WHAT'S NEW?
Loading...

[Audio] Al-Ustadz Abu Karimah Asykari – Kesesatan Manhaj Muwazanah

Al-Ustadz Abu Karimah 'Asykari hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 2008 / Makassar

Berikut ini adalah kumpulan file-file audio tentang kesesatan atau penyimpangan-penyimpangan Yayasan Wahdah Islamiyah.

Link: https://www.box.com/s/030a4d6742cdaaccee95




Link: https://www.box.com/s/6d0ed554ae25c7e7cbc9



Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih "Save Link As ...". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

- - - [Rakaman audio daripada Abu Amira Khairunnisa].

Ushulus Sunnah Imam Ahmad Bin Hanbal Rahimahullah

Telah berkata Syaikh Imam Abul Muzhaffar 'Abdul Malik bin Ali bin Muhammad al-Hamdani: menceritakan kepada kami Syaikh Abu 'Abdillah Yahya bin Abil Hasan bin al-Banna. Menceritakan kepada kami bapakku, Abu 'Ali Hasan bin Ahmad bin Abdillah bin al-Banna. Menceritakankepada kami Abul Husain Ali bin Muhammad bin Abdillah bin Busyran al-Mu'addal. Menceritakan kepada kami Utsman bin Ahmad bin Sammak. Menceritakan kepada kami Abu Muhammad al-Hasan bin Abdul Wahhab bin Abu al-‘Anbar —dengan dibacakan kitabnya kepadanya— pada bulan Rabiul al-Awwal tahun 293 H. Menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman al-Minqari al-Bashri di Tinniis. Menceritakan kepadaku 'Abdus bin Malik al-Aththar. Dia berkata: Aku mendengar Abu 'Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

"Pondasi Ahlis Sunnah menurut kami adalah:

01Berpegang teguh pada jalan hidup para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم .
02Berqudwah (mengambil teladan) pada mereka.
03Meninggalkan bid'ah-bid'ah.
04Setiap bid’ah adalah kesesatan.
05Meninggalkan permusuhan dan berduduk-duduk dengan Ahlil Ahwa’ (pengekor hawa nafsu).
06Meninggalkan perdebatan dan adu argumentasi serta pertikaian dalam urusan agama.
07As-Sunnah menurut kami adalah atsar-atsar Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
08As-Sunnah adalah penjelas Al-Quran yakni petunjuk-petunjuk dalam Al-Quran.
09Di dalam As-Sunnah tidak ada qiyas.
10As-Sunnah tidak boleh dibuat permisalan dan tidak dapat diukur dengan akal dan hawa nafsu, akan tetapi dengan ittiba' dan meninggalkan hawa nafsu.
11Dan termasuk dari Sunnah yang tidak boleh ditinggalkan dan bila ditinggalkan satu perkara saja darinya maka ia tidak menerima dan beriman dengannya (Sunnah) dan tidak termasuk dari ahlinya.
12Beriman terhadap taqdir baik dan buruknya dan membenarkan hadits-hadits tentangnya dan mengimaninya. Tidak boleh mengatakan: "Kenapa" dan "bagaimana", karena hal itu tiada lain hanyalah membenarkan dan mengimaninya. Barangsiapa yang tidak mengerti penjelasan hadits (tentang taqdir) dan akalnya tidak sampai, maka hal itu telah cukup dan kokoh baginya. Maka wajib baginya mengimaninya dan berserah diri, seperti hadits: Ash-Shaadiqul Mashduuq.

Dan semisalnya hadits tentang taqdir, juga semua hadits-hadits tentang melihat Allah meskipun jarang terdengar dan banyak yang tidak suka mendengarnya, maka wajib mengimaninya dan tidak boleh menolak darinya satu huruf pun, dan hadits-hadits selainnya yang ma'tsur dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya).

Tidak boleh mendebat seseorang tentangnya dan mempelajari Ilmu berdebat, karena berdebat tentang taqdir, ru’yah, Al-Quran dan yang selainnya dari (prinsip-prinsip) As-Sunnah adalah makruh dan terlarang. Dan tidak termasuk Ahli Sunnah (orang yang berbicara dan berdebat tentang taqdir, ru'yah dan Al-Quran) meskipun perkataannya sesuai dengan As-Sunnah hingga ia meninggalkan perdebatan dan berserah diri serta beriman terhadap atsar-atsar.
13Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk, dan tidak boleh melemah untuk mengatakan Al-Quran bukan makhluk, karena sesungguhnya kalam Allah itu tidak terpisah dari-Nya, dan tiada suatu bagianpun dari-Nya yang makhluk dan hindarilah berdebat dengan orang yang membuat perkara baru tentangnya, orang yang mengatakan lafazhku dengan Al-Quran adalah makhluk dan selainnya serta orang yang tawaqquf tentangnya, yang mengatakan, "Aku tidak tahu makhluk atau bukan makhluk akan tetapi ia adalah kalam Allah." Karena orang ini adalah ahli bid’ah, seperti orang yang mengatakan Al-Quran adalah makhluk. Sesungguhnya Al-Quran adalah Kalam Allah dan bukan makhluk.
14Beriman terhadap ru'yah (melihat Allah) pada hari kiamat sebagaimana hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari Nabi صلي الله عليه وسلم.
15Dan Nabi صلي الله عليه وسلم pernah melihat Rabbnya. Telah ada atsar yang shahih dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Qatadah dari lkrimah dari lbnu 'Abbas رضي الله عنهما dan diriwayatkan oleh Al-Hakam bin Abban dari lkrimah dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما serta diriwayatkan oleh Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mihran dari lbnu Abbas رضي الله عنهما. Dan hadits tersebut menurut kami hendaknya difahami sesuai dengan makna zhahirnya, sebagaimana hal itu datang dari Nabi صلي الله عليه وسلم sebab memperdebatkan tentangnya adalah bid'ah. Akan tetapi kami mengimaninya sesuai dengan (makna) zhahirnya sebagaimana hal itu datang (kepada kami), dan kami tidak memperdebatkan tentangnya dengan siapapun.
16Beriman kepada Al-Miizan (timbangan) pada hari kiamat, sebagaimana dalam hadits:

يَوْزِنُ العَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَلَا يَزِنُ جَنَاحَ بَعُوضَةٍ

"Seorang hamba akan ditimbang pada hari kiamat, maka ia tidak dapat mengimbangi berat sayap seekor nyamuk."

Dan juga amalan-amalan para hamba akan ditimbang sebagaimana dalam atsar, mengimani dan membenarkannya dan berpaling dari orang yang menolaknya serta meninggalkan perdebatan dengannya.
17Allah akan mengajak bicara hamba-hamba-Nya pada hari kiamat tanpa ada penerjemah antara mereka dengan-Nya, dan kita wajib mengimani dan membenarkannya.
18Beriman dengan telaga dan bahwa Rasulullah memiliki telaga pada hari kiamat yang akan didatangi oleh umatnya dimana luasnya sepanjang perjalanan sebulan dan bejana-bejananya sebanyak bintang-bintang di langit menurut riwayat-riwayat yang shahih dari beberapa jalan.
19Beriman kepada adzab kubur.
20Dan bahwa umat ini akan diuji dan ditanya di dalam kuburannya tentang iman, islam, siapa Rabbnya, siapa Nabinya, dan akan didatangi oleh Malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah. Dan kita mengimani dan membenarkannya.
21Beriman terhadap syafa'at Nabi صلي الله عليه وسلم dan suatu kaum yang dikeluarkan dari api Neraka setelah terbakar dan menjadi arang, kemudian mereka diperintahkan menuju sungai di depan Surga sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana dalam atsar. Dan kita mengimani dan membenarkannya.
22Beriman bahwa Al-masih ad-Dajjal akan keluar, tertulis di antara kedua matanya "Kafir". Dan beriman terhadap hadits-hadits tentangnya dan bahwa hal itu pasti terjadi.
23Dan bahwa Isa bin Maryam عليه السلام akan turun lalu membunuhnya di pintu Lud.
24Iman adalah perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dan berkurang sebagaimana dalam hadits:

أَكْمَلُ الـمُؤْمِنِيْنَ عِيْمَانًا عَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

"Orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya."
25Barangsiapa meninggalkan shalat maka ia telah kafir, dan tidak ada suatu amalan apapun yang apabila ditinggalkan maka akan menyebabkan kekafiran melainkan shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkannya maka ia telah kafir dan Allah telah menghalalkannya untuk dibunuh.
26Sebaik-baik orang dari umat ini setelah Nabinya adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Khaththab, kemudian Utsman bin 'Affan. Kami mendahulukan mereka bertiga sebagaimana para sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم mendahulukan mereka, mereka tidak berselisih pendapat dalam hal itu. Kemudian setelah mereka adalah lima orang Ash-haabu asy-Syuura, yaitu: Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair (bin Awwam), Abdurrahman bin Auf dan Sa'ad (bin Abi Waqqash).

Mereka semua patut untuk menjadi khalifah, dan semuanya adalah imam (pemimpin). Kami berpendapat demikian berdasarkan hadits Ibnu Umar.

كُنَّا نَعُدُّ وَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ وَاَصْحَابُهُ مُتَوَافِرُونَ أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ ثُمَّ نَسْكُنُ

"Kami menyebutkan secara berurutan tatkala Rasulullah masih hidup dan para sahabat masih berkumpul, yaitu: Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian kami diam."

Kemudian setelah Ash-haabu asy-Syura adalah Ahli Badr dari kaum Muhajirin, kemudian Ahli Badr dari kaum Anshar daripara sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم sesuai dengan kadar hijrah dan keterdahuluan (masuk Islam).
27Kemudian sebaik-baik manusia setelah para sahabat adalah generasi yang Rasulullah صلي الله عليه وسلم diutus padanya. Setiap orang yang bersahabat dengannya baik setahun, sebulan, sehari, sesaat atau pernah melihatnya, maka ia termasuk daripara sahabatnya. Ia memiliki keutamaan bersahabat sesuai dengan waktu persahabatan dengannya. Karena keterdahuluannya bersama Beliau صلي الله عليه وسلم telah mendengar darinya, dan melihat kepadanya.

Maka serendah-rendah derajat mereka masih lebih utama dibanding generasi yang tidak pernah melihatnya, walaupun berjumpa Allah سبحانه و تعالي dengan membawa seluruh amal (kebaikan). Mereka orang-orang yang pernah bersahabat dengan Nabi صلي الله عليه وسلم, melihat dan mendengar darinya, serta orang yang melihatnya dengan mata kepalanya dan beriman kepadanya walaupun sesaat masih lebih utama—dikarenakan persahabatannya dengan Beliau صلي الله عليه وسلم — daripada para tabi'in walaupun mereka mengamalkan segala amal kebaikan.
28Mendengar dan taat pada para imam dan pemimpin kaum mukminin yang baik maupun yang buruk dan kepada khalifah yang manusia bersatu padanya dan meridhainya. Dan juga kepada orang yang telah mengalahkan manusia dengan pedang (kekuatan) hingga ia menjadi khalifah dan disebut sebagai Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukmin).
29Perang dilakukan bersama para pemimpin yang baik maupun yang buruk terus berlangsung sampai hari kiamat, tidak boleh ditinggalkan.
30Pembagian fa’i (Harta rampasan perang dari kaum kafir tanpa terjadi peperangan) dan penegakan hukuman-hukuman harus diserahkan kepada para imam (pemimpin). Tidak boleh bagi siapapun untuk mencela dan menyelisihinya.
31Membayar zakat/sedekah kepada mereka (para imam/pemerintah) boleh dan terlaksana. Barang siapa membayarkannya kepada mereka maka hal itu telah cukup/sah baginya, baik pemimpin itu baik maupun jelek.
32Melaksanakan shalat jum'at di belakang mereka dan di belakang orang yang menjadikan mereka sebagai pemimpin hukumnya boleh dan sempurna dua raka'at. Barangsiapa yang mengulangi shalatnya maka ia adalah mubtadi' (pelaku bid'ah) yang meninggalkan atsar-atsar dan menyelisihi Sunnah. Tidak ada baginya sedikitpun dari keutamaan shalat jum'at apabila ia tidak berpendapat bolehnya shalat di belakang para imam/pemimpin, baik pemimpin itu baik maupun buruk. Karena Sunnah memerintahkan agar melaksanakan shalat bersama mereka dua raka’at dan mengakui bahwa shalat itu sempurna. Tanpa ada keraguan terhadap hal itu di dalam hatimu.
33Barangsiapa yang keluar (dari ketaatan) terhadap seorang pemimpin daripara pemimpin muslimin, padahal manusia telah bersatu dan mengakui kekhalifahan baginya dengan cara apapun, baik dengan ridha atau dengan kemenangan (dalam perang), maka sungguh orang tersebut telah memecah belah persatuan kaum muslimin dan menyelisihi atsar-atsar dari Rasulullah صلي الله عليه وسلم. Dan apabila ia mati dalam keadaan demikian maka matinya seperti mati jahiliyyah.
34Tidak halal memerangi penguasa (pemerintah) dan keluar dari ketaatan kepadanya dikarenakan seseorang. Barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia adalah seorang mubtadi (pelaku bid'ah) yang bukan di atas Sunnah dan jalan (yang lurus).
35Memerangi para pencuri dan orang-orang Khawarij (yang keluar dari ketaatan kepada penguasa) dibolehkan, apabila mereka telah merampas jiwa dan harta seseorang. Maka bagi orang tersebut boleh memerangi mereka untuk mempertahankan jiwa dan hartanya dengan segala kemampuan. Akan tetapi ia tidak boleh mengejar dan mengikuti jejak mereka apabila mereka telah pergi dan meninggalkannya. Tidak boleh bagi siapapun kecuali imam atau para pemimpin muslimin, karena hanya diperbolehkan untuk mempertahankan jiwa dan hartanya di tempat tinggalnya, dan berniat dengan upayanya untuk tidak membunuh seseorang. Jika ia (pencuri/Khawarij) mati di tangannya dalam peperangan mempertahankan dirinya, maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh (dari rahmat-Nya).

Dan jika ia (yang dirampok) terbunuh dalam keadaan demikian sedang ia itu mempertahankan jiwa dan hartanya, maka aku berharap ia mati syahid se-bagaimana dalam hadits-hadits. Dan seluruh atsar dalam masalah ini memerintahkan agar memeranginya [pencuri dan khawarij] dan tidak memerintahkan untuk membunuh dan mengejarnya. Dan tidak boleh membunuhnya jika ia menyerah atau terluka. Dan jika ia menawannya maka tidak boleh membunuhnya dan tidak boleh melaksanakan hukuman padanya akan tetapi urusannya diserahkan kepada orang yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin, lalu ia menghukuminya.
36Kami tidak bersaksi dengan (masuk) Surga atau Neraka bagi siapapun dari Ahli Kiblat (kaum muslimin pent) disebabkan suatu amalan yang diperbuatnya. Kami berharap (kebaikan) bagi orang shalih dan mengkhawatirkan (kejelekan) baginya. Kami (juga) mengkhawatirkan (kejelekan) akan menimpa orang buruk lagi berdosa, dan mengharapkan rahmat Allah baginya.
37Barangsiapa berjumpa Allah dengan membawa dosa yang menyebabkannya masuk ke dalam Neraka — sedangkan ia dalam keadaan bertaubat dan tidak berlarut-larut di dalam dosa — maka sesungguhnya Allah akan mengampuninya dan menerima taubat dari hamba-hambanya serta memaafkan kesalahan-kesalahan.
38Barangsiapa berjumpa dengan Allah sedangkan telah dilaksanakan hukuman dosa tersebut padanya di dunia, maka itu adalah kaffarahnya (penghapus dosanya). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
39Barangsiapa berjumpa Allah dalam keadaan terus menerus berbuat dosa tanpa bertobat darinya, yang mana dosa-dosa tersebut mengharuskannya disiksa, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika Dia berkehendak, Dia menyiksanya. Dan jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya.
40Barangsiapa berjumpa Allah dari orang kafir, niscaya Dia menyiksanya dan tidak mengampuninya.
41(Hukuman) Rajam adalah hak bagi siapa yang berzina sedangkan dia telah terpelihara (menikah), bilamana dia mengaku atau terdapat bukti atasnya.
42Rasulullah صلي الله عليه وسلم telah (melaksanakan hukuman) rajam.
43Demikian pula para imam (pemimpin) pang lurus telah melaksanakan hukuman rajam.
44Barangsiapa yang mencela salah seorang sahabat Rasulullah صلي الله عليه وسلم atau membencinya karena suatu kesalahan darinya, atau menyebutkan kejelekan-kejelekannya, maka dia adalah seorang ahli bid'ah, sehingga dia menyayangi mereka semua dan hatinya bersih dari (sikap membenci atau mencela pent) mereka.
45Dan nifaq adalah kekafiran: Yakni kafir kepada Allah dan beribadah kepada selain-Nya, menampakkan keislaman di hadapan orang umum, seperti orang-orang munafiq yang hidup di zaman Rasulullah صلي الله عليه وسلم.
46Dan sabda Nabi صلي الله عليه وسلم

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ فَهُوَ مُنَافِقٌ

"Tiga perkara yang barangsiapa ada pada dirinya maka ia adalah orang munafiq."

Hadits ini sebagai ancaman berat Kami meriwayatkannya seperti apa adanya. Kami tidak menafsirkannya (dengan makna lain pent)
47Dan sabdanya:

لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا ضُلاَّلاً يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

"Janganlah kamu kembali menjadi orang-orang kafir yang sangat sesat sepeninggalku. Sebagian kamu membunuh sebagian yang lain."

Dan seperti hadits Nabi صلي الله عليه وسلم

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِي النَّارِ

"Apabila dua orang muslim saling berhadapan dengan mengangkat pedang, maka si pembunuh dan yang terbunuh keduanya masuk kedalam Neraka.

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

"Mencaci seorang muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekafiran."

dan seperti sabdanya صلي الله عليه وسلم

مَنْ قَالَ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ أَحَدُهُمَا

"Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya,'Wahai orang kafir', Maka perkataan tersebut akan kembali kepada salah satu dari keduanya."

Dan seperti sabdanya صلي الله عليه وسلم

كُفْرٌ بِاللهِ تَبَرَّؤٌ مِنْ نَسَبٍ وَإِنْ دَقَّ

"Merupakan kekafiran kepada Allah adalah berlepas diri dari nasab walaupun sekecil apapun."
48Dan yang semisal hadits-hadits tersebut dari apa yang telah benar dan terjaga. Kami pasrah kepadanya walaupun tidak tahu tafsirnya. Dan kami tidak membicarakannya dan tidak memperdebatkannya. Dan kami (juga) tidak menafsirkan hadits-hadits ini kecuali sebagaimana ia datang (seperti apa adanya). Kami tidak menolaknya kecuali dengan apa yang lebih benar darinya.
49Surga dan Neraka adalah dua makhluk yang telah diciptakan sebagaimana sabda Rasulullah صلي الله عليه وسلم

(دَخَلْتُ الجَنَّةَ فَرَأَيْتُ قَصْرًا)، (وَرَأَيْتُ الكَوثَرَ)، (واطَّلَعْتُ فِيْ الجَنَّةِ فَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلَهَا....كَذَ)، (واطَّلَعْتُ فِيْ النَّارِ فَرَأَيْتُ.... كَذَ وَ كَذَ)

"Aku telah memasuki Surga, maka aku melihat sebuah istana. " "Dan aku telah melihat Al-Kautsar." "Dan aku telah melihat Surga, lalu aku melihat mayoritas penghuninya adalah demikian." "Dan aku telah melihat Neraka, maka aku melihat begini dan begitu."

Maka barangsiapa menyangka bahwa keduanya. (Surga dan Neraka) belum diciptakan, berarti ia telah mendustakan Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah صلي الله عليه وسلم Dan aku (Imam Ahmad bin Hanbal pent) menyangka bahwa ia tidak beriman dengan (adanya) Surga dan Neraka.
50Barangsiapa meninggal dunia dari ahli kiblat dalam keadaan bertauhid, maka ia (berhak) dishalatkan dan dimintakan ampunan baginya. Dan istighfar (permintaan ampunan kepada Allah) tidak boleh dihalangi darinya. Dan menshalati jenazahnya tidak boleh ditinggalkan disebabkan suatu dosa yang dilakukannya, baik dosa kecil maupun besar. Dan urusannya terserah kepada Allah.


ebook http://ibnumajjah.wordpress.com/

Manzhumah Haaiyyah Imam Abi Bakr Ibn Abi Dawud As-Sijistani Fil 'Aqidah dan Terjemahannya


01
تمسك بحبلِ الله وأتبعِ الهُدى

Berpegang Teguhlah dengan Tali Allah dan ikutilah petunjuk


ولا تكُ بدعيا لعلك تُفلحُ

dan janganlah kamu menjadi pelaku bid’ah, agar kamu beruntung
02
ودنْ بكتابِ الله والسننِ التي

Beragamalah dengan dasar kitab Allah dan Sunnah


أتت عنْ رسول الله تنجو وتربحُ

yang datang dari Rasulullah, kamu akan selamat dan beruntung
03
وقل غيرُ مخلوقٍ كلام مليكنا

Katakanlah: Firman Raja Kita (Allah) bukanlah makhluk

بذلك دان الـأتقياء , وأفصحوا

dengan itulah orang-orang yang bertakwa berkeyakinan, dan dengan lantang mereka berkata
04
ولا تكُ في القرآن بالوقف قائلاً

Janganlah menjadi orang yang menahan diri dari berbicara tentang Al-Qur’an

كما قال أتْباعٌ لجمٍ وأسححُو

seperti yang dikatakan pengikut Jahm (Ibn Shofwan), dan mereka pun bermudah-mudahan
05
ولا تقل القرآن حلْقٌ قرأْتُهُ

Janganlah mengatakan bacaanku dengan Al-Qur’an adalah makhluk

فإن كلام اللهِ باللفظ يُوضحُ

sesungguhnya Firman Allah ketika dilafazkan harus di jelaskan
06
وقل يتجلى الله للخلقِ جهرةً

Dan katakanlah: Allah menampakkan diri kepada makhluk dengan nyata

كما البدر لا يخفى وربك أوضحُ

seperti purnama, tidaklah samar (ketika melihatnya). Dan bahkan Rabb-mu lebih nyata
07
وليس بمولدٍ وليس بوالدٍ

Dan Allah tidak mempunyai anak dan tidak diperanakkan

وليس له شِبْهٌ تعالى المُسبحُ

tidak ada yang menyerupai-Nya, Maha Tinggi Dzat yang Maha Suci
08
وقد يُنكِر الجهمي هذا عندنا

Orang-orang Jahmiyah mengingkari hal yang ada pada kami ini (iaitu dilihatnya Allah di akhirat)

بمصداقِ ما قلنا حديثٌ مصرحُ

terdapat hadits yang jelas untuk membenarkan apa yang kami katakan
09
رواه جريرٌ عم مقالِ مُحمدٍ

Diriwayatkan oleh Jarir dari sabda Muhammad

فقلُ مِثل ما قد قال ذاك تنْجحُ

maka berkatalah sebagaimana yang Nabi sabdakan tentang itu, maka kamu akan beruntung
10
وقد ينكرُ الجهمي أيضاً يمينهُ

Dan sungguh orang-orang Jahmiyah juga telah mengingkari tangan kanan-Nya

وكِلتا يديه بالفواضلِ تنْفحُ

dan bahkan (yang benar adalah) kedua tangan-Nya terus memberi kenikmatan dan karunia
11
وقل ينزلُ الجبارُ في كلِّ ليلةٍ

Dan katakanlah: Dzat Yang Maha Perkasa turun pada setiap malam

بلا كيفَ جلَّ الواحدُ المُتمَدحُ

tanpa diketahui bagaimana turun-Nya, Maha Agung Dzat yang Maha Esa dan Terpuji
12
إلى طبقِ الدنيا يمُنُّ بفضلهِ

(Turun) ke tingkat paling bawah, memberi dengan karunia-Nya

فتفرجُ أبواب السماءِ وتُفتحُ

maka di bukalah pintu-pintu langit
13
 يقولُ أَلا مُستغفرٌ يَلقَ غافراً

Dia berfirman, ketahuilah siapa yang minta ampun akan mendapatkan ampunan

ومُستمنحٌ خيراً ورِزْقاً فُمنحُ

dan siapa yang meminta kebaikan dan rezeki, maka dia akan di beri
14
روى ذاك قومٌ لا يردُّ حديثُهم

Hal itu (iaitu turunnya Allah) telah diriwayatkan oleh kaum yang tidak di tolak hadits mereka

ألا خابَ قومٌ كذبوهم وقُبِّحوا

ketahuilah telah merugi dan tercela kaum yang mendustakan mereka
15
وقل: إنَّ خير النَّاسِ بعد محمَّدٍ

Dan katakanlah: Seseungguhnya sebaik-baik manusia setelah Muhammad

وزيراهُ قدَماً ثم عثمانُ الارجَحُ

dan dua penolongnya (iaitu Abu Bakar dan Umar) yang lebih dulu, kemudian ‘Utsman menurut pendapat yang lebih kuat
16
ورابعهُمْ خيرُ البريَّة بعدهُم

Dan yang ke empat adalah sebaik-baik manusia setelah mereka

عليٌّ حليفُ الخيرِ بالخيرِ مُنْجِحُ

iaitu ‘Ali sekutu kebaikan, dengan kebaikan akan menyelamatkan
17
وإنَّهم للرَّهطُ لا ريبَ فيهمُ

Mereka dan orang-orang yang akan disebutkan berikut adalah sekelompok orang yang tidak ada keraguan pada mereka

على نُجبِ الفردوسِ بالنُّور تَسرحُ

di atas unta mulia di Syurga Firdaus, dengan cahaya ia berjalan
18
سعيدٌ وسعدٌ وابن عوفٍ وطلحةُ

Sa’id, Sa’d, Ibnu ‘auf, dan Thalhah

وعامرُ فهرٍ والزبيرُ الممدَّح

dan ‘Amir fihr, dan Az-zubeir yang dipuji
19
وقل خيرض قولٍ في الصحابة كلِّهم

Dan berkatalah dengan perkataan yang baik pada semua shahabat

ولا تك طعَّاناً تعيبُ وتجرحُ

janganlah menjadi pencela yang mencaci dan mencerca
20
فقد نطقَ الوحيُ المبينث بفضلِهم

Sungguh wahyu yang nyata telah berbicara tentang keutamaan mereka

وفي الفتح آيٌ للصَّحابةِ تمدحُ

dan di dalam surat Al-Fath terdapat ayat yang memuji shahabat
21
وبالقدرِ المقدورِ أيقِن فإنَّه

Dan yakinlah dengan takdir yang ditentukan, sesungguhnya ia

دعامةُ عقدِ الدِّين ، والدِّينُ أفيحُ

rukun ikatan agama dan agama itu luas
22
ولا تُنكِرَنْ جهلاً نكيراً ومُنكراً

Janganlah engkau ingkari Nakir dan Munkar karena ketidak tahuan

ولا الحوْضَ والِميزانَ انك تُنصحُ

dan jangan pula ingkar kepada telaga dan timbangan, sesungguhnya enkau mendapat nasihat
23
وقُلْ يُخرجُ اللهُ الْعظيمُ بِفَضلِهِ

Dan katakanlah: Allah Yang Maha Agung dengan karunia-Nya akan mengeluarkan

مِنَ النارِ أجْساداً مِنَ الفَحْمِ تُطرحُ

dari neraka, dari tubuh-tubuh yang telah menjadi arang, lalu di letakkan
24
عَلى النهرِ في الفِرْدوسِ تَحْيَا بِمَائِهِ

Ke Sungai di Syurga Firdaus yang dengan airnya, jasad itu akan hidup

كَحِبِّ حَمِيلِ السَّيْلِ إذْ جَاءَ يَطْفَحُ

seperti biji yang dibawa banjir ketika meluap
25
وإن رَسُولَ اللهِ للخَلْقِ شَافِعٌ

Dan sesungguhnya Rasulullah memberi syafa’at kepada manusia

وقُلْ في عَذابِ القَبْرِ حَقّ موُضحُ

dan katakanlah: tentang adzab kubur itu haq dan telah di jelaskan
26
ولاَ تُكْفِرنْ أَهلَ الصلاةِ وإِنْ عَصَوْا

Dan janganlah sekali-kali kamu mengkafirkan ahlu shalat meski berbuat maksiat

فَكُلهُمُ يَعْصِي وذُو العَرشِ يَصفَحُ

setiap Manusia berbuat maksiat, dan Dzat Pemilik ‘Arsy Maha Pemaaf
27
ولَا تَعتقِدْ رأيَ الْخَوَارجِ إِنهُ

Dan janganlah kamu meyakini pendapatnya khawarij, karena ia

مقَالٌ لَمنْ يَهواهُ يُردي ويَفْضَحُ

mempunyai perkataan yang bagi siapa yang mencintai ucapan tersebut, akan menghancurkan dan membinasakan
28
ولا تكُ مُرْجيًّا لَعُوبا بدينهِ

Dan janganlah kamu menjadi Murji’ yang bermain-main dengan agama

ألاَ إِنمَا المُرْجِي بِالدينِ يَمْزحُ

ketahuilah sesungguhnya seorang Murji’ bersenda gurau dengan agamanya
29
وقلْ : إنمَا الإِيمانُ : قولٌ ونِيةٌ

Dan katakanlah: sesungguhnya iman adalah ucapan dan niat

وفعلٌ عَلَى قولِ النبِي مُصَرحُ

serta perbuatan, yang diterangkan oleh Nabi
30
ويَنْقُصُ طوراً بالمَعَاصِي وتَارةً

Dan akan berkurang kadarnya dengan maksiat-maksiat, dan terkadang

بِطَاعَتِهِ يَمْنَي وفي الوَزْنِ يَرْجَحُ

akan bertambah dengan ketaatan, dan akan berat ketika ditimbang
31
ودعْ عَنْكَ آراءَ الرجالِ وقَوْلَهُمْ

Tinggalkanlah olehmu pendapat-pendapat orang dan perkataan mereka

فقولُ رسولِ اللهِ أزكَى وأَشْرحُ

karena perkataan Rasulullah itu lebih bersih dan lebih terang
32
ولا تَكُ مِن قوْمٍ تلهوْا بدينِهِمْ

Dan janganlah kamu termasuk kaum yang bermain-main dengan agama mereka

تَطْعَنَ في أهلِ الحَديثِ وتقدحُ

yang menyebabkan kamu mencela dan mencerca ahli hadits
33
إِذَا مَا اعْتقدْت الدهْرَ يا صَاحِ هذهِ

Jika engkau, wahai saudaraku, selama hidup meyakini hal ini

فأَنْت عَلَى خَيْرٍ تبيتُ وتُصْبِحُ

maka kamu di atas kebaikan di waktu malam dan pagi


Tarjim oleh: Abu Al-Hassan As-Satunjquli As-Sakilawii

Makna Persatuan dan Perpecahan

Penulis: Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Betapa seringnya kita mendengar slogan-slogan persatuan. Hampir setiap kelompok manusia berbicara tentang hal ini. Bahkan telah terkenal di kalangan kita suatu pepatah bersatu kita teguh bercerai kita runtuh atau bersatu kita kukuh bercerai kita rapuh. Tapi siapa yang dipersatukan? Dan atas dasar apa dipersatukan?

Kalau sekedar persatuan kelompok atau persatuan golongan, orang musyrikin Jahiliyah pun sudah berbicara tentang itu. Bahkan menuduh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak kepada tauhid itu sebagai pemecah belah dan perusak persatuan mereka. Kemudian muncul persatuan ummat beragama untuk menghadapi atheisme yang juga menganggap pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengajak kepada tauhid itu sebagai penghalangnya.

Kemudian muncul pula persatuan agama samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi) yang pernah muncul di Mesir dan kembali mereka menganggap kaum Muslimin yang berpegang teguh dengan ajaran nabinya dan mengibarkan bendera al-wala` (loyalitas) wal bara` (berlepas diri) sebagai penghalang utamanya. Itu semua jelas batil dan sesat!

Namun demikian, yang jadi masalah bagi kita sekarang adalah munculnya berbagai macam syubhat-syubhat persatuan di kalangan kaum Muslimin yang tidak jelas dasar persatuannya. Sebagian mereka mengajak kepada persatuan kelompoknya atau organisasinya dan menganggap mereka yang tidak ikut ke dalam kelompoknya (firqah) berarti tidak mau bersatu. Ada pula yang mengutamakan persatuan di atas urusan tauhid-syirik atau sunnah-bid’ah. Maka kita dapati sebagian mereka tidak berani bicara tentang Tauhid Uluhiyyah dan membiarkan kesyirikan, karena takut dan khawatir akan terjadi perpecahan. Dan kita dapati yang lain juga tidak mau berbicara tentang bid’ah dan ahli bid’ah, bahkan mengajak untuk bersikap netral pada mereka juga dengan alasan persatuan dan menghindari tafarruq (perpecahan).

Akhirnya, yang terjadi adalah persatuan antara Muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) dengan Musyrikin atau persatuan antara Ahlul Bid’ah dengan Ahlus Sunnah. Dan Ahlus Sunnah yang membantah kesyirikan dan kebid’ahan dicap sebagai pemecah belah persatuan dan kesatuan, kaku, tidak memahami strategi da’wah dan lain-lain.


Syubhat-syubhat Sekitar Persatuan

Adapun di antara syubhat-syubhat tersebut adalah:

  1. Ucapan yang muncul dari firqah Jamaah Tabligh bahwa ilmu dibagi dua:

    Ilmu fadha`il (keutamaan) dan Ilmu masa`il (syari’at). 

    Kemudian menganjurkan pengikutnya untuk berbicara ilmu fadhail dan melarang untuk berbicara ilmu masail. Dan mengatakan:

    “Serahkan saja pada ustadz-ustadz (kiai) di daerahnya masing-masing.”
    [1]

    - - -
  2. Ucapan yang muncul dari firqah Ikhwanul Muslimin:

    “Kita saling tasamuh (toleransi) terhadap apa-apa yang kita perselisihkan (berbeda).”

    - - -
  3. Ucapan Harakiyyin (gerakan politik):

    “Kita tidak perlu membantah ahlul bid’ah selama kita dan mereka sedang menghadapi musuh yang sama yaitu thaghut.”

    - - -
  4. Ucapan dari mereka yang terfitnah dengan fikrah Sururiyyah:

    “Kita wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka (ahlul bid’ah)”.

    Bahkan, mereka menganggap pengkhianat orang yang tak menyebutkan kebaikan ahlul bid’ah itu (simak bantahan Syaikh Rabi’ Al Madkhali terhadap Salman Al-Audah dalam kitab Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah fi Naqdir Rijal). Kemudian mereka menamakannya dengan al-inshaf atau keadilan.

Semua ucapan ini dikatakan syubhat karena memang syubhat (tidak jelas / samar).

Misalnya syubhat pertama (1), yaitu:

“serahkan saja pada ustadz-ustadz di daerahnya masing-masing”.

Siapa yang dimaksud? Tetapi maksudnya menjadi jelas jika dilihat dari sikap dan amalan mereka: masuk di daerah syirik, tidak membantah kesyirikan dan masuk ke daerah bid’ah, tidak mau membantah bid’ah. Serahkan saja kepada kiainya masing-masing, yaitu kiai yang mengajarkan kepada mereka kebid’ahan dan kesyirikan tersebut.

Pada syubhat kedua (2):

Tidak jelas perselisihan dalam masalah apa yang kita harus bertasamuh (toleransi). Kalimat samar ini akan menjadi jelas dengan melihat amalan-amalan mereka dan usaha mereka untuk mempersatukan Ahlus Sunnah (Sunni) dengan Syiah, Sufi dengan Khawarij, dan lain-lain.[2]

Seharusnya ucapan yang haq, pasti benar, dan jelas adalah ucapan Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)

Sungguh aneh mengapa syiar Allah yang jelas dan pasti itu mau dikalahkan dengan syubhat yang samar seperti ini.

Syubhat ketiga (3):

Pun tidak jelas bahkan kabur, siapa yang dikatakan musuh itu? Siapa yang dimaksud dengan thaghut? Hanya saja, dari gerakan mereka, semua orang tahu dan sudah menjadi rahasia umum bahwa yang dimaksud musuh adalah lawan politiknya. Padahal, semua syetan dari kalangan manusia dan jin yang mengajak kepada kesesatan, kekufuran, dan kesyirikan adalah thaghut yang harus diingkari.

Adapun untuk syubhat keempat (4):

Sifatnya lebih halus dan lebih samar, tidak jelas kapan kita harus menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka. Dan tentunya yang lebih halus dan samar ini jauh lebih berbahaya dan lebih banyak menipu kaum Muslimin sehingga dapat membikin lemah sikap al-wala` wal bara`. Yang jelas, semua syubhat ini berakibat fatal. Seorang penyembah kubur akan tetap menyembah kubur, karena mengikuti ustadz-ustadz (syaikhnya) masing-masing. Seorang Syiah akan tetap Syiah karena dibiarkan dan dihormati pendapatnya dalam rangka tasamuh (toleransi). Seorang Sufi, Mu’tazilah, Khawarij, Jahmiyyah dan lain-lain dari ahli bid’ah akan tetap tenang dan mantap dalam kesesatannya masing-masing, karena dianggap manhaj Salaf dan seluruh ahlul bid’ah itu sama-sama memiliki kebaikan dan kejelekan, dan mereka merasa sama karena diajak kerja sama.

Demi Allah!… ini adalah kalimat-kalimat yang kelihatannya sepele tapi amat besar akibatnya. Syubhat-syubhat yang kelihatannya mengajak kepada persatuan, ternyata membiarkan umatnya berpecah belah dalam berbagai macam aliran bid’ah dan kelompok-kelompok hizbiyyah.

Kalau begitu, apa yang dimaksud dengan persatuan dan perpecahan?


Makna Persatuan dan Perpecahan
Ikhwan fiddin a’azzakumullah, sesungguhnya dalam masalah persatuan ini kita harus melihat kembali dalil-dalilnya. Karena setiap Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara tentang Al-Jama’ah (yang diistilahkan dengan persatuan) selalu dihubungkan dengan:

1. Siapa yang dipersatukan?
2. Apa dasar persatuannya?

Penjelasan

1. Siapa yang dipersatukan atau yang dipersaudarakan?

Sesungguhnya yang dipersatukan oleh Allah dalam Al-Qur`an adalah orang-orang yang beriman dan kaum Muslimin secara umum.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ إِخْوَةٌ ﴿الحجرات: ١٠﴾

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara.” (Al-Hujurat: 10)

Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya dan beriman kepada hari akhirat serta qadha dan qadar yang baik maupun yang buruk.

Berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اَلْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا ﴿رواه مسلم﴾

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain bagaikan bangunan yang saling menopang sebagian terhadap sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

Dan berkata pula:

المُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ ﴿أخرجه مسلم﴾

“Muslim adalah saudara muslim yang lain.” (HR. Muslim)

Dan tentunya kaum Muslimin adalah yang bersyahadat dengan dua kalimat syahadat dan melaksanakan rukun-rukun Islam khususnya shalat dan zakat yang tersebut dalam firman Allah:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ ﴿التوبة: ١١﴾

“Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan mengeluarkan zakat maka (mereka) adalah saudara-saudara kalian dalam dien.” (Taubah: 11)

Maka, tetaplah mereka kaum musyrikin diperangi sampai mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat. Allah berfirman:

“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu maka bunuhlah kaum musyrikin di mana saja kalian temui mereka, tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat, dan mengeluarkan zakat maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan (jangan diperangi).” (At-Taubah: 5)

Jadi bukanlah memecah belah persatuan apabila Abu Bakar Ash-Shiddiq radliallahu anhu memerangi kaum Muslimin yang menolak untuk membayar zakat, bahkan sebaliknya beliau radhiallahu anhu memeranginya dalam rangka mempersatukan mereka kembali dalam satu jama’ah, yaitu Al-Jama’ah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya ada di atasnya.

Oleh karena itu, kepada hamba-hamba Allah tersebut (kaum Mukminin dan Muslimin) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan:

“Janganlah kalian saling iri dan jangan bermain harga untuk menipu (dalam berjualan) dan jangan saling bermusuhan dan janganlah saling berpaling, serta jangan membeli/menjual barang yang masih ditawar saudaranya. Dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Sehingga jelas di sini bahwa yang dimaksud bukanlah persatuan kelompok (firqah) tertentu yang kemudian saling membangga-banggakan kelompok/organisasinya. Dan menganggap yang di luar kelompoknya berarti bukan saudaranya dan lantas disikapi dengan sikap seperti terhadap orang kafir. Dan bukan pula persatuan antara Muwahhidin dan Musyrikin atau persatuan antara Ahlus Sunnah dengan berbagai aliran sesat.

2. Apa dasar persatuannya?

Perintah Allah untuk bersatu dalam Al-Jama’ah selalu diikuti dengan penjelasan dasarnya, kemudian memperingatkan bahwa menyalahi dasar-dasar tersebut dapat menyebabkan terjadinya perpecahan. Allah berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا… ﴿ال عمران: ١٠٣﴾

“Berpeganglah kalian seluruhnya dengan tali Allah dan jangan berpecah belah.” (Ali Imran: 103)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud dengan hablullah (tali Allah) ialah janji Allah. Dikatakan pula bahwa tali Allah ialah Al-Qur`an sedang lafaz walaa tafarraqu (jangan berpecah belah) menunjukkan perintah untuk berjama’ah dan melarang perpecahan.[3]

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan inilah jalanku yang lurus maka ikutilah (jalan itu) dan jangan mengikuti jalan-jalan lain (subul) sehingga kalian akan berpecah dari jalan Allah.” (Al-An’am: 153)

Berkata Ibnu Katsir dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu: “Allah memerintahkan berjama’ah serta melarang perselisihan dan perpecahan.”[4]

Mengomentari makna Shirathal Mustaqim (jalan yang lurus), Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:[5]

“Shirathal Mustaqim ialah jalan yang Allah gariskan untuk para hamba-Nya, jalan yang bisa menghantarkan mereka kepada-Nya dan tidak ada jalan kepada-Nya selain jalan-Nya. Bahkan seluruh jalan akan berakhir (berujung) kepada makhluk, kecuali jalan yang telah Dia gariskan melalui lisan para Rasul-Nya yaitu mengesakan Allah dalam beribadah dan mengesakan Rasul dalam ketaatan. Oleh karena itu, jangan pula menyertakan sesuatupun bersama Allah dalam beribadah kepada-Nya (yakni syirik). Dan jangan menyertakan seorangpun bersama Rasul shallallahu alaihi wa sallam dalam mutaba’ah (mengikuti). Dengan demikian, yang dimaksud Shirathal Mustaqim hanyalah tauhidullah dan hanya mutaba’ah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Sedangkan makna subul, dikatakan oleh Mujahid:

“Subul adalah berbagai bid’ah dan syubhat.”[6]

Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk tetap bersatu dalam jama’ah kaum Muslimin dengan berpegang kepada Al-Qur`an dan berada di atas shirathal mustaqim, yaitu di atas tauhidullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, meninggalkan asas-asas tersebut merupakan penyebab perpecahan dan merusak persatuan.

Misalnya:

1. Menyelisihi Al-Qur`an adalah perselisihan dan perpecahan setelah tegaknya hujjah atas mereka. Dan ini adalah perpecahan umat terdahulu yang telah Allah cela. Allah Azza wa Jalla melarang umat ini untuk berpecah dan berselisih seperti mereka.

وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ﴿ال عمران:١٠٥﴾

“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah dan berselisih setelah datang keterangan (hujjah) kepada mereka.” (Ali Imran: 105)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

Allah Tabaraka wa Ta’ala melarang umat ini untuk menjadi seperti umat-umat tedahulu (dalam) perpecahan dan perselisihan mereka, serta ditinggalkannya amar ma’ruf nahi munkar di antara mereka, padahal telah tegak hujjah atas mereka.[7]

Lihatlah ayat dan ucapan Ibnu Katsir di atas dan bandingkan dengan ucapan firqah-firqah hari ini yang menganjurkan untuk mengesampingkan amar ma’ruf nahi munkar dengan alasan persatuan! Atau menyatakan agar kita tidak berbicara tentang syirik dan bid’ah karena mereka menganggap ini adalah perkara ilmu masail yang tidak perlu dibicarakan kecuali oleh para kiai di daerahnya masing-masing, dengan alasan agar tidak terjadi perselisihan dan perpecahan. Padahal, justru meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan penyebab terjadinya perpecahan. Dan itu berarti mereka telah membiarkan diri mereka berpecah-belah dan ridha dengan perpecahan tersebut.

Allah berfirman:

“Janganlah kalian termasuk orang-orang yang musyrik, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka sendiri, dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (Ar-Ruum: 31-32)

Berkaitan dengan ayat ini, Ibnu Katsir berkata:[8]

“Bahkan jadilah kalian muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) yang mengikhlaskan ibadah hanya untuk-Nya (Allah) dan tidak menginginkan dengan ibadahnya kecuali Dia.” 

Kemudian dia berkata:

“(memecah-belah agamanya) yaitu mengganti-ganti dan merubah-rubahnya (yaitu melakukan bid’ah) serta beriman kepada sebagian (syariat agama) tapi kufur (ingkar) pada sebagian yang lain.” 

Bahkan beliau menambahkan:

“…dan umat ini pun (akan) berselisih. Di antara mereka ada yang menjadi aliran-aliran (sekte) yang seluruhnya sesat kecuali satu, yaitu: Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Karena hanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah-lah yang berpegang dengan Al-Kitab dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan apa yang ada pada generasi pertama (Salaf) dari para shahabat, tabi’in, dan para imam-imam kaum Muslimin (yang mengikuti mereka) dulu maupun sekarang.”

2. Keluar dari shirathal mustaqim berarti juga memecah-belah dien dan menyebabkan tafarruq. Allah berfirman:

وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ﴿الأنعام: ١٥٣﴾

“Janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain, niscaya kalian akan bercerai-berai dari jalan-Nya.” (Al-An’am: 153)

Penjelasan tentang ayat ini terdapat dalam riwayat yang shahih dalam musnad Ahmad dan lainnya dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu[9], yaitu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan garis-garis di kanan dan kiri dari garis yang lurus, beliau bersabda:

“…dan ini adalah as-subul (jalan-jalan), tidak ada satu jalan pun daripadanya kecuali ada syetan yang mengajak kepadanya…” (HR. Ahmad, Nasai, Darimi, dan Hakim)

Mujahid menjelaskan bahwa pengertian subul yang didakwahkan oleh syetan di sini adalah jalan-jalan bid’ah dan syubhat. Oleh sebab itu, ketika jalan ini diikuti oleh kaum Muslimin maka mereka menjadi terpecah ke dalam berbagai firqah dan aliran.

Contoh firqah yang pertama keluar dari jalan Shirathal Mustaqim karena mengikuti pemahaman bid’ah adalah Khawarij. Kemudian muncul aliran bid’ah lain yaitu Syi’ah dan diikuti selanjutnya oleh Qodariyah, Jabariyah, Murji`ah, Sufiyah, dan lain sebagainya. Dan terus akan berpecah sampai menjadi tujuh puluh tiga golongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“… Umat ini akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dll. dan diHASANkan oleh Ibnu Hajar)[10] dan dalam riwayat lain: “Siapa saja yang mengikuti sunnahku dan para shahabatku.” (HR. Tirmidzi, diHASANkan oleh Syaikh Al-Albani)[11]


Perintah Allah dan Rasul-Nya ketika Terjadi Perpecahan

Tentunya tidak ada pertentangan antara perintah untuk bersatu dalam Al-Jama’ah dan berita tentang akan berpecahnya umat ini, sebagaimana tidak ada pertentangan antara berita tentang qadha dan qadar dengan perintah untuk berusaha. Maka, kaum Muslimin diperintahkan untuk berusaha agar tetap bersatu di dalam Al-Jama’ah yaitu berjalan di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya (shirathal mustaqim). Dan tatkala terjadi perpecahan, mereka diperintahkan untuk kembali dan mengembalikan kaum Muslimin ke jalan yang lurus (shirathal mustaqim) yang berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah.

Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ ﴿النساء: ٥٩﴾

“Dan jika kalian berselisih dalam satu perkara maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya).” (An-Nisa`: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Aku wasiatkan kepada kamu sekalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah dan senantiasa mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak dari Habsyi. Barangsiapa hidup (berumur panjang) di antara kalian niscaya dia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, kalian wajib berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk (yang datang) sesudahku, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam masalah agama). Karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”  (HR. Nasai dan Tirmidzi: HASAN SHAHIH)[12]

Dengan satu ayat dan hadits di atas, sudah cukup jelas bahwa sikap kita ketika menghadapi perpecahan umat bukan berfikir untuk mempersatukan mereka dengan manhaj yang berbeda-beda atau aliran yang berbeda-beda, tapi sikap kita adalah bagaimana kita kembali dan mengembalikan kaum Muslimin kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para shahabatnya, khususnya para khulafa`ur rasyidin (khalifah-khalifah) yang lurus dan mendapatkan petunjuk, serta para ulama pengikut mereka dulu maupun sekarang. Dengan kata lain, kembalilah dan kembalikanlah kaum Muslimin kepada Al-Haq yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para shahabatnya, serta para imam/ulama Salaf berada di atasnya.

Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Semuanya (firqah-firqah) dalam neraka kecuali satu, yaitu Al-Jama’ah, yang aku dan para shahabatku ada di atasnya.”

Tentunya untuk memahami Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan pemahaman para shahabat adalah melalui para ulama khususnya Ahlul Hadits dari kalangan mereka.

Imam Bukhari rahimahullah memberi satu judul bab (dalam Shahihnya) dengan ucapan: Bab “Demikianlah kami jadikan kalian umat yang satu. Dan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beriltizam (berpegang) pada Al-Jama’ah yaitu para ulama.”[13]

Demikian pula Imam Syatibi rahimahullah dalam kitabnya Al-I’tisham II/886 mengatakan dengan ucapan yang hampir sama bahwa Al-Jama’ah adalah para ulama. Kemudian dia berkata:

“Sedangkan selain mereka (para ulama) termasuk dalam golongan tersebut, jika mereka mengikuti dan mengambil teladan dari para ulama tersebut.”

Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menambahkan:

“Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan Al-Haq walaupun engkau sendirian.”

Maka, kembalilah dan kembalikanlah kaum Muslimin kepada Al-Jama’ah yaitu para ulama khususnya para ahlul hadits yang mengikuti Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih untuk menjaga persatuan umat dengan ikhlas karena Allah semata.

Sebaliknya, jangan menjauhi para ulama tersebut dan menjauhkan kaum Muslimin dari mereka, karena itulah titik awal perpecahan umat. Dan, mari kita hidupkan As-Sunnah dan bangkitkan semangat amar ma’ruf nahi munkar, karena ini merupakan upaya menjaga persatuan umat. Dan sebaliknya, mematikan As-Sunnah dan melemahkan amar ma’ruf nahi munkar merupakan gejala perpecahan umat.

Allahu Ta’ala a’lam.

Nota:
[1] Baca kitab Al-Qaul Al-Baligh oleh Syaikh Humud at-Tuwaijiri hal. 199
[2] Lihat kitab Da’watul Ikhwan oleh Farid bin Ahmad Al-Tsubait hal. 63 & 107
[3] Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 417
[4] ibid juz 2 hal. 213
[5] Lihat Fathul Majid hal. 23-24 oleh Syeikh Abdurrahman Al-Syeikh
[6] Tafsir Thabari Juz 5 hal. 396-397
[7] Tafsir Ibnu Katsir juz 1 hal. 419
[8] Ibid juz 3 hal. 477
[9] Lihat Minhaj Firqah Najiyah hal. 7 oleh Syaikh Jamil Zainu dan mengatakan riwayat tersebut SHAHIH. Lihat pula riwayat-riwayat yang semakna dalam Tafsir Ibnu Katsir II/213
[10] Sebagaimana dikatakan oleh Syeikh Jamil Zainu dalam kitab Firqah Najiyah hal. 7
[11] ibid
[12] ibid
[13] Lihat Fathul Bari juz 15 hal. 254


Sumber: Majalah Salafy/Edisi II/Ramadhan/1416/1996 rubrik Mabhats
SUMBER URL : http://sunniy.wordpress.com/2007/08/24/makna-persatuan-dan-perpecahan/