam ini. Apakah kemudian kita mengatakan bahwa mereka tidak mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam? Maha sempurna Allah, seorang muslim tidak akan mengatakan seprti itu, bahkan mereka (para shahabat) adalah orang-orang yang paling mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beriman terhadap Isra’ dan Mi’raj adalah wajib, akan tetapi anggapan bahwa itu terjadi pada malam 27 Rajab adalah tidak benar bahkan itu merupakan kedustaan.

Riwayat-riwayat dalam sejarah menyebutkan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada bulan Rajab, ada yang menyebutkan pada bulan Sya’ban, ada yang menyebutkan pula pada bulan Ramadhan, ada yang menyebutkan pada bulan Syawwal, dan ada pula yang menyebutkan pada bulan Dzulhijjah, Wallahu A’lam.

Tidak terlalu penting bagi kita (mengetahui) tarikh dalam masalah ini, dan yang (lebih) penting bagi kita adalah hakikat keimanan terhadap benarnya peristiwa Isra’ dan Mi’raj tersebut.

Demikian pula mengkhususkan bulan Rajab dengan puasa tertentu adalah tidak benar, tidak benar, tidak ada pada bulan Rajab itu puasa tertentu yang dikhususkan[4], dan barangsiapa yang mengkhususkan puasa pada bulan Rajab, maka tidak ragu lagi bahwa mereka telah melakukan salah satu bentuk kebid’ahan di antara kebid’ahan-kebid’ahan yang diada-adakan manusia. Tidak ada dalil shahih yang tetap dalam pengkhususan bulan Rajab dengan puasa tertentu, shalat tertentu, maupun ritual ibadah khusus, akan tetapi (bulan Rajab) adalah sebagaimana bulan-bulan yang lainnya.

Sumber: http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=121523

Diterjemahkan secara ringkas dan diberi catatan kaki oleh Abu Abdillah.

----
[1] Shalat Raghaib atau biasa juga disebut dengan Shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan ‘Isya. Pada siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaib ini (yakni hari Kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.

Adapun tata cara dan keutamannya adalah sebagaimana yang disebutkan dalam hadits maudhu’ (palsu) yang berbunyi:

وما من أحد يصوم يوم الخميس أول خميس في رجب، ثم يصلى فيما بين العشاء والعتمة، يعنى ليلة الجمعة، ثنتى عشرة ركعة، يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب مرة، وإنا أنزلناه في ليلة القدر ثلاث مرات، وقل هو الله أحد اثنتى عشرة مرة، يفصل بين كل ركعتين بتسليمة، فإذا فرغ من صلاته صلى على سبعين مرة، ثم يقول: اللهم صل على محمد النبي الامي وعلى آله، ثم يسجد فيقول في سجوده: سبوح قدوس رب الملائكة والروح سبعين مرة، ثم يرفع رأسه فيقول: رب اغفر لي وارحم وتجاوز عما تعلم إنك أنت العزيز الاعظم سبعين مرة، ثم يسجد الثانية فيقول مثل ما قال في السجدة الاولى، ثم يسأل الله تعالى حاجته، فإنها تقضى. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذى نفسي بيده ما من عبد ولا أمة صلى هذه الصلاة إلا غفر الله تعالى له جميع ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر وعدد ورق الاشجار، وشفع يوم القيامة في سبعمائة من أهل بيته، فإذا كان في أول ليلة في قبره جاءه بواب هذه الصلاة، فيجيبه بوجه طلق ولسان ذلق، فيقول له: حبيبي أبشر فقد نجوت من كل شدة، فيقول: من أنت فوالله ما رأيت وجها أحسن من وجهك، ولا سمعت كلاما أحلى من كلامك، ولا شممت رائحة أطيب من رائحتك، فيقول له: يا حبيبي أنا ثواب الصلاة التى صليتها في ليلة كذا في شهر كذا، جئت الليلة لاقضى حقك، وأونس وحدتك، وأرفع عنك وحشتك، فإذا نفخ في الصور أظللت في عرصة القيامة على رأسك، وأبشر فلن تعدم الخير من مولاك أبدا

“Dan tidaklah ada seorang yang berpuasa di awal Kamis bulan Rajab, kemudian shalat di,antara Maghrib dan ‘Atamah (Isya)- yaitu malam Jum’at- dua belas rakaat, membaca pada setiap rakaatnya surat Al-Fatihah sekali dan surat Al-Qadr tiga kali serta surat Al-Ikhlas dua belas kali, setiap dua rakaat dengan satu kali salam, jika telah selesai dari shalat tersebut maka ia bershalawat kepadaku tujuh puluh kali, kemudian mengatakan ‘Allahhumma Shalli ‘Ala Muhammadin An-Nabi Al-Ummiyyi Wa ‘Ala Alihi’, kemudian sujud lalu mengatakan dalam sujudnya: ‘Subuhun qudusun Rabbul Malaikati War Ruh’ tujuh puluh kali, lalu mengangkat kepalanya dan mengucapkan: ‘Rabbighfirli warham wa tajaawaz ‘amma ta’lam Inaka anta Al-Aziz Al-A’zham’ tujuh puluh kali, kemudian sujud kedua dan mengucapkan seperti ucapan pada sujud yang pertama, lalu memohon kepada Allah hajatnya, kecuali pasti hajatnya tadi akan dikabulkan.”

Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak ada seorang hamba laki-laki maupun perempuan yang melakukan shalat ini kecuali akan Allah ampuni seluruh dosanya walaupun seperti buih di lautan dan seperti sejumlah daun di pepohonan, serta bisa memberi syafaat di hari kiamat kepada tujuh ratus keluarganya. Ketika berada di malam pertama di kuburnya, akan datang kepadanya pahala shalat ini. Ia menemuinya dengan wajah yang berseri dan lisan yang indah, lalu menyatakan: ‘Kekasihku, berbahagialah! Kamu telah selamat dari kesulitan. Lalu (orang yang melakukan shalat ini) berkata: ‘Siapa kamu? Sungguh demi Allah, aku belum pernah melihat wajah seindah wajahmu dan tidak pernah mendegar perkataan semanis perkataanmu serta tidak pernah mencium bau wewangian sewangi bau wangi kamu’. Lalu ia berkata: ‘Wahai kekasihku! Aku adalah pahala shalat yang telah kamu lakukan di malam itu pada bulan itu. Malam ini aku datang untuk menunaikan hakmu, menemani kesendirianmu dan menghilangkan darimu kegundahgulanaanmu. Ketika ditiup sangkakala, maka aku akan menaungimu di tanah lapang kiamat. Maka berbahagialah karena kamu tidak akan kehilangan kebaikan dari maula-Mu (Allah) selama-lamanya.”

Haidts ini adalah hadits maudhu’ (palsu), disebutkan oleh Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya Al-Maudhu’at (II/124)

Dari hadits tersebut, dapat diketahui secara ringkas tata cara Shalat Raghaib, yaitu:

Dikerjakan antara Maghrib dan ‘Isya’, jumlah rakaatnya dua belas, setiap dua rakaat satu salam.
Pada setiap rakaat membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qadr tiga kali, dan surat Al-Ikhlash dua belas kali.

Setelah shalat mengucapkan shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tujuh puluh kali dengan lafazh:

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلأُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ

Kemudian sujud dengan membaca tujuh puluh kali:

سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلاَئِكَةِ وَالرُّوْح

Kemudian bangun dan duduk dengan mengucapkan tujuh puluh kali:

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْ وَتَجَاوَزْ عَمَّا تَعْلَمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ اْلأَعْظَمُ

Lalu sujud lagi dan mengucapkan ucapan yang sama dengan sujud yang pertama
Kemudian berdo’a kepada Allah sesuai dengan hajat dan kebutuhannya.

[2] Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma mengabarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan umrah pada bulan Rajab. Yang benar adalah sebaliknya, bahwa belum pernah beliau melakukan umrah pada bulan itu. Ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha mendengar bahwa Abdullah bin Umar mengatakan demikian, maka Aisyah pun mengingkarinya (Lihat Ash-Shahihain). Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa ketika Abdullah bin Umar mendengar pengingkaran Aisyah ini, diapun diam. Wallahu a’lam.

[3] HR. Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[4] Sebagaimana bulan yang lain, seperti tanggal 9 dan 10 Muharram, 6 hari di bulan Syawwal, dan 9 Dzulhijjah.