WHAT'S NEW?
Loading...

[Audio] Al-Ustadz Luqman Muhammad Ba'abduh – Daurah Ilmu JB Rajab 1433H

Al-Ustadz Luqman Muhammad Ba'abduh hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 03 / 07 (Rajab) / 1433 –– 24-27 / 05 / 2012 –– Johor Bahru



Click to Play All


Click to Play All


Diperbolehkan menyebarkan rekaman kajian ini untuk kepentingan da’wah, bukan untuk tujuan komersil. Untuk mengunduh / download sila right click pada link file yang berkenaan dan pilih "Save Link As ...". Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

- - - [Rakaman audio daripada Abu Mas'ud (Aiman), Abu Al-Hassan As-Satunjquli As-Sakilawii dan Abu Abdirrahman Muhammad]

Bhgn. 2 – Ulama Ahlus Sunnah Tidak Merekomendasi Ihya At-Turats

Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

لالميراث من فتاوى العلماء عن جمعية إحياء التراث 8

Menjawab nasehat Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dan Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahumallah

Firanda menukilkan dari Syekh Abdul Muhsin Al-’Abbad hafidzhahullah Ta’ala bahwa beliau berkata:

أَقُوْلُ لا َيَجُوْزُ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي إِنْدُوْنِيْسِيَا أَنْ يَتَفَرَّقُوْا وَأَنْ يَخْتَلِفُوْا مِنْ أَجْلِ التَّعَامُلِ مَعَ جُمْعِيَةِ إِحْيَاءِ التُّرَاثِ فَإِنَّ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ الَّذِيْ يُفَرِّقُ بِهِ بَيْنَ النَّاسِ. وَإِنَّمَا عَلَيْهِمْ أَنْ يَجْتَهِدُوْا فِي تَحْصِيْلِ الْعِلْمِ النَّافِعِ وَالْعَمَلِ الصَّالِحِ وّأّنْ يَتْرُكُوْا الشَّيْءَ الَّذِيْ فِيْهِ فِتَنٌ. جُمْعِيَةُ إِحْيَاءُ التُّرَاثِ فِيْهَا خَيْرٌ كَثِيْرٌ، فِيْهَا نَفْعٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ فِي مُخْتَلَفِ أَقْطَارِ الأَرْضِ مِنْ جِهَةِ الْمُسَاعَدَاتِ وَمِنْ جِهَةِ تَوْزِيْعِ الْكُتُبِ. الاِخْتِلاَفُ بِسَبَبِ هَذَا لاَ يَصْلُحُ وَلاَ يَسُوْغُ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ. وَعَلَى أَهْلِ السُّنَّةِ هُنَاكَ أَنْ يَتَّفِقُوْا وَأَنْ يَتْرُكُوْا التَّفَرُّقَ

“Aku katakan, tidak boleh bagi Ahlus Sunnah di Indonesia untuk berpecah belah dan saling berselisih disebabkan masalah mu’amalah dengan Yayasan Ihya` at-Turats, karena ini adalah termasuk perbuatan setan yang dengannya ia memecah belah di antara manusia. Namun yang wajib bagi mereka adalah besungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Hendaknya mereka meninggalkan sesuatu yang menimbulkan fitnah. Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin. Dan wajib atas Ahlus Sunnah di sana (di Indonesia, -pen) untuk bersepakat dan meninggalkan perpecahan.” [Jawaban berupa nasehat ini beliau sampaikan di masjid seusai shalat Zhuhur, Kamis, 13 Oktober 2005, atau 10 Ramadhan 1426 H. Pada kesempatan tersebut yang meminta fatwa adalah Abu Bakr Anas Burhanuddin, Abu ‘Abdirrahman ‘Abdullah Zain, dan Abu ‘Abdil Muhsin Firanda Andirja]

Demikian teks dan terjemahan yang disebutkan oleh Firanda dalam tulisannya tersebut. Namun sayang sekali karena Firanda sama sekali tidak menyebutkan bentuk pertanyaan yang disampaikan kepada Syekh tersebut, padahal teks pertanyaan sangat memberi pengaruh terhadap terjadinya perubahan fatwa Syekh hafidzhahullah. Demikian pula tidak sampainya kepada beliau berita tentang hizbiyyah yang dimiliki Ihya Atturats dengan berbagai kesesatan lainnya. Sebab sikap Syekh Abdul Muhsin Al-Abbad dari hizbiyyah sangat jelas, bagi siapa yang membaca tulisan dan ceramah beliau. Diantaranya disaat beliau memberi muqaddimah terhadap kitab “Madarikun Nadzar” tulisan Syekh Abdul Malik Ramadhani, setelah beliau menjelaskan tentang kesesatan “fiqhul waqi” model hizbiyyun, yang mengantarkan mereka kepada sikap merendahkan para ulama, dan menuduh mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, dan yang semisalnya.



Lalu beliau berkata:

وفي الختام أوصي بقراءة هذا الكتاب والاستفادة منه، وأوصي شباب هذه البلاد السعودية أن يحذروا الأفكار الفاسدة الحاقدة الوافدة إلى بلادهم لإضعاف دينهم وتمزيق شملهم والتنكر لما كان عليه أسلافهم، وأن يأخذ كلُّ شابٍّ ناصحٍ لنفسه العبرةَ والعظةَ من قول عبد الله بن مسعود  كما في
(الإبانة) لابن بطّة: (إنّها ستكون أمور مشتبهات! فعليكم بالتؤدة؛ فإنّك أن تكون تابعاً في الخير خيرٌ من أن تكون رأساً في الشرِّ).

“Sebagai penutup, aku menasehati untuk membaca kitab ini, dan mengambil faedah darinya. Dan aku menasehati para pemuda negeri Arab Saudi ini untuk memberi peringatan dari berbagai pemikiran yang rusak dan penuh kedengkian yang dimasukkan ke dalam negeri mereka, untuk melemahkan agama mereka, dan menghancurkan persatuan mereka, dan hendak menjauhkan dari apa yang telah diamalkan oleh para pendahulu mereka. Dan hendaklah setiap pemuda yang menasehati dirinya, agar mengambil pelajaran dan nasehat dari ucapan Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Al-Ibanah”, oleh Ibnu Baththah: “Sesungguhnya akan muncul perkara-perkara yang syubhat! Maka hendaklah kalian bersikap hati-hati, karena sesungguhnya engkau termasuk pengikut kebaikan itu lebih baik daripada engkau menjadi tokoh dalam kesesatan”. (Madarikun Nadzar, hal:18).

Dari ucapan beliau ini sangat jelas, bahwa beliau mentahdzir dari berbagai macam pemikiran yang dapat memecah belah persatuan mereka, dan menjauhkan mereka dari aqidah dan manhaj salaful ummah. Dan beliau juga menasehati untuk mengikuti wasiat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu anhu, yang menganjurkan untuk menjadi pengikut kebaikan dan tidak menjadi tokoh kesesatan, disaat munculnya berbagai macam syubhat. Akan tetapi diantara mereka ada yang berusaha membela berbagai praktek hizbiyyah, dan bersembunyi dibelakang fatwa ulama yang kira-kira bisa dijadikan sebagai pelindung amalan maupun dana hizbiyyahnya. Salah satu contoh, tentang kitab “Rifqan ahlas sunnah” yang beliau tulis sebagai nasehat diantara sesama ahlus sunnah. Banyak dimanfaatkan oleh para pembela Organisasi At-Turats untuk membelanya, dan membela orang yang bermu’amalah dengannya, dan mengecam para pentahdzirnya. Oleh karenanya, para pembelanya menjadikan kitab ini sebagai “tameng” untuk melegitimasi bantuan dana dari mereka kepada yang selama ini bermuamalah dengannya. Padahal sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kitab ini ditulis untuk intern dari kalangan ahlus sunnah, bukan terhadap mereka yang memiliki pemikiran hizbiyyah dan berwala’ kepadanya. Ini dijelaskan oleh beliau sendiri, sebagaimana dinukil dalam kitab Ittihaful ‘Ibad bi Fawa-idi Durusi Asy-Syaikh ‘Abdil Muhsin bin Hamd Al ‘Abbad –kitab ini telah dibaca dan direkomendasi oleh Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin sendiri— (hal. 60):

“Kitab yang saya tulis pada akhir-akhir ini (yaitu kitab Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, pent) ….. tidak ada hubungannya dengan pihak-pihak yang pernah saya sebutkan dalam kitab Madarikun Nazhar (cttn.1). Dengan ini yang dimaksud dengan bersikap lembutlah wahai Ahlus Sunnah terhadap Ahlus Sunnah, bukanlah kelompok Ikhwanul Muslimin, bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin (para aktivis pergerakan, pent). Tidak pula yang dimaksudkan (oleh buku tersebut) orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’ (cttn. 2), (orang-orang yang) mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ‘ulama. Bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali. Tapi hanyalah yang dimaksudkan (oleh buku tersebut, pent) adalah intern ahlus sunnah saja, di mana telah terjadi di antara mereka ikhtilaf, sehingga mereka sibuk dengan sesamanya untuk saling menjarh, memboikot, dan mencela (cttn. 3). ”

Perhatikan ucapan beliau: “bukan pula orang-orang yang terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, dan yang lainnya dari kalangan harakiyyin, tidak pula yang dimaksudkan orang-orang yang terpengaruh pemikiran fiqhul waqi’, mencaci maki pemerintah, dan meremehkan para ulama, bukan mereka yang dimaksudkan sama sekali”, cobalah anda perhatikan kalimat ini, lalu sesuaikan dengan manhaj Ihya Atturats yang berada dibawah asuhan sang mufti Abdurrahman Abdul Khaliq, kalian akan mendapati sifat-sifat yang beliau sebutkan tersebut sesuai dengan yang dimiliki oleh tokoh-tokoh Ihya Atturats tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa Syekh hafidzhahullah tidak mengetahui secara persis mahaj dakwah mereka, serta pengaruhnya yang mendatangkan dampak negatif diberbagai negara, khususnya di Indonesia. Bila demikian keadaannya, perlu ada diantara sebagian mereka yang punya kesempatan untuk menjelaskan kepada Syekh secara rinci tentang masalah ini.

Perhatikan pula fatwa beliau yang disebutkan oleh Firanda:

“Yayasan Ihya’ at-Turats memiliki kebaikan yang banyak, bermanfaat bagi kaum muslimin di berbagai tempat di penjuru dunia, berupa berbagai bantuan dan pembagian buku-buku. Perselisihan disebabkan hal ini tidak boleh dan tidak dibenarkan bagi kaum muslimin…”

Perhatikan apa yang beliau katakan: Perselisihan disebabkan hal ini”, lalu perhatikan kembali fatwa para ulama yang mentahdzir organisasi tersebut, maka Nampak bagi kita semua bahwa perselisihan bukan disebabkan hal ini, namun disebabkan karena pengaruh hizbiyyah yang dimiliki organisasi ini.

Sebenarnya apa yang kami sebutkan terdahulu dari fatwa-fatwa para ulama senior tentang Ihya Atturats ini sudah lebih dari cukup, namun untuk semakin melengkapi fatwa mereka, berikut ini fatwa yang berasal dari Syekh Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidzahullah, yang semoga Firanda dan yang bersamanya juga masih menganggapnya sebagai alim yang senior.

Beliau ditanya dengan pertanyaan berikut:

س : ماذا تعرفون عن جمعية إحياء التراث التي في الكويت حيث إنها فتحت لها فرع في العراق و فرقت الشباب السلفي و فتحت دروس و تصرف رواتب لكل من يحضر هذه الدروس و هؤلاء الذين يلقون الدروس ليسوا أهلاً للتدريس ، أرشدونا مأجورين ؟

Soal :

Apa yang anda ketahui tentang Jum’iyyah Ihya’ut Turats yang berada di Kuwait dimana jum’iyyah ini telah membuka cabangnya di iraq dan telah memecah belah para pemuda salafy dan membuka pelajaran dan memberikan gaji bagi setiap orang yang menghadiri pelajaran tersebut dan orang-orang yang memberikan pelajaran tersebut bukanlah ahlinya untuk mengajar.

Berikanlah kami bimbingan, semoga anda mendapatkan pahala ?

ج- جمعية إحياء التراث عليها ملاحظات فلا ننصحكم إن كنتم سلفيين بالإلتحاق بها خوفاً عليكم بالإنخداع بما هي عليه .
و أنصكم أن تصبروا حتى يهيئ الله لكم من يعلمكم على المنهج السلفي و الطريقة الشرعية الصحيحة وهو الأخذ بكتاب الله و سنة رسول الله – صلى الله عليه و سلم – على فهم السلف الصالح و أهل العقيدة الحقة و البراءة من الدعوات الدخيلة من شيعة و شيوعية و غير ذلك .
و أسأل الله – عز و جل – أن ييسر لكم من يكون من أهل العقيدة الصحيحة و المنهج السلفي من تتعلمون على يديه و ينضاف إلى هذا أيضاً أنكم قلتم : إن الذين يتولون التدريس ليسوا بأهل للتدريس و ليس عندهم علم، لهذافإني أنصكم بعدم الدخول فيها وفقكم الله و سدد خطاكم
و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه .
الفتاوى الجلية عن المناهج الدعوية (2/320)

Jawab :
Jum’iyyah Ihya’ut Turats baginya ada catatan-catatan/komentar. Maka kami menasehati kalian – jika kalian salafy – untuk tidak bergabung dengannya karena kawatir kalian bisa tertipu dengan apa yang dia diatasnya. Aku nasehati kalian untuk bersabar sampai Allah berikan untuk kalian orang yang akan mengajari kalian diatas manhaj salafi dan cara-cara syar’i yang benar yaitu berpegang dengan kitabullah dan sunnah Rosulullah صلى الله عليه و سلم berdasarkan pemahaman salafus shalih dan orang yang beraqidah yang benar dan berlepas diri dari dakwah-dakwah yang masuk dari syi’ah, komunis dan lainnya. Dan saya memohon kepada Allah عز و جل agar Allah mudahkan untuk kalian, orang yang beraqidah yang shahih dan bermanhaj salafy yang kalian akan belajar dihadapannya dan termasuk dengan itu juga bahwa kalian mengatakan : bahwasannya orang yang memberikan pelajaran mereka bukanlah ahlinya dan tidak ada padanya ilmu. Karena itu aku nasehatkan kalian untuk tidak masuk pada yayasan tersebut, semoga Allah memberikan taufiq kepada kalian dan menunjuki langkah kalian kepada jalan yang lurus.

و صلى الله على نبينا محمد و على آله و صحبه

(Al Fatawa Al Jaliyyah ‘An Almanaahiji Ad Da’awiyyah (2/320) , Penulis : Faris At Thahir AsSalafy, Sumber : www.sahab.net/forums/showthread.php?t=341912. Penterjemah : Muhammad Ar Rifa’i As Salafy)

Demikian pula berkenaan tentang pujian Syekh Ibrahim Ar-Ruhaili hafidzhahullah Ta’ala, tatkala beliau mengatakan (cttn. 4) :

“Yayasan Ihya’ At-Turots adalah yayasan yang bergerak mengumpulkan harta dan bantuan dari para pedagang dan orang-orang kaya dan menyalurkannya dalam amalan-amalan kebaikan seperti menggali sumur-sumur, membangun mesjid-mesjid, sekolah-sekolah, dan memberi gaji bagi para da’i.Dan termasuk perkara yang aneh timbulnya perpecahan karena yayasan seperti ini.”

Hal ini juga disebabkan karena tidak sampainya berita yang detil kepada beliau tentang dampak Ihya Atturats diberbagai negara, dan memberikan berbagai berita yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, lalu disampaikan kepada beliau, dan bukan hal yang mustahil sebagian berita tersebut berasal dari Firanda dan para pendukungnya yang punya kesempatan bertemu dengan beliau. Dan sebenarnya perkara inipun telah dijawab oleh para ulama semenjak beberapa tahun sebelumnya. Diantaranya adalah jawaban seorang syekh senior –yang semoga Firanda pun tetap menganggapnya senior atau jajaran paling senior- muhaddits dari Yaman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahullah Ta’ala, sebagaimana yang telah kita nukilkan diedisi pertama. Namun sekedar untuk mengingatkan, maka kami nukil kembali fatwa tersebut, sebagai berikut:

فعلماءنا الأفاضل حفظهم الله تعالى يأتي صاحب الجمعية إليهم ويقول : يا شيخ نحن نهتم ببناء المساجد وبفتح مدارس تحفيظ القرآن وبكفالة اليتامى وبحفر الآبار وغير ذلك من الأفعال الحميدة الصالحة فالشيخ ………(كلمة غير واضحة) ما رأيك في هذه الجمعية تهتم ببناء المساجد وتحفيظ القرآن وكفالة اليتامى وكفالة الدعاة إلى الله وحفر الآبار ,من الذي يقول هذا ما يجوز كل واحد يقول –يا أخي- هذا عمل صالح كله لكن المشايخ حفظهم الله تعالى لا يعرفون ما بعد هذا .
والواقع أن الأموال التي تأتيهم أصحاب الجمعية لتحارب بها أهل السنة في السودان وفي اليمن نعم وفي أرض الحرمين ونجد وفي أندونيسيا وفي كثير من البلاد الإسلامية .
(مفرغ من الشريط بصوته رحمه الله وهو عندي)

“Ulama kita yang mulia hafidzahumullah, telah di datangi oleh anggota Jum’iyyah lalu ditanya:

“…wahai syekh, kami memperhatikan masalah pembangunan masjid-masjid, membuka madrasah tahfidz Al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menggali sumur-sumur dan yang lainnya – dari berbagai perbuatan yang terpuji dan salih -”. 


Maka syaikh …..(kalimat tidak jelas), apa pendapatmu tentang jum’iyyah ini, yang memperhatikan pembangunan masjid, tahfidz al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menanggung para da’i di jalan Allah, menggali sumur-sumur…”. 

Siapa yang mengatakan ini tidak boleh ? Setiap orang mengatakan –ya akhi- ini adalah amalan soleh semuanya ! Namun para syaikh tersebut hafidzahumullah tidak mengetahui apa yang terjadi setelah ini.

Kenyataannya bahwa harta yang sampai kepada para pengurus Jum’iyyah itu digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Makkah dan Madinah, pen), Najed dan di Indonesia dan dalam banyak Negara Islam.”

Jika sekiranya Syekh Ar-Ruhaili hafidzahullah mengetahui sepak terjang organisasi Ihya Atturats ini diberbagai Negara, maka beliau tentunya tidak akan memberi pembelaan kepadanya. Dalam salah satu Tanya jawab dengan beliau (cttn.5), beliau sempat ditanya dengan pertanyaan sebagai berikut:

السائل: نريد تحديد مفهوم من هو السني حيث إن هناك أقواما يقولون :إنهم من اهل السنة وإذا سمع أحدهم كلامهم وجده يقول قال الله قال رسوله وأما إذا نظر الناظر في أقوالهم وفي أفعالهم فإنه يجد العكس فيراه يثني على أهل البدع والضلال ويصفهم بأنهم أئمة مجددون وبالمقابل يذم أهل السنة والأثر بأنهم لا يفقهون الواقع أو أن فقههم يدور حول سراويل امرأة أي أنهم علماء حيض ونفاس أو أن الدنيا قد غرتهم وبعضهم يرى أن هذه الجماعات البدعية تعد ظاهرة صحية وهي من أهل السنة وتفرقها ليس تفرقا مذموما وبعضهم يرى أن ما يسمى بالأناشيد والتمثيليات والمسرحيات هي من الوسائل التي ينبغي على الداعي إلى الله جل وعلا أن يسلكها في دعوته لأنها تدخل الناس في دين الله وبعضهم يؤصل أصولا حكم أئمة السنة والأثر بأنها أصول بدعة وضلال وأن هذه الأصول لا تمت إلى السنة من أي وجه ,فما توجيهكم حفظكم الله؟

Pertanyaan: kami ingin penjelasan tentang batasan dalam memahami siapakah pengikut ahlus sunnah itu, dimana ada sebagian orang yang mengatakan: bahwa mereka termasuk dari kalangan ahlus sunnah .Bila seseorang mendengar ucapan mereka, ia mendapatinya mengatakan: berfirman Allah, bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Namun jika seseorang melihat ucapan dan perbuatannya, maka dia mendapati sebaliknya, dilihat dia memuji ahlul bid’ah dan sesat, dan menyebut mereka sebagai imam mujaddid (pembaharu agama), dan sebaliknya dia mencela ahlus sunnah dan atsar bahwa mereka tidak mengerti fiqhul waqi’, atau mengatakan bahwa fiqih mereka hanya berada diseputar celana wanita, atau mereka adalah para ulama haid dan nifas, atau mengatakan bahwa dunia telah menipu mereka. Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa jama’ah-jama’ah bid’ah ini merupakan dampak yang positif, dan termasuk dari kalangan ahlus sunnah, dan perpecahan mereka bukanlah perpecahan yang tercela. Sebagian lagi ada yang menganggap bahwa apa yang disebut dengan nasyid, teater dan pertunjukkan, termasuk diantara wasilah yang sepantasnya bagi seorang da’i kepada jalan Allah untuk menempuhnya dalam berdakwah, sebab (dengan itu) dapat memasukkan manusia ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong. Sebagian lagi ada yang menyebut prinsip-prinsip yang para imam ahlus sunnah telah menghukumi bahwa itu merupakan prinsip-prinsip bid’ah dan sesat, dan bahwa prinsip-prinsip ini tidak ada hubungannya dengan sunnah dari sisi manapun. Maka bagaimana nasehatmu –semoga Allah menjagamu-?

Maka beliau menjawab dengan jawaban sebagai berikut:

الجواب: كما ذكرت أن صاحب السنة ليس مما يجتهد الناس فيه فيحكمون فيه بأهواءهم أنه صاحب سنة أو صاحب بدعة ,وإلا فالكثير من أهل البدع يدعون أنهم أهل السنة وأن من خالفهم هو من أهل البدع ,وهذا باب توقيفي فصاحب السنة هو من قام بالسنة علما وعملا ودعوة إليه ,وارجعوا إلى النصوص فمن وافق عمله عمل النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل السنة ,ومن خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم فهو من أهل البدع الذين خرجوا عن السنة .فالسنة معلومة وأصول السنة معروفة في التوحيد وفي القدر وفي الإيمان وفي أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وفي طاعة ولاة الأمر وفي معرفة معاملة العلماء وفي الدعوة إلى الله عز وجل ,دعوة أهل السنة ظاهرة ولا تخفى,ووالله لو عرف الناس السنة وأهلها ما عاداها أحد ,لكن الناس يجهلون السنة ويجهلون حقيقة السنة فيعادونها بجهلهم بها وإلا فالسنة هي المصلحة العظيمة في الدنيا والآخرة لكل أحد,هي لمصلحة الحكام ولمصلحة المحكومين لمصلحة الآباء ولمصلحة الأبناء لمصلحة الرجال ولمصلحة النساء ,لمصلحة الفقراء ولمصلحة الأغنياء ,ليس هناك فرد من أفراد الأمة إلا والسنة في نصرته فما يتركها أحد ولا يتنكر إليها أحد .فالسنة هي ما سنه النبي صلى الله عليه وسلم وما كان عليه الخلفاء الراشدون من بعدهم والبدعة هو ما عدا ذلك كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم .
ثم إن العلماء ذكروا ضابطا لهذه المسألة لأن الكثير يدعون بأنهم يستدلون بنصوص الكتاب والسنة ويقولون قال الله وقال رسوله صلى الله عليه وسلم لكن ذكر العلماء ضابطا مهما يضبط هذه المسألة قالوا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة بناء على فهم سلف الأمة . قولنا: الاستدلال بنصوص الكتاب والسنة دخل في هذا الخوارج ,الخوارج يزعمون بأنهم بنصوص الكتاب والسنة لكن بناء على صلف هذه الأمة,هل دخلوا في أهل السنة؟ لا,ما استفادوا من علي وما انتفعوا بعلمه بل كفروه ,فإذا هؤلاء خرجوا من السنة لأنهم لم يستدلوا بنصوص الكتاب والسنة بناء على سلف هذه الأمة.صاحب السنة إذا ما أراد أن يفسر الآية رجع إلى تفاسير أهل السنة ,ماذا قال ابن عباس ماذا قال مجاهد ماذا قال قتادة ,ثم يبني فهمه على أقوال أهل العلم .وصاحب البدعة هو الذي يأتي بالنصوص ويستدل بها بناء على فهمه,وقد يبني كلامه على أدلة لكن العبرة بالفهم .
ولهذا يقول شيخ الإسلام : الضلال يحصل من جهتين :
إما أن يستدل بما ليس بدليل,أو أن يخطئ في فهم الدليل.فإذا استقام له هذان الأمران أمن الخطأ,وهو صحة الدليل وصحة الفهم .صحة الفهم لا يمكن لواحد منا أن يدعي ,لأن كل إنسان يظن أن عقله أحسن العقول وأن فهمه أحسن الأفهام لكن ضابط هذا أن ترجع إلى فهم أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم وفهم سلف الأمة ماذا قالو في معنى هذه الآية ماذا قالوا في معنى هذا الحديث ,فإذا تمسكنا بهذا الأصل فهؤلاء هم أهل السنة ثم بعد ذلك تحصل أخطاء لكن هذه الأخطاء لا يمكن أن تنقض الأصول بأن من سلك هذا المسلك ومن وصل إلى هذه المرحلة في الاستدلال يستدل بالدليل الصحيح بناء على فهم صحيح ,نعم قد يحصل له خطأ جزئ كما حصل للسلف لكنه لا يمكن لأن ينقض أصلا من أصول أهل السنة فهذا هو ضابط السنة وهذا هو ضابط أهل السنة ,وليس كل من قال الله وقال رسوله صلى الله عليه وسلم يكون مصيبا في فهمه وإن كان كلام الله وكلام رسوله ثلى الله عليه وسلم حق,لكن العبرة بالفهم الصحيح ,وأما من يوالي أهل البدع ويشيد بهم وينحرف عن أهل السنة فهذه من أعظم العلامات التي ذكر العلماء أنه من علامات أهل البدع ,قالوا: من علامات أهل البدع الوقيعة في أهل الأثر ,لا تجد رجلا يشتم البخاري ومسلم وأحمد ومالك وأئمة الحديث ويشتم علماء السنة من المعاصرين ومن غيرهم .نحن عرفنا من علماءنا المعاصرين كالشيخ عبد العزيز بن باز وابن عثيمين والألباني هؤلاء والله لا نقول أنهم معصومين ,لكن ماعرفنا مثلهم في السنة وفي القيام بها والدعوة إليه ,فلا نعرف رجلا انحرف عنهم إلا وهو على قدر انحرافه يكون قد أصابهم ما أصابهم من البدع.ولا يعني أيضا الانحراف عنهم أن يأتي المجتهد العالم من أقرانه ويقول: أخطأ فلان وأصاب فلان,هذا ليس منحرفا وإنما هو محب ناصح لكن الذي ينتقصهم ويتهمهم بالبدعة ويتهمهم بما ورد في السؤال من أنهم علماء الحيض والنفاس فهذا من جهله,الحيض والنفاس أحكامهما جاءت في كتاب الله ,فالذي يقلل من شأن هذا العلم هذا رد على الله ورسوله ,والذي يقول هذه الكلمة إن كان يعني ما يقول والله يخشى عليه من الكفر ,إن كان يظن أن الرجل ينتقص بمجرد علمه للحيض والنفاس ,لو صرنا كما صار غيرنا ورآ تلك الكتب الفكرية التي لا تجد فيها مسألة في العقيدة ولن تجد مسألة تبين الحكم الشرعي في المسألة الفقهية وإنما كلها آراء وتصورات وأفكار وخوض في السياسة وكلامهم مبني على كلام الناس لا تجد في كتبهم آية ولا حديث وإنما هو في آراء لو سار الناس هذا السير والله سيأتي على الناس زمان لايعرفون كيف يصلون ,ولكن الناس لا يعرفون فساد هذه الكتب لأن معهم علماء والعلم منتشر لكن والله لو ذهب الناس أو ذهب أهل السنة ولم يبق في الناس إلا هؤلاء لم يبق من دين الله شيئ ,وأما أهل السنة فالخير قد اجتمع فيهم إن سألت عن العلن فهو فيهم وإن سألته عن الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر فهو فيهم وإن سألت عن العبادة والاجتهاد فهو فيهم وإن سألت عن طاعة ولاة الأمر في حدود الضوابط الشرعية فهو فيهم وإن سألت عن أهل المنناصحا لولاة الأمر فهم أهل السنة فالخير اجتمع في أهل السنة ,وهذا لا يعني أن يكون الرجل معصوما منه.لكن هم بمجموعهم لا يخرج الحق عنهم .
وأما ما ورد في السؤال من ذكر الأناشيد وهي ما يسمى بالأناشيد الإسلامية فهذه ليست من السنة وإذا كانت هذه كما يعتقد البعض أنها وسيلة من وسائل الدعوة فأين الدليل على هذا من هدي النبي صلى الله عليه وسلم فإن وسائل الدعوة التعبدية كلها قد دلت عليها الأدلة وينبغي أن يفرق بين الوسائل التعبدية والعادية .الوسائل التعبدية هي الوسائل التعبدية التي لا يسع الخروج عنها مثل أن يكون الهجر منهج ومسلك من مسالك الدعوة التأليف مسلك العلم مسلك النصح والبيان وإزالة الشبه والمجادلة بالتي هي أحسن من مسالك الدعوة الصحيحة ,فمن أنكر شيئا من هذا فهو مبتدع,
وأما الوسائل العادية مثل استخدام المكبر واستخدام الشريط واستخدام الكتاب,وجود الجامعات الآن ,وجود الوسائل فهذه الوسائل العادية ولا نقول أنه تدخل البدع فيها فمهما أحدث الناس من هذه الوسائل فاستخدامها مشروع لأنها وسائل عادية وليست تعبدية.
ولهذا لا نقول بأن الدعوة تنحصر في المكبر وأنه ليست هناك دعوة صحيحة إلا لرجل لا بد أن يستخدم المكبر أو يستخدم الإذاعة أو غيرها ,إنما هي وسيلة لإيصال الكلمة,وليست غاية.وأما الوسائل الشرعية فلا يسع الخروج عنها ,لو جاء رجل فقال: لا يهجر المخالف والله نبدعه ونتهمه في دينه لأنه خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم ,ولكن لو جاء رجل الآن قال: أنا لن أستخدم المكبر في الدعوة إلى الله عز وجل وإنما أخاطب الناس وأرفع صوتي حتى يسمعني الناس,هل نقول :أنت مبتدع؟ لا يقال فيه,لأن هذه وسيلة عادية, فمن اسخدم هذه الوسائل أو تركها لا يحرج عليه.فالأناشيد ليست وسيلة شرعية .ومن اعتقد أنها وسيلة فإنه مبتدع خالف هدي النبي صلى الله عليه وسلم ,وأما إن كان المقصود بها اللهو واللعب فمعلوم أن اللهو واللعب ليس من دين الله وأما من يعتقد أن هذه الأناشيد هي مرحلة ننتقل بها من الناس من سماع الأغاني إلى سماع الأناشيد ثم إلى سماع القرآن فهذه والله من الجهل وهو ألا يدعى الناس إلى الحق وإنما يدعى الناس إلى مرحلة قبل الحق .فالناس لا يمكن أن تصدق توبتهم وتصح توبتهم حتى يترك المخالفة إلى السنة وإلى الحق فكيف ننقله إلى مرحلة دون الحق ثم لو مات وهو في هذه المرحلة فمن الذي يتحمل إثمه ,انت تدعو وتقول: اتقول الله ودعوا الأغاني واسمع الأناشيد,ومعلوم أن هذه الأناشيد فيها من المخالفات الكثيرة ,منها: التلذذ بأصوات المنشدين من الشباب ومن غيرهم وكم فتن من فتن بهؤلاء حتى كأنها كلأغاني وأصبحت شغل الناس الشاغل ,ومن داوم عليها فإنه يضعف سماعه للقرآن .فإن أشكل عليكم شيئ فارجعوا إلى علماءنا الكبار,هل ألفوا الفرق للإنشاد بين يدي دروسهم ؟,وفي المساجد أم أنهم عكفوا يعلمون الناس العلم ويبينون الناس السنة ,هذه لم تأت إلا من بعض المخالفين من الجهلة أو من أهل البدع ,قد يكون الرجل له مقصد حسن,لكن من ظن أن هذه وسيلة للدعوة فهو مخطئ .
(مفرغ من شريط عن ضوابط الهجر)

“Sebagaimana yang aku sebutkan bahwa (istilah) ahlus sunnah bukanlah sesuatu yang manusia dapat berijtihad padanya dengan hawa nafsu mereka bahwa ia termasuk ahlus sunnah atau ahlul bid’ah, sebab jika demikian, maka banyak dari kalangan ahlul bid’ah yang mengaku diri mereka sebagai ahlus sunnah, dan yang menyelisihi mereka sebagai ahlul bid’ah. Ini merupakan perkara tauqifi (bersandar kepada nash), ahlus sunnah adalah yang menegakkan sunnah secara ilmu, amal, dan dakwahnya. Kembalilah kepada nash-nash yang ada, siapa yang amalannya sesuai dengan amalan Nabi shallallahu alaihi wasallam maka dia termasuk dari kalangan ahlus sunnah, dan siapa yang menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam maka dia termasuk dari kalangan ahlul bid’ah yang keluar dari sunnah. Maka sunnah merupakan perkara yang dimaklumi, prinsip-prinsip sunnah juga telah diketahui, dalam masalah tauhid, masalah takdir, masalah iman, tentang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, tentang penguasa, tentang bergaul dengan para ulama, tentang mengajak kepada jalan Allah Azza wajalla. Dakwah ahlus sunnah jelas dan tidak tersamarkan, demi Allah, jika sekiranya manusia mengenal sunnah dan para pemeluknya, maka tidak seorang pun yang akan memusuhinya. Akan tetapi manusia jahil terhadap sunnah, dan jahil terhadap hakekatnya, sehingga mereka memusuhinya karena kejahilan mereka, padahal sunnah merupakan kemaslahatan yang besar di dunai dan akhirat bagi setiap orang. untuk kemaslahatan penguasa, dan kemaslahatan rakyat, untuk kemaslahatan orang tua, dan juga untuk kemaslahatan anak-anak, untuk kemaslahatan para lelaki, dan juga para wanita, untuk kemaslahatan orang-orang miskin dan juga orang-orang kaya, tidak ada satu pun dari elemen umat ini melainkan dengan sunnah sebagai pertolongannya, tidak seorang pun yang meninggalkannya dan yang mengingkarinya. Maka As-sunnah adalah apa yang disunnahkan oleh Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan apa yang para khulafa ar-rasyidin berada di atasnya dari setelahnya, sementara bid’ah adalah selain itu, sebagaimana yang diberitakan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Kemudian para ulama menyebut ketentuan dalam masalah ini, karena banyak yang mengaku bahwa mereka berdalil dengan nash-nash dari Al-kitab dan As-sunnah, dan mereka mengatakan: berfirman Allah, bersabda Rasul-Nya Shallallahu alaihi wasallam. Namun para ulama menyebutkan ketentuan yang penting dalam permasalahan ini, mereka berkata: berdalil dengan nash-nash dari Al-kitab dan As-sunnah dengan pemahaman pendahulu umat ini. Ketika kami mengatakan: berdalil dengan Al-kitab dan As-sunnah, maka termasuk didalamnya kelompok khawarij. Khawarij menyangka bahwa mereka berdalil dengan Al-kitab dan As-sunnah, namun apakah diatas pemahaman pendahulu umat ini?, apakah mereka termasuk ahlus sunnah? Tidak, mereka tidak mengambil faedah dari Ali, dan mereka tidak mengambil manfaat ilmu darinya, bahkan mereka mengkafirkannya. Jadi,mereka ini keluar dari sunnah, sebab mereka tidak berdalil dengan Al-kitab dan As-sunnah yang dibangun diatas pemahaman pendahulu umat ini. Ahlus sunnah, jika ingin menafsirkan sebuah ayat, maka ia merujuk kepada tafsir ahlus sunnah. Apa yang diucapkan Ibnu Abbas, apa yang diucapkan oleh Mujahid, apa yang diucapkan oleh Qatadah, lalu dia membangun pemahamannya diatas pendapat para ahli ilmu. Sedangkan ahlul bid’ah, adalah yang mendatangkan nash-nash dan berdalil dengannya, dan dibangun diatas pemahamannya.Terkadang dia membangun pendapatnya diatas dalil-dalil, namun yang ditinjau adalah pemahaman.

Oleh karenanya, berkata Syeikhul Islam: 

kesesatan dapat terjadi dari dua arah:
Adakalanya dia berdalil dengan yang bukan dalil, atau dia salah dalam memahami dalil. 

Apabila dapat terpenuhi dua perkara, maka dia selamat dari kesalahan, yaitu keshahihan dalil dan benarnya pemahaman. Dalam hal benarnya pemahaman, tidak mungkin seseorang dari kita mengklaim demikian, karena setiap orang selalu menyangka bahwa akalnya adalah yang terbaik, dan pemahamannya adalah yang terbaik. Namun yang menjadi ketentuan dalam hal ini, adalah engkau kembali kepada pemahaman sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dan pemahaman pendahulu umat ini, apa yang mereka katakan dalam menjelaskan makna ayat ini, apa yang mereka jelaskan dalam makna hadits ini. Jika kita telah berpegang dengan prinsip ini, maka mereka adalah ahlus sunnah. Kemudian setelah itu, bisa terjadi kesalahan, namun kesalahan ini tidak mungkin membatalkan prinsip-prinsip tersebut. Barangsiapa yang menmpuh jalan ini,dan sampai kepada tingkatan ini dalam mencari dalil,dia berdalil dengan dalil yang shahih dan dibangun diatas pemahaman yang shahih,iya,terkadang terjadi padanya kesalahan dalam sebagian perkara, sebagaimana yang dialami kaum salaf, namun tidak mungkin membatalkan prinsip dari prinsip-prinsip ahlus sunnah wal jama’ah, inilah ketentuan As-sunah dan ahlus sunnah. Dan tidak setiap orang yang berkata :Allah berfirman, bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, berarti dia benar dalam pemahamannya, walaupun firman Allah dan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah haq, namun yang ditinjau adalah pemahaman yang benar.

Adapun orang yang bersikap loyal kepada ahlul bid’ah, dan menguatkan mereka, dan menyimpang dari ahlus sunnah, maka ini termasuk tanda yang paling besar yang disebutkan oleh para ulama bahwa itu termasuk tanda ahlul bid’ah, mereka mengatakan: diantara tanda ahlul bid’ah adalah mencela ahlul atsar (para tokoh ahlus sunnah,pen). Kamu tidak mendapati seseorang (dari ahlus sunnah) yang mencela Bukhari, Muslim, Ahmad, Malik dan para imam hadits, dan mencela ulama ahlus sunnah yang hidup dimasa sekarang dan yang selainnya. Kita mengetahui dari ulama zaman kita seperti Syekh Abdul aziz Bin Baaz, Ibnu Utsaimin, Al-Albani, mereka ini demi Allah, kami tidak mengatakan bahwa mereka itu ma’shum, namun kami tidak mengenal yang semisal mereka dalam hal menghidupkan sunnah, menegakkannya, dan mendakwahkannya. Kami tidak mengetahui seseorang yang menyimpang dari mereka melainkan dia berada diatas kadar penyimpangannya, telah terjatuh kedalam bid’ah. Dan bukan pula yang dimaksud menyimpang dari mereka, bila ada seorang mujtahid alim dari sahabatnya mengatakan: telah salah si fulan, dan benar si fulan. Ini bukan penyimpangan, namun dia adalah orang yang mencintai yang memberi nasehat, namun yang merendahkan mereka dan menuduh mereka dengan bid’ah, dan menuduh mereka seperti apa yang terdapat dalam pertanyaan, bahwa mereka adalah ulama haid dan nifas, maka ini menunjukkan kejahilannya. Haid dan nifas, hukum keduanya terdapat dalam kitabullah. Yang menganggap remeh kedudukan ilmunya, termasuk penolakan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Dan yang mengatakan ucapan ini, jika memang demikian yang dia ucapkan, demi Allah dikhawatirkan atasnya kekafiran ,jika orang tersebut merendahkannya disebabkan karena ilmunya tentang haid dan nifas. Jika sekiranya kita seperti yang lainnya yang melihat buku-buku yang didasari atas pemikiran semata, yang engkau tidak mendapati di dalamnya ada permasalahan dalam akidah, dan engkau tidak mendapati permasalahan yang menjelaskan hukum syar’i dalam masalah fikih, dan yang ada hanyalah pendapat, pandangan, pemikiran, terjun dalam politik, ucapannya dibangun di atas ucapan manusia, engkau tidak mendapati dalam kitab-kitab mereka ayat ataupun hadits, namun hanya sekedar menggunakan akal. Jika sekiranya manusia menjalani cara ini, demi Allah akan muncul satu zaman dimana manusia tidak lagi mengetahui bagaimana cara mereka shalat. Namun mereka tidak mengetahui kerusakan buku-buku ini, sebab mereka masih bersama para ulama, dan ilmu masih menyebar. Akan tetapi jika ahlus sunnah telah pergi, dan tidak lagi ada yang tinggal kecuali mereka ini, maka tidak ada lagi yang tertinggal dari agama Allah. Adapun ahlus sunnah, maka kebaikan telah terkumpul pada mereka, jika engkau bertanya tentang ilmu, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang ibadah dan kesungguhan, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang keta’atan terhadap penguasa dalam batasan-batasan syari’at, maka ada pada mereka, jika engkau bertanya tentang mereka yang selalu memberi nasehat kepada penguasa, maka merekalah ahlus sunnah. Maka kebaikan terkumpul pada ahlus sunnah. Dan ini bukan berarti bahwa seseorang tersebut ma’shum, namun mereka secara menyeluruh, kebenaran tidak keluar dari mereka.

Adapun yang terdapat dalam pertanyaan tentang nasyid, yaitu yang dinamakan dengan nasyid islami, maka ini bukan dari sunnah. Dan jika ini dianggap sebagai sarana dakwah –sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang- , maka manakah dalil atas hal ini dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam, karena sesungguhnya sarana dakwah yang bersifat ibadah seluruhnya telah ditunjuki oleh dalil-dalil. Dan hendaklah dibedakan antara sarana dakwah yang bersifat ibadah dengan sarana dakwah yang bersifat adat kebiasaan. sarana dakwah yang bersifat ibadah adalah sarana ibadah yang tidak diperkenankan untuk keluar darinya, misalnya melakukan hajr (pemboikotan) sebagai manhaj, dan diantara yang ditempuh dalam berdakwah, menulis karya termasuk sarana, ilmu termasuk sarana, nasehat dan penjelasan termasuk sarana, menghilangkan syubhat dan berdialog dengan cara yang paling baik, termasuk diantara sarana dakwah yang benar. Maka barangsiapa yang mengingkari sesuatu dari perkara ini maka dia ahlul bid’ah. Adapun sarana yang berupa adat kebiasaan, seperti menggunakan pengeras suara, menggunakan kaset, menggunakan kitab, adanya universitas –universitas sekarang ini, adanya berbagai sarana yang lainnya, maka sarana yang bersifat adat kebiasaan, dan kita tidak mengatakan bahwa bid’ah masuk kedalamnya, sebab bagaimanapun manusia membuat rancangan baru dari berbagai sarana ini, maka menggunakannya adalah perkara yang disyari’atkan, karena sarana ini bersifat adat kebiasaan dan bukan ibadah. Oleh karenanya, kita tidak mengatakan bahwa dakwah hanya dibatasi oleh pengeras suara, dan tidak ada dakwah yang benar kecuali apabila seseorang menggunakan pembesar suara, atau menggunakan radio, atau yang lainnya, namun itu hanyalah sarana untuk menyampaikan ucapan, dan bukan tujuan. Adapun sarana yang bersifat syar’i maka tidak diperkenankan untuk keluar darinya. Bila ada seseorang datang lalu berkata: “orang yang menyelisihi (sunnah) tidak boleh dihajr”, demi Allah kita mentabdi’nya (menuduhnya berbuat bid’ah), dan kita meragukan agamanya, sebab dia telah menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Tapi jika ada seseorang datang dimasa sekarang ini dan berkata: saya tidak akan menggunakan pengeras suara dalam berdakwah dijalan Allah Azza wajalla, namun saya akan berbicara di hadapan manusia dan mengangkat suara saya sampai manusia mendengar suaraku, apakahkita mengatakan padanya: kamu ahlul bid’ah? Tentunya tidak, sebab ini hanyalah sarana yang menjadi kebiasaan setempat, maka barangsiapa yang ingin menggunakan sarana ini atau meninggalkannya, maka tidak ada kesempitan atasnya. Maka nasyid bukanlah sarana yang disyari’atkan, barangsiapa yang meyakini bahwa itu wasilah maka dia ahlul bid’ah, menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Adapun kalau yag dimaksud adalah sebagai permainan dan senda gurau, maka telah diketahui bahwa senda gurau dan permainan bukanlah dari agama Allah. Adapun orang yang meyakini bahwa nasyid-nasyid ini sebagai tahapan yang manusia berpindah dari mendengar nyanyian kepada mendengar nasyid, lalu setelah itu mendengar Al-Qur’an, maka ini –demi Allah- termasuk kejahilan, karena dia tidak mengajak manusia kepada al-haq, namun diajak kepada sebuah tahapan sebelum al-haq, maka seseorang tidak mungkin menjadi benar taubatnya, dan diterima hingga ia meninggalkan perbuatan menyelisihi menuju kepada sunnah dan kebenaran, maka bagaimana mungkin kita memindahkannya menuju sebuah tahapan dibawah sebelum al-haq, lalu jika dia mati dalam keadaan berada pada tahapan ini, maka siapa yang akan menanggung dosanya? anda berdakwah dan mengatakan: bertakwalah kepada Allah, tinggalkan nyanyian dan dengarkanlah nasyid, padahal juga telah dimaklumi bahwa di dalam nasyid banyak terjadi pelanggaran, diantaranya: merasa enak dengan mendengar suara para pelantun nasyid dari kalangan para pemuda dan selain mereka, berapa banyak yang terfitnah disebabkan mereka ini, sehingga terdengar persis seperti nyanyian, dan bahkan telah menjadi kesibukan sebagian manusia, dan barangsiapa yang membiasakan diri dengannya maka hal tersebut akan melemahkannya untuk mendengarkan Al-Qur’an.

Jika kalian menemukan satu problem, maka kembalilah kepada para ulama kita, apakah mereka pernah membuat tim untuk para pelantun nasyid disela-sela pelajaran mereka?, dan dimasjid-masjid? Ataukah mereka tetap mengajari manusia ilmu dan menjelaskan kepada manusia tentang sunnah. Hal ini tidaklah datang kecuali dari sebagian orang-orang yang menyelisihi (al-haq) dari kalangan orang-orang bodoh, atau dari kalangan ahlul bid’ah. Mungkin saja seseorang memiliki niat yang baik, namun barangsiapa yang menyangka bahwa hal ini termasuk sarana dalam berdakwah maka sungguh dia telah keliru”.
(dari kaset yang menjelaskan tentang dhawabit fil hajr, terdiri dari dua kaset, dan Tanya jawab ini terdapat pada kaset yang kedua, pada sesi Tanya jawab. Kasetnya ada pada kami).
Perhatikan beberapa ucapan beliau yang bergaris miring, lalu cocokkan dengan apa yang diucapkan oleh Abdurrahamn Abdul Khaliq pada penukilan sebelumnya, maka anda akan mendapati bahwa sifat yang beliau sebutkan ini sangat tepat diterapkan kepada Abdurrahman Abdul Khaliq, dan orang-orang yang sepemikiran dengannya.Wallahul musta’an.

(BERSAMBUNG INSYA ALLAH)

Catatan :

(1) Yakni Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin telah mengtaqridh kitab Madarikun Nazhar dan memberikan pengantar. Dalam pengantar kitab tersebut beliau menyinggung beberapa orang, yakni yang beliau maksud di situ adalah : ‘Aidh Al-Qarni, Salman Al-‘Audah, Safar Al-Hawali, dan Nashir Al-‘Umar, mereka adalah tokoh-tokoh utama kelompok Sururiyyah dan Quthbiyyah. Bagi yang pernah membaca kitab Madarikun Nazhar pasti tahu perkara ini.

(2) Yaitu pemikiran yang selalu digembar-gemborkan oleh Safar dan Salman, dan Abdurrahman Abdul Khaliq.

(3) Yakni bukan yang dimaukan syaikh : rifqan (bersikap lembutlah) wahai ahlus sunnah terhadap ikhwanul muslimin, atau rifqan wahai ahlus sunnah terhadap orang-orang yang gandrung dengan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthb, rifqan wahai ahlus sunnah terhadap pergerakan-pergerakan hizbiyyah …dst Tapi yang dituju dan dimaukan oleh syaikh dengan kitab tersebut adalah sesama/intern ahlus sunnah.

(4) Potongan dari ceramah beliau ketika datang berkunjung ke Indonesia. Karena terlalu panjang,kami tidak menukil semua yang beliau katakan, namun kami hanya menukil yang menjadi sebab beliau membela organisasi ini. Namun ada beberapa hal yang perlu kami bahas berkenaan tentang Tanya jawab tersebut, insya Allah akan kita bahas dikesempatan yang lain.

(5) Sengaja kami tidak memotong fatwa beliau, dan kami sebutkan secara lengkap, agar kita mendapatkan faedah dari beberapa hal lain yang menjadi kegiatan para hizbiyyin.

Bhgn. 1 – Ulama Ahlus Sunnah Tidak Merekomendasi Ihya At-Turats

Penulis: Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

Fatwa Syaikh Bin Baaz tentang sebagian amalan organisasi Ihya At-Turats

Barangsiapa yang memperhatikan secara seksama fatwa-fatwa Syaikh Bin Baaz rahimahullah, khususnya berkenaan tentang masalah politik, masuk parlemen, bai'at dan yang semisalnya, dia akan mengetahui bahwa seandainya beliau – Syaikh Ibn Baz- mengetahui hakekat penyimpangan dari organisasi ini, niscaya beliau tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tentang masalah bai'at.

Berikut nash fatwa tersebut:

الرقم :2/2808 التاريخ :1416/8/18 هـ
من عبدالعزيز بن عبدالله بن باز إلى حضرة الأخ المكرم /....
سلام عليكم ورحمة الله وبركاته ....وبعد
فأشير إلى استفتائك المفيد بالأمانة العامة لهيئة كبار العلماء برقم (3285 )
وتاريخ 1416/7/11 هـ . الذي تسأل فيه عن حكم تنصيب أمير تجب طاعته في الأمور الدعوية
وافيدك أنه سبق ان صدر من اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والافتاء فتوى فيما
سألت عنه فنرفق لك نسخة منها وفيها الكفاية إن شاء الله .
وفق الله الجميع لما فيه رضاه إنه سميع مجيب .
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته . . .
المفتي العام للمملكة العربية السعودية
ورئيس هيئة كبار العلماء وإدارة البحوث العلمية والإفتاء
فتوى رقم (16098) وتاريخ 1414/7/5 هـ .
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده .. وبعد :
الجواب : لا تجوز البيعة إلاّ لولي أمر المسلمين ولا تجوز لشيخ طريقة ولا لغيره لأن هذا لم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم والواجب على المسلم أن يعبد الله بما شرع من غير ارتباط بشخص معين ولأن هذا من عمل النصارى مع القساوسة ورؤساء الكنائس وليس معروفا في الإسلام .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
الرئيس نائب رئيس اللجنة
عبدالعزيز بن عبدالله بن باز عبدالرزاق عفيفي

عضو عضو
عبدالله بن عبدالرحمن الغديان صالح بن فوزان الفوزان
بكر بن عبدالله أبو زيد عبدالعزيز بن عبدالله بن محمد آل شيخ


Berikut terjemahannya :

Syaikh Ibn Baz :
“Pada fatwa no: 3285, tanggal: 11-7-1416 H, yang engkau tanyakan padanya tentang hukum mengangkat pemimpin yang wajib dita'ati dalam perkara dakwah dan aku memberi faidah kepadamu bahwa telah terdahulu muncul fatwa dari Lajnah Da'imah lil Buhuts al-Ilmiyyah tentang apa yang engkau tanyakan maka kami sertakan salinan darinya dan itu sudah cukup insya Allah. Semoga Allah memberi taufik kepada semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.”

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Mufti umum kerajaan Arab Saudi dan kepala lembaga para ulama besar dan kantor penelitian ilmiah dan fatwa.

Adapun yang dimaksud oleh beliau adalah fatwa no:16098, tertanggal: 5-7-1414 H:

Alhamdulillah hanya bagi-Nya, shalawat dan salam atas Nabi yang tiada nabi setelahnya.

Wa ba'du:

Jawaban:

“Tidak diperbolehkan bai'at kecuali kepada pemerintah kaum muslimin dan tidak boleh kepada Syaikh tarikat dan juga kepada yang lainnya, sebab ini tidak ada asalnya dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam. Wajib bagi bagi seorang muslim untuk beribadah kepada Allah dengan apa yang disyari'atkan-Nya, dengan tanpa ikatan dari orang tertentu dan sebab ini termasuk perbuatan kaum Nashara terhadap pendeta dan para pemimpin gereja yang tidak dikenal di dalam Islam.”



Lajnah Da'imah lil Buhuts al-Ilmiyyah wal-Ifta'

Ketua:
• Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Wakil ketua:
• Abdurrazzaq Afifi

Anggota:
• Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudayyan
• Bakr Abu Zaid
• Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
• Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alus Syaikh

(diambil dari situs www.sahab.net dan juga dalam kaset Fatawa Nur 'ala Ad-Darb, kaset no:495, dimana beliau menjawab tiga pertanyaan seputar masalah bai'at kepada selain penguasa - yang mirip dengan jawaban tersebut di atas - namun dengan jawaban yang lebih rinci.)

Nah, bagaimana mungkin bagi Syaikh bin Baaz akan merekomendasi mereka, jika sekiranya beliau mengetahui hakekat hizbiyyah yang ada pada mereka. Demikian pula diantara yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tatkala seseorang bertanya dengan nash pertanyaan sebagai berikut (terjemahannya) :

“Apa yang engkau nasehatkan kepada para da'i berkenaan tentang sikap mereka terhadap ahli bid'ah? Sebagaimana kami berharap darimu yang mulia bimbingan nasehat secara khusus kepada para pemuda yang terpengaruh dengan sikap loyalitas hizbiyyah yang berlabel agama?”

Maka beliau menjawab dengan nash sebagai berikut:

نوصي إخواننا جميعا بالدعوة إلى الله سبحانه بالحكمة والموعظة الحسنة والجدال بالتي هي أحسن؟ أمر الله سبحانه بذلك مع جميع الناس ومع المبتدعة إذا أظهروا بدعتهم ، وأن ينكروا عليهم سواء كانوا من الشيعة أو غيرهم- فأي بدعة رآها المؤمن وجب عليه إنكارها حسب الطاقة بالطرق الشرعية . والبدعة هي ما أحدثه الناس في الدين ونسبوه إليه وليس منه ، لقول النبي : ((من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد)) وقول النبي صلى الله عليه وسلم :
((من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد ))ومن أمثلة ذلك بدعة الرفض ، وبدعة الاعتزال ، وبدعة الإرجاء ، وبدعة الخوارج ، وبدعه الاحتفال بالموالد ، وبدعة البناء على القبور واتخاذ المساجد عليها إلى غير ذلك من البدع ، فيجب نصحهم وتوجيههم إلى الخير ، وإنكار ما أحدثوا من البدع بالأدلة الشرعية وتعليمهم ما جهلوا من الحق بالرفق والأسلوب الحسن والأدلة الواضحة لعلهم يقبلون الحق .
أما الانتماءات إلى الأحزاب المحدثة فالواجب تركها ، وأن ينتمي الجميع إلى كتاب الله وسنة رسوله ، وأن يتعاونوا في ذلك بصدق وإخلاص ، وبذلك يكونون من حزب الله الذي قال الله فيه سبحانه في آخر سورة المجادلة : {أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ } بعدما ذكر صفاتهم العظيمة في قوله تعالى : {لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ } الآية . ومن صفاتهم العظيمة ما ذكره الله عز وجل في سورة الذاريات في قول الله عز وجل :
{ إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ } فهذه صفات حزب الله لا يتحيزون إلى غير كتاب الله ، والسنة والدعوة إليها والسير على منهج سلف الأمة من الصحابة رضي الله عنهم وأتباعهم بإحسان . فهم ينصحون جميع الأحزاب وجميع الجمعيات ويدعونهم إلى التمسك بالكتاب والسنة ، وعرض ما اختلفوا فيه عليهما فما وافقهما أو أحدهما فهو المقبول وهو الحق ، وما خالفهما وجب تركه . ولا فرق في ذلك بين جماعة الإخوان المسلمين ، أو أنصار السنة والجمعية الشرعية ، أو جماعة التبليغ أو غيرهم من الجمعيات والأحزاب المنتسبة للإسلام . وبذلك تجتمع الكلمة ويتحد الهدف ويكون الجميع حزبا واحدا يترسم خطي أهل السنة والجماعة الذين هم حزب الله وأنصار دينه والدعاة إليه . ولا يجوز التعصب لأي جمعية أو أي حزب فيما يخالف الشرع المطهر .

Jawaban Syaikh Ibn Baz:

Kami menasehati saudara-saudara kami semuanya agar berdakwah menuju jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmah dan nasehat yang baik dan berdebat dengan cara yang paling baik. Allah memerintahkan semua itu kepada seluruh manusia dan juga kepada ahli bid'ah disaat mereka menampakkan bid'ahnya dan melakukan pengingkaran atas mereka. Sama saja apakah mereka dari kalangan Syi'ah atau yang lainnya, maka bid'ah apa saja yang dilihat oleh seorang mukmin, maka wajib baginya mengingkarinya sesuai kemampuan dengan cara-cara yang syar'i.

Bid'ah adalah apa yang diada-adakan oleh manusia dalam agama dan mereka menisbahkannya kepada agama tersebut, padahal bukan darinya. Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam :

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami - apa-apa yang tidak termasuk darinya-, maka ia tertolak.

Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam juga bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan - yang bukan dari kami - maka ia tertolak.”

Diantara permisalan bid'ah tersebut seperti:
bid'ah Rafidhah, bid'ah Mu'tazilah, bid'ah Murji'ah, bid'ah Khawarij, bid'ah merayakan maulid, bid'ah membangun di atas kuburan, membangun masjid di atas kuburan dan yang lainnya.

Maka wajib menasehati mereka dan membimbing mereka kepada kebaikan dan mengingkari apa yang mereka ada-adakan dari berbagai bid'ah dengan dalil-dalil yang syar'i serta mengajari mereka kebenaran terhadap apa-apa yang mereka jahil dengannya dengan lemah lembut, cara yang baik dan dalil-dalil yang jelas. Semoga mereka mau menerima kebenaran. Amien.

Adapun bersikap loyal kepada kelompok-kelompok bid'ah, maka wajib hukumnya meninggalkannya dan hendaklah semuanya bersikap loyal kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dan agar mereka saling bekerjasama di atasnya dengan kejujuran dan keikhlasan. Maka dengan itu mereka akan menjadi Hizbullah yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan tentangnya pada akhir surah Al-Mujadilah:

أَلا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.”

Setelah Allah menyebut sifat-sifat mereka yang mulia:

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ...

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan [1462] yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah.”

Dan diantara sifat mereka yang agung adalah apa yang disebutkan Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (Surga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (QS. Adz-Dzariyat:15-19).

Maka ini adalah sifat-sifat Hizbullah, mereka tidak mungkin memihak kepada selain Kitabullah dan Sunnah dan mengajak kepadanya dan berjalan di atas manhaj pendahulu umat ini dari kalangan para Shahabat –radhiyallahu anhum- dan yang mengikuti mereka dengan baik. Maka mereka menasehati seluruh kelompok dan seluruh organisasi dan mengajak mereka untuk berpegang teguh terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah dan mencocokkan apa yang mereka perselisihkan kepada keduanya,. Maka apa yang sesuai dengan keduanya atau salah satunya maka diterima dan itulah yang benar dan apa yang menyelisihi keduanya, maka wajib ditinggalkan. 

Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara jama'ah al-Ikhwanul Muslimun atau Ansharus Sunnah atau organisasi yang syar'i atau Jama'ah Tabligh atau selain mereka dari berbagai organisasi dan kelompok yang menisbahkan dirinya kepada Islam. Dengan itu maka kalimat dapat disatukan dan sepakat dalam tujuan, sehingga semua menjadi kelompok yang satu yang menempuh garis Ahlus Sunnah wal-Jama'ah yang mereka itu adalah Hizbullah, para penolong agama-Nya dan yang mengajak kepada jalan-Nya. Tidak boleh ta'ashshub (fanatik) kepada organisasi tertentu atau kelompok tertentu, yang menyelisihi syari'at yang suci.

(dari Fatawa Bin Baaz, jilid:7, hal:176-178).



Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tentang sebagian amalan Ihya At-Turats

Demikian pula Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah Ta'ala, beliau tidak diberi penjelasan secara detail tentang organisasi Ihya At-Turats, sehingga beliau menjawab pertanyaan berdasarkan manhaj tertulis yang disodorkan kepada beliau. Kalau sekiranya beliau mengetahui bahwa dalam organisasi tersebut ada pembai'atan, tentulah beliau tidak akan memberi rekomendasi tersebut. Diantara bukti yang menunjukkan hal tersebut adalah fatwa beliau tatkala ditanya tentang masalah bai'at. 

Berikut ini nash pertanyaannya:

(السؤال: بالنظر إلى العالم الإسلامي اليوم نجد أن هناك كثيرا من الجماعات التي تدعوا إلى الإسلام وكل منهم يقول : أنا على منهج السلف ومعي على الكتاب والسنة ,فما موقفنا نحو هذه الجماعات .وما حكم إعطاء البيعةلأمير من أمراء هذه الجماعات ؟)

“Melihat dunia Islam pada hari ini, kita mendapati disana banyak dari kalangan jama'ah-jama'ah yang menyeru kepada Islam. Setiap mereka berkata: “Kami berada di atas manhaj Salaf dan bersama kami di atas al-Kitab dan as-Sunnah.” Apa pendirian kita terhadap jama'ah-jama'ah ini dan apa hukum memberi bai'at kepada pimpinan dari para pemimpin jama'ah-jama'ah ini?”

Maka beliau menjawab dengan nash sebagai berikut:

((الحكم في هؤلاء الجماعات الذين يدعي كل طائفة منهم أنهم على الحق سهل جدا,فإننا نسأله ما هو الحق ؟ الحق ما دل عليه الكتاب والسنة ,والرجوع إلى الكتاب والسنة يحسم النزاع لمن كان مؤمنا,أما من اتبع هواه فلا ينفعه فيه شيئ.قال تعالى:
{فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً}
فأنا قلت لهؤلاء الجماعات : اجتمعوا ولينزع منكم كل واحد هواه الذي في نفسه,وينوي النية الحسنة بأنه سيأخذ بما دل عليه القرآن والسنة مبنيا على التجرد من الهوى لا مبنيا على التقليد أو التعصب لأن فهم الإنسان القرآن والسنة على حسب ما عنده من العقيدة هذا لا يفيده شيئا لأنه سوف يرجع إلى عقيدته,ولهذا قال العلماء كلمة طيبة,قالوا: يجب على الإنسان أن يستدل ثم يبني لا أن يبني ثم يستدل,لأن الدليل أصل,والحكم فرع فلا يمكن أن يقلب الوضع ويجعل الحكم الذي هو الفرع أصلا والأصل الذي هو الدليل فرعا ,ثم إن الإنسان إذا اعتقد قبل أن يستدل ولم تكن عنده نية حسنة ,صار يلوي أعناق النصوص من الكتاب والسنة إلى ما يعتقده هو,وحصل بذلك البقاء على هواه ولم يتبع الهدى ,فنقول لهؤلاء الطوائف التي تدعي كل واحد منها أنها على الحق : نقول تفضل,ايتوا بنية حسنة مجرد عن التعصب والهوى وهذا كتاب الله وهذه سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ,ولو لا أن فيهما حل النزاع ما أحال الله عليهما ,فإن الله لا يحيل على شيئ إلا ومصلحته فيه , ردوه إلى الله والرسول ,لكن البلاء الذي يحصل من عدم الاتفاق على الكتاب والسنة هو الشرط الذي في الآية {إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر فإن بعض الناس قد يرجع إلى الكتاب والسنة لكن لا إيمانا لكن على هوى وتعصب لا يتزحزح عنه فهذا ليس فيه فائدة, ولكن على من منهم على الكتاب والسنة أن يستعيذوا بالله عز وجل على هذه الطوائف وسيتبين الحق من الباطل بل قد قال الله عز وجل
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (الأنبياء:18)
أما بالنسبة لإعطاء البيعة لرجل هذا لا يجوز,لأن البيعة للولي العام على البلد,وإذا أردنا أن نقول: كل إنسان له بيعة تفرقت الأمم ,صار البلد التي مائة حي من الأحياء كم يكون فيه إمام؟ مائة إمام مائة ولاية هذا هو التفرق.فما دام في البلد حاكم شرعي فإنه لايجوز إعطاء البيعة لأي واحد من الناس,أما إذا كان الحاكم لا يحكم بما أنزل الله فإن هذا له أحوال قد يكون هذا كفرا وقد يكون ظلما وقد يكون فسقا بحسب ما تقتضيه النصوص الشرعية ....))

Jawaban As-Syaikh Ibn Utsaimin:

Hukum terhadap jama'ah-jama'ah yang setiap kelompok dari mereka mengaku bahwa mereka berada di atas kebenaran sangat mudah, yaitu kita bertanya kepadanya, apa itu kebenaran? Kebenaran adalah apa yang ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah. Kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah yang menyelesaikan pertengkaran bagi siapa yang mukmin.

Adapun bagi yang mengikuti hawa nafsunya, maka tidak memberi manfaat sedikitpun kepadanya. Allah berfirman:

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

“Jika kalian berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari Akhir, yang demikian itu lebih baik dan paling baik akibatnya.”

Maka saya mengatakan kepada jama'ah-jama'ah ini:
“Bersatulah dan hendaklah setiap kalian melepaskan hawa nafsunya yang bercokol pada dirinya dan berniat dengan niat yang baik, bahwa dia akan mengambil apa yang telah ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah, dibangun di atas kekosongan dari hawa nafsu, bukan dibangun di atas taqlid atau ta'ashshub. Sebab seseorang memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah berdasarkan apa yang dia yakini, maka ini tidak memberi faidah baginya sedikitpun, sebab bagaimanapun mesti kembali pada keyakinannya.

Oleh karena itu, para ulama menyebutkan sebuah kalimat yang baik, yaitu: wajib bagi seseorang untuk mencari dalil (terlebih dahulu), kemudian membangun (sebuah hukum). Jangan terbalik, membangun hukum lalu kemudian mencari dalil, sebab dalil adalah asal, sedangkan hukum adalah cabang. Maka tidak merubah keadaan, lalu dijadikan hukum yang berstatus sebagai cabang menjadi asal, sementara dalil yang merupakan asal justru menjadi cabang.

Lalu jika seseorang yakin sebelum dia mencari dalil dan dia tidak memiliki niat yang baik, maka dia akan memutar balik nash-nash dari Al-Kitab dan As-Sunnah menuju kepada apa yang diyakininya, sehingga dia pun tetap berada di atas hawa nafsunya dan enggan mengikuti hidayah.

Maka kami katakan kepada kelompok-kelompok yang setiap mereka mengklaim dirinya di atas kebenaran : “Silahkan, datanglah dengan niat yang baik yang kosong dari ta'ashshub dan hawa nafsu, inilah Kitabullah dan ini adalah Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, jikalau pada keduanya tidak terdapat solusi dari perselisihan, tentu Allah Ta'ala tidak akan mengarahkan (untuk kembali) kepada keduanya. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mengarahkan kepada sesuatu melainkan didalamnya terdapat kemaslahatan, kembalikanlah kepada Allah Ta'ala dan Rasul.”

Akan tetapi musibah yang terjadi yang menyebabkan tidak sepakatnya mereka di atas Al-Kitab dan As-Sunnah adalah syarat yang terdapat dalam ayat :

إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر

Jika kalian beriman kepada Allah dan hari Akhir,

sebab sebagian manusia terkadang kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah, tetapi bukan karena keimanan, namun karena hawa nafsu dan ta'ashshub - yang dia tidak bergeser darinya -. Maka ini tidak ada faedahnya.

Akan tetapi terhadap siapa yang mereka berada di atas Al-Kitab dan As-Sunnah agar berlindung diri kepada Allah Azza wa Jalla dari kelompok-kelompok ini. Dan akan nampak kebenaran di atas kebatilan.

Bahkan Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ (الأنبياء:18)

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil, lalu yang hak itu menghancurkannya. Maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).”

Adapun tentang pemberian bai'at kepada seseorang, maka ini tidak boleh. Sebab bai'at tersebut kepada penguasa umum terhadap sebuah negeri. Dan jika kita ingin mengatakan: “Setiap orang harus punya bai'at, maka terpecah-belahlah umat, lalu jadilah dalam sebuah negeri ada seratus kampung, ada berapa pemimpinnya? Seratus imam, seratus wilayah, maka inilah perpecahan.!” Maka selama di negeri tersebut ada pemimpin yang syar'i, maka tidak dibolehkan memberi bai'at kepada seseorang dari manusia. Adapun apabila pemimpin tersebut tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah, maka ini memiliki beberapa keadaan, boleh jadi menjadi kafir, boleh jadi kefasikan dan boleh jadi kekufuran...”

(Diambil dari kaset Silsilah Liqo' al-Bab al-Maftuh, kaset no:7, side B, demikian pula terdapat pada kaset no: 6, side B)

Beliau juga berkata:
“Tidak terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang membolehkan jama'ah-jama'ah dan kelompok-kelompok. Bahkan yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah adalah celaan terhadap hal tersebut.”

Allah Ta'ala berfirman:

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (QS. Al-Mukminun:53)

Tidak diragukan bahwa kelompok-kelompok ini menafikan apa yang diperintahkan oleh Allah, bahkan yang dianjurkan oleh Allah adalah firman-Nya:

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ

“Sesungguhnya (agama Tauhid) Ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya':92)

(Lihat kitab al-Fatawa al-Muhimmah fi Tabshiir al-Ummah, kumpulan fatwa yang disusun oleh Jamal bin Furaihan Al-Haritsi, hal:120)


Jawaban dari rekomendasi Syaikh Abdul Aziz Alusy Syaikh hafidzhahullah

Rekomendasi yang beliau berikan tidak lebih dari sekedar pujian terhadap pembagian beberapa kitab yang dicetaknya dan disebarkan kepada sebagian penuntut ilmu, sama sekali tidak menyentuh perkara manhaj dari Ihya Turats. Jikalau sekiranya beliau juga mengetahui penyimpangan yang dimiliki organisasi ini, niscaya beliau tidak akan memberikan rekomendasi untuk mereka. Dan fatwa Al-Lajnah di atas merupakan salah satu bukti, dimana beliau termasuk yang turut menandatangani fatwa tersebut.

Jawaban atas rekomendasi Syaikh Shaleh Alusy Syaikh hafidzhahullah

Apa yang kami sebutkan pada edisi sebelumnya (edisi yang berjudul: Ihya At-Turats, boneka Abdurrahman Abdul Khaliq), dari fatwa beliau tentang fiqhul waqi' sebenarnya telah membantah salah satu dari pemikiran organisasi tersebut. Beliau juga berkata tatkala menjelaskan tentang penisbahan diri terhadap suatu kabilah, kelompok dan yang semisalnya.

Beliau berkata:
“Bagian kedua : Nama-nama dan panggilan yang tercela: (lalu beliau berkata):

Termasuk dalam hal ini nama-nama yang diada-adakan oleh jama'ah-jama'ah Islam dengan beraneka ragamnya, yang menjadikannya sebagai nama yang menunjukkan bahwa itu nama kelompoknya, - yang membedakannya dari kelompok yang lain-, seperti Hizbut Tahrir misalnya. Seperti pula kelompok Al-Ikhwanul Muslimun dan seperti jama'ah-jama'ah lainnya yang nampak di sebuah negeri dan tidak ada pada negeri yang lain. Maka penamaan ini adalah penamaan yang diada-adakan dan tercela. Sebab nama itu sendiri mengandung ajakan untuk memecah-belah kaum muslimin dan menolong kelompoknya, dan tidak yang lainnya.”

(Dari kaset berjudul: Syarah Fadhlul Islam,yang ditranskrip oleh Salim Al-Jazairi)

Kalaulah sekiranya beliau mengetahui bahwa organisasi ini pun dibangun di atas manhaj Al-Ikhwanul Muslimun, tentunya beliau pun tidak akan merekomendasinya.


Jawaban atas rekomendasi Asy-Syaikh Ali bin Muhammad Nashir Al-Faqihi hafidzhahullah

Sebenarnya mereka Ihya At-Turats menampakkan beberapa proyek yang dengannya mereka mendapatkan pujian dan rekomendasi dari para ulama tersebut, tentunya mereka menyembunyikan hakekat dari dakwah hizbiyyah dari hadapan ulama. Karena tujuan mendapatkan rekomendasi adalah untuk keuntungan dari organisasi itu sendiri, sehingga leluasa bergerak di dunia. Memang para ulama tersebut –rahimahumullah- akhirnya memberi tazkiyah berdasarkan apa yang mereka ketahui dari sebagian amalannya, yang sekiranya mereka mengetahui hakekat dari amalan mereka dan pemikiran sebagian tokoh-tokohnya, niscaya mereka tidak akan pernah memberi rekomendasi tersebut.

Bagaimana mungkin beliau – para ulama - akan memberi rekomendasi, jika sekiranya beliau mengetahui bahwa pemikiran Abdurrahman Abdul Khaliq masih bercokol pada pemikiran para tokohnya? Bagaimana mungkin seorang syaikh Salafi akan merekomendasi mereka, jika ia mengetahui bahwa pemikiran mereka dibangun di atas manhaj Al-Ikhwanul muslimun? Berfikirlah - wahai akhi salafi - dengan hati yang jernih yang selalu mengedepankan al-haq di atas segala sesuatu.

Jawaban atas rekomendasi Syaikh Abdullah bin Humaid hafidzhahullah

Bagaimana mungkin pula bagi Syaikh Shalih bin Abdullah bin Humaid, akan memberikan tazkiyahnya, jika beliau benar-benar mengetahui hakekat dari organisasi ini. Yang menunjukkan hal tersebut adalah tatkala beliau membahas tentang masalah ta'awun/bekerjasama, beliau menjelaskan diantara sebab rusaknya ta'awun adalah hizbiyyah, beliau berkata:

البعد عن التعصب والحزبية :
ليس أضر على الدعوة بعامة والتعاون بين الدعاة بخاصة من الحزبية المنغلقة والمذهبية الضيقة ، بل لا يكدر صفو الأخوة الإيمانية ، ولا يضعف الرابطة الإسلامية أعظم من التحزب المقيت والتعنصر البغيض .

Menjauhkan diri dari fanatisme dan hizbiyyah:
“Tidak ada yang paling memudharatkan dakwah secara umum dan saling ta'awun diantara para da'i secara khusus, kecuali sifat hizbiyyah (fanatik kelompok), madzhabiyyah (fanatik madzhab) yang sempit. Bahkan yang demikian itu tidaklah mengotori kesucian ukhuwwah iman dan tidak pula yang melemahkan persatuan Islam yang lebih besar dampaknya, ketimbang pengaruh hizbiyyah yang terkutuk dan fanatik ras/kesukuan yang dibenci.”

(Dari majalah al-Buhuts al-Islamiyyah,no:51, dari bulan Rabi' awal hingga Jumada Ats-Tsaniyah,tahun 1418 H. Dari makalah yang berjudul: at-Ta'awun baina Ad-Du'ah, hal:221)


Jawaban atas rekomendasi dari Syaikh Bakr Abu Zaid hafidzhahullah

Adapun tazkiyah beliau tidak ada hubungannya dengan permasalahan manhaj, namun sebatas pujian terhadap tulisan/buku dari Maktabah Thalibul Ilmi yang disebarkan oleh Ihya At-Turats. Namun kalaulah kita menganggap bahwa beliau mentazkiyah manhajnya, itu bukan berarti menyebabkan bahwa perkara ini termasuk perkara ijtihadiyyah yang dapat ditolerir dan tidak perlu diperingatkan. Sebab beliau sendiri telah melakukan pembelaannya terhadap Sayyid Quthb, namun hal tersebut tidak menyebabkan bahwasanya perselisihan tentang Sayyid Quthb hanyalah termasuk dalam perkara ijtihadiyyah - yang tidak boleh ada pengingkaran padanya - seperti yang disangka oleh kebanyakan hizbiyyun?

Lalu apa jawaban anda terhadap mereka yang menganggap bahwa itu termasuk perselisihan dalam masalah ijtihadiyah? Yang menyatakan tidak boleh bagi seorang salafi mentahdzir dari seorang quthbi, ikhwani, sururi?

Adapun kami akan menjawab dengan mengatakan: bahwa Syaikh Bakr Abu Zaid hafidzhahullah tidak mengetahui secara hakiki manhaj dan pemikiran yang dimiliki oleh Sayyid Quthb, sebagaimana yang beliau akui sendiri. Beliau pernah mengatakan bahwa kitab Fi Dzhilal al-Qur'an yang ia dapatkan sebagai hadiah tatkala masih duduk di bangku Tsanawiyyah (setingkat SMU, pen), namun ia tidak bersemangat untuk membacanya dan hanya diletakkan di rak bukunya sejak masa itu. (lihat kitab: al-Had al-Fashil, tulisan Syaikh Rabi', hal:17)

Jawaban atas rekomendasi Syaikh Abdullah bin Mani' hafidzhahullah

Pujian beliau sebatas pameran yang pernah diadakan oleh Ihya At-Turats, beliau menyebutkan beberapa kegiatan mereka yang dinampakkan oleh mereka. Adapun kegiatan politik, bai'at, demonstrasi dan yang semisalnya, tentunya tidak dimasukkan dalam kegiatan pameran yang mereka adakan tersebut. Allahul musta'an.

Beliau salah seorang diantara anggota Hai'ah Kibar al-Ulama', dalam daurah yang ke-39 yang mereka adakan di Thaif, di bulan Rabi' Awal, tahun 1413 H, termasuk diantara pernyataan mereka adalah sebagai berikut:

نحذر من أنواع الارتباطات : الفكرية المنحرفة، والالتزام بمبادئ جماعات وأحزاب أجنبية. الأمة في هذه البلاد يجب أن تكون جماعة واحدة متمسكة بما عليه السلف الصالح، وتابعوهم، وما كان عليه أئمة الإسلام قديما وحديًثا من لزوم الجماعة والمناصحة الصادقة، وعدم اختلاق العيوب أو إشاعتها.
طرف من بيان هيئة كبار العلماء في دورته ا لتاسعة والثلاثين بالطائف في شهر ربيع الأول من عام ثلاثة عشر وأربعمائة وألف للهجرة .

Kami memberi peringatan dari berbagai macam ikatan pemikiran yang menyimpang dan peringatan dari berpegang kepada dasar-dasar - berbagai kelompok dan partai yang asing - (bukan dari petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya, pen). Umat di negeri ini wajib untuk berada dalam satu jama'ah, yang berpegang teguh dengan apa yang telah menjadi pijakan Salafus Shalih, dan yang mengikuti mereka. Serta di atas apa yang menjadi pijakan para tokoh Islam dahulu dan sekarang, dengan komitmen terhadap jama'ah (Ahlus Sunnah, pen) dan saling menasehati dengan penuh kejujuran dan tidak membuat berbagai kerusakan atau menyebarkannya.”
(Lihat kitab: Al-Ajwibah al Mufidah, pada catatan kaki, hal:237 no:294)

Jawaban atas rekomendasi Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidhahullah

Syaikh Fauzan hafidzhahullah memiliki manhaj yang sangat jelas. Jawaban beliau terhadap berbagai pertanyaan seputar manhaj dakwah sangat jelas bertentangan dengan mauqif Ihya At-Turats beserta para tokohnya. Kalaulah beliau mengetahui hakekat manhaj mereka, tentunya rekomendasi tersebut tidak akan beliau keluarkan.

Salah satu bukti adalah fatwa Lajnah Da'imah tentang masalah bai'at yang telah kami sebutkan, dimana beliau termasuk salah satu yang menandatanganinya. Demikian pula diantaranya adalah fatwa beliau ketika ditanya:

“Apakah mungkin bersatu bila disertai dengan hizbiyyah? Lalu apakah manhaj yang wajib bersatu di atasnya?, 

maka beliau menjawab dengan tegas:

“Tidak mungkin bersatu bersama dengan hizbiyyah, sebab kelompok-kelopok tersebut saling berlawanan satu sama lain dan menggabungkan antara dua hal yang berlawanan adalah mustahil.”

Allah Ta'ala berfirman:

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS.Ali Imran:103)

Maka Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang dari perpecahan dan memerintahkan bersatu di atas satu kelompok, yaitu kelompok Allah :

أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS.Al-Mujadilah:22)

dan Allah Ta'ala berfirman:

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً

“dan sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu (QS.Al-Mu'minun: 52)

Maka berkelompok, berpartai dan membentuk berbagai jama'ah, sama sekali bukan termasuk dari Islam. Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan masing-masing mereka memiliki pengikut, engkau bukan dari mereka sedikitpun. (QS. Al-An'am:159)

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, beliau mengatakan: Semuanya dalam Neraka, kecuali satu golongan", dan bersabda: "yaitu siapa yang berada di atas jalanku dan jalan para shahabatku". Maka disana tidak ada golongan yang selamat kecuali yang satu ini, yang manhajnya adalah berjalan di atas jalan Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para shahabatnya. Adapun selainnya hanyalah memecah-belah dan tidak menyatukan (ummat), Allah menyatakan:

ْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ

“Dan jika mereka berpaling, maka sesungguhnya mereka dalam penyelisihan. (Al-Baqarah:138)

Imam Malik rahimahullah mengatakan:

Tidak akan baik akhir dari umat ini kecuali berdasarkan perbaikan yang dilakukan oleh generasi pertama.

Dan Allah Ta'ala berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga.... (QS.At-Taubah:100)

Maka tidak boleh bagi kita kecuali dengan bersatu di atas manhaj Salafus Shaleh.
(dari kitab: Al-Ajwibah al-Mufidah:212-213).

Semestinya nasehat ini tekah cukup bagi al akh Firanda dan yang bersamanya untuk segera bertaubat kepada Allah dan kembali ke jalan sunnah dan meninggalkan sikap fanatik yang menjerumuskan ke dalam kesesatan. Semoga ….

(Bersambung, Insya Allah)


13 Januari 2007
Sumber: http://www.darussalaf.or.id/stories.php?id=536

[Audio] Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak – Fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri Tentang Radio Rodja

Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak Hafizhahulloh hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 17.05.2012 / Ma’had Riyadhul Jannah Desa Bojong Klapa Nunggal Bogor



Rakaman penuh Daurah Sehari Cileungsi 17 Mei 2012 boleh dapatkan di sini.

- - - [Rakaman audio daripada www.darussalaf.or.id]

[Audio] Al-Ustadz Luqman Ba'abduh – Jalan Menuju Istiqomah

Al-Ustadz Luqman Muhammad Ba'abduh hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 2010 / Jember

Click to Play All


- - - [Rakaman audio daripada CD Tasjilat As-Salafy Jember]

[Audio] Al-Ustadz Luqman Muhammad Ba'abduh – Kajian Akhlak

Al-Ustadz Luqman Muhammad Ba'abduh hafizhahullaah
Masa / Lokasi: 2008 / -

Click to Play All


- - - [Rakaman audio daripada CD Tasjilat As-Salafy Jember]

Fatawa Ulama tentang Ihya’ut Turots


Penulis: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

“BUKU EMAS”, itulah pujian dari para pendukung Ihya’ At-Turots terhadap tulisan Abu Abdil Muhsin Firanda Ibnu Abidin  –semoga Allah Ta’ala memberi hidayah kepadanya dan kepada kita semua– . Di dalam bukunya Firanda menerapkan beberapa kaidah tentang masalah khilaf, hajr dan yang lainnya yang tidak didudukkan pada tempatnya. Dengan berbagai dalih –bukan dalil– ia mengemukakan beberapa alasan tentang pembelaannya terhadap “Jum’iyyah Hizbiyyah” ini sampai kepada tingkat -bukan saja membolehkan untuk mengambil dana darinya- bahkan menganjurkan untuk berta’awun bersamanya dan meminta dana darinya (Lerai …, hal.242).

Sebenarnya, syubhat dari Al-Akh Firanda ini termasuk syubhat yang sudah sangat klasik dan sudah dibantah oleh para ulama yang mengerti tentang seluk-beluk dan kenyataan yang terjadi di lapangan di berbagai negara, yang menimbulkan dampak yang amat negatif disebabkan masuknya bantuan dari yayasan ini. Karena permasalahan ini mulai dikaburkan kembali dan dimunculkan dengan anggapan bahwa yayasan ini adalah yayasan yang dibangun di atas Manhaj Salaf, maka perlu kita ingatkan kembali kepada kaum muslimin sebagai bentuk pengamalan dari hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam :  “ Agama itu adalah nasehat.”

Untuk itulah tulisan ini akan kami bagi menjadi beberapa bagian, disebabkan keterbatasan waktu dan sempitnya kesempatan untuk menulis, maka saya akan berusaha menulis secara bertahap dan memberi bantahan dan tanggapan terhadap “BUKU EMAS” yang sekarang ini menjadi pedoman setiap Turotsi. Akhirnya, kami tetap mengharapkan kritikan yang membangun dan bersifat ilmiah terhadap apa yang akan saya tulis, sebab setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan, namun yang terbaik tentunya yang bertaubat kepada Allah Ta’ala. Dan seorang Salafi adalah yang selalu menjadikan prinsipnya “Rujuk kepada kebenaran lebih baik daripada berkelanjutan di atas kebatilan”.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan taufiq kepada kita semua, terkhusus kepada diri ana pribadi dan semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi manfaat kepada kaum muslimin terhadap apa yang kami tulis dan senantiasa menjaga kita dari berbagai macam fitnah yang zhahir maupun batin. Amin, ya mujibas saailin.




FATWA ASY-SYAIKH RABI’ BIN HADI AL-MADKHALI –HAFIDHAHULLAH-

فتوى الشيخ ربيع بن هادي المدخلي حفظه الله تعالى
(( والله يقولون بأن إحياء التراث تلتزم بالمنهج السلفي,لكن عليها مآخذ شديدة في الخارج أكثر من الداخل,وأرى أن التعاون معها تعاون ضد المنهج السلفي,فعليها أن تتوب إلى الله تبارك وتعالى وتلتزم المنهج السلفي باطنا وظاهرا وتعلن الحرب على هذا الغلو وعلى هذه المناهج مناهج سيد قطب.أما إمام إحياء التراث عبد الرحمن عبد الخالق يدافع عن الترابي وسيد قطب والبنا والمودودي وعيرهم من زعماء البدع والفتن ويبقى إماما مقدسا في قلب إحياء التراث.بارك الله فيكم.فهذا من أقوى القرائن على أن إحياء التراث ليست بصادقة في اتجاهها بالمنهج السلفي وآثار عبد الرحمن عبد الخالق معروفة هي ما تحمل المنهج السلفي بجدية وصفاء ونقاء .ومن أدلة أنها لا تلزم هذا المنهج أنها توالي التكفيرية في اليمن جمعية الحكمة وأمثالها وتوالي غيرهم توالي الإخوان المسلمين .أين جهودها في مواجهة هذا الفكر الإخواني لا هَمَّ له إلا السحب من المنهج السلفي .
أيها الإخوة,على كل حال ,نحن ننصح الشاب السلفي أن يدرس المنهج السلفي من الطرق الشريفة النظيفة ,وأنصح السلفي الصادق ألا يدخل إخوانه في دوامة الخلافات والقيل والقال وقد نصحتكم في مرات كثيرة أنكم ابتعدوا عن أسباب الخلافات ,فالتعاون مع إحياء التراث يؤدي إلى صراعات وخلاافات بينكم.
فالسلفي الصادق لا يغالط بدعوته وبإخوانه ويدخل بها في صراع الخلافات بارك الله فيكم.
نحن والله نتمنى من إحياء التراث أن تعود إلى رشدها وأن يكون أعمالها الخفية مثل أعمالها الظاهرة وهي– سلفية واضحة باطنا وظاهرا ترى آثار هذه السلفية في الخارج وفي الداخل .لكم مانرى هذا,أين هذا في بانجلاديش,وأين مثل هذا في السودان,وأين آثارها في بلدان بعيدة وإن كانوا يلبسون على الناس ,يلبسون على الناس ويقولون: نطبع الكتب وننشر كذا وكذا ……..(كلمة غير واضحة) بارك الله فيك
ليست مخلصة في نشر المنهج السلفي الذي رفع رايته رسول الله وصحابته الكرام وأتباعه أحمد بن حنبل وابن تيمية وابن عبد الوهاب .نجدهم ذكر الإخوان ,مجاملات,والسياسات وما شاكل ذلك.فلتتب إلى الله عز وجل من هذا المنهج .
تم هذا اللقاء في يوم الخميس الموافق الثامن من شهر الله الحرام عام 1426 .بعنوان: الوسطية في الإسلام
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Terjemahannya:

Syaikh Rabi Ibn Haadi : 

“Demi Allah, mereka mengatakan bahwa Ihya’ At-Turots komitmen dengan manhaj Salafi, namun ada beberapa kritikan keras atas mereka, dimana di luar –lebih banyak (kritikannya)– daripada di dalamnya. Aku berpendapat bahwa bekerjasama dengan mereka adalah bentuk kerjasama yang menentang manhaj Salafi.”

“Maka wajib atas mereka bertaubat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan komitmen terhadap Manhaj Salafi, baik secara lahir maupun batin serta mengumumkan perang terhadap sikap ekstrim ini, terhadap berbagai manhaj, manhaj Sayyid Quthb. Adapun Imamnya Ihya’ At-Turots Abdurrahman Abdul Khaliq, yang membela At-Turabi (Hasan At-Turabi), Sayyid Quthub, Al-Banna (Hasan al Banna), Al-Maududi (Abul A’la Al- Maududi) serta yang lainnya dari para pemimpin bid’ah dan fitnah yakni Abdurrahman Abdul Khaliq) tetap menjadi imam yang dikultuskan dalam hati Ihya’ At-Turots. Barakallahu fiikum – Semoga Allah memberkahi Anda.”

“Maka inilah data-data yang paling kuat yang menunjukkan bahwa Ihya’ at-Turots tidaklah jujur dalam mengarahkan dirinya kepada manhaj Salafi. Pengaruh Abdurrahman Abdul Khaliq telah diketahui dimana dia tidak membawa manhaj Salafi dengan sesungguhnya secara bersih dan murni. Diantara indikasi terkuat bahwa ia tidak komitmen dengan manhaj ini, bahwa ia bersikap loyal kepada kaum takfir di Yaman, Jum’iyyatul Hikmah dan yang semisalnya. Juga bersikap loyal kepada selain mereka, Ikhwanul Muslimin. Mana kesungguhan mereka dalam menghadapi pemikiran Ikhwani ini ? Mereka tidak punya keinginan (membantah pemikiran Ikhwan, pen) kecuali untuk menarik diri dari manhaj Salafi.

Ikhwan sekalian, yang jelas kami menasehati para pemuda Salafi agar mempelajari manhaj Salafi melalui cara-cara yang mulia dan bersih. Dan aku menasehati seorang Salafi yang jujur agar tidak menjerumuskan saudara mereka dalam berbagai perselisihan yang berkelanjutan, isu ini dan isu itu.

Aku telah menasehatkan kalian dalam banyak kesempatan agar kalian hendaklah menjauhkan diri dari berbagai sebab perselisihan. Bekerjasama dengan Ihya’ At-Turots akan mengantarkan kepada pergolakan dan perselisihan diantara kalian. Seorang Salafi yang jujur tidak mempermainkan dakwahnya dan saudara-saudaranya dengan menjerumuskannya ke dalam pergolakan khilaf, barakallahu fiikum.

Kami –demi Allah- berharap dari Ihya’ At-Turots agar kembali kepada kebenaran dan agar amalan-amalannya yang tersembunyi seperti amalannya yang nampak. Yaitu menjadi Salafiyah yang jelas, batin maupun zahir, yang dapat dilihat pengaruh Salafiyyah ini baik di luar maupun di dalam. Namun kita tidak melihat ini, sejauh mana (pengaruh salafiyahnya) di Bangladesh, juga yang seperti itu di Sudan, juga pengaruhnya di berbagai negeri yang jauh. Walaupun mereka mengelabui manusia dan mengatakan: “Kami mencetak kitab, kami menyebar ini dan itu…..[1]. Barokallahu fiik. Tidak memurnikan dalam menyebarkan dakwah Salafiyah yang telah diangkat benderanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya yang mulia serta orang-orang yang mengikutinya seperti Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Abdul Wahhab. Kami mendapatkan mereka (Ihya’ At-Turots, pen) memuji Ikhwanul Muslimin, basa-basi, berpolitik dan yang semisalnya. Maka hendaklah mereka bertaubat kepada Allah Ta’ala dari manhaj ini.”

Selesai pertemuan ini pada hari Kamis, bertepatan dengan tanggal 8 dari bulan Muharram 1426 H dengan judul : Sikap pertengahan dalam Islam.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh.



FATWA ASY-SYAIKH UBAID AL-JABIRI –HAFIDHAHULLAH-

فتوى الشيخ عبيد الجابري حفظه الله تعالى
(( أولا يا بني, نحن لا نتحدث إلا ببينة يستوي عندنا في هذا إحياء التراث وغيرها .لقد صح عندي بنقل الثقات منهم الشيخ عبد المالك رمضاني أن هذا موجود عندهم.ولا يزال عند بعض المنتسبين إليهم مثل عبد الله السبت ومحمد بن حميد النجدي .نعم. فهم أخفوا هذا عنكم,وكل جماعة منحرفة لا تعطي المنتسبين إليهم أول الأمر كل ما عندهم حتى جماعة التبليغ لا يبايعون على السلسلة الرباعية الصوفية وهي الجشتية والقادرية والسهروردية والنقشبندية إلا بعد اختبار ,نعم)).

Terjemahan

Syaikh Ubaid al Jabiri :

Jawaban beliau tatkala ditanya tentang pembai’atan yang terjadi di Jum’iyyah Ihya’ at-Turots:
“Pertama, wahai anakku, kita tidaklah berbicara kecuali dengan bukti, menurut kami dalam hal ini Jum’iyyah Ihya’ At-Turots atau yang lainnya. Dan telah sampai berita shahih menurutku dengan penukilan orang yang tsiqah (terpercaya), diantara mereka Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani bahwa ini (bai’at) ada pada mereka. Dan masih saja ada pada sebagian orang yang menisbahkan dirinya kepada mereka seperti Abdullah As-Sabt dan Muhammad bin Humaid An-Najdi.”

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah).

Iya, tetapi mereka menyembunyikan hal ini dari kalian. Dan setiap Jama’ah yang menyimpang pada awal kali tidak akan menyampaikan kepada orang-orang yang menisbahkan kepada mereka semua apa yang ada pada mereka. Bahkan Jama’ah Tabligh, mereka tidak membai’at berdasarkan empat serangkai Tarekat Shufiyah yaitu Al-Jusytiyah, Al-Qadiriyah, As-Sahrawardiyah,dan An-Naqsyabandiyah kecuali setelah melalui pengujian. Na’am (iya) …”

السائل: أثابكم الله,هل تنصحون الشاب بالدخول مع جمعية إحياء التراث في حلقة تحفيظ القرآن وبعض دروسهم؟ نرجو النصيحة؟
الجواب: أقول,بالنسبة للجمعية,نحن تكلمنا فيها ,أعني جمعية إحياء التراث وبينا ما يسعنا بيانا في أشرطة,منها في السعودية ومنها في الكويت وأظن أن أبا محمد وأبا عثمان حضرا بعضها .وآخر ما تكلمت فيه عن هذه الجمعية شريط أو مقابلة سجلت معي من قبل بعض الكويتيين وكان ذلك الشريط في عام 1422 ,وكنت أنا ذاك مشتركا في دورة علمية بحفر الباطن,فالكويتييون زاروا جيرانهم وأجروا مع ذلك الشريط وهو موجود,وأظنه في التسجيلات السلفية عندكم في الكويت.
والذي أدين الله به أنه لا يجوز التعاون مع تلك الجمعية ولا غيرها من الجمعيات المنحرفة ولو اشتراك في سلكها ولا الدراسة في مدارس خاصة بها ولا حلقات خاصة بها ,ولا يجوز التعاون معها في أشرطتها الدعوية ,لأن هذه الحمعية ثبت عندنا أنها حرب على أهل السنة بالكويت .وكذلك تحتوي فيمن تحتوي من أعضائها المكفرين مثل ناظم المصباحي التي تنضح أشرطته بالتكفير إن لم يكن كلها فكثير منها ومن هون أمر هذه الجمعية ولطف حالها فإنهم ردوا عليه قوله بشهادة العدول من إخوانها وأبنائنا الكويتيين ومنهم مشيخة السلفية الذين يعرفون حالها ونحن نقبل قولهم وقول أبنائهم وإخوانهم به ما يجري في الكويت وهم أعلم ومنهم أبو محمد الشيخ فلاح بن إسماعيل وأبو عثمان الشيخ محمد بن عثمان العمري وغيرهم من مشيخة السلفية في الكويت ,نعم.

Terjemahan

Berkata penanya:

“Semoga Allah Ta’ala memberimu pahala. Apakah engkau menasehatkan seorang pemuda untuk masuk bergabung bersama Yayasan Ihya’ At-Turots dalam halaqah Tahfidzul Qur’an dan sebagian pelajaran mereka? Kami mengharapkan nasehat …

Jawaban Syaikh Ubaid al Jabiri :

“Aku katakan, tentang organisasi ini. Kami telah berbicara tentangnya. Yang saya maksudkan adalah organisasi Ihya’ At-Turots dan telah kami jelaskan semampu kami dengan penjelasan dalam beberapa kaset, diantaranya di Saudi dan juga di Kuwait. Dan dugaannku bahwa Abu Muhammad dan Abu Utsman hadir pada sebagian (majelis). Yang terakhir, aku berbicara tentang Yayasan ini dalam satu kaset atau pertemuan yang direkam bersamaku oleh beberapa orang Kuwait. Dan kaset itu (terekam) pada tahun 1422 H. Dan aku pada waktu itu ikut dalam Daurah ilmiyyah di Hafrul Batin. Maka orang-orang dari Kuwait mengunjungi tetangga mereka lalu mereka –bersamaan dengan itu- kaset itu ada, saya mengira ada di Tasjilat Salafiyah di tempat kalian, Kuwait.

Yang aku jadikan sebagai keyakinanku yang aku beragama pada Allah Ta’ala dengannya, bahwa tidak boleh bekerja sama dengan organisasi ini dan juga dengan organisasi yang lainnya dari organisasi-organisasi yang menyimpang, walaupun hanya ikut pada kegiatannya saja. Juga tidak boleh belajar di sekolah-sekolah khusus mereka dan tidak pula pada halaqah-halaqah mereka serta tidak boleh kerjasama dengannya dalam kaset-kaset dakwah mereka, sebab yayasan ini telah jelas pada kami bahwa mereka memerangi Ahlus Sunnah di Kuwait.

Demikian pula tercakup diantara orang yang bergabung bersama mereka dari para anggotanya orang-orang takfiri [2] seperti Nadzim Al-Misbahi yang kaset-kasetnya dipenuhi dengan takfir, kalau bukan semuanya, maka mayoritasnya. Dan siapa yang meremehkan keadaan organisasi ini dan menggampangkan keadaannya, maka sesungguhnya bantahan atasnya dengan persaksian orang-orang yang adil dari ikhwan kita, dan dari anak-anak kita di Kuwait.

Diantara mereka, para syaikh Salafiyah yang mengenal keadaannya dan kita menerima ucapan mereka dan ucapan anak-anak dan ikhwan mereka tentangnya terhadap apa yang terjadi di Kuwait. Dan mereka lebih mengetahui.Diantara mereka Abu Muhammad Syaikh Falah bin Ismail dan Abu Utsman Syaikh Muhammad bin Utsman Al-Umri dan yang lainnya dari para Syaikh Salafi di Kuwait. Na’am…”

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)



FATWA ASY-SYAIKH MUHAMMAD BIN HADI AL-MADKHALI Hafidhahullah-

فتوى الشيخ محمد بن هادي المدخلي خفظه الله تعالى
السائل:يوجد لجمعية إحياء التراث جهود في مجال الدعوة ؟
الجواب: هل تعرفون هذه الجمعية وهل هي قائمة على النهج السلفي؟لا والله ما هي قائمة على المنهج السلفي,والله على المنهج الإخواني قائمة, وأصحابها متلونون .والذي نعرفه منهم لا يجوز لنا أن ندعه لحال من زكاهم ممن تجملوا له وهو لا يعرفه,فإن الله سبحانه وتعالى لم يكلفنا إلا بما علمنا .وهذه الجمعية حزبية والبيعة عندهم يسمونها العهد.أو يسمونها طاعة المسؤول .وانظروا إليهم في مواقفهم .فأينما شرقوا أو غربوا في العالم الإسلامي وغير الإسلامي لا تجدهم إلا يفرقون الدعوات السلفية.ما يجمعون,وإنما يأتون إلى التجمعات السلفية فيفرقونها ,وذلك بسبب المال الذي معهم.فنسأل الله العافية والسلامة .ولقد تكلمت في هذا في كثير من الأشرطة ولي في هذا كلام في شريطين في الكويت عندهم. الشاهد عبد الرحمن عبد الخالق ليس بخاف علينا ولا بخاف عليكم جميعا وهو شيخهم إلى هذه الساعة وإن حاولوا التنقل منه.فنسأل الله العافية والسلامة والكلام فيه يطول ولكن أكتفي بهذا ))

Terjemahan

Penanya berkata: 

“Apakah didapati pada Jum’iyyah Ihya’ At-Turots andil dalam bidang dakwah ?”

Jawaban Syaikh Dr. Muhammad Ibn Hadi al Madkhali : 

“Apakah Kalian tahu Jum’iyyah ini? Apakah dibangun di atas manhaj Salafi ? Demi Allah dia (Ihya’ut Turots-pen) tidak dibangun di atas manhaj Salafi. Demi Allah dibangun di atas manhaj Ikhwani, para anggotanya adalah orang-orang yang mutalawwin/bermuka dua [3]. Adapun yang kami ketahui tentang mereka, tidak boleh bagi kita mendiamkan karena adanya orang yang memberi rekomendasi kepada mereka, dari orang-orang yang mereka (orang-orang Ihya’ Turats-pent) berbasa-basi di hadapannya sementara mereka (yang memberi rekomendasi) tidak mengetahuinya.

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak membebani kita kecuali dengan apa yang kita ketahui. Sementara organisasi ini adalah Hizbiyyah. Mereka mempunyai bai’at yang mereka namakan perjanjian atau mereka namakan “Ta’at kepada penanggung jawab (pengurus, pen).” Maka, perhatikanlah mereka dalam berbagai sikapnya! Kemanapun mereka pergi, ke Barat atau ke Timur, di negara Islam atau selain negara Islam, kalian tidak mendapati mereka melainkan mereka memecah-belah dakwah Salafiyah.

Mereka (Ihya’ At-Turots) tidaklah mempersatukan, namun mereka mendatangi perkumpulan Salafiyah lalu memecah-belah diantara mereka. Dan itu disebabkan karena harta yang ada pada mereka. Kita memohon kepada Allah Ta’ala ‘afiyat dan keselamatan. Aku telah membicarakan ini di banyak kaset, dan aku juga telah berbicara dalam dua kaset di Kuwait, di (negeri) mereka.

Intinya, Abdurrahman Abdul Khaliq tidak tersamarkan bagi kita dan tidak tersamarkan pula oleh kalian semuanya bahwa dia adalah Syaikh mereka (Ihya’ at Turats) sampai saat ini, walaupun mereka berusaha berpindah darinya.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala afiyat dan keselamatan. Pembicaraan seputar masalah ini panjang, namun aku mencukupkan hingga di sini.

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)



FATWA SYAIKHUNA MUQBIL BIN HADI –RAHIMAHULLAH- (1)

فتوى الشيخ مقبل رحمه الله تعالى
((جمعية إحياء التراث علمها هو جمع الأموال ثم بعد ذلك تجميع الناس معهم وإلى دعوة ديمقراطية .ليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المال, وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المراكز وليس الخلاف بيننا وبينهم من أجل المرتفعات العسكرية وغيرها.الخلاف بيننا وبينهم أنهم يدعون إلى الديمقراطية وهكذا أيضا الإخوان المفلسون يدعون إلى الديمقراطية ويريدون أن يصوروا للناس من أنها إسلامية, والله المستعان)).

Terjemahan

Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah : 

“Jum’iyyah Ihya’ At-Turots ilmunya adalah mengumpalkan harta, kemudian mengumpulkan manusia agar bersama mereka dan mengajak kepada Demokrasi. Bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena harta. Dan bukanlah perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ At-Turots) disebabkan karena markaz (pondok pesantren) dan bukan perselisihan antara kami dan mereka dalam masalah tingkatan ketentaraan.

Perselisihan antara kita dan mereka (Ihya’ at-Turots) adalah karena mereka menyeru kepada Demokrasi. Demikian pula, Al-Ikhwan Al-Muflisun menyeru kepada Demokrasi. Mereka hendak menggambarkan kepada manusia bahwa itu adalah cara Islami. Wallahul musta’an”.



FATWA SYAIKHUNA MUQBIL BIN HADI –RAHIMAHULLAH- (2)

فتوى الشيخ مقبل رحمه الله تعالى:
السائل: كما سمعتم فقد اتصلت جمعية إحياء التراث ببعض المشايخ مثل الشيخ ابن باز وعبد المحسن العباد وابن عثيمين وعبد الرحمن جبرين واستطاعت إلى الأخذ بتزكية شفوية من الشيخ ابن باز حفظه الله ,حيث ذكر أنها جمعية طيبة فتعاونوا معهم فإن أخطؤوا فبينوا أخطاءهم ,انتهى كلامه بالمعنى ولما سمعوا ما أرادوا خرجوا ….(كلمة غير مفهومة) كشبهة بعض إخواننا هناك أنهم يقولون :إذا كانت هذه الجمعية صاحبة شر وضلال فكيف يزكيها هؤلاء المشايخ .فيا شيخ ماردكم على هذا؟
الجواب: الحمد لله صلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ,اشهد ألا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له ,أما بعد:
فعلماءنا الأفاضل حفظهم الله تعالى يأتي صاحب الجمعية إليهم ويقول : يا شيخ نحن نهتم ببناء المساجد وبفتح مدارس تحفيظ القرآن وبكفالة اليتامى وبحفر الآبار وغير ذلك من الأفعال الحميدة الصالحة فالشيخ ………(كلمة غير واضحة) ما رأيك في هذه الجمعية تهتم ببناء المساجد وتحفيظ القرآن وكفالة اليتامى وكفالة الدعاة إلى الله وحفر الآبار ,من الذي يقول هذا ما يجوز كل واحد يقول –يا أخي- هذا عمل صالح كله لكن المشايخ حفظهم الله تعالى لا يعرفون ما بعد هذا .
والواقع أن الأموال التي تأتيهم أصحاب الجمعية لتحارب بها أهل السنة في السودان وفي اليمن نعم وفي أرض الحرمين ونجد وفي أندونيسيا وفي كثير من البلاد الإسلامية .
(مفرغ من الشريط بصوته رحمه الله وهو عندي)

Terjemahan

Berkata penanya: 

“Sebagaimana yang engkau dengar, sungguh Jum’iyyah Ihya’ At-Turots telah menghubungi sebagian syaikh seperti Syaikh Bin Baaz, Abdul Muhsin Al-Abbad, Ibnu Utsaimin dan Abdurrahman Jibrin. Dan mereka berhasil mendapatkan tazkiyah secara lisan dari Syaikh Bin Baaz Hafidzahullah, dimana beliau menyebutkan bahwa “… ini adalah Jum’iyyah yang bagus, maka bekerjasamalah dengan mereka. Jika mereka bersalah maka jelaskan kesalahan mereka….,” demikian ucapannya secara makna.

Tatkala mereka mendengar apa yang mereka inginkan, lantas mereka keluar ….(kalimat tidak dipahami) seperti syubhat sebagian saudara kita di sana bahwa mereka mengatakan : “…jika Jum’iyyah ini memiliki kejelekan dan kesesatan, lalu bagaimana mungkin direkomendasi oleh para Syaikh ini…”. Maka wahai Syaikh, apa bantahan anda terhadap hal ini?

Jawaban Syaikh Muqbil ibn Hadi rahimahullah :

“Segala puji milik Allah Ta’ala . Semoga Allah Ta’ala memberi shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, keluarganya dan para shahabatnya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah Ta’ala semata, tidak ada sekutu baginya.Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah Ta’ala maka tidak ada yang mampu menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh Allah Ta’ala, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Amma Ba’du:

Ulama kita yang mulia –semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga mereka- , lantas anggota Jum’iyyah datang kepada mereka dan berkata: “…wahai Syaikh, kami memperhatikan masalah pembangunan masjid-masjid, membuka madrasah tahfidz Al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menggali sumur-sumur dan yang lainnya – dari berbagai perbuatan yang terpuji dan saleh -.” “Maka syaikh …..(kalimat tidak jelas), apa pendapatmu tentang jum’iyyah ini, yang memperhatikan pembangunan masjid, tahfidz al-Qur’an, menanggung anak-anak yatim, menanggung para da’i di jalan Allah Ta’ala, menggali sumur-sumur…”. Siapa yang mengatakan ini tidak boleh ? Setiap orang mengatakan –ya akhi- ini adalah amalan saleh semuanya ! Namun, para syaikh tersebut –semoga Allah Ta’ala menjaga mereka- tidak mengetahui apa yang terjadi setelah ini.

Kenyataannya bahwa harta yang sampai ke mereka dari para pengurus Jum’iyyah digunakan untuk memerangi Ahlus Sunnah di Sudan, di Yaman, di bumi Haramain (Mekkah dan Madinah, pen), Nejed dan di Indonesia dan di banyak negara Islam.

(Ini adalah transkrip dari kaset fatwa beliau oleh penerjemah, rekaman ada pada kami – penerjemah)



KESIMPULAN

Kesimpulan dari apa yang difatwakan oleh para Masyaikh –Hafidzahumullah- tersebut adalah bahwa Ihya’ At-Turots adalah yayasan Hizbiyyah, dengan beberapa alasan:

1. Mereka adalah para pembela manhaj Quthbi Takfiri
2. Abdurrohman Abdul Khaliq tetap menjadi Syaikhnya Ihya’ At-Turots dan tetap mulia di hati mereka, walaupun membela kebatilan, membela Hasan At-Turabi, Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Al-Maududi dan yang lainnya dari para penyeru kesesatan.
3. Menyeru kepada Demokrasi
4. Mereka memiliki bai’at yang namanya diubah dengan istilah “’ahd (perjanjian), atau menaati pengurus yang bertanggung jawab”.
5. Diantara pengurusnya terdiri dari para takfiriyyun, seperti Nadzim al-Misbahi dan yang lainnya.
6. Bersikap loyal kepada Takfiriyyun dan kepada Al-Ikhwanul Muslimin.
7. Menyebabkan perpecahan di kalangan Ahlus Sunnah di berbagai Negara.
8. Memiliki manhaj Sirriy yang tidak diketahui kecuali hanya orang-orang tertentu.
9. Ikut serta dalam berpolitik dan masuk parlemen.

Dengan demikian, jelas tidak diperbolehkan bekerjasama dengan mereka sebab akan mendatangkan kemudharatan dan menyebabkan terjadinya perpecahan. Adapun fatwa para masyayikh yang memberi rekomendasi mereka, hal ini disebabkan karena mereka menyampaikan kepada para masyayikh tersebut perkara-perkara yang sifatnya baik, adapun kebatilan yang ada pada mereka jelas mereka sembunyikan dari para Syaikh Hafidzahumullah tersebut.Wallahul musta’an. (bersambung)

Footnote :
1. (kalimat yang ada tidak fahami,pen)
2. Mudah mengkafirkan orang lain, warisan Sayyid Quthb dan yang semisalnya dari kalangan Khawarij.
3. Yaitu tidak kokoh di atas manhaj yang satu, yaitu manhaj Salaf, namun bermanhaj sesuai kondisi.

(Ditulis oleh al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi. Fatwa dikutip dari rekaman di Sahab.Net. File rekaman ada pada redaksi dan ustadz)

http://salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=1061